HomeNalar PolitikAda Kongkalikong Antara Iran dan Israel?

Ada Kongkalikong Antara Iran dan Israel?

Kecil Besar

Dengarkan artikel berikut

Kendati diisukan akan jadi perang besar, konflik antara Iran dan Israel justru semakin mereda. Mengapa hal ini bisa terjadi? 


PinterPolitik.com 

Banyak yang mulai khawatir pertempuran yang kini terjadi di Timur Tengah bisa menjadi awal dari meletusnya Perang Dunia III. Tidak heran, panasnya konflik yang berkecamuk di sana belakangan memang sudah mempertemukan para kekuatan Timur Tengah, yakni Iran dan Israel. 

Ya, pada tanggal 13-14 April 2024 perhatian dunia tertuju pada serangan ratusan drone dan misil yang diluncurkan Iran dalam Operasi Janji Sejati-nya. Tidak berhenti di situ, dunia juga menjadi semakin tegang ketika Israel kembali membalas serangan Iran dengan meluncurkan misil-misilnya pada 19 April 2024. 

Menariknya, kendati semua orang sudah khawatir dan yakin bahwa perang akan semakin ter-eskalasi, fakta lapangan yang terjadi setelah 19 April justru menunjukkan hal yang sebaliknya. Iran diketahui tidak kembali membalas serangan Israel, sementara Israel terlihat tidak ingin membawa perselisihannya dengan Iran ke tahap yang lebih serius. 

Hal ini lantas memunculkan pertanyaan menarik, yakni mengapa tensi antara Iran dan Israel bisa mereda begitu saja? Apakah hal ini hanya karena kedua pihak terlalu “takut” akan perang terbuka, atau ada intrik lain yang mungkin belum disadari banyak orang? 

image

Tidak Digunakan untuk Hancurkan Satu Sama Lain 

Hal pertama yang perlu dicurigai dari motif konflik Iran-Israel adalah dari dampak serangannya. Dua serangan yang dilakukan oleh Iran dan Israel diketahui hanya menelan satu korban jiwa, serangan-serangan yang dilakukan itu pun disebut tidak berdampak banyak pada perusakan kapabilitas bertempur kedua negara.  

Fakta ini mampu menjadi indikasi bahwa kedua negara menunjukkan gelagat yang seakan setengah-setengah dalam menimbulkan kerusakan bagi lawannya. Kalaupun minimnya kerusakan akibat serangan tersebut adalah hasil minimalisir sistem pertahanan mereka, hal yang sewajarnya dilakukan oleh kedua negara yang sedang berperang adalah terus menghujani lawannya dengan serangan lanjutan. 

Baca juga :  Djojohadikusumo-Baswedan Bertemu di 33

Keanehan tersebut juga mampu menjadi poin kedua yang memperkuat argumen kuat bahwa ada motif sampingan di balik serangan Iran dan Israel. Jika kedua negara memang bersungguh-sungguh dalam retorikanya, di mana mereka berjanji untuk menghancurkan satu sama lain, seharusnya sudah ada serangan tambahan yang berniat membuat satu sama lain saling kesusahan. Namun, faktanya hal semacam itu tidak terjadi. 

Oleh karena itu, ada indikasi kuat bahwa serangan yang dilakukan Iran dan Israel bukan ditujukan untuk satu sama lain, tetapi digunakan untuk keuntungan yang lain. Khairul Fahmi, pengamat militer Institute for Security and Strategic Studies (ISESS), mencurigai bahwa serangan yang dilakukan oleh Iran dan Israel sesungguhnya dipergunakan untuk kepentingan politik dalam negeri mereka. 

Dari sisi Israel, serangan mereka ke Iran diduga kuat lebih bermanfaat untuk agitasi nasionalisme demi keuntungan elektoral, mengingat Israel akan menghadapi Pemilu pada tahun 2025 dan 2026. Selain untuk politik, serangan tersebut juga diasumsikan menjadi pemantik berjalannya bisnis industri pertahanan karena mampu memancing rasa takut negara-negara sekitarnya, yang kemudian berubah menjadi keinginan belanja alat pertahanan. 

Sementara, dari kubu Iran, selain juga ada indikasi untuk menstimulasi semangat belanja industri pertahanan, serangan mereka ke Israel pun sangat mungkin digunakan sebagai pengalihan isu dari permasalahan dalam negeri. Saat ini Iran diketahui telah jadi salah satu negara yang paling menghadapi permasalahan ekonomi, inflasi mereka mencapai angka lebih dari 40 persen dan setiap tahunnya mengalami penaikkan tingkat pengangguran. 

Tidak hanya itu, dari aspek politik pun Iran kerap dianggap tengah hadapi potensi gejolak politik karena memiliki kubu oposisi yang terus menguat, khususnya dari kubu People’s Mujahedin of Iran (MEK), yang dipimpin oleh Maryam Rajavi. Narasi perang melawan Israel dan Amerika Serikat tentu sangat bisa digunakan oleh Ebrahim Raisi dan Ali Khamenei untuk memperkuat dukungan politik dari masyarakat. 

Baca juga :  Pertamax dan Kelas yang Terlupakan

Nah, jika asumsi-asumsi ini benar, menarik kemudian untuk kita pertanyakan, mungkinkah terdapat semacam “kompromi” di balik gesekan konflik antara Iran dan Israel kemarin? 

image 1

Iran dan Israel Sudah “Kompromi”? 

