HomeNalar PolitikMembaca Siapa “Musuh” Jokowi

Membaca Siapa “Musuh” Jokowi

Kecil Besar

Dari radikalisme hingga anarko sindikalisme, terlihat bahwa ada banyak paham yang dianggap masyarakat sebagai ancaman bagi pemerintah. Bagi sejumlah pihak, label itu bisa saja terkait dengan sikap kritis kepada pemerintah.


Pinterpolitik.com

Rasanya, dalam beberapa waktu terakhir banyak ragam ideologi dan paham yang jadi bahan pembicaraan. Secara khusus, beberapa paham tersebut tampak dijadikan semacam “musuh” bagi pemerintahan presiden Joko Widodo (Jokowi) selama dua periode ini.

Tentu, yang paling kentara adalah bagaimana pemerintahan ini kerap terlihat melawan paham-paham berbau fundamentalisme Islam. Cap radikal dan terorisme acapkali jadi salah satu paham yang ingin dibendung di era Jokowi.

Di luar itu, ada banyak isme-isme lain yang muncul dari pejabat atau aparat pemerintahan Jokowi. Spektrumnya sendiri cukup luas, dari yang tergolong kiri hingga yang kerap dianggap kanan. Lagi-lagi, paham-paham tersebut kerap terlihat seperti lawan bagi pemerintah.

Di atas kertas, oleh beberapa pihak, pemerintah tentu bisa saja dianggap punya alasan. Selama beberapa tahun terakhir ini misalnya, pemerintahan Jokowi tergolong rajin mengampanyekan Pancasila.

Baca Juga: Anies-Ganjar Berebut Jokowi?

Meski demikian, bagi beberapa orang, mungkin label isme-isme itu tampak terlalu sering dilempar dan terutama dibenturkan dengan pemerintah. Boleh jadi, ada yang merasa terlalu banyak ideologi yang terlihat dipertentangkan dengan pemerintah.

Lalu, jika sudah begini paham siapa sebenarnya yang jadi musuh pemerintahan Jokowi?

Banyaknya Isme

Dalam beberapa tahun terakhir, masyarakat sepertinya harus belajar banyak ilmu politik, filsafat, dan ilmu-ilmu sosial lainnya. Bukannya tanpa alasan, ada banyak paham dan isme yang jadi label suatu kubu, terutama yang terlihat jadi oposisi pemerintah.

Tentu, kita sudah cukup paham kalau pemerintah tergolong rajin untuk meredam paham Islam radikal. Di satu sisi, hal ini mungkin cukup rasional seiring rentetan aksi terorisme yang terjadi dalam beberapa waktu terakhir.

Di sisi yang lain, paham itu sendiri boleh jadi dianggap masyarakat seperti muncul sebagai cap kepada oposisi atau pengkritik pemerintah yang memiliki pemahaman Islam yang lebih fundamentalis.

Dari kampus hingga aparatur sipil negara (ASN) misalnya jadi target pemerintah dalam penyisiran isu radikalisme ini.

Meski pemerintah tak pernah memakai label ini, isu soal polisi Taliban di Komisi Pemerintahan Korupsi (KPK) yang didengungkan para buzzer pemuja Jokowi juga bisa dikaitkan dengan hal ini.

Selain itu, masyarakat juga mungkin masih ingat bagaimana aparat negara mengenalkan isme baru yaitu anarko sindikalisme. Paham ini sempat terlihat seperti jadi musuh ketika terjadi rangkaian demonstrasi mulai dari peringatan Hari Buruh hingga saat pembahasan RKUHP dan revisi UU KPK era Jokowi.

Baca juga :  BGN and the ‘Nurturing’ Nanik

Bicara soal RKUHP, belakangan muncul paham lain yang dipertentangkan dengan kebijakan kontroversial pemerintah. Seperti dikutip dari beberapa media, Menteri Hukum dan HAM Yasonna Laoly tak ingin negeri ini jadi terlalu liberal saat memasukkan pasal penghinaan presiden ke dalam rencana revisi UU itu.

Di luar itu, beberapa pihak juga mungkin akan menyeret isme lain yang tampak jadi lawan pemerintah. Beberapa orang mungkin masih ingat kalau Jokowi sempat menyatakan ingin menggebuk komunisme.

Siapa Jadi “Musuh”?

Bagi beberapa orang, mungkin terlihat terlalu banyak sekali ideologi atau pemahaman yang jadi musuh pemerintahan Jokowi. Memang, jika hanya berbicara ideologi saja, beberapa orang mungkin akan berkata pemerintah punya alasan yang kuat.

Dalam beberapa tahun terakhir, pemerintahan Jokowi hingga para pemuja fanatiknya memang tergolong rajin mengampanyekan diri sebagai penyokong ideologi Pancasila. Tentu, di atas kertas hal itu sangat positif mengingat posisinya sebagai dasar negara.

Baca Juga: Jokowi dan Jebakan Simbol Negara

Meski demikian, netizen mungkin merasa terlalu banyak fenomena di mana pemerintah dan para pendukung fanatiknya menggunakan Pancasila untuk dipertentangkan dengan label isme lain yang mereka berikan.

Boleh jadi, pemerintahan era Jokowi dan para pendengungnya tengah menciptakan semacam musuh tersendiri untuk dilawan. Meski demikian, pemerintah sendiri memang perlu diakui tampak tak pernah menggunakan istilah musuh negara atau sejenisnya secara resmi.

Terlepas dari itu, bagi beberapa orang mungkin merasa memang terlihat ada musuh negara atau dapat pula disebut sebagai enemy of the state. Konsep ini pernah diungkapkan misalnya oleh Juergen Seifert saat membahas kebijakan politik Jerman Barat tempo dulu.

Ia menguraikan dalam penentuan musuh dan teman negara, faktor politik domestik dan internasional jadi lebih penting ketimbang faktor sosial ekonomi. Lalu, ia juga menyebut kalau musuh sebagai pihak yang mempertanyakan struktur politik dan sosial masyarakat.

Jika melihat hal itu, tentu kemudian pihak yang dapat dilabeli musuh negara bisa sangat fleksibel. Hal itu tergambar di Jerman Barat di mana terjadi redefinisi musuh seiring dengan pergantian pemerintahan.

Ada satu hal yang bisa diperhatikan dari pernyataan Seifert tersebut di mana musuh adalah mereka yang mempertanyakan struktur politik. Dalam kadar tertentu, unsur mempertanyakan ini dapat disetarakan dengan kritik.

Hal ini tergambar misalnya saat Donald Trump memberikan label enemy of the people kepada media ketika ia menjabat sebagai presiden Amerika Serikat. Istilah itu ia gunakan untuk memberi cap kepada media dan jurnalis yang kritis kepadanya.

Baca juga :  Golkar, Chandradimuka The Fixer?

Meredam Kritik

Sekali lagi, perlu diakui bahwa pemerintah di bawah Jokowi memang tampak tak pernah memberi label resmi musuh negara kepada ragam isme yang mereka sebutkan. Meski demikian, tampak bahwa selalu ada isme yang dipertentangkan dengan pemerintah ketika mereka dikritik.

Hal itu mungkin membuat orang merasa bahwa beragam label ideologi itu berlaku kepada pihak yang kritis kepada pemerintah. Kondisi ini bisa saja dianggap serupa dengan Trump yang melabeli media yang mengkritiknya sebagai enemy of the people.

Anggapan semacam itu diungkapkan misalnya oleh Kate Grealy dari Australian National University. Ia menyoroti bagaimana label radikal mengalami politisasi. Dikutip dari The New Mandala, ia menyebut bahwa cap radikal dan Islamis kerap digunakan untuk mendiskreditkan lawan politik.

Baca Juga: Jokowi Dukung Ganjar di 2024?

Tren tersebut ia gambarkan berjalan beriringan dengan narasi bahwa Pancasila amat suci dan harus dilindungi dengan berbagai cara, termasuk yang tidak demokratis sekalipun.

Lebih jauh, ia menggambarkan bagaimana Islam kemudian menjadi ancaman keamanan negara. Konstruksi ini lalu membuat beragam cara termasuk yang tidak demokratis menjadi dianggap benar.

Secara khusus, Grealy kemudian menjelaskan bagaimana beragam paham yang disebut di atas digunakan pemerintah sebagai pihak yang menyusupi rangkaian demonstrasi besar di tahun 2019. Demonstrasi yang dimotori mahasiswa itu disebut-sebut misalnya sudah disusupi kelompok radikal. Selain itu, isu anarko juga cukup mengena di masyarakat sejak peristiwa ini.

Hal-hal tersebut boleh jadi adalah gambaran bagaimana aparat pemerintahan, termasuk pendukung Jokowi kerap memberi label ideologi tertentu kepada pihak yang kritis. Label ini sendiri boleh jadi terlihat beragam, tetapi bisa dianggap publik satu tujuan, yaitu mereka yang beroposisi kepada pemerintah.

Oleh karena itu, jika ditanya isme apa sebenarnya yang menjadi musuh pemerintahan Jokowi sulit untuk dicari jawabannya. Yang jelas, dari uraian Grealy, boleh jadi publik akan merasa label ancaman atau sejenisnya itu akan berlaku pada mereka yang kritis.

Tentu, semua ini harus dipantau lebih lanjut kepastiannya. Untuk sementara, setelah muncul isu melawan liberalisme untuk pasal penghinaan presiden, kita mungkin harus siap jika ada paham lain yang akan dipertentangkan dengan kebijakan kontroversial. (H33)


► Ingin lihat video menarik lainnya? Klik di bit.ly/PinterPolitik

Youtube Membership

Ingin tulisanmu dimuat di rubrik Ruang Publik kami? Klik di bit.ly/ruang-publik untuk informasi lebih lanjut.

Promo Buku
Artikel Sebelumnya
Artikel Selanjutna
spot_imgspot_img

#Trending Article

Golkar, Chandradimuka The Fixer?

Presiden datang dan pergi, tetapi satu fungsi selalu bertahan, the fixer. Dari Orde Baru hingga era Presiden Prabowo, Indonesia terus melahirkan operator negara yang menjembatani politik, birokrasi, dan ekonomi. Mengapa begitu banyak figur tersebut berasal dari Partai Golkar? Di sinilah kisah tentang "kawah chandradimuka" para pengelola kekuasaan dimulai

Jalan-jalan dengan Sepatu Roda ‘Girl Power’

Lagu "rollerblade" (2026) milik no na meledak jadi meme nasional. Kenapa justru girl group yang kini menguasai dunia? 

Prabowo dan Ancaman Stochastic Parrot

Dengarkan artikel ini: Sejak Pertamax resmi naik dari Rp 12.300 menjadi Rp 16.250 per liter pada 10 Juni 2026, gelombang demo mahasiswa meledak di Jakarta,...

Kerajaan Abadi Raja Ponsel Indonesia

Dengarkan artikel berikut. Audio ini dibuat dengan teknologi AI. Sugianto Kusuma mungkin bukan nama yang Anda ingat saat membeli iPhone. Tapi dialah yang berdiri di balik...

Jebakan Rindu Soeharto?

Demokrasi sudah 28 tahun berjalan, tapi foto Soeharto di sawah itu masih terus beredar di WhatsApp. Ekonom senior Ferry Latuhihin menyatakan menyesal ikut menjatuhkan Soeharto — dan Mahfud MD tidak mau meralat pernyataannya bahwa korupsi era reformasi "lebih gila" dari Orde Baru. Ada pertanyaan filosofis yang lebih dalam di balik semua ini: bukan siapa yang lebih baik, tapi mengapa negara yang lebih bebas justru terasa lebih tidak hadir?

Runtuhnya Empire Sawit Singapura?

Kebijakan DSI mengguncang arsitektur lama perdagangan sawit Asia Tenggara. Saat saham konglomerat sawit berbasis Singapura melemah, Indonesia mulai merebut kembali nilai yang selama puluhan tahun mengalir ke luar negeri. Apakah ini awal runtuhnya empire sawit Singapura dan lahirnya era baru geoekonomi Indonesia?

Pertamax dan Kelas yang Terlupakan

Negara menyebut mereka tulang punggung ekonomi, semakin lama mereka semakin hilang. Mereka tidak memiliki jaminan seperti kelas bawah dan mereka tidak punya akses sebesar kelas atas. Tetapi, mereka dipilih untuk menanggung semuannya.

“Sell Indonesia” dan Spirit 1928

Narasi "Sell Indonesia" menyapu pasar global, tapi di dalam negeri justru lahir persatuan. Apa yang sebenarnya sedang bangkit? 

More Stories

Untuk Apa Civil Society Watch?

Ade Armando dan kawan-kawan mengumumkan berdirinya kelompok bertajuk Civil Society Watch. Munculnya kelompok ini jadi bahan pembicaraan netizen karena berpotensi jadi ancaman demokrasi. Pinterpolitik Masyarakat sipil...

Tanda Tanya Sikap Gerindra Soal Perkosaan

Kasus perkosaan yang melibatkan anak anggota DPRD Bekasi asal Gerindra membuat geram masyarakat. Gerindra, yang namanya belakangan diseret netizen seharusnya bisa bersikap lebih baik...

Menakar Puan sebagai Capres Perempuan

Nama Puan Maharani belakangan mulai dibicarakan sebagai capres 2024. Kemunculannya tergolong jadi pembeda mengingat bursa capres lebih sering didominasi laki-laki. Namun, apakah ia sendiri...