HomeNalar PolitikPKS Berjaya di 2024?

PKS Berjaya di 2024?

Kecil Besar

Entah publik sadari atau tidak, faktanya Partai Keadilan Sejahtera (PKS) acapkali dinilai menjadi anomali bagi stigma kepada partai politik yang disebut membantu “kalau ada maunya”. Terbaru, hal tersebut digambarkan PKS dengan menjadi partai politik pertama yang memberikan bantuan Alat Pelindung Diri (APD) untuk tenaga medis melalui Ikatan Dokter Indonesia (IDI) dalam membantu optimalisasi penanganan Covid-19.


PinterPolitik.com

Keintiman yang ditunjukkan partai politik (parpol) kepada masyarakat menjadi hal jamak dan lumrah kala mendekati Pemilihan Umum (Pemilu) untuk mengumbar janji dan tidak jarang memberikan sesuatu yang bermanfaat bagi masyarakat. Namun ketika pemilu usai dan saat masyarakat membutuhkan, kebanyakan parpol yang notabene menjadi garda terdepan aspirasi rakyat, sama sekali tidak terlihat.

Hal yang kita kenal dengan pragmatisme politik menjadi repetisi musiman kala genderang kampanye jelang pemilu bergulir. Ward Berenschot dalam bukunya yang berjudul “Democracy For Sale; Elections, Clientelism and The State In Indonesia”, menyoroti maraknya politik uang pada pemilu di Indonesia. Menurutnya fenomena itu cenderung naik ke tingkat ketataran yang lebih tinggi, yakni menjadi sebuah sistem yang ia sebut sistem politik transaksional.

Berkorelasi dengan politik transaksional, Firman Noor dalam jurnalnya, “Mencermati Kampanye Pileg 2009: Gradasi Peran Partai dan Gejala Pragmatisme”, menyatakan bahwa kampanye dipandang sebagai sebuah ajang pertukaran keuntungan yang bersifat praktis dan perolehan suara dipandang sebagai sebuah konsekuensi dari sejumlah pengeluaran atau harga.

Penjelasan secara ilmiah dari gejala politik di Indonesia tersebut menggambarkan apa yang rakyat benar-benar alami dan rasakan di lapangan. Terlebih ketika rakyat mengalami situasi sulit seperti bencana maupun krisis. Pada titik itu, sangat jarang parpol, atau paling tidak kader-kadernya yang telah terpilih oleh rakyat, hadir membantu atau sekedar memberikan afeksi dan semangat bagi masyarakat terdampak langsung di lapangan.

Janji parpol yang penuh semangat perubahan yang lebih baik ataupun bantuan yang diberikan jelang kontestasi, seakan menjelma menjadi tipuan belaka ketika datang masanya masyarakat benar-benar berada dalam keadaan sulit dan membutuhkan uluran tangan. Hal inilah yang kemudian menciptakan kesan pragmatisme dalam politik.

Mungkin tidak semua demikian, namun faktanya hanya sedikit parpol yang secara konsisten bergerak cepat terjun ke lapangan ketika masyarakat sedang berada dalam keadaan sulit seperti bencana alam yang sering terjadi di Indonesia. Hal itu tentu menjadi nilai lebih tersendiri di mata masyarakat ketika kebanyakan tokoh dan pejabat justru disibukkan diskusi dan perdebatan yang memakan waktu, alih-alih ikut membantu penanganan situasi tersebut.

Berdasarkan riwayatnya dan tanpa tendensi tertentu, di Indonesia sendiri terdapat parpol yang dinilai seolah menjadi anomali tersendiri di tengah hiruk pikuk pragmatisme dunia politik. Adalah PKS, atau Partai Keadilan Sejahtera, yang baru-baru ini menorehkan impresi cukup baik kala menjadi parpol pertama yang memberikan kontribusi nyata dengan menyalurkan bantuan Alat Pelindung Diri (APD) untuk tenaga medis melalui Ikatan Dokter Indonesia (IDI) Pusat di Jakarta pada 26 Maret lalu.

Selain itu, PKS juga kerap mengambil peran sebagai parpol terdepan dan pertama dalam beberapa bencana yang terjadi di Indonesia melalui pengiriman relawan serta pendirian posko-posko darurat yang manfaatnya cepat dirasakan dan membantu masyarakat di saat-saat kritis. Seperti misalnya yang telah dilakukan pada saat gempa Lebak, tsunami Selat Sunda, gempa dan tsunami Palu-Donggala, gempa Lombok, hingga banjir dan longsor di beberapa daerah di Indonesia.

Lalu, dengan fakta demikian, apakah sudah saatnya bagi PKS untuk dapat lebih diperhitungkan sebagai partai dengan kredibilitas riil yang tinggi dalam persaingannya menuju 2024?

Konsistensi Pencitraan dan Kemaslahatan

“Pencitraan” semakin hari kian diasosiasikan sebagai istilah bermakna negatif, terutama dalam dunia politik. Padahal nyatanya citra adalah hal penting bagi siapapun dalam menentukan proses hingga output sebuah interaksi. Agaknya, makna negatif “pencitraan” semacam lingkaran saling terkait dengan pragmatisme dalam alam politik transaksional yang telah teruji secara empirik dan teoritis seperti penjelasan sebelumnya.

Dan ketika pihak tertentu, dalam hal ini partai politik, berbuat suatu yang bernilai baik, terlanjur acapkali diinterpretasikan masyarakat secara skeptis. Meskipun secara harfiah agak sulit untuk menentukan niat orisinil dari seseorang atau pihak tertentu terhadap citra yang ditampilkannya secara visual.

Dalam publikasiTaking Sides: A Fixed Choice Theory of Political Reasoning” yang ditulis oleh Paul Sniderdman, dalam logika kontestasi, partai politik membangun reputasi untuk mempertahankan nilai-nilai tertentu dan untuk mengejar tujuan tertentu pula. Dan sebagai pihak yang bersaing dari waktu ke waktu, reputasi seperti itu diperkuat.

Dalam hal ini, PKS sebagai partai yang telah melalui lima pemilu sepanjang kiprahnya di perpolitikan Indonesia, memiliki strategi khusus yang tentunya sesuai dengan ideologi partai. Berlatar belakang partai dakwah dan Islam di negara mayoritas muslim, PKS secara konsisten memanfaatkan dan membentuk reputasi berdasarkan nilai-nilai Islami namun berbeda dengan partai-partai bernuasna Islam terdahulu.

Burhanuddin Muhtadi, seorang peneliti politik mengatakan bahwa di awal kemunculannya –kala itu masih bernama Partai Keadilan (PK)– pada 1999, PK menarik perhatian banyak pengamat politik karena menjadi debutan yang terorganisir rapi dan memiliki agenda program yang jelas. Tak seperti partai Islam lain, yang bergantung pada ketokohan atau figur, PK mengedepankan egalitarianisme, mementingkan kekuatan kolektif.

Selain itu, dalam perjalanannya, PKS memiliki semangat tersendiri dan aktif dalam merespon bencana alam secara cepat dengan memanfaatkan kekuatan kolektifnya. Pada gempa dan tsunami Aceh tahun 2004 misalnya, PKS aktif mengkoordinir relawan Komite Kemanusiaan Indonesia untuk Aceh (KKIA) dalam membantu pendirian posko-posko pengungsian yang tersebar di berbagai lokasi. Selain itu, PKS juga membuka pengobatan gratis dan bekerjasama dengan para dokter serta paramedis dari BSMI (Bulan Sabit Merah Indonesia).

Sejak “debut” dalam tanggap darurat pada gempa dan tsunami Aceh, PKS secara konsisten menjadi parpol terdepan yang secara responsif memberikan kontribusi bagi pertolongan pertama serta tanggap darurat kala bencana alam terjadi di berbagai wilayah Indonesia seperti gunung meletus, gempa bumi, likuefaksi atau fenomena hilangnya kekuatan lapisan tanah akibat getaran gempa, hingga tanah longsor dan banjir bandang.

Dan yang terbaru, selain menyerahkan APD kepada IDI Pusat di Jakarta, instruksi presiden partai Sohibul Iman juga diikuti seluruh Fraksi PKS di berbagai daerah untuk mendonasikan gajinya dalam upaya membantu penanganan Covid-19.

Di luar manuver partai yang terkadang dinilai minor oleh publik, nyatanya konsistensi itulah yang membuat reputasi PKS menjadi positif kala penanganan bencana dibandingkan parpol lainnya. Berangkat dari pada itu, di antara partai politik lain, hanya PKS yang sampai saat ini berhasil membangun citra dan dinilai menghadirkan esensi keberadaan parpol bagi kemaslahatan rakyat tidak hanya ketika “ada maunya”.

Modal 2024?

Terlalu naif memang jika melihat kredibilitas sebuah parpol hanya sebatas eksistensi “relawan” kala bencana. Namun pada aspek lain, PKS juga dinilai memiliki potensi besar menjadi partai yang suatu saat akan berjaya di Indonesia.

Survei Indo Barometer mengenai parpol pilihan publik pada Februari lalu misalnya, melejitkan PKS ke empat besar, padahal pada Pemilu Legislatif nasional 2019 lalu sendiri hanya ada di peringkat tujuh. Dengan presentase 7,8 persen, PKS berada di bawah PDIP, Gerindra dan Golkar.

Indikator yang digunakan dalam survei yang melejitkan pamor PKS tersebut juga dinilai relevan dengan core dari partai berlambang bulan sabit dan padi itu. Selain dianggap paling islami, indikator suportif lainnya ialah kerja partai yang bermanfaat untuk masyarakat atau dekat dengan rakyat, di mana PKS telah secara konsisten hadir ketika masyarakat membutuhkan, utamanya ketika terjadi bencana.

Terlebih ketika pengamat politik Universitas Padjajaran, Muradi mengatakan bahwa PKS bisa “panen” di pemilu 2024. Dengan konsistensi sebagai partai di luar pemerintahan, PKS punya modal besar mengulang suksesnya buah konsistensi PDIP di periodenya sebelum berkuasa.

Ada tiga hal menurut Muradi yang akan membuat PKS berjaya yaitu political endurance, political cost, serta delivery issue. Meskipun secara cost dinilai terbatas, namun endurance PKS telah teruji ketika tidak lolos Parlementary Treshold pada 1999 dan bangkit pada pemilu berikutnya. Sementara dari delivery issue, sebagai partai di luar pemerintahan, PKS dinilai semakin punya banyak “bahan” saat ini.

Berdasarkan survei dan analisis tersebut tersebut, paling tidak terdapat tiga hal yang esensial jika konsistensi dipertahankan oleh PKS, yang mana itu akan berdampak besar di 2024.

Pertama, reputasi dekat dengan masyarakat kala bencana dan situasi sulit harus terus dipertahankan dan ditingkatkan, terlebih pada kondisi pandemi Covid-19 saat ini.

Kedua, konsistensi, peran, serta gestur yang elegan harus terus ditampilkan PKS sebagai partai di luar pemerintahan dengan sering mengekspos kritik yang sejalan dengan aspirasi publik.

Terakhir, ceruk tren hijrah masyarakat yang kian besar juga bisa dimanfaatkan PKS jika berkaca pada survei Indo Barometer tadi.

Merefleksikan potensi PKS dengan manuvernya dibanding partai lain kala pandemi Covid-19 ini tentu akan membuat persaingan serta proses menuju Pemilu 2024 menjadi sangat menarik. Terlebih jika berbicara adanya sosok baru yang dipastikan akan menjadi pemimpin berikutnya di negeri ini pada tahun yang sama. Menarik untuk ditunggu kelanjutannya. (J61)

► Ingin lihat video menarik lainnya? Klik di bit.ly/PinterPolitik

Ingin tulisanmu dimuat di rubrik Ruang Publik kami? Klik di bit.ly/ruang-publik untuk informasi lebih lanjut.

Baca juga :  Three Kingdoms of PSI?
spot_imgspot_img

#Trending Article

Jalan-jalan dengan Sepatu Roda ‘Girl Power’

Lagu "rollerblade" (2026) milik no na meledak jadi meme nasional. Kenapa justru girl group yang kini menguasai dunia? 

Prabowo dan Ancaman Stochastic Parrot

Dengarkan artikel ini: Sejak Pertamax resmi naik dari Rp 12.300 menjadi Rp 16.250 per liter pada 10 Juni 2026, gelombang demo mahasiswa meledak di Jakarta,...

Kerajaan Abadi Raja Ponsel Indonesia

Dengarkan artikel berikut. Audio ini dibuat dengan teknologi AI. Sugianto Kusuma mungkin bukan nama yang Anda ingat saat membeli iPhone. Tapi dialah yang berdiri di balik...

Jebakan Rindu Soeharto?

Demokrasi sudah 28 tahun berjalan, tapi foto Soeharto di sawah itu masih terus beredar di WhatsApp. Ekonom senior Ferry Latuhihin menyatakan menyesal ikut menjatuhkan Soeharto — dan Mahfud MD tidak mau meralat pernyataannya bahwa korupsi era reformasi "lebih gila" dari Orde Baru. Ada pertanyaan filosofis yang lebih dalam di balik semua ini: bukan siapa yang lebih baik, tapi mengapa negara yang lebih bebas justru terasa lebih tidak hadir?

Runtuhnya Empire Sawit Singapura?

Kebijakan DSI mengguncang arsitektur lama perdagangan sawit Asia Tenggara. Saat saham konglomerat sawit berbasis Singapura melemah, Indonesia mulai merebut kembali nilai yang selama puluhan tahun mengalir ke luar negeri. Apakah ini awal runtuhnya empire sawit Singapura dan lahirnya era baru geoekonomi Indonesia?

Pertamax dan Kelas yang Terlupakan

Negara menyebut mereka tulang punggung ekonomi, semakin lama mereka semakin hilang. Mereka tidak memiliki jaminan seperti kelas bawah dan mereka tidak punya akses sebesar kelas atas. Tetapi, mereka dipilih untuk menanggung semuannya.

“Sell Indonesia” dan Spirit 1928

Narasi "Sell Indonesia" menyapu pasar global, tapi di dalam negeri justru lahir persatuan. Apa yang sebenarnya sedang bangkit? 

Adu Nasib Rusdi-Sandi

Dua pengusaha besar, dua jalan politik berbeda. Rusdi Kirana berakar kuat di PKB hingga menjadi elite nasional, sementara Sandiaga Uno gagal mengangkat PPP dari keterpurukan. Mengapa modal, popularitas, dan jaringan tak cukup menyelamatkan partai yang rapuh?

More Stories

Runtuhnya Empire Sawit Singapura?

Kebijakan DSI mengguncang arsitektur lama perdagangan sawit Asia Tenggara. Saat saham konglomerat sawit berbasis Singapura melemah, Indonesia mulai merebut kembali nilai yang selama puluhan tahun mengalir ke luar negeri. Apakah ini awal runtuhnya empire sawit Singapura dan lahirnya era baru geoekonomi Indonesia?

Adu Nasib Rusdi-Sandi

Dua pengusaha besar, dua jalan politik berbeda. Rusdi Kirana berakar kuat di PKB hingga menjadi elite nasional, sementara Sandiaga Uno gagal mengangkat PPP dari keterpurukan. Mengapa modal, popularitas, dan jaringan tak cukup menyelamatkan partai yang rapuh?

Bongkar Deep State Dapur MBG?

Kepala BGN yang baru, Nanik Sudaryati Deyang krianya mewarisi lebih dari sekadar jabatan, mulai dari ekosistem kepentingan yang telah mengakar hingga probabilitas deep state di balik dapur MBG. Mengapa demikian?