HomeNalar PolitikAmerika Serikat Dukung Anies di 2024?

Amerika Serikat Dukung Anies di 2024?

Kecil Besar

Amerika Serikat (AS) dipercaya akan bermain di Pilpres 2024 Indonesia. Dari ketiga pasangan calon, ke mana arah dukungan Paman Sam berlabuh?


PinterPolitik.com

โ€œBig Brother is watching you.โ€ โ€“ George Orwell

Intervensi Amerika Serikat (AS) di pemilihan presiden (pilpres) negara lain telah menjadi topik kontroversial selama beberapa dekade. Salah satu dugaan intervensi yang paling terkenal adalah Pilpres Chili pada tahun 1970.

Pada saat itu, Salvador Allende, seorang sosialis, berhasil terpilih sebagai Presiden Chili. Pemerintah AS yang dipimpin Presiden Richard Nixon dan Henry Kissinger sebagai Penasihat Keamanan Nasional, disebut sangat mengkhawatirkan kebijakan sosialis Allende.

Central Intelligence Agency (CIA) kemudian ditugaskan secara diam-diam untuk mendukung upaya kudeta militer yang berujung pada penggulingan Allende dan pengangkatan Augusto Pinochet sebagai Presiden Chili.

Motivasi intervensi AS bervariasi, mulai dari kekhawatiran pengaruh komunisme, perlindungan kepentingan ekonomi, hingga agenda geopolitik. Selama Perang Dingin, misalnya, AS sering kali mencoba mencegah kemenangan calon yang dianggap memiliki hubungan dekat dengan Uni Soviet atau menganut ideologi komunis.

Di Guatemala pada tahun 1954, misalnya, CIA dipercaya mendukung kudeta yang menggulingkan presiden terpilih Jacobo Arbenz yang dianggap terlalu kiri.

Kasus di Indonesia

Di Indonesia, diskusi dan perdebatan soal intervensi AS sudah menjadi pembahasan umum, khususnya terkait pemerintahan Soekarno dan Soeharto.

Mantan Kepala Badan Intelijen Negara (BIN) A.M. Hendropriyono dalam bukunya Filsafat Intelijen Negara Republik Indonesia, misalnya, menjelaskan bahwa sejak tahun 1956, agen-agen CIA telah menggalang beberapa oknum perwira TNI-AD untuk mengambil-alih kekuasaan pemerintahan daerah di Sumatera Tengah, Sumatera Utara, dan Sulawesi Utara.

Upaya itu berlanjut pada terjadinya pemberontakan bersenjata Pemerintah Revolusioner Republik Indonesia (PRRI) dan Perjuangan Rakyat Semesta (Permesta) pada tahun 1958.

Pada tahun 1965, dalam peristiwa G30S/PKI, Soeharto disebut mendapatkan dukungan yang kuat dari CIA. Di sini, AS berperan dalam menekan berbagai media Barat untuk memberitakan kekejaman Partai Komunis Indonesia (PKI), khususnya Gerwani terhadap keenam jenderal yang menjadi korban peristiwa tersebut.

Baca juga :  "Sell Indonesia" dan Spirit 1928

Lantas, apabila AS melakukan intervensi di Pilpres 2024, kira-kira siapa paslon yang akan didukung?

Meraba Arah Paman Sam

Pertama-tama perlu digarisbawahi, tentu tidak mungkin melakukan konfirmasi langsung terkait ke mana arah dukungan AS. Kita tidak bisa menghubungi Presiden AS, CIA, atau pejabat AS yang berwenang untuk bertanya, โ€œnanti dukung siapa di 2024?โ€.

Atas keterbatasan itu, kita dapat melakukan metode penarikan kesimpulan abduktif. Dalam studi filsafat, khususnya epistemologi, penerapan metode abduktif dicontohkan pada detektif fiktif Sherlock Holmes.

Untuk mengambil kesimpulan terkait suatu kasus, Holmes akan membangun beberapa hipotesis yang kemudian diuji ketahanannya satu persatu. Metode yang digunakan untuk menguji setiap hipotesis adalah falsifikasi dari Karl Popper. Hipotesis yang dinilai paling mendekati kebenaran adalah yang paling lolos dari pertanyaan-pertanyaan.

***

Sekarang kita akan menguji ketiga pasangan calon, yakni (1) Ganjar Pranowo โ€“ Mahfud MD, (2) Prabowo Subianto โ€“ Gibran Rakabuming Raka, dan (3) Anies Baswedan โ€“ Muhaimin Iskandar.

Pertama, Ganjar-Mahfud MD. Untuk pasangan ini, keduanya tidak dinilai memiliki hubungan dekat dengan Barat atau Timur. Ganjar dan Mahfud tidak kuliah di luar negeri atau pun memiliki bisnis berskala internasional.

Namun, partai pendukung utama, yakni PDIP diketahui memiliki hubungan dekat dengan Partai Komunis China (PKC). Hubungan dekat itu misalnya terlihat ketika Ketua Umum PDIP Megawati Soekarnoputri mengucapkan selamat ulang tahun ke-100 untuk PKC pada 2021 lalu.

Momen itu dinilai oleh Direktur Eksekutif Indonesia Political Review (IPR) Ujang Komarudin sebagai sinyal hubungan yang dekat.

“Secara internasional mungkin Megawati ingin berpesan pada komunitas dunia, bahwa PDIP menjalin erat hubungan kerja sama dengan PKC,” ungkap Ujang (3/7/2021).

Bertolak pada kekhawatiran AS pada pengaruh Tiongkok, mengarahkan dukungan ke Ganjar-Mahfud mungkin tidak dilakukan.

Kita lanjut ke pasangan kedua, Prabowo-Gibran. Selama ini Prabowo dipersepsikan memiliki hubungan dekat dengan AS. Namun, dukungan Jokowi sepertinya dapat mengubah persepsi yang ada.

Baca juga :  Negara yang Belajar Berbicara Lewat Diam

Banyak pihak menilai Jokowi memiliki hubungan dekat dengan Tiongkok, khususnya soal investasi. Dengan adanya Perang Dagang, mungkin AS ingin mendukung pihak yang tidak berpotensi lebih menguntungkan Tiongkok secara ekonomi.

Yang paling dekat dengan dukungan AS mungkin adalah Anies-Muhaimin. Anies memiliki riwayat pendidikan di AS. Anies mengambil S2 di Universitas Maryland pada tahun 1997 dan S3 di Northern Illinois University pada tahun 1999.

Politisi senior Zulfan Lindan juga pernah mengatakan bahwa Anies yang kini dipercaya sebagai golden boy-nya AS. “Kemudian Anies sebagai Gubernur DKI Jakarta enggak pernah kunjungan ke Rusia, China, berarti Amerika Serikat melihat ini memang ya the second golden boy,” ungkapnya (26/9/2022).

Sejauh ini, belum diketahui apakah Anies atau Cak Imin memiliki riwayat atau potensi hubungan dengan Tiongkok. Kemudian, yang paling menarik adalah potensi Anies untuk dicitrakan sebagai Presiden Muslim yang moderat.

Mantan Wakil Kepala BIN Asโ€™ad Said Ali dalam bukunya Perjalanan Intelijen Santri, menjelaskan bahwa AS ingin menyelematkan Abdurrahman Wahid (Gus Dur) dari upaya kudeta pada tahun 2001.

Utusan AS berinisial Mr. YM akan mempersiapkan pesawat evakuasi bagi Gus Dur dan keluarganya ke John Hopkins University Hospital di Baltimore, AS, dengan alasan menjalani perawatan kesehatan.

Utusan itu mengatakan, Gus Dur harus tetap menjadi Presiden RI, meskipun hanya sebagai simbol karena Indonesia sedang berjuang menjadi negara demokrasi Muslim terbesar di dunia. Jika berhasil, itu dinilai dapat mempengaruhi negara-negara Islam lainnya.

Nah, bukan tidak mungkin AS akan melihat Anies seperti Gus Dur. Pandangan Anies yang moderat akan menciptakan persepsi sebagai Presiden Muslim yang demokratis.

Well, sebagai penutup, sekali lagi perlu digarisbawahi bahwa sekelumit analisis dan kesimpulan dalam tulisan ini adalah analisis deduktif. Ini adalah kesimpulan yang dapat ditarik berdasarkan variabel-variabel yang tersedia. (R53)

spot_imgspot_img

#Trending Article

IPDN, Bima, & Si Paling Berhak?

Pernyataan Bima Arya sontak memantik debat lama, apakah pendidikan birokrasi memberi hak lebih besar untuk memimpin daerah? Dari IPDN, meritokrasi, hingga legitimasi demokrasi, membuka pertanyaan mengenai apakah yang paling siap berdasarkan โ€œijazah birokratโ€ otomatis menjadi yang paling berhak memimpin rakyat?

Najwa Shihab dan Kebangkitan Gossip-cracy

Najwa Shihab diam soal aksi 12 Juni, lalu dituding "antek". Benarkah publik sedang salah alamat dalam menagih pertanggungjawaban?

Golkar, Chandradimuka The Fixer?

Presiden datang dan pergi, tetapi satu fungsi selalu bertahan, the fixer. Dari Orde Baru hingga era Presiden Prabowo, Indonesia terus melahirkan operator negara yang menjembatani politik, birokrasi, dan ekonomi. Mengapa begitu banyak figur tersebut berasal dari Partai Golkar? Di sinilah kisah tentang "kawah chandradimuka" para pengelola kekuasaan dimulai

Jalan-jalan dengan Sepatu Roda ‘Girl Power’

Lagu "rollerblade" (2026) milik no na meledak jadi meme nasional. Kenapa justru girl group yang kini menguasai dunia?ย 

Prabowo dan Ancaman Stochastic Parrot

Dengarkan artikel ini: Sejak Pertamax resmi naik dari Rp 12.300 menjadi Rp 16.250 per liter pada 10 Juni 2026, gelombang demo mahasiswa meledak di Jakarta,...

Kerajaan Abadi Raja Ponsel Indonesia

Dengarkan artikel berikut. Audio ini dibuat dengan teknologi AI. Sugianto Kusuma mungkin bukan nama yang Anda ingat saat membeli iPhone. Tapi dialah yang berdiri di balik...

Jebakan Rindu Soeharto?

Demokrasi sudah 28 tahun berjalan, tapi foto Soeharto di sawah itu masih terus beredar di WhatsApp. Ekonom senior Ferry Latuhihin menyatakan menyesal ikut menjatuhkan Soeharto โ€” dan Mahfud MD tidak mau meralat pernyataannya bahwa korupsi era reformasi "lebih gila" dari Orde Baru. Ada pertanyaan filosofis yang lebih dalam di balik semua ini: bukan siapa yang lebih baik, tapi mengapa negara yang lebih bebas justru terasa lebih tidak hadir?

Runtuhnya Empire Sawit Singapura?

Kebijakan DSI mengguncang arsitektur lama perdagangan sawit Asia Tenggara. Saat saham konglomerat sawit berbasis Singapura melemah, Indonesia mulai merebut kembali nilai yang selama puluhan tahun mengalir ke luar negeri. Apakah ini awal runtuhnya empire sawit Singapura dan lahirnya era baru geoekonomi Indonesia?

More Stories

Ganjar Kena Karma Kritik Jokowi?

Dalam survei terbaru Indonesia Political Opinion, elektabilitas Ganjar-Mahfud justru menempati posisi ketiga. Apakah itu karma Ganjar karena mengkritik Jokowi? PinterPolitik.com Pada awalnya Ganjar Pranowo digadang-gadang sebagai...

Anies-Muhaimin Terjebak Ilusi Kampanye?

Di hampir semua rilis survei, duet Anies Baswedan dan Muhaimin Iskandar selalu menempati posisi ketiga. Menanggapi survei yang ada, Anies dan Muhaimin merespons optimis...

Kenapa Jokowi Belum Copot Budi Gunawan?

Hubungan dekat Budi Gunawan (BG) dengan Megawati Soekarnoputri disinyalir menjadi alasan kuatnya isu pencopotan BG sebagai Kepala BIN. Lantas, kenapa sampai sekarang Presiden Jokowi...