HomeNalar PolitikRupiah Melemah, Jokowi Goyah?

Rupiah Melemah, Jokowi Goyah?

Kecil Besar

Sejak akhir Februari lalu, nilai tukar rupiah terhadap dollar AS mengalami pelemahan. Bagaimana pengaruhnya terhadap perekonomian Indonesia?


PinterPolitik.com

“Saat kebijakan moneter menghancurkan nilai mata uang, kebijakan itu juga akan menghancurkan kelas menengah.” ~ Ron Paul

[dropcap]S[/dropcap]ekitar 2016 lalu, Wakil Presiden Jusuf Kalla (JK) pernah menyatakan kalau permasalahan ekonomi dapat menjadi salah satu penyebab jatuhnya sebuah negara. Oleh karena itu, kestabilan ekonomi harus dijaga betul agar tidak menimbulkan efek sosial yang pada akhirnya juga akan mengganggu keamanan negara.

Jadi ketika nilai rupiah kembali turun terhadap dollar AS pada akhir Februari ini, dan hampir menyentuh Rp 14.000 per dollar AS, tentu ini menjadi “lampu kuning” bagi Pemerintah. Sebagai valuta resmi yang digunakan Indonesia untuk transaksi luar negeri, penurunan nilai rupiah tentu akan berimbas ke berbagai sektor.

Walau Presiden Joko Widodo (Jokowi) telah meminta para menterinya – terutama yang berkaitan dengan perekonomian untuk berhati-hati, namun ternyata baik Menteri Koordinator Bidang Perekonomian Darmin Nasution dan Menteri Keuangan Sri Mulyani sangat yakin kalau pelemahan rupiah ini masih dalam tahap aman.

Baik Sri Mulyani maupun Darmin yakin kalau nilai rupiah akan dapat kembali stabil, setelah reaksi pasar saham dunia mereda. Seperti yang telah diketahui, penurunan nilai tukar rupiah ini merupakan imbas dari pernyataan pemimpin bank sentral AS The Federal Reserve (The Fed) yang baru, Jerome Powell di depan Kongres AS.

Demi mengembalikan suku bunga ke level “normal baru” (new normal), secara umum The Fed memang harus menaikkan suku bunganya. Namun pernyataan Powell yang berniat menaikkan suku bunga hingga empat kali di tahun ini, mendapatkan reaksi yang sangat cepat dari pasar sehingga posisi dollar langsung menguat.

Walau Indonesia bukan satu-satunya negara yang terimbas dengan penguatan dollar tersebut, namun tetap saja efeknya cukup mengganggu di tanah air. Salah satu yang merasakannya tentu di sektor ekspor-impor. Apalagi sejak lonjakan dollar di tahun 2015, nilai tukar rupiah hingga kini tidak banyak beranjak dari kisaran Rp 13.000 per dollar AS.

Sehingga pernyataan Sri Mulyani maupun Darmin yang seolah-olah menganggap angin kenaikan dollar tersebut, menimbulkan pertanyaan. Benarkah kondisi perekonomian Indonesia benar-benar aman? Terutama baik 2018 maupun 2019 merupakan batas jatuh tempo pembayaran bunga utang luar negeri. Apa mungkin pernyataan kedua menteri ini hanya sekedar menenangkan masyarakat semata?

Efek Pelemahan Rupiah

“Pemerintah bukanlah penggerak pertumbuhan ekonomi, namun masyarakat yang bekerja lah pelakunya.” ~ Phil Gramm

Dari sisi perekonomian makro nasional, pernyatan kedua menteri yang bertanggung jawab dengan perekonomian ini memang benar adanya. Banyak pihak yang juga setuju kalau depresiasi rupiah ini akan mampu ditangani pemerintah, sebab penyebabnya berasal dari faktor eksternal.

Sebagai negara yang menggunakan nilai mata uang internasional dengan dollar AS, mau tak mau, Indonesia memang harus menghadapi risiko fluktuasi yang terjadi. Meski begitu, baik Pemerintah maupun Bank Indonesia (BI) telah mengantisipasi kemungkinan-kemungkinan ini dengan melakukan berbagai langkah, salah satunya intervensi.

Baca juga :  "Termul" Pensiun, AI Ambil Alih

Menurut Kepala Pusat Studi Ekonomi dan Kebijakan Publik UGM A. Tony Prasetiantono dalam tulisannya di Harian Kompas,  saat ini cadangan devisa (cadev) tanah air berada dalam level nyaman. Dengan jumlah cadev mencapai 132 miliar dollar AS atau sepertiga dari jumlah utang luar negeri saat ini, posisi ini ia nyatakan tergolong aman.

Gubernur BI Agus Martowardojo sendiri mengaku telah melakukan intervensi sejak akhir Februari, namun hingga kini rupiah masih saja bertengger dikisaran Rp 13.700 hingga Rp 13.800, walau sempat turun sedikit ke Rp 13.600-an. Walau tak menyebut jumlah pasti, namun Agus mengatakan kalau cadev yang tersedia saat ini telah menyusut menjadi 128,06 miliar dollar AS.

Berkurangnya cadev negara sekitar 3,92 miliar dollar AS ini, menurut Asisten Gubernur Kepala Departemen Kebijakan Ekonomi Moneter BI Dody Budi Waluyo, memang menjadikan cadev negara tidak lagi tertinggi sepanjang sejarah seperti sebelumnya. Namun ia yakin, jumlahnya akan kembali naik karena ada valas yang diterima BI.

Selain mengancam penyusutan cadev, depresiasi rupiah yang terlalu lama akan mampu membebani Anggaran Pendapatan Belanja Negara (APBN) 2018, mengingat penghitungannya dilakukan dengan mematok rupiah dikisaran 13.400 per dollar AS. Kecemasan ini juga dinyatakan oleh anggota Komisi XI DPR Willgo Zainar.

Selain ancaman anggaran belanja yang semakin tinggi, tahun ini pun Indonesia memiliki kewajiban untuk membayar bunga utang luar negeri. Sehingga bila rupiah masih belum stabil, maka defisit APBN pun bisa dipastikan akan semakin tinggi. Bila itu terjadi, maka bisa jadi ada beberapa alokasi biaya yang harus dikurangi.

Namun kecemasan Willgo ini dapat dipatahkan oleh Direktur Penyusunan APBN Kementerian Keuangan, Kunta Nugraha. Menurutnya, pelemahan rupiah justru berdampak positif pada APBN. Sebab ketika rupiah melemah, penerimaan sumber daya alam (SDA) meningkat.

Tingginya dollar AS memang juga akan mendongkrak pendapatan negara dari SDA non Migas, karena menggunakan nominasi dollar AS. Peningkatan ini, juga diamini oleh Ketua Umum Kamar Dagang dan Industri (Kadin) Rosan Perkasa Roeslani yang mengatakan beberapa perusahaan berbasis ekspor seperti tambang dan kelapa sawit justru sumringah dengan kenaikan nilai dollar tersebut.

Benarkah banyak eksportir yang senang dengan kenaikan nilai dollar AS ini? Lalu mengapa masyarakat begitu resah dengan kondisi ini?

Baca juga :  Sultan Jogja: Simpul Kuasa Indonesia

Lampu Kuning Bagi Jokowi

“Manufaktur masih menjadi efek domino terbesar dalam hal peningkatan lapangan kerja, dibanding sektor ekonomi lainnya.” ~ William Clay Ford, Jr.

Depresiasi rupiah pada 2015 yang nyaris menyentuh nilai Rp 14.000 per dollar AS, secara mikro sebenarnya sangat memberatkan masyarakat. Terutama masyarakat kelas menengah bawah yang paling merasakannya, ini terlihat dari data Badan Pusat Statistik (BPS) yang menyatakan jumlah pengangguran mencapai 7,04 persen per Agustus 2017.

Bisa diartikan kalau jumlah pengangguran di tanah air, bertambah 10 ribu orang atau 0,14 persen selama setahun, yaitu sejak Agustus 2016. Pertambahan jumlah pengangguran ini, tentu saja imbas dari maraknya sejumlah perusahaan yang terpaksa gulung tikar akibat tak mampu membeli bahan baku yang harus diimpor dari negara lain.

Kondisi ini, juga diakui oleh Wakil Ketua Kadin Bidang Perdagangan Benny Soetrisno. Walau pada dasarnya pelaku ekspor mendapatkan keuntungan jika rupiah melemah, namun tidak begitu dengan para pengusaha disektor impor. Pelemahan rupiah ini, membuat ongkos produksi sebagian importir meningkat. Bahkan, beberapa perusahaan yang memiliki utang luar negeri pun ikut tertekan.

Di sisi lain, BPS juga memperlihatkan kalau neraca perdagangan Indonesia di sektor non Migas pada Desember 2017 mengalami defisit 270 juta dollar AS. Bahkan Kepala BPS Suhariyanto mengungkapkan, ‎nilai ekspor Indonesia pada Desember 2017 tercatat sebesar 14,79 miliar dollar AS atau turun 3,45 persen dibanding realisasi November 2017.

Berdasarkan fakta tersebut, maka apa yang dikatakan Kunta kalau nilai ekspor akan membantu menutupi defisit APBN, belum tentu dapat terjadi. Terutama karena negara juga terbebani dengan tingginya nilai impor batu bara untuk listrik. Padahal, sulit bagi pemerintah untuk menaikkan harga tarif listrik dalam negeri.

Tingginya ongkos impor juga, secara langsung akan berdampak pada harga-harga barang di pasaran, mengingat kebutuhan dalam negeri masih banyak yang bergantung pada impor. Ada kemungkinan kelesuan daya beli masyarakat akan bertambah loyo, bila rupiah masih terus terdepresiasi. Apakah efek domino di sektor mikro ini juga sudah masuk dalam kadar “aman” Menko Perekonomian dan Menteri Keuangan? Entahlah.

Sikap menganggap angin depresiasi rupiah oleh kedua menteri ini, secara tidak langsung juga akan mampu mempengaruhi persepsi masyarakat terhadap keseriusan Pemerintah terkait kesejahteraan rakyatnya. Ini terlihat dari survei terbaru Median yang memperlihatkan elektabilitas Jokowiterus menurun dari bulan ke bulan.

Hasil survei memperlihatkan, kalau penurunan elektabilitas Jokowi sebagian besar karena menganggap mantan Walikota Solo tersebut tidak mampu menyelesaikan masalah ekonomi. Dalam beberapa bulan saja, yaitu dari Oktober 2017 hingga Februari tahun ini, Jokowi terpaksa kehilangan 1,2 persen pemilihnya. Jadi apakah Jokowi akan terus membiarkan perekonomian membuatnya goyah hanya karena sikap acuh menterinya? (R24)

Artikel Sebelumnya
Artikel Selanjutna
spot_imgspot_img

#Trending Article

Jalan-jalan dengan Sepatu Roda ‘Girl Power’

Lagu "rollerblade" (2026) milik no na meledak jadi meme nasional. Kenapa justru girl group yang kini menguasai dunia? 

Prabowo dan Ancaman Stochastic Parrot

Dengarkan artikel ini: Sejak Pertamax resmi naik dari Rp 12.300 menjadi Rp 16.250 per liter pada 10 Juni 2026, gelombang demo mahasiswa meledak di Jakarta,...

Kerajaan Abadi Raja Ponsel Indonesia

Dengarkan artikel berikut. Audio ini dibuat dengan teknologi AI. Sugianto Kusuma mungkin bukan nama yang Anda ingat saat membeli iPhone. Tapi dialah yang berdiri di balik...

Jebakan Rindu Soeharto?

Demokrasi sudah 28 tahun berjalan, tapi foto Soeharto di sawah itu masih terus beredar di WhatsApp. Ekonom senior Ferry Latuhihin menyatakan menyesal ikut menjatuhkan Soeharto — dan Mahfud MD tidak mau meralat pernyataannya bahwa korupsi era reformasi "lebih gila" dari Orde Baru. Ada pertanyaan filosofis yang lebih dalam di balik semua ini: bukan siapa yang lebih baik, tapi mengapa negara yang lebih bebas justru terasa lebih tidak hadir?

Runtuhnya Empire Sawit Singapura?

Kebijakan DSI mengguncang arsitektur lama perdagangan sawit Asia Tenggara. Saat saham konglomerat sawit berbasis Singapura melemah, Indonesia mulai merebut kembali nilai yang selama puluhan tahun mengalir ke luar negeri. Apakah ini awal runtuhnya empire sawit Singapura dan lahirnya era baru geoekonomi Indonesia?

Pertamax dan Kelas yang Terlupakan

Negara menyebut mereka tulang punggung ekonomi, semakin lama mereka semakin hilang. Mereka tidak memiliki jaminan seperti kelas bawah dan mereka tidak punya akses sebesar kelas atas. Tetapi, mereka dipilih untuk menanggung semuannya.

“Sell Indonesia” dan Spirit 1928

Narasi "Sell Indonesia" menyapu pasar global, tapi di dalam negeri justru lahir persatuan. Apa yang sebenarnya sedang bangkit? 

Adu Nasib Rusdi-Sandi

Dua pengusaha besar, dua jalan politik berbeda. Rusdi Kirana berakar kuat di PKB hingga menjadi elite nasional, sementara Sandiaga Uno gagal mengangkat PPP dari keterpurukan. Mengapa modal, popularitas, dan jaringan tak cukup menyelamatkan partai yang rapuh?

More Stories

Informasi Bias, Pilpres Membosankan

Jelang kampanye, pernyataan-pernyataan yang dilontarkan oposisi cenderung kurang bervarisi. Benarkah oposisi kekurangan bahan serangan? PinterPolitik.com Jelang dimulainya masa kampanye Pemilihan Presiden 2019 yang akan dimulai tanggal...

Galang Avengers, Jokowi Lawan Thanos

Di pertemuan World Economic Forum, Jokowi mengibaratkan krisis global layaknya serangan Thanos di film Avengers: Infinity Wars. Mampukah ASEAN menjadi Avengers? PinterPolitik.com Pidato Presiden Joko Widodo...

Jokowi Rebut Millenial Influencer

Besarnya jumlah pemilih millenial di Pilpres 2019, diantisipasi Jokowi tak hanya melalui citra pemimpin muda, tapi juga pendekatan ke tokoh-tokoh muda berpengaruh. PinterPolitik.com Lawatan Presiden Joko...