HomeCelotehGibran Mulai Berani “Mbalelo”?

Gibran Mulai Berani “Mbalelo”?

Kecil Besar

“Seng tak hapus malah (anggaran) Wali Kota dan Wakil Wali Kota kita hapus untuk mobil listrik. Timbange tuku mobil mending bangun pasar (daripada beli mobil mending buat membangun pasar),” – Gibran Rakabuming Raka, Walikota Solo


PinterPolitik.com

Politik merupakan sebuah istilah yang sejauh ini masih sulit ditafsirkan secara pasti. Ketidakpastian ini yang membuat politik dianggap sebagai dunia yang penuh dengan keburukan.

Padahal, politik itu penuh dengan nilai-nilai kebaikan. Kebaikan yang ditunjukkan pemimpin kepada rakyat biasanya diperlihatkan dengan sikap setia kepada rakyat – bukan sebaliknya dengan rakyat yang harus setia pada seorang pemimpin.

Demikianlah arti kesetiaan dalam politik. Bukan berasal bawah tetapi harus dari atas ke bawah. Seorang politisi yang selalu setia bersama dan berjuang untuk rakyat dia tidak akan ditinggalkan. 

Dan, demikian pula sebaliknya, seorang politisi yang tidak setia bersama rakyat dalam perjuangannya maka rakyat akan meninggalkannya begitu saja. Sederhana memang tapi berdampak luar biasa loh.

Nah, mungkin dilema kesetiaan semacam ini yang saat ini dihadapi Wali Kota Solo Gibran Rakabuming Raka ketika menolak menggunakan mobil listrik sebagai kendaraan dinas. 

Gibran lebih memilih membangun pasar yang merupakan fasilitas publik dibandingkan mengganti kendaraan dinasnya, yakni Toyota Innova, yang menurutnya masih layak digunakan.

Anyway, sikap Gibran ini, oleh sebagian orang dianggap sebagai bentuk pembangkangan loh. Kok bisa?

Sedikit memberikan konteks, penggunaan mobil dinas listrik di lingkungan aparat pemerintah daerah merupakan salah satu ketentuan yang tercantum dalam Instruksi Presiden (Inpres) Nomor 7 Tahun 2022.

Merespons aturan tersebut, Gibran mengatakan siap diberikan sanksi karena mengabaikan pengadaan mobil listrik yang telah diinstruksikan ayahnya sendiri, Presiden Joko Widodo (Jokowi).

Baca juga :  The One-Man Band

Franz Magnis-Suseno dalam bukunya Etika Jawa melihat ada nilainilai kesetiaan yang terbangun dalam budaya Jawa yang rupanya bersinggungan dengan konteks politik. Kesetiaan bukan hanya sikap menuruti, melainkan juga bagian dari bentuk legitimasi kekuasaan.

image 17
Gibran Jadi Cagub Jateng?

Nah, orang yang tidak setia dalam bahasa Jawa disebut mbalelo – artinya membangkang perintah atasan atau juga menentang arus.

Dalam cerita pewayangan, sikap “mbalelo” sering ditunjukkan sebagai memberontak, yang mana orang yang dianggap setia akhirnya memihak kepada musuh. Biasanya, sikap memberontak ini terjadi karena punya keyakinan sendiri akan suatu hal atau tidak puas dengan keadaan yang ada disekelilingnya.

Seperti halnya dalam cerita Ramayana versi wayang Jawa, dikisahkan adik Rahwana, yakni Gunawan Wibisana, yang “mbalelo” menyeberang dan memihak kubu Rama yang merupakan musuh dari kakaknya sendiri.

Bahkan, untuk mengembalikan istri Rama yang diculik Rahwana, Wibisana membuka rahasia kesaktian bala tentara Rahwana sehingga mereka dapat ditaklukkan.

Kembali ke konteks Gibran, sikap Gibran ini memperlihatkan realitas politik yang berbeda dengan kebanyakan kisah relasi kekuasaan antara ayah dan anak. Biasanya pengaruh Ayah begitu kuat, tapi Gibran dengan sikap “mbalelo”-nya ingin memperlihatkan bahwa ia mempunyai kemandirian politik yang perlu dihormati.

Well, terlepas dari pemaknaan istilah mbalelo yang sering ditafsirkan secara negatif karena dimaknai sebagai sikap membangkang, kita perlu hargai sebuah idealisme politik yang ditunjukkan Gibran.

Hal ini menunjukkan kalau, dalam politik, tidak selalu “kuasa” itu datang dari atas ke bawah tapi bisa sebaliknya.

Sebagai penutup, ngomong-ngomong soal pembangkangan, apakah mungkin pujian  Gibran kepada Anies Baswedan yang diungkapkan beberapa waktu lalu bisa ditafsirkan sebagai kode kalau ia siap mbalelo? Who knows? Hehehe. (I76)

Baca juga :  Strategi “Gajah” Kaesang masuk Pesantren ?

Sejarah Politk Dinasti: Dari Tiongkok Hingga Jokowi?
spot_imgspot_imgspot_imgspot_img

#Trending Article

Papua Anak Emas Jokowi

"Kunjungan Presiden Jokowi ke Papua merupakan perhatian yang semata-mata ingin mengejar ketertinggalan daerah tersebut dengan pembangunan infrastruktur ekonomi dan sosial." ~ Menteri Dalam Negeri,...

PDIP, Lu Itu Gak Diajak?

PDIP langsung menanggapi pertemuan ketum lima parpol (Gerindra, PKB, PPP, PAN, dan Golkar) yang munculkan wacana koalisi di 2024.

Surya Paloh Siap Relakan Megawati?

Intrik antara partai yang dipimpin Surya Paloh (Nasdem) dan PDIP yang dipimpin Megawati semakin tajam. Siapkah Paloh relakan Megawati?

Mengintip Ruang Kerja Nadiem

Rencana renovasi ruang kerja Mendikbudristek Nadiem dan sejumlah ruangan lain di Kemdikbudristek tuai polemik. Mengapa Nadiem butuh renovasi?

Ada Apa Anies dengan Politik Identitas?

Dalam wawancara ABC News Australia, Anies Baswedan ditanyai soal politik identitas. Apakah politik identitas memang tidak bisa dihindari?

Humor ‘Receh’ Jokowi

“Selera humor adalah bagian penting seni kepemimpinan. Humor penting untuk bergaul dengan berbagai kalangan dan memudahkan penyelesaian pekerjaan.” PinterPolitik.com Indonesia Bubar 2030 menjadi narasi yang diperbincangkan...

Boediono ‘Si Pengguncang’ Dunia

“Beri aku 1.000 orangtua, niscaya akan kucabut Semeru dari akarnya. Beri aku 10 pemuda, niscaya akan kuguncangkan dunia.” ~ Soekarno PinterPolitik.com Sungguh menggelegar apa yang digagas...

PSI, dari Achilles ke Batman

“Kamu punya pedang, saya punya trik. Kita akan bermain dengan mainan yang diberikan para dewa kepada kita”. – Odysseus, dalam film “Troy” PinterPolitik.com Gimana ya kalau...

More Stories

Ganjar Punya Pasukan Spartan?

“Kenapa nama Spartan? Kita pakai karena kata Spartan lebih bertenaga daripada relawan, tak kenal henti pada loyalitas pada kesetiaan, yakin penuh percaya diri,” –...

Eks-Gerindra Pakai Siasat Mourinho?

“Nah, apa jadinya kalau Gerindra masuk sebagai penentu kebijakan. Sedang jiwa saya yang bagian dari masyarakat selalu bersuara apa yang jadi masalah di masyarakat,”...

PDIP Setengah Hati Maafkan PSI?

“Sudah pasti diterima karena kita sebagai sesama anak bangsa tentu latihan pertama, berterima kasih, latihan kedua, meminta maaf. Kalau itu dilaksanakan, ya pasti oke,”...