Belakangan muncul narasi menarik bahwa saling kirim serangan antara Iran dan Israel adalah semacam aksi “kompromi” satu sama lain.  

Hal tersebut sempat diliput oleh media Reuters pada 19 April 2024 yang menyebutkan bahwa ada seorang diplomat yang menyebut Iran “membiarkan” Israel menyerang balik sebagai pukulan setimpal atas serangan yang mereka lakukan enam hari sebelumnya. 

Bila hal tersebut benar, maka ini bisa jadi salah satu bentuk tambahan dari fenomena normalization of war atau normalisasi perang sebagai instrumen politik konvensional. Andrew Bacevich dalam tulisannya The Normalization of War menyinggung bahwa perang di abad ke-21, ketika perang itu sendiri telah menjadi stimulan berjalannya bisnis senjata, telah dijadikan alat politik yang dianggap wajar untuk dilakukan demi keuntungan masing-masing negara. 

Sederhananya, kendati orang awam melihat perang sebagai sesuatu yang mengerikan, sejumlah penguasa di era sekarang justru melihat konflik-konflik kecil sebagai sesuatu yang dinormalisasi untuk lancarkan kepentingan mereka.  

Nah, jika kita menggunakan pandangan ini, maka kita pun bisa artikan bahwa mungkin alasan Iran tidak merespons keras serangan balik Israel adalah karena mereka pun sadar bahwa Israel memerlukan sebuah serangan balik untuk memperbaiki citra politik mereka di level domestik dan internasional.  

Bila hal ini benar, maka mirisnya kita pun bisa mengartikan bahwa dinamika peperangan dan nyawa orang-orang jelata telah menjadi korban dari kompromi politik para elite. 

Namun, tentu hal ini hanyalah asumsi belaka. Semoga saja para pemimpin dunia menyadari bahwa perang hanyalah menyakiti sesama manusia dan keuntungan yang mereka dapatkan dari perang tidak akan pernah bisa dijustifikasi. (D74)

spot_imgspot_img

#Trending Article

Najwa Shihab dan Kebangkitan Gossip-cracy

Najwa Shihab diam soal aksi 12 Juni, lalu dituding "antek". Benarkah publik sedang salah alamat dalam menagih pertanggungjawaban?

Golkar, Chandradimuka The Fixer?

Presiden datang dan pergi, tetapi satu fungsi selalu bertahan, the fixer. Dari Orde Baru hingga era Presiden Prabowo, Indonesia terus melahirkan operator negara yang menjembatani politik, birokrasi, dan ekonomi. Mengapa begitu banyak figur tersebut berasal dari Partai Golkar? Di sinilah kisah tentang "kawah chandradimuka" para pengelola kekuasaan dimulai

Jalan-jalan dengan Sepatu Roda ‘Girl Power’

Lagu "rollerblade" (2026) milik no na meledak jadi meme nasional. Kenapa justru girl group yang kini menguasai dunia? 

Prabowo dan Ancaman Stochastic Parrot

Dengarkan artikel ini: Sejak Pertamax resmi naik dari Rp 12.300 menjadi Rp 16.250 per liter pada 10 Juni 2026, gelombang demo mahasiswa meledak di Jakarta,...

Kerajaan Abadi Raja Ponsel Indonesia

Dengarkan artikel berikut. Audio ini dibuat dengan teknologi AI. Sugianto Kusuma mungkin bukan nama yang Anda ingat saat membeli iPhone. Tapi dialah yang berdiri di balik...

Jebakan Rindu Soeharto?

Demokrasi sudah 28 tahun berjalan, tapi foto Soeharto di sawah itu masih terus beredar di WhatsApp. Ekonom senior Ferry Latuhihin menyatakan menyesal ikut menjatuhkan Soeharto — dan Mahfud MD tidak mau meralat pernyataannya bahwa korupsi era reformasi "lebih gila" dari Orde Baru. Ada pertanyaan filosofis yang lebih dalam di balik semua ini: bukan siapa yang lebih baik, tapi mengapa negara yang lebih bebas justru terasa lebih tidak hadir?

Runtuhnya Empire Sawit Singapura?

Kebijakan DSI mengguncang arsitektur lama perdagangan sawit Asia Tenggara. Saat saham konglomerat sawit berbasis Singapura melemah, Indonesia mulai merebut kembali nilai yang selama puluhan tahun mengalir ke luar negeri. Apakah ini awal runtuhnya empire sawit Singapura dan lahirnya era baru geoekonomi Indonesia?

Pertamax dan Kelas yang Terlupakan

Negara menyebut mereka tulang punggung ekonomi, semakin lama mereka semakin hilang. Mereka tidak memiliki jaminan seperti kelas bawah dan mereka tidak punya akses sebesar kelas atas. Tetapi, mereka dipilih untuk menanggung semuannya.

More Stories

Kerajaan Abadi Raja Ponsel Indonesia

Dengarkan artikel berikut. Audio ini dibuat dengan teknologi AI. Sugianto Kusuma mungkin bukan nama yang Anda ingat saat membeli iPhone. Tapi dialah yang berdiri di balik...

Jersey Oranje Pengubur Luka Sejarah?

Dengarkan artikel berikut. Audio ini dibuat dengan teknologi AI. Ketika luka 350 tahun penjajahan berubah jadi dukungan totalitas untuk timnas Oranje — apa yang sebetulnya sedang...

Xi Jinping, the King of Games?

Tiga miliar manusia bermain game setiap hari — dan sebagian besar tidak tahu bahwa lapangan bermain itu dikuasai oleh Beijing