HomeHeadlineKok Cak Imin Suka Jedag-jedug?

Kok Cak Imin Suka Jedag-jedug?

Kecil Besar

Calon wakil presiden (cawapres) Koalisi Perubahan, Muhaimin Iskandar (Cak Imin), akhir-akhir makin aktif mengunggah konten bernada lelucon dan jedag-jedug di akun-akun media sosialnya. Kenapa Cak Imin suka ber-jedagjedug?


PinterPolitik.com

“Lololo gak bahaya tah?” – @cakiminow

Hampir semua orang kini memiliki aplikasi berlambang not balok berwarna putih dengan latar belakang berwarna hitam terpasang di smartphones mereka. Yap, aplikasi itu dikenal luas dengan nama “TikTok”.

TikTok kini memang menjadi aplikasi media sosial (medsos) sejuta umat. Semua hal – mulai tempat-tempat hidden gem hingga dance challenge – bisa dijumpai di TikTok.

Namun, ada satu jenis konten yang tampaknya unik di Indonesia, yakni jenis konten yang dikenal sebagai jedag-jedug. Konten ini biasanya menggunakan musik dangdut, house, atau koplo, serta berisikan foto dan video yang kemudian diberi efek bergoyang.

Memang, bagi masyarakat umum, konten jedag-jedug bisa dibilang mudah diterima. Dengan kemasan sederhana tetapi asyik, banyak pengguna TikTok akhirnya ikutan membuat konten jenis ini.

Nah, calon wakil presiden (cawapres) Koalisi Perubahan, Muhaimin Iskandar (Cak Imin), juga termasuk dari sekian orang yang suka dengan konten jenis ini. Semakin ke sini, Cak Imin-pun sering mengunggah video jedag-jedug dengan satu-dua baris pantun atau parikan.

Selain konten jedag-jedug, Cak Imin juga mengunggah foto dan video yang berisikan aksi-aksi nyeleneh-nya. Beberapa waktu lalu, misalnya, ketua umum (ketum) PKB tersebut mengunggah aksinya yang melancarkan selepet menggunakan sarung ke arah calon presidennya (capres) sendiri, Anies Baswedan.

Namun, bukan tidak mungkin, ada maksud dan kepentingan di balik unggahan-unggahan Cak Imin ini. Mengapa Cak Imin tiba-tiba aktif ber-jedag-jedug? Mungkinkah ini jadi strategi politik menyongsong Pemilihan Presiden (Pilpres) 2024?

Cak Imin Jadi Cawapres Guyon?

Musik jedag-jedug dinilai bisa meningkatkan kunjungan dan bisa menarik audiens di Indonesia. Setidaknya, begitulah penjelasan Irmawan Rahyadi dan rekan-rekannya dalam paper mereka yang berjudul Embracing Engagement, Practice, and Viral Content: Using TikTok to Gain More TV Audiences.

Maka dari itu, tidak mengherankan apabila akhirnya banyak individu, organisasi, media, dan perusahaan ikut menggunakan musik dan efek jedag-jedug di konten-konten TikTok mereka. Influencer populer bernama Jerome Polin, misalnya, beberapa kali mengunggah konten jedag-jedug di akun TikTok-nya.

Boleh jadi, begitu luasnya penerimaan jedag-jedug ini membuat banyak aktor politik melakukan hal serupa. PAN, misalnya, dalam sejumlah akun medsosnya menggunakan tipe konten jedag-jedug sambil berjoget di video-videonya.

Teknik inipun akhirnya juga diambil oleh Cak Imin yang kini maju sebagai cawapres Anies. Konten jedag-jedug yang diunggah Cak Imin juga menggunakan cuplikna-cuplikan video ketika berkegiatan dengan Anies.

Selain jedag-jedug, Cak Imin juga menonjolkan sisi humornya. Selain konten selepet Anies, ketum PKB ini juga menonjolkan aksi nyeleneh lainnya seperti berpose ala kung fu ketika menjalankan tes kesehatan.

Sosok humoris Cak Imin ini bisa jadi cara komunikasi politik yang ampuh. Mengacu ke tulisan Michael D. Barnett dan Jeremy T. Deutsch yang berjudul Humanism, Authenticity, and Humor: Being, Being Real, and Being Funny, orang yang humoris biasanya lebih otentik dalam menyajikan diri mereka. 

Inilah mengapa publik bisa lebih mengenali sifat dan karakteristik seseorang bila orang itu humoris. Nilai-nilai pribadi Presiden ke-4 RI Abdurrahman Wahid, misalnya, lebih mudah dikenali karena humornya.

Bisa jadi, tujuan utama Cak Imin dengan konten jedag-jedug dan humornya ini adalah untuk menunjukkan otentisitas dirinya. Apalagi, berdasarkan banyak lembaga konsultan seperti McKinsey dan Ernst & Young, kelompok usia muda seperti Generasi Z lebih menyukai hal-hal yang otentik.

Lantas, secara politik, bagaimana sisi humoris dan jedag-jedug bisa mempengaruhi dinamika politik elektoral terkini? Mungkinkah ini menjadi keuntungan bagi Cak Imin?

Cak Imin, Si Paling Jedag-jedug?

Dengan menjadi humoris dan mengandalkan konten jedag-jedug, Cak Imin bisa jadi telah membuat dirinya menonjol di antara kandidat-kandidat yang ada. Apalagi, bagi capres Cak Imin, Anies Baswedan, ini bisa menjadi poin tambahan.

Mengacu ke tulisan PinterPolitik.com yang berjudul Cak Imin ‘Nyontek’ Guyonan Gus Dur?, Cak Imin yang humoris bisa melengkapi sosok Anies. Pasalnya, mantan Gubernur DKI Jakarta tersebut dikenal sebagai sosok yang intelektual dan cenderung serius.

Namun, sosok humoris Cak Imin tidak hanya menguntung secara inward, melainkan juga outward. Ini bisa dilihat dari bagaimana Cak Imin bila dibandingkan dengan cawapres-cawapres lainnya, Mahfud MD dan Gibran Rakabuming Raka.

Bila dibandingkan dengan Mahfud, Cak Imin bisa saja menjadi orang yang dinilai lebih relatable bagi masyarakat umum. Pasalnya, Mahfud belum tentu bisa menciptakan captatio benevolentiae.

Captatio benevolentiae sendiri merupakan cara atau hal yang membuat lawan bicara tertarik. Mengacu ke tulisan Arndt Graf yang berjudul Humour in Indonesian Politics, captatio benevolentiae ini merupakan salah satu pilar dalam berkomunikasi dan berorasi.

Boleh jadi, pada akhirnya, karakteristik inilah yang akan diandalkan Cak Imin selama beberapa bulan ke depan menuju bulan Februari pada tahun depan. Apalagi, ini bisa menjadi karakteristik unik dari Cak Imin.

Meski begitu, bukan berarti ini menjadi jaminan bahwa Anies-Cak Imin bisa terpilih sepenuhnya. Semua kembali bergantung pada dinamika apa saja yang dapat terjadi ke depannya. Bukan begitu? (A43)


Baca juga :  Anies dan Koleksi Pion Riyadh
spot_imgspot_img

#Trending Article

IPDN, Bima, & Si Paling Berhak?

Pernyataan Bima Arya sontak memantik debat lama, apakah pendidikan birokrasi memberi hak lebih besar untuk memimpin daerah? Dari IPDN, meritokrasi, hingga legitimasi demokrasi, membuka pertanyaan mengenai apakah yang paling siap berdasarkan “ijazah birokrat” otomatis menjadi yang paling berhak memimpin rakyat?

Najwa Shihab dan Kebangkitan Gossip-cracy

Najwa Shihab diam soal aksi 12 Juni, lalu dituding "antek". Benarkah publik sedang salah alamat dalam menagih pertanggungjawaban?

Golkar, Chandradimuka The Fixer?

Presiden datang dan pergi, tetapi satu fungsi selalu bertahan, the fixer. Dari Orde Baru hingga era Presiden Prabowo, Indonesia terus melahirkan operator negara yang menjembatani politik, birokrasi, dan ekonomi. Mengapa begitu banyak figur tersebut berasal dari Partai Golkar? Di sinilah kisah tentang "kawah chandradimuka" para pengelola kekuasaan dimulai

Jalan-jalan dengan Sepatu Roda ‘Girl Power’

Lagu "rollerblade" (2026) milik no na meledak jadi meme nasional. Kenapa justru girl group yang kini menguasai dunia? 

Prabowo dan Ancaman Stochastic Parrot

Dengarkan artikel ini: Sejak Pertamax resmi naik dari Rp 12.300 menjadi Rp 16.250 per liter pada 10 Juni 2026, gelombang demo mahasiswa meledak di Jakarta,...

Kerajaan Abadi Raja Ponsel Indonesia

Dengarkan artikel berikut. Audio ini dibuat dengan teknologi AI. Sugianto Kusuma mungkin bukan nama yang Anda ingat saat membeli iPhone. Tapi dialah yang berdiri di balik...

Jebakan Rindu Soeharto?

Demokrasi sudah 28 tahun berjalan, tapi foto Soeharto di sawah itu masih terus beredar di WhatsApp. Ekonom senior Ferry Latuhihin menyatakan menyesal ikut menjatuhkan Soeharto — dan Mahfud MD tidak mau meralat pernyataannya bahwa korupsi era reformasi "lebih gila" dari Orde Baru. Ada pertanyaan filosofis yang lebih dalam di balik semua ini: bukan siapa yang lebih baik, tapi mengapa negara yang lebih bebas justru terasa lebih tidak hadir?

Runtuhnya Empire Sawit Singapura?

Kebijakan DSI mengguncang arsitektur lama perdagangan sawit Asia Tenggara. Saat saham konglomerat sawit berbasis Singapura melemah, Indonesia mulai merebut kembali nilai yang selama puluhan tahun mengalir ke luar negeri. Apakah ini awal runtuhnya empire sawit Singapura dan lahirnya era baru geoekonomi Indonesia?

More Stories

Najwa Shihab dan Kebangkitan Gossip-cracy

Najwa Shihab diam soal aksi 12 Juni, lalu dituding "antek". Benarkah publik sedang salah alamat dalam menagih pertanggungjawaban?

Jalan-jalan dengan Sepatu Roda ‘Girl Power’

Lagu "rollerblade" (2026) milik no na meledak jadi meme nasional. Kenapa justru girl group yang kini menguasai dunia? 

“Sell Indonesia” dan Spirit 1928

Narasi "Sell Indonesia" menyapu pasar global, tapi di dalam negeri justru lahir persatuan. Apa yang sebenarnya sedang bangkit?