Support Us

Available for Everyone, funded by readers

Contribute
E-Book
Home > Ruang Publik > Hoaks Corona: Lemahnya Literasi Digital?

Hoaks Corona: Lemahnya Literasi Digital?

Oleh Paelani Setia, mahasiswa Sosiologi di UIN Sunan Gunung Djati Bandung

Pinter Politik - Tuesday, April 14, 2020 7:00
Menkominfo Johnny Plate

0 min read

Seiring dengan meluasnya penyebaran virus Corona di Indonesia (COVID-19), berita bohong atau hoaks turut tersebar melalui internet dan media sosial. Mengapa hoaks turut meluas di tengah pandemi ini? Mungkinkah hal ini disebabkan oleh lemahnya literasi digital masyarakat Indonesia?






PinterPolitik.com

Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) sudah menetapkan coronavirus-disease (COVID-19) menjadi pandemi. Artinya, virus ini sudah mewabah dan menyebar luas dunia. Mewabahnya Covid-19 ini juga menimpa Indonesia, bahkan saat ini Indonesia menduduki posisi kedua tingkat kematian di dunia.

Meski terkesan terlambat, pemerintah Indonesia mengeluarkan kebijakan social distancing atau physical dintancing – hingga Pembatasan Sosial Berskala Besar (PSBB). Kebijakan-kebijakan ini dibuat untuk memutus rantai virus Corona jenis baru ini.

Kebijakan tersebut intinya mengharuskan masyarakat untuk tetap tinggal di rumah, belajar di rumah, dan kerja di rumah. Aktivitas-aktivitas tersebut banyak dilakukan melalui media daring. Salah satunya penggunaan media sosial.

Sebetulnya, ada Corona maupun tidak, media sosial sudah menjadi prasyarat wajib masyarakat Indonesa saat ini. Mungkin sudah sangat jarang orang yang tidak mempunyai media sosial, apalagi kaum milenial.

We Are Social mencatat 150 juta orang Indonesia merupakan pengguna media sosial aktif dari 165 juta penduduk tahun 2016. Sayangnya, efek domino tersebut melahirkan hoaks yang berkelindan dengan media sosial saat ini.

Tanpa mengenal musim, hoaks selalu muncul dalam berbagai isu-isu masyarakat, seperti politik, sosial, ekonomi, hingga agama. Termasuk hoaks mengenai virus Corona saat ini. Masyarakat bisa jadi risih dengan banjirnya hoaks mengenai virus corona di media sosial, terlebih dibuat kebingungan dengan informasi-informasi yang beredar tanpa jelas kebenarannya.

Tent,u hal tersebut sangat merugikan di tengah pandemi Corona ini. Selain itu, hoaks bisa menghambat terlaksananya kebijakan-kebijakan pemerintah melawan virus ini.

Yang menjadi pertanyaan adalah, mengapa – di tengah merebaknya corona – media sosial Indonesia justru dibuat kacau dengan banjirnya hoaks soal Corona ini? Lalu, apakah ini bukti buruknya literasi digital masyarakat Indonesia saat ini?

Masyarakat Informasionalisme dan Hoaks


Mungkin terma masyarakat informasionalisme masih terasa asing di telinga kita tetapi sebetulnya masyarakat informasionalisme sudah menjadi bagian hidup kita hari ini.

Manuel Castells, profesor sosiologi dari Universitat Oberta de Catalunya (UOC), Barcelona Spanyol, dalam karyanya The Power of Identity, The Information Age: Economy, Society and Culture, menggambarkan masyarakat digital sebagai sebuah masyarakat dimana kunci dari struktur sosial dan kegiatan-kegiatannya diatur oleh jaringan informasi yang diproses oleh alat elektronik.

Masyarakat digital identik dengan kebiasaan interaksi dengan media baru, melalui konsep metode baru dalam berkomunikasi di dunia digital. Media baru ini memungkinkan orang-orang dari kelompok-kelompok kecil berkumpul secara online, berbagi, menjual, dan menukar barang serta informasi.

Bagi Castells, alat-alat elektronik menjadi kunci kegiatan manusia sehingga melahirkan virual reality (realitas virtual). Interaksi tidak hanya didukung secara langsung (face-to-face), melainkan juga tidak langsung melalui media sosial. Meskipun realitas riil masih ada, perannya dirasa sudah tidak begitu penting bagi manusia abad ke-21.

Selain itu, Castells juga menggarisbawahi keberadaan informasi di era baru tersebut. Informasi menjadi jualan baru, bisa dibuat siapa saja, dengan tujuan apa saja. Bahkan, media-media mainstream perlahan-lahan ditinggalkan manusia saat ini.

Kebebasan memproduksi informasi ini menyebabkan hilangnya syarat-syarat utama penulisan informasi sesuai etika jurnalistik. Hal tersebut melahirkan hoaks.

Craig Silverman seorang jurnalis dan editor di BuzzFeed's Canadian Media dalam karyanya Lies, Damn Lies and Viral Content memaknai hoaks sebagai serangkaian informasi yang sengaja disesatkan, tetapi dijual sebagai kebenaran. Silverman menambahkan, di dunia jaringan saat ini, hoaks dibuat dan menyebar lebih jauh dan lebih cepat dari sebelumnya.

Farhad Manjoo seorang kolumnis teknologi New York Times berkata: “Orang-orang yang dengan terampil memanipulasi lanskap media saat ini mampu menyembunyikan, memutarbalikkan, membesar-besarkan berita palsu—pada dasarnya, mereka bisa berbohong—kepada lebih banyak orang, lebih efektif, daripada sebelumnya”.

Lebih jauh, ada tiga indikator mengapa hoaks lahir di era masyarakat informasi menurut Silverman. Pertama, informasi itu sendiri. Informasi yang mengagetkan, dan menarik lebih sering dibagikan ketimbang berita-berita umum.

Mungkin, beberapa di antara kita relatif jarang membagikan informasi-informasi dari media-media arus utama, melainkan lebih suka membagikan informasi-informasi yang menghebohkan atau viral dan belum tentu kebenarannya.

Kedua, teknologi — media sosial memfasilitasi berita benar dan berita salah. Teknologi hanya sebuah alat. Teknologi tidak bisa membedakan mana informasi yang benar mana informasi yang salah. Ini bukti bahwa teknologi sangat bergantung pada manusia sebagai instrukturnya.

Ketiga, faktor pengetahuan seseorang. Hal ini berdampak pada preferensi individu atau kepercayaan sendiri, jika informasi memenuhi unsur ketakutan, atau cocok dengan apa yang di pikirkan, serta apa yang sudah diketahui maka berdampak pada berkurangnya skeptisme.

Iswandi Syahputra, dalam pidato pengukuhan guru besarnya di bidang Sosiologi di UIN Sunan Kalijaga, Yogyakarta, menyebutkan bahwa hoaks merupakan fenomena lama dan sudah terjadi sejak zaman Romawi (44 SM) kala Oktavianus mempropaganda Antony sebagai tukang pemabuk karena tidak terima dengan kedekatan Antony dan Cleopatra. Media propaganda menggunakan koin yang dibagikan kepada rakyat.

Di zaman modern, hoaks identik dengan kegiatan politik dengan kemunculan Donald Trump tahun 2016 ketika menuduh media-media di Amerika Serikat menggunakan hoaks untuk mengkritiknya.

Namun, dalam perkembangannya hoaks juga membingkai berbagai unsur lainnya, termasuk virus Corona sekarang ini.

Buruknya Literasi Digital


Pada 17 Maret lalu, Kementerian Komunikasi dan Informatika (Kominfo) mengklaim bahwa telah terdapat 242 hoaks mengenai Corona. Bahkan, salah satunya adalah hoaks yang menyebut bahwa Presiden Joko Widodo (Jokowi) positif terinfeksi virus Corona.

Selain itu, ditemukan hoaks pesan suara kondisi RS Hasan Sadikin Bandung, hoaks mengenai mandi air panas yang dapat tangkal virus Corona, hoaks hand sanitizer yang menjelaskan bahwa lebih baik daripada sabun, hingga hoaks bahwa HP Xiaomi dapat menularkan virus Corona. Belum lagi, ditemukan juga hoaks bahwa jemur uang dapat kurangi penyebaran virus corona.

Jika kita amati dengan cermat, terkesan hoaks tersebut memang banyak yang tidak masuk akal, bahkan cenderung lelucon. Namun, karena adanya dimensi emosional – termasuk kekhawatiran/ketakutan, maka hoaks tersebut pun sukses menipu masyarakat.

Sejumlah hoaks mayoritas menyebar melalui media sosial – utamanya media sosial berbagi pesan berantai semisal WhatsApp.

Media sosial dipilih karena alasan kepraktisan dan kecepatan berbagi informasi. Seorang buzzer Amerika Serikat, Tommasso Debenedetti, blak-blakan mengaku kepada The Guardian bahwa media sosial adalah sumber informasi yang paling tidak dapat diverifikasi di dunia, tetapi mudah dipercaya karena kebutuhannya akan kecepatan informasi.

Setali tiga uang, hoaks menjadi fabrikasi baru abad ini. Faktor terbesar penyebab akan meluasnya hoaks adalah minimnya literasi digital masyarakat. Penelitian mengungkapkan bahwa kegiatan memperoleh informasi masyarakat Indonesia 85,9% bercorong pada televisi dengan rentang waktu dua kali dalam sehari, bukan bacaan atau media-media terpercaya. Padahal, mereka bisa memperolehnya kapan saja melalui alat yang ada dalam genggaman.

Menyoal hoaks seputar Corona ini, layakkah ini buntut masih minimnya literasi digital masyarakat Indonesia?

Sekali lagi, studi Most Littered Nation In the World oleh Central Connecticut State Univesity pada Maret 2016, Indonesia berada di peringkat ke 60 dari 61 negara soal minat membaca – jauh di bawah negara tetangga Singapura, Filipina, dan Thailand.

Namun, yang paling ironis, hoaks juga sering kali menimpa berbagai kalangan tanpa kecuali masyarakat terdidik dengan menyandang kekhasan budaya berpikir kreatif dan kritis, yakni merela yang berkemampuan mumpuni menyoal literasi digital.

Literasi digