HomeNalar PolitikPrabowo Favorit Milenial?

Prabowo Favorit Milenial?

Kecil Besar

Gerindra menilai gaya Prabowo disukai oleh pemilih milenial.


PinterPolitik.com

[dropcap]M[/dropcap]erebut suara generasi milenial, sepertinya menjadi misi utama para peserta Pemilu 2019 nanti. Kelompok tersebut diperkirakan menjadi kelompok pemilih terbesar, sehingga siapa yang mampu memikat mereka akan mudah merengkuh kekuasaan.

Langkah tersebut misalnya dilakukan oleh Partai Gerindra dan capres mereka saat ini, Prabowo Subianto. Partai dengan nomor urut dua tersebut, mengklaim mereka memiliki pendekatan dan sayap partai khusus untuk menggarap kelompok pemilih muda.

Bagi Gerindra, sosok Prabowo cukup menarik bagi kelompok pemilih milenial. Berdasarkan survei internal mereka, gaya mantan Danjen Kopassus tersebut banyak digemari anak muda. Padahal sejauh ini, Prabowo kerap muncul dengan gaya berbau militer sesuai dengan latar belakangnya. Hal ini berbeda dengan capres lain, yaitu Jokowi yang mencoba menggarap pasar anak muda dengan mengikuti tren mereka, seperti memakai jaket jins atau mengendarai motor chopper.

Sosok Prabowo memang lebih banyak digambarkan sebagai pemimpin dengan gaya militer dan tegas. Hal ini sangat kontras dengan gaya Jokowi yang mencoba lebih santai dan membumi. Dengan gaya seperti itu, apakah Prabowo memang lebih banyak disukai oleh generasi milenial?

Generasi yang Besar

Istilah milenial belakangan tengah ramai digunakan banyak pihak, tak terkecuali politisi. Generasi ini dianggap tengah memegang peranan penting di masa kini dan bisa memiliki pengaruh di masa yang akan datang.

Ada beragam pandangan mengenai batasan tahun kelahiran dari generasi tersebut. Akan tetapi, kategorisasi yang paling umum digunakan biasanya menggunakan batasan tahun kelahiran, yaitu dari tahun 1980 hingga awal tahun 2000.

Jumlah generasi milenial di Indonesia tergolong sangat besar. Jika merujuk pada data BPS, jumlah kaum milenial di Indonesia pada 2017, diperkirakan mencapai 85 juta jiwa. Jika dipersentasekan, angka tersebut mencapai 32,6 persen dari total populasi. Jumlah tersebut tergolong menarik dan menjanjikan apalagi bagi para politisi.

 

Secara politik, generasi milenial kerap digambarkan sebagai generasi yang tidak malu-malu dan memiliki sikap politik yang spesifik. Hal ini terutama jika melihat fenomena yang terjadi di negara-negara Barat, di mana kesadaran politik tengah meninggi. Generasi ini dianggap memiliki preferensi kepada kelompok atau tokoh yang berhaluan progresif.

Meski demikian, kondisi tersebut kerapkali tidak berlaku secara luas. Di Indonesia misalnya, apatisme terhadap politik tergolong masih cukup besar. Berdasarkan survei yang digelar CSIS, terlihat bahwa ketertarikan kaum milenial terhadap politik hanya 2,3 persen saja. Litbang Kompas juga menunjukkan bahwa hanya 11 persen kaum milenial yang mau terlibat dalam partai politik.

Baca juga :  MBG dan Runtuhnya 'Republik Tepung'

Kondisi tersebut membuat para politisi dan partai politik harus bekerja ekstra keras untuk menarik perhatian kelompok pemilih besar tersebut. Sosok pemimpin yang menarik bisa saja diperlukan untuk memikat generasi milenial untuk mengubah pandangan politik mereka.

Pergeseran Politik Milenial

Dalam penelitan Roberto Stefan Foa dan Yascha Mounk dalam Journal of Democracy, terlihat bahwa terdapat pergeseran preferensi politik di kalangan anak muda terkini. Foa dan Mounk meneliti tentang kecenderungan politik masyarakat di Amerika Utara dan Eropa.

Dari penelitian Foa dan Mounk tersebut, ada beberapa contoh pergeseran pandangan masyarakat dalam memandang politik. Salah satunya, saat ini terjadi tren kenaikan pandangan bahwa sangat baik bagi golongan militer untuk berkuasa. Selain itu, penelitan mereka juga mengungkap bahwa terjadi kenaikan tingkat preferensi terhadap sosok pemimpin kuat yang tidak terganggu oleh parlemen dan pemilu.

Yang menarik, kenaikan tren soal figur pemimpin semacam itu muncul dari kelompok umur yang lahir di tahun 1980-an ke atas. Jika melihat penelitan tersebut, generasi milenial mulai memiliki pandangan bahwa demokrasi bukan lagi hal yang esensial di dalam kehidupan.

Prabowo Favorit Milenial?

Ada alasan mengapa generasi muda saat ini dapat lebih menyukai pemimpin yang terlihat kuat dan cenderung militeristik. Menurut Mounk, generasi muda saat ini tidak mengetahui bagaimana rasanya hidup tanpa demokrasi. Generasi tersebut tidak pernah mengalami kesulitan hidup di masa komunisme atau fasisme.

Mereka melihat kondisi saat ini terjadi stagnansi dan bahkan keadaan menjadi serba sulit. Generasi tersebut menyimpan rasa kesal kepada demokrasi karena dianggap tidak memberi banyak perubahan pada kondisi tersebut. Oleh karena itu, mereka mulai memikirkan alternatif sistem lain dan berharap ada perubahan.

Sejalan dengan hal itu, mereka juga mulai menggeser pilihan politik kepada sosok pemimpin tegas dengan karakteristik strongman atau orang kuat. Hal ini membuat pemimpin-pemimpin dengan karakter kuat seperti Xi Jinping, Vladimir Putin, Recep Tayyip Erdogan, hingga Donald Trump bermunculan di seluruh dunia.

Menurut Marc Hetherington, profesor dari Vanderbilt University, generasi ini memang tidak benar-benar sepenuhnya berpaling dari demokrasi. Mereka umumnya mau untuk mengikuti figur yang mau sedikit “menantang” demokrasi dengan sesuatu yang lebih tradisional dan sederhana.

Sosok pemimpin yang dapat mengendalikan nuansa tersebut diprediksi akan memperoleh keuntungan. Figur pemimpin tegas dengan karakter orang kuat diprediksi dapat memainkan emosi semacam itu.

Baca juga :  Djojohadikusumo-Baswedan Bertemu di 33

Prabowo dan Milenial

Berdasarkan survei yang dirilis oleh CSIS, tergambar bahwa generasi milenial memiliki preferensi politik tertentu. Temuan CSIS menangkap bahwa penetrasi media sosial tergolong memiliki pengaruh kuat di dalam generasi tersebut.

Secara umum, preferensi politik generasi tersebut masih menggambarkan preferensi masyarakat secara luas. Hal ini tergambar misalnya dalam pilihan partai politik dan juga capres. Terlihat bahwa tidak terlihat perbedaan besar antara pilihan politik antara generasi milenial dengan generasi di atasnya.

Prabowo Favorit Milenial?

Meski demikian, terdapat perbedaan yang ditunjukkan oleh generasi milenial yang aktif di media sosial. Dari survei yang dirilis CSIS, terlihat bahwa kelompok tersebut memiliki kecenderungan yang lebih besar untuk memilih Prabowo.

Di akun-akun media sosial Twitter, Instagram, dan Path, terlihat bahwa preferensi politik kaum milenial mengarah ke sosok Prabowo. Di Twitter, terlihat Prabowo unggul dengan 24,6 persen pemilih, sementara Jokowi 22,5 persen. Untuk Instagram, terdapat 29,6 persen pemilih Prabowo, unggul atas Jokowi dengan 26,5%. Adapun untuk Path, sebanyak 25,8 persen milenial memilih Prabowo, sedangkan Jokowi hanya 21,6 persen.

Jokowi tampak hanya unggul atas Prabowo di media sosial Facebook saja. Di media sosial tersebut, sebanyak 30,6 persen memilih Jokowi, sementara Prabowo hanya 28,6 persen.

Hasil survei CSIS tersebut bisa saja memiliki kaitan dengan penelitian yang dibuat oleh Foa dan Mounk dalam Journal of Democracy. Bisa saja gaya yang ditampilkan Prabowo saat ini jauh lebih memukau kelompok milenial ketimbang gaya figur lain.

Milenial di Indonesia, terutama pengguna media sosial, bisa saja tengah mengalami tren yang serupa dengan milenial di belahan bumi yang lain. Mereka bisa saja sedang menggandrungi sosok pemimpin kuat dengan gaya yang lebih tegas.

Sekilas, gaya Prabowo jika dibandingkan Jokowi memang terlihat jauh lebih tegas. Karakter orang kuat muncul dari Prabowo karena memiliki latar belakang militer. Hal ini sejalan dengan penelitan Foa dan Mounk yang menunjukkan bahwa kelompok milenial kini dapat lebih menerima pemimpin dari kalangan militer.

Berdasarkan kondisi tersebut, maka pernyataan Gerindra bisa jadi ada benarnya. Gaya tegas dan kuat seperti yang dimiliki Prabowo kini tengah digemari di seluruh dunia. Generasi milenial Indonesia bisa saja mengikuti tren tersebut di tahun 2019 nanti. (H33)

spot_imgspot_img

#Trending Article

Golkar, Chandradimuka The Fixer?

Presiden datang dan pergi, tetapi satu fungsi selalu bertahan, the fixer. Dari Orde Baru hingga era Presiden Prabowo, Indonesia terus melahirkan operator negara yang menjembatani politik, birokrasi, dan ekonomi. Mengapa begitu banyak figur tersebut berasal dari Partai Golkar? Di sinilah kisah tentang "kawah chandradimuka" para pengelola kekuasaan dimulai

Jalan-jalan dengan Sepatu Roda ‘Girl Power’

Lagu "rollerblade" (2026) milik no na meledak jadi meme nasional. Kenapa justru girl group yang kini menguasai dunia? 

Prabowo dan Ancaman Stochastic Parrot

Dengarkan artikel ini: Sejak Pertamax resmi naik dari Rp 12.300 menjadi Rp 16.250 per liter pada 10 Juni 2026, gelombang demo mahasiswa meledak di Jakarta,...

Kerajaan Abadi Raja Ponsel Indonesia

Dengarkan artikel berikut. Audio ini dibuat dengan teknologi AI. Sugianto Kusuma mungkin bukan nama yang Anda ingat saat membeli iPhone. Tapi dialah yang berdiri di balik...

Jebakan Rindu Soeharto?

Demokrasi sudah 28 tahun berjalan, tapi foto Soeharto di sawah itu masih terus beredar di WhatsApp. Ekonom senior Ferry Latuhihin menyatakan menyesal ikut menjatuhkan Soeharto — dan Mahfud MD tidak mau meralat pernyataannya bahwa korupsi era reformasi "lebih gila" dari Orde Baru. Ada pertanyaan filosofis yang lebih dalam di balik semua ini: bukan siapa yang lebih baik, tapi mengapa negara yang lebih bebas justru terasa lebih tidak hadir?

Runtuhnya Empire Sawit Singapura?

Kebijakan DSI mengguncang arsitektur lama perdagangan sawit Asia Tenggara. Saat saham konglomerat sawit berbasis Singapura melemah, Indonesia mulai merebut kembali nilai yang selama puluhan tahun mengalir ke luar negeri. Apakah ini awal runtuhnya empire sawit Singapura dan lahirnya era baru geoekonomi Indonesia?

Pertamax dan Kelas yang Terlupakan

Negara menyebut mereka tulang punggung ekonomi, semakin lama mereka semakin hilang. Mereka tidak memiliki jaminan seperti kelas bawah dan mereka tidak punya akses sebesar kelas atas. Tetapi, mereka dipilih untuk menanggung semuannya.

“Sell Indonesia” dan Spirit 1928

Narasi "Sell Indonesia" menyapu pasar global, tapi di dalam negeri justru lahir persatuan. Apa yang sebenarnya sedang bangkit? 

More Stories

Membaca Siapa “Musuh” Jokowi

Dari radikalisme hingga anarko sindikalisme, terlihat bahwa ada banyak paham yang dianggap masyarakat sebagai ancaman bagi pemerintah. Bagi sejumlah pihak, label itu bisa saja...

Untuk Apa Civil Society Watch?

Ade Armando dan kawan-kawan mengumumkan berdirinya kelompok bertajuk Civil Society Watch. Munculnya kelompok ini jadi bahan pembicaraan netizen karena berpotensi jadi ancaman demokrasi. Pinterpolitik Masyarakat sipil...

Tanda Tanya Sikap Gerindra Soal Perkosaan

Kasus perkosaan yang melibatkan anak anggota DPRD Bekasi asal Gerindra membuat geram masyarakat. Gerindra, yang namanya belakangan diseret netizen seharusnya bisa bersikap lebih baik...