HomeCelotehIbu Kota Dipindah Untuk Ahok?

Ibu Kota Dipindah Untuk Ahok?

Kecil Besar

“Yang namanya kandidat ya memang banyak. Satu, Pak Bambang Brodjo (Brodjonegoro). Dua, Pak Ahok. Tiga, Pak Tumiyana. Empat, Pak Azwar Anas. CEO-nya sampai sekarang belum diputuskan, dan akan segera diputuskan insya Allah dalam minggu ini”. – Jokowi


PinterPolitik.com

Sosok Basuki Tjahaja Purnama alias Pak Ahok memang selalu menarik untuk dibahas. Soal kiprahnya ketika menduduki jabatan publik misalnya, selalu menjadi pembanding yang digunakan oleh para pendukungnya untuk menilai kinerja Gubernur DKI Jakarta saat ini, Anies Baswedan.

Belum lagi soal kehidupan pribadi dan perceraiannya. Semuanya dikupas secara tajam, setajam pisau cukur. Eh, nggak boleh nyebut merek cuy, kecuali udah jadi sponsor. Uppps.

Namun, yang paling membekas di ingatan publik tentang Ahok tentu saja adalah kasus penodaan agama yang membuatnya “terjungkal” dari perebutan kursi kekuasaan pada Pilgub DKI Jakarta 2017 lalu. Kasus itu juga membuat mantan suami Veronica Tan ini harus mendekam di penjara selama beberapa waktu.

Tak heran, banyak yang memprediksi karier politik Ahok dengan sendirinya telah tamat pasca kasus tersebut. Iya lah, di Indonesia kan memang ada aturan bahwa pejabat publik semisal menteri atau kepala daerah nggak boleh diduduki oleh orang yang punya riwayat kasus hukum.

Nah Pak Ahok itu ibarat kain putih yang kena setetes tinta hitam. Masih putih sih, tapi udah ternoda. Eaaa eaa. Dikata kayak pribahasa “karena nila setitik rusak susu sebelanga”.

Tapi nih, kayaknya prediksi-prediksi itu agak mulai melenceng deh. Bukannya gimana-gimana ya, coba lihat aja Pak Ahok sekarang. Setelah keluar dari penjara malah makin terkenal. Doi juga kini sudah duduk di jabatan strategis, yakni sebagai Komisaris Utama Pertamina.

Beh, bergengsi nggak tuh jabatannya. Gajinya aja cuy, Rp 3,2 miliar per bulan! Wih, itu kalau dipakai beli rendang, kayaknya bisa buat makan orang satu kecamatan. Uppps.

Nah, moncernya Pak Ahok kini bertambah lagi. Beberapa hari lalu, Presiden Jokowi nyebut nama Pak Ahok sebagai salah satu calon Kepala Badan Otoritas Ibu Kota Negara (IKN). Jabatan ini nantinya akan diduduki di ibu kota baru yang akan dibangun di Kalimantan Timur.

Beh, ini mah levelnya udah moncer cer cer cer. Nggak ada obatnya cuy. Makanya, emang Pak Ahok itu nggak beneran tenggelam kok kariernya pasca habis dipenjara. Buktinya, satu per satu jabatan prestisius kini mulai diraihnya.

Apalagi Pak Ahok juga kan udah nempel banget sama partai penguasa, PDIP. Kurang apa lagi coba.

Makanya nih, mulai muncul banyak pikiran “nakal”. Jangan eh jangan, ibu kota negara itu emang sengaja dipindahin dari Jakarta buat Pak Ahok! Kan siapa tahu buat mengobati sakit hatinya Pak Ahok.

Soalnya, pas doi kena kasus hukum dulu, nggak ada yang belain loh. Jadi biar impiannya menjadi pemimpin tertinggi di ibu kota tetap bisa terwujud. Uppss. (S13)

View this post on Instagram

Angka kekerasan terhadap #perempuan terus meningkat setiap tahun, baik itu kekerasan fisik maupun kekerasan seksual. Saat ini Indonesia bahkan telah ada dalam kondisi darurat kekerasan seksual menurut laporan dari #KomnasPerempuan. Nyatanya, ada persoalan ketidakseimbangan relasi kuasa antara perempuan dan laki-laki di #Indonesia yang menjadi salah satu akar persoalan ini. Ini juga terjadi akibat budaya dominasi laki-laki yang sangat kuat. ⠀ ⠀ Temukan selengkapnya di Talk Show: “Dominasi dan Legacy Male Power terhadap Wanita Indonesia, Kenapa? Dari Mana? Masih Perlu?”⠀ ⠀ Tiket dapat dibeli di: http://bit.ly/TalkShowPinterPolitik ⠀ #infografik #infografis #politik #politikindonesia #pinterpolitik #EventPinterPolitik #TalkShowPinterPolitik #komnasperempuan #rockygerung

A post shared by PinterPolitik.com (@pinterpolitik) on

► Ingin lihat video-video menarik? Klik di bit.ly/PinterPolitik

Ingin tulisanmu dimuat di rubrik Ruang Publik kami? Klik di bit.ly/ruang-publik untuk informasi lebih lanjut.

Baca juga :  Sultan Jogja: Simpul Kuasa Indonesia
spot_imgspot_imgspot_imgspot_img

#Trending Article

Sandi Galau Jokowi Makin Sakti

“Berikan tubuhmu sebanyak mungkin nutrisi supaya kuat, sehat dan bertenaga. Jika tubuh sudah kuat, sehat dan bertenaga, maka silahkan lanjutkan perlawanannya.” PinterPolitk.com Sandiaga Salahuddin Uno menyambut...

Masa Suram Budiman Sudjatmiko dkk.

“Orang tua, pandanglah kami sebagai manusia. Kami bertanya, tolong kau jawab dengan cinta,” – Iwan Fals, Bongkar Pinterpolitik.com Mahasiswa bergerak. Ribuan mahasiswa  di seluruh penjuru negeri...

Pemerintah ‘Paksa’ Minum Air Kotor?

“Air berkata kepada yang kotor, ‘Kemarilah.’ Maka yang kotor akan berkata, ‘Aku sungguh malu.’  Air berkata, ‘Bagaimana malumu akan dapat dibersihkan tanpa aku?” ~...

Anak STM Mendemo “Anak TK”

“Keterangan saya tidak begitu dipahami, karena memang enggak jelas bedanya antara DPR dan Taman Kanak-Kanak,” – Abdurrahman Wahid, Presiden RI ke-4 Pinterpolitik.com Awas, awas, anak STM...

Menyoal RUU Masyarakat Hukum Adat

RUU Masyarakat Hukum Adat menjadi salah satu rancangan undang-undang yang masuk ke dalam Prolegnas Prioritas DPR. Meski begitu, lambatnya pemrosesan RUU ini bisa jadi...

SBY Khawatirkan AHY?

Susilo Bambang Yudhoyono (SBY) menegaskan hanya ada satu matahari di Partai Demokrat. Tegasnya, saat ini yang memimpin partai adalah Agus Harimurti Yudhoyono (AHY). Kenapa...

PDIP Seharusnya Bersyukur Ada Luhut?

Menko Marves Luhut Binsar Pandjaitan tampaknya membuat gerah PDIP. Masinton Pasaribu bahkan mengeluarkan kalimat tegas, hingga meminta Presiden Jokowi memecat Luhut. Namun, mungkinkah PDIP...

Ridwan Kamil dan Cerita Bukber

Meski Satgas Covid-19 telah imbau agar bukber dilaksanakan tanpa ngobrol, Ridwan Kamil sebut bukber diperbolehkan dengan syarat.

More Stories

Menyikap Tubir Milbus

Pengangkatan purnawirawan sebagai Komisaris Utama PT Bukit Asam beberapa hari lalu melengkapi pola yang sudah terbentuk: Dirut MIND ID dari AU, Dirut PT Timah dari AD, Dirut Antam dari AD. Tiga perusahaan tambang negara paling strategis kini sama-sama dipimpin figur berlatar militer. Bercanda pun terasa pas — jurusan tambang terbaik Indonesia sepertinya ada di Akademi Militer.

Hotel Sultan dan Mesin Uang Soeharto

Water canon, batu beterbangan, 3.161 aparat mengepung Senayan. Negara akhirnya merampungkan apa yang gagal dilakukan selama 26 tahun: merebut Hotel Sultan dari tangan keluarga Sutowo. Nilai aset Rp 28,9 triliun — eksekusi perdata terbesar dalam sejarah Indonesia. Bermula dari tipu daya: Ibnu Sutowo membangun hotel pesanan Gubernur Ali Sadikin, bukan atas nama Pertamina, melainkan atas nama PT Indobuildco milik pribadinya.

The One-Man Band

Lebih dari 19 jabatan selama era Jokowi — Luhut Pandjaitan kerap dikritik sebagai simbol konsentrasi kekuasaan yang tak sehat. Tapi kritik itu melewatkan satu pertanyaan kunci: bukan kenapa Luhut punya banyak jabatan, melainkan kenapa Jokowi terus memilihnya? Jawabannya bukan soal nepotisme — melainkan soal desain.