HomeCelotehMendagri Tito Dilawan Anak Buah?

Mendagri Tito Dilawan Anak Buah?

Kecil Besar

Beberapa daerah terapkan local lockdown. Kota Tegal misalnya, menutup akses ke jalan-jalan utamanya dengan beton seberat 2 ton. Sementara di Papua, Gubernur Lukas Enembe sempat menutup akses penerbangan dan pelayaran. Padahal, kebijakan-kebijakan “berani” tersebut bertentangan dengan keputusan Presiden Jokowi yang tidak ingin ada lockdown.


PinterPolitik.com

Kebijakan ala-ala lockdown di tingkat lokal ini emang sebenarnya jadi upaya para pemerintah daerah tersebut untuk melindungi rakyatnya. Yang terbaru, Gubernur Jawa Tengah Ganjar Pranowo membuat sebuah seruan yang meminta masyarakat dari Jakarta untuk tidak mudik ke kampung halamannya dulu dalam beberapa waktu ke depan.

Bukannya gimana-gimana ya, Jakarta sekarang ini udah jadi zona merah dan dari total 1.046 kasus positif yang ada di Indonesia saat ini, mayoritas ada di Jakarta. Jadi bisa kebayang gimana kalau orang-orang yang dari Jakarta pulang ke daerah dan membawa serta virus tersebut.

Seruan Ganjar ini memang hanya semacam imbauan. Namun, itu juga mengindikasikan bahwa sang gubernur ingin “menutup” daerahnya dari akses pendatang yang mayoritas berasal dari ibu kota.

Ini mungkin belum seberani Wali Kota Tegal Dedy Yon Supriyono yang merencanakan local lockdown – demikian ia menyebutnya – pada 30 Maret 2020 sampai 30 Juni 2020. Kebijakan tersebut tentu saja sangat berani sebab Presiden Jokowi sebelumnya meminta kepala daerah untuk tidak menerapkan kebijakan tersebut.

Jokowi memang tidak mau me-lockdown Indonesia karena menurutnya budaya dan kondisi di Indonesia berbeda dengan negara-negara lain yang telah menerapkan lockdown. Alasannya kekacauan dan kerusuhan bisa saja terjadi jika kebijakan tersebut diterapkan.

Hmm, iya juga sih. Makanya nggak heran Menteri Dalam Negeri Tito Karnavian sampai bilang kalau dirinya nggak setuju dengan kebijakan Gubernur Papua Lukas Enembe yang menutup akses penerbangan dan pelayaran ke wilayahnya.

Tapi nih, ini juga menunjukkan bahwa baik Pak Tito maupun Presiden Jokowi agak “kesulitan” mengendalikan kekuasaan di daerah loh. Bisa dibilang para “anak buahnya” ini agak melawan sama kebijakan pemerintah pusatnya.

Ibaratnya kepala dan tubuh, konteksnya kayak head alias kepala nggak bisa mengontrol body atau tubuhnya. Kan dengan kondisi penyebaran virus seperti sekarang ini antara head dan body sudah seharusnya sejalan.

Sebenarnya nih, kalau dipikir-pikir dan dilihat berdasarkan kasus yang sudah ada saat ini, kota seperti Jakarta itu udah seharusnya di-lockdown. Bukannya gimana-gimana ya, sebentar lagi kan mau Lebaran. Udah pasti bakal ada jutaan orang yang akan pulang ke rumah mereka masing-masing di berbagai daerah. Beh, bakal ngeri nggak tuh.

Makanya, baik Pak Jokowi maupun Pak Tito perlu deh ngasih sedikit kelonggaran bagi daerah yang akan menerapkan lockdown. Soalnya kebijakan tersebut diambil untuk kepentingan masyarakat di daerah tersebut kan.

Lagian ini juga harus jadi alasan bagi Pak Jokowi buat kembali pertimbangkan opsi lockdown. Biar nggak tambah parah pak kasusnya dan nggak terkesan menyepelekan efek penyebaran virus ini.

Malu loh, Kedutaan Besar Amerika Serikat aja udah ngeluarin peringatan bagi warganya yang berusia di bawah 21 tahun untuk meninggalkan Jakarta karena dianggap sudah terlalu berbahaya dan secara fasilitas kesehatan nggak mencukupi. (S13)

► Ingin lihat video menarik lainnya? Klik di bit.ly/PinterPolitik

Ingin tulisanmu dimuat di rubrik Ruang Publik kami? Klik di bit.ly/ruang-publik untuk informasi lebih lanjut.

Baca juga :  Gibran "Ban Serep" yang Ngarep?
spot_imgspot_imgspot_imgspot_img

#Trending Article

Sandi Galau Jokowi Makin Sakti

“Berikan tubuhmu sebanyak mungkin nutrisi supaya kuat, sehat dan bertenaga. Jika tubuh sudah kuat, sehat dan bertenaga, maka silahkan lanjutkan perlawanannya.” PinterPolitk.com Sandiaga Salahuddin Uno menyambut...

Masa Suram Budiman Sudjatmiko dkk.

“Orang tua, pandanglah kami sebagai manusia. Kami bertanya, tolong kau jawab dengan cinta,” – Iwan Fals, Bongkar Pinterpolitik.com Mahasiswa bergerak. Ribuan mahasiswa  di seluruh penjuru negeri...

Pemerintah ‘Paksa’ Minum Air Kotor?

“Air berkata kepada yang kotor, ‘Kemarilah.’ Maka yang kotor akan berkata, ‘Aku sungguh malu.’  Air berkata, ‘Bagaimana malumu akan dapat dibersihkan tanpa aku?” ~...

Anak STM Mendemo “Anak TK”

“Keterangan saya tidak begitu dipahami, karena memang enggak jelas bedanya antara DPR dan Taman Kanak-Kanak,” – Abdurrahman Wahid, Presiden RI ke-4 Pinterpolitik.com Awas, awas, anak STM...

Menyoal RUU Masyarakat Hukum Adat

RUU Masyarakat Hukum Adat menjadi salah satu rancangan undang-undang yang masuk ke dalam Prolegnas Prioritas DPR. Meski begitu, lambatnya pemrosesan RUU ini bisa jadi...

SBY Khawatirkan AHY?

Susilo Bambang Yudhoyono (SBY) menegaskan hanya ada satu matahari di Partai Demokrat. Tegasnya, saat ini yang memimpin partai adalah Agus Harimurti Yudhoyono (AHY). Kenapa...

PDIP Seharusnya Bersyukur Ada Luhut?

Menko Marves Luhut Binsar Pandjaitan tampaknya membuat gerah PDIP. Masinton Pasaribu bahkan mengeluarkan kalimat tegas, hingga meminta Presiden Jokowi memecat Luhut. Namun, mungkinkah PDIP...

Ridwan Kamil dan Cerita Bukber

Meski Satgas Covid-19 telah imbau agar bukber dilaksanakan tanpa ngobrol, Ridwan Kamil sebut bukber diperbolehkan dengan syarat.

More Stories

Menyikap Tubir Milbus

Pengangkatan purnawirawan sebagai Komisaris Utama PT Bukit Asam beberapa hari lalu melengkapi pola yang sudah terbentuk: Dirut MIND ID dari AU, Dirut PT Timah dari AD, Dirut Antam dari AD. Tiga perusahaan tambang negara paling strategis kini sama-sama dipimpin figur berlatar militer. Bercanda pun terasa pas — jurusan tambang terbaik Indonesia sepertinya ada di Akademi Militer.

Hotel Sultan dan Mesin Uang Soeharto

Water canon, batu beterbangan, 3.161 aparat mengepung Senayan. Negara akhirnya merampungkan apa yang gagal dilakukan selama 26 tahun: merebut Hotel Sultan dari tangan keluarga Sutowo. Nilai aset Rp 28,9 triliun — eksekusi perdata terbesar dalam sejarah Indonesia. Bermula dari tipu daya: Ibnu Sutowo membangun hotel pesanan Gubernur Ali Sadikin, bukan atas nama Pertamina, melainkan atas nama PT Indobuildco milik pribadinya.

The One-Man Band

Lebih dari 19 jabatan selama era Jokowi — Luhut Pandjaitan kerap dikritik sebagai simbol konsentrasi kekuasaan yang tak sehat. Tapi kritik itu melewatkan satu pertanyaan kunci: bukan kenapa Luhut punya banyak jabatan, melainkan kenapa Jokowi terus memilihnya? Jawabannya bukan soal nepotisme — melainkan soal desain.