HomeCelotehMenanti Maskawin Kang Mail

Menanti Maskawin Kang Mail

Kecil Besar

“…Dengan maskawin dibayar tunai!” Bagaimana sah? Sah!


PinterPolitik.com

[dropcap size=big]K[/dropcap]alau mau bicara tentang politik Indonesia, sepertinya masyarakat cenderung mosi tak percaya apabila bicara tentang kesepakatan – kesepakatan tanpa syarat apalagi janji – janji. Ah, sudahlah.

Buktinya, dulu sempat ramai dibicarakan katanya ada koalisi tanpa syarat eh akhirnya dagang sapi juga kan. Bukan sapi beneran ya, karena kalau sapi beneran pasti jadi juragan di pasar. Hahaha. Ini konteks politik nasional lho. Apalagi sekaliber Provinsi, Kota, Kabupaten, Kecamatan, Kelurahan/Desa. Ah, sudahlah. Tak bisa dibayangkan.

Namun, muncul lagi dagelan paling terbarukan, yaitu tentang ‘mahar politik’. Mungkin kalau dalam kata keseharian mahar sama dengan maskawin. Mungkin politisi sekarang ingin menikah terus karena selalu pakai mahar hahaha.

Nah bagi pasangan yang ingin menikah, saya anjurkan tidak menggunakan mahar politik ya. Kenapa? Ya bisa rusak dunia persilatan hehe.

Hmm, semakin semu saja perpolitikan ini ya. Sebelumnya, mahar politik kerap disembunyikan karena adanya rasa malu. Bahkan, ketika terendus media, politisi ini menghadap kamera dan mengeluarkan kata – kata yang intinya untuk berkilah ‘syalala’ tentang praktik permintaan mahar kepada calonnya.

Dan sepertinya rasa malu sedang jadi musuh para politisi, mungkin ya. Nanti baper lagi kalau disindir. Sebab, permintaan partai politik untuk mendukung calon diumbar – umbar. Bahkan secara nyata “Kami mendukung saudara, tapi tolong kami titip ya, kami inginkan ini itu. Syalalala,”.

Tentunya, bicara tentang mahar ada yang halal, ada yang haram. Ada yang dibayar tunai, ada yang kredit. Macam – macam lah wkwk. Seperti kata – kata saat ijab kabul saja. “….Dibayar tunai!”

Nah, di negeri para jomblo tentu semua warganya sudah menyiapkan maskawin karena kesendirian mengajarkan mereka untuk bercita-cita agar mendapatkan pasangan. Bicara negeri para jomblo, tentunya kita pasti mengenai Kang Mail. Yappss, dia adalah pemimpinnya para jomblo.

Kang Mail dikenal sebagai pemimpinnya para jomblo yang mau tak mau harus memenuhi syarat untuk masa depannya bila ingin naik tahta menjadi Gubernur. Bersyukurnya, penantian panjangnya untuk mencalonkan diri berhasil. Namun, ada catatan kecil dari partai pengusungnya agar dipenuhi oleh Kang Mail.

Kenapa harus dipenuhi Kang Mail?  Jawaban Kang Mail sangat menyentuh.

“Saya sebagai figur yang menjadi contoh bagi para jomblo tentunya akan mati-matian untuk memenuhi permintaan partai pengusung. Karena untuk memberikan kesan bahwa bagi jomblo yang ingin bahagia butuh perjuangan,” ujar Kang Mail.

Sehingga, kata Kang Mail, permintaan apapun partai pengusung akan dipenuhi sebagai pembelajaran bagi rakyat negeri jomblo tentang arti sebuah perjuangan.

Hmmm… bingung mau bilang apalagi, rakyat negeri jomblo pun terharu dan sebagian lagi kabur.  Bagi yang terharu, mereka takut tidak bisa memenuhi permintaan bila ingin mencalonkan diri.

 

(Z19)

spot_imgspot_imgspot_imgspot_img

#Trending Article

Ahok Jadi Ketua KPK?

Jokowi telah resmi menunjuk pansel pimpinan KPK 2019-2023. Prediksi tentang siapa ketua KPK yang dihasilkan seleksi ini pun sudah mulai bisa digulirkan. Pinterpolitik.com Teka-teki tentang siapa...

Kini, Giliran Politik Milenial?

Sosok-sosok yang berasal dari generasi milenial kini mulai bermunculan guna mengisi perannya di berbagai bidang, termasuk pemerintahan dan politik. Apakah kehadiran milenial menjadi tanda...

Ferry, “Sahabat Kepompong” Sandiaga

"Persahabatan bagai kepompong," lirik lagu Kepompong oleh Sind3ntosca. PinterPolitik.com Mendekati pilpres 2019, masing-masing kubu sibuk membangun struktur tim pemenangan agar mampu menjalankan manuver-menuver canggih untuk meraup...

Hantu Sawit di Papua?

Di balik berbagai kerusuhan yang terjadi akibat diskriminasi rasial terhadap kelompok Papua, terdapat persoalan kelapa sawit yang dinilai dapat mengancam lingkungan dan komunitas adat...

Jokowi Lempar Hadiah

Bagi kebanyakan orang, tentu saja apa yang dilakukan oleh Jokowi ini kurang etis. Dengan melempar-lemparkan bingkisan, Jokowi dianggap kurang menghormati masyarakat. PinterPolitik.com "If you have something...

PDIP Ketularan Artis

“Lelah bahas politik, mending lihat artis yang sedang akting jadi politikus. Hmmm, apa mereka akan berubah jadi tikus?” PinterPolitik.com Sekretaris Jenderal PDIP Hasto Kristiyanto mengatakan partainya tak sembarangan...

Pidato Berbisik Ala Prabowo

“Gebleknya maling-maling itu sudah mencuri uang kita, dia menyogok kita dengan uang kita sendiri saudara-saudara sekalian.” ~Prabowo Subianto PinterPolitik.com Menyedihkan gengs. Ternyata uang kita selama ini...

MK ‘Mabok’ Gugatan UU Pemilu

"Terlalu banyak menghabisakan waktu untuk bertanya ini - itu, kita malah lelah sendiri." ~Lala Purwono PinterPolitik.com Biasanya, keputusan spontan dalam keadaan terdesak akan melahirkan hasil yang...

More Stories

Wali Kota Depok ‘Biduan Lampu Merah’

"Kualitas humor tertinggi itu kalau mampu mengejek diri sendiri. Cocok juga ditonton politisi. Belajar becermin untuk melihat diri sendiri yang asli, " - Butet...

DPR Terpilih ‘Puasa Bicara’

“Uang tidak pernah bisa bicara; tapi uang bisa bersumpah,” – Bob Dylan PinterPolitik.com Wakil rakyat, pemegang amanah rakyat, ehmmm, identitas yang disematkan begitu mulia karena menjadi...

Ridwan Kamil Jiplak Jurus Jokowi

“Untuk melakukan hal yang buruk, Anda harus menjadi politisi yang baik,” – Karl Kraus PinterPolitik.com Pemindahan Ibukota masih tergolong diskursus yang mentah karena masih banyak faktor...