HomeCelotehMendag Juragan Jagung

Mendag Juragan Jagung

“Pernahkah kita berterima kasih kepada para petani penanam benih? Keramahan yang putih, ketulusan yang tak pernah menagih.” ~ Habiburrahman El Shirazy


PinterPolitik.com

[dropcap]I[/dropcap]ngatan tak pernah hilang tentang geliat ngototnya Pemerintahan Jokowi – JK yang ingin swasembada pangan. Namun, kata – kata manis itu menjadi sepah yang amat sangat pahit.

Hmmm, nyanyian saat kampanye dan janji – janji politik yang selalu digaungkan memang tak selamanya bisa terealisasi dengan baik. Bahkan, cenderung hanya sebuah kekosongan yang dibalut dengan kemasan yang menarik saja, nyatanya sih hanya kekecewaan saja.

Wajar rasanya bila rakyat berteriak, rakyat semakin menjerit hebat, apalagi petani yang pasti tersungkur bersedih hati bila hasil panennya membusuk tak ada yang membeli. Kemana para pembeli itu? Hmmm, ternyata sudah dicekoki oleh garangnya Pemerintah yang mengimpor secara besar – besaran.

Terlintas susahnya jadi petani, bersusah payah menanam, merawat dan mengharapkan hasil panen yang maksimal. Tapi pemerintah dengan ‘serampangan’ mengimpor beras, jagung sampai ketan sekalipun. Ahhhh syudahlahhh.

Pemerintah masih mau dikatakan berpihak sama rakyat? Rasanya sulit.

Apa kabar swasembada pangan? Lupa ya? Hmmm, kalau begitu rakyat akan mengatakan, panjang umur perlawanan, menolak lupa!

Ngototnya pemerintah melalui Kementerian Perdagangan (Kemendag) untuk mengimpor beras sudah menandakan sesuatu. Awalnya diantara kedua Menteri di Kabinet saling berbeda pendapat, ada yang mengatakan beras cukup, ada yang bilang kurang. Huuffffttt, data siapa yang tidak valid? Weleeeeh weleeeh.

Alhasil impor beras tetap dilakukan. Tak main – main, 500.000 ton beras akan datang ke Indonesia. Tapi beruntungnya banyak pihak yang menolak, alhasil kuota impor beras dikurangi. Sudah sensasional, pemerintah mbalelo juga. Hadeuuuh, ampun dah.

Beras masih membekas, kini pemerintah mengulang hal yang sama. Kemendag akan mengimpor 171.000 ton jagung. Apa kabar swasembada jagung? Weleeeh weleeeh. Jagung sudah berlimpah, kok masih saja impor.

Pertanyaannya, apa alasan impor ini? Indonesia bukannya sudah mampu memenuhi persediaan jagung nasional? Atau ada alasan kocak lain seperti peristiwa impor beras? Apa kabar swasembada pangan?

Ngurusi negara ga sebercanda ini juga kali, weleeeh weleeeh. (Z19)

spot_imgspot_imgspot_imgspot_img

#Trending Article

More Stories

Wali Kota Depok ‘Biduan Lampu Merah’

"Kualitas humor tertinggi itu kalau mampu mengejek diri sendiri. Cocok juga ditonton politisi. Belajar becermin untuk melihat diri sendiri yang asli, " - Butet...

DPR Terpilih ‘Puasa Bicara’

“Uang tidak pernah bisa bicara; tapi uang bisa bersumpah,” – Bob Dylan PinterPolitik.com Wakil rakyat, pemegang amanah rakyat, ehmmm, identitas yang disematkan begitu mulia karena menjadi...

Ridwan Kamil Jiplak Jurus Jokowi

“Untuk melakukan hal yang buruk, Anda harus menjadi politisi yang baik,” – Karl Kraus PinterPolitik.com Pemindahan Ibukota masih tergolong diskursus yang mentah karena masih banyak faktor...