HomeHeadlineKaesang Jadi Ketua Umum PSI?

Kaesang Jadi Ketua Umum PSI?

Putra bungsu Presiden Jokowi, Kaesang Pangarep resmi bergabung ke Partai Solidaritas Indonesia (PSI). Mungkinkah Kaesang akan menjadi Ketua Umum PSI?


PinterPolitik.com

Putra bungsu Presiden Jokowi, Kaesang Pangarep resmi menjadi seorang politisi. Setelah sebelumnya ramai diberitakan akan maju di Pilwalkot Depok 2024, Kaesang memutuskan untuk bergabung dengan Partai Solidaritas Indonesia (PSI).

Keputusan itu terbilang cukup mengejutkan mengingat Presiden Jokowi dan Gibran Rakabuming Raka adalah kader PDIP. Di PDIP terdapat kebijakan agar keluarga inti tidak berbeda partai politik. Ini juga telah disampaikan Sekjen PDIP Hasto Kristiyanto ketika merespons isu Kaesang tertarik terjun ke politik.

“Kami ini punya aturan bahwa dalam satu keluarga tidak bisa masuk dalam pilihan partai-partai yang berbeda,” ungkap Hasto pada 28 Januari 2023.

Mengingat Kaesang sudah resmi bergabung dengan PSI, kita lihat saja bagaimana respons PDIP. Selain soal respons PDIP, terdapat satu lagi isu yang begitu menarik, yakni Kaesang disebut-sebut akan menjadi Ketua Umum PSI.

Isu itu telah dikonfirmasi oleh Plt Sekjen PSI Isyana Bagoes Oka dan Wakil Ketua Dewan Pembina PSI Grace Natalie.

“Memang banyak aspirasi dari DPW dan DPD PSI setelah mengetahui Mas Kaesang bergabung menjadi anggota PSI, agar Mas Kaesang menjadi Ketua Umum PSI,” ungkap Isyana pada 24 September 2023.

Kenapa Kaesang?

Isu ini tidak hanya menarik, melainkan juga sangat menarik. Pasalnya, terdapat beberapa desas-desus yang menyebutkan Presiden Jokowi dapat menjadi Ketua Umum PSI selanjutnya. RI-1 disebut nyaman dengan PSI karena partai itu sangat loyal mendukungnya. Belakangan, PSI juga gencar mengkampanyekan “Jokowisme”.

Jokowisme dapat dipahami sebagai permainan kata. Tidak hanya dibaca sebagai ikhtiar dalam mendefinisikan pandangan politik, ideologi, dan ekonomi Jokowi, melainkan juga dapat dibaca sebagai “Jokowi is me” atau “Jokowi adalah saya”. Sekali lagi, itu adalah bentuk slogan dukungan yang mengarah pada idola.

Baca juga :  Menkominfo dan Kegagalan Menteri “Giveaway” Jokowi?

Well, kita kembali pada Kaesang. Sekarang pertanyaannya begini, jika isu Presiden Jokowi akan menjadi Ketua Umum PSI benar-benar ada, kenapa justru Kaesang yang dirumorkan sekarang?

Jika boleh membangun hipotesis, ini tampaknya adalah “politik catur”. Presiden Jokowi tidak harus menjadi Ketua Umum PSI secara de jure, melainkan cukup menempatkan orang kepercayaannya, yang dalam konteks ini adalah anaknya, Kaesang Pangarep.

Ini persis seperti dijelaskan Niccolò Machiavelli dalam bukunya Il Principe. Seorang raja pasti menempatkan orang kepercayaannya untuk mengisi pos-pos strategis. Dalam sejarah panjang kekuasaan, orang kepercayaan itu memang umumnya berasal dari ikatan keluarga, khususnya ikatan darah.

Strategi Catur

Ada dua alasan bagus yang dapat dipikirkan atas penempatan Kaesang. Pertama, ini untuk menghindari resistensi luar biasa PDIP. Sebagai partai yang membesarkan Presiden Jokowi, PDIP pasti akan geram jika kader terbaiknya menjadi ketua umum partai lain.

Simpulan itu dapat ditarik dari respons PDIP dalam menanggapi isu dukungan Presiden Jokowi ke Prabowo Subianto. Isu itu saja sudah membuat PDIP “geram”, lalu bagaimana jika Presiden Jokowi pindah partai?

Kedua, ini untuk menjaga nama besar Presiden Jokowi. Sebagai sosok yang namanya begitu besar, Presiden Jokowi akan mendapat berbagai kritik apabila memutuskan menjadi ketua umum partai yang bahkan tidak lolos ke Senayan.

Oleh karenanya, Kaesang ditempatkan untuk mengisi posisi itu. Selain itu juga terdapat kebijakan di PSI bahwa mereka harus dipimpin oleh sosok muda.

Sinyal Dukungan Jokowi?

Yang lebih menarik lagi adalah, ini tampaknya merupakan strategi diversifikasi yang luar biasa. Sebagai putra RI-1, arah dukungan Kaesang akan ditafsirkan sebagai arah dukungan ayahnya.

Ini sama seperti di kasus Gibran. Putra sulung Presiden Jokowi itu seolah menjadi magnet politik beberapa tahun belakangan ini, khususnya sekarang menjelang Pilpres 2024. Terdapat perang simbol di sana. Mereka yang dekat dan didukung Gibran akan dibaca publik sebagai sinyal dukungan Presiden Jokowi.

Baca juga :  Trump Ditembak, Ngefek ke Prabowo?

Nah, jika Kaesang menjadi Ketua Umum PSI, Presiden Jokowi benar-benar dapat menempatkan kakinya di dua poros sekaligus.

Dirinya, Gibran, dan Bobby Nasution yang merupakan kader PDIP akan mendukung Ganjar Pranowo. Sedangkan Kaesang yang berada di PSI diperkirakan akan mendukung Prabowo.

Dukungan PSI ke Prabowo diperkirakan hanya menunggu waktu. PSI mencabut dukungan dari Ganjar karena merasa “tidak dianggap” oleh PDIP.

Sebagai penutup kita dapat menarik dua kesimpulan penting. Pertama, ini adalah strategi politik yang begitu tua. Kaesang merupakan Ketua Umum PSI secara de jure, sedangkan Presiden Jokowi secara de facto.

Kedua, ini adalah bentuk diversifikasi dukungan. Ini adalah nasihat perang yang sudah lama digambarkan Sun Tzu. Di medan perang yang berbeda, jenderal yang diturunkan juga harus berbeda.

Well, perlu untuk diingat, sekelumit bangunan analisis dalam tulisan ini bertumpu pada satu hipotesis, yakni isu Presiden Jokowi dan Kesang menjadi Ketua Umum PSI benar adanya. Jika isu itu tidak benar, maka tulisan ini juga gugur dengan sendirinya. (R53)

spot_imgspot_img

#Trending Article

Alasan Banyaknya Populasi Asia

Negara-negara Asia memiliki populasi manusia yang begitu banyak. Beberapa orang bahkan mengatakan proyeksi populasi negara Asia yang begitu besar di masa depan akan membuat...

Rasuah, Mustahil PDIP Jadi “Medioker”?

Setelah Wali Kota Semarang yang juga politisi PDIP, Hevearita Gunaryanti Rahayu ditetapkan sebagai tersangka dugaan kasus korupsi oleh Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK), plus, Sekretaris Jenderal PDIP, Hasto Kristiyanto yang masih menjalani proses hukum sebagai saksi di KPK dan Polda Metro Jaya, PDIP agaknya akan mengulangi apa yang terjadi ke Partai Demokrat setelah tak lagi berkuasa. Benarkah demikian?

Trump dan Bayangan Kelam Kaisar Palpatine�

Percobaan penembakan yang melibatkan kandidat Presiden Amerika Serikat (AS), Donald Trump (13/7/2024), masih menyisakan beberapa pertanyaan besar. Salah satunya analisis dampaknya ke pemerintahan Trump jika nantinya ia terpilih jadi presiden. Analogi Kaisar Palpatine dari seri film Star Wars masuk jadi salah satu hipotesisnya.�

Misteri Post Power Jokowi

Setelah dua periode memimpin Indonesia, masa jabatan Presiden Joko Widodo (Jokowi) akan berakhir.

Rahasia di Balik Polemik Israel-PBNU?

Pertemuan “oknum” Nahdliyin dengan Presiden Israel Isaac Herzog mendapat kritik tajam di tanah air, termasuk dari PBNU sendiri. Namun, perdebatan akan esensi penting dibalik peran konkret apa yang harus dilakukan untuk perdamaian di Palestina kembali muncul ke permukaan. Meski kerap dianggap kontroversial, PBNU kiranya memang telah lebih selangkah di depan. Benarkah demikian?

Cawapres Trump Muda, Tiru Prabowo?

Mungkin, Pak Trump belajar dari Pak Prabowo kali ya? 

Trump Ditembak, Ngefek ke Prabowo?

Upaya penembakan Donald Trump bisa berujung pada tumbangnya Joe Biden? Apa efeknya ke pemerintahan Prabowo Subianto ke depannya?

Mengapa Barat Bisa ‘Kuasai’ Dunia?�

Negara-negara Barat tidak dipungkiri telah jadi ‘kiblat’ dari perkembangan negara modern selama beberapa dekade terakhir. Lantas, mengapa Barat bisa lebih maju?�

More Stories

Ganjar Kena Karma Kritik Jokowi?

Dalam survei terbaru Indonesia Political Opinion, elektabilitas Ganjar-Mahfud justru menempati posisi ketiga. Apakah itu karma Ganjar karena mengkritik Jokowi? PinterPolitik.com Pada awalnya Ganjar Pranowo digadang-gadang sebagai...

Anies-Muhaimin Terjebak Ilusi Kampanye?

Di hampir semua rilis survei, duet Anies Baswedan dan Muhaimin Iskandar selalu menempati posisi ketiga. Menanggapi survei yang ada, Anies dan Muhaimin merespons optimis...

Kenapa Jokowi Belum Copot Budi Gunawan?

Hubungan dekat Budi Gunawan (BG) dengan Megawati Soekarnoputri disinyalir menjadi alasan kuatnya isu pencopotan BG sebagai Kepala BIN. Lantas, kenapa sampai sekarang Presiden Jokowi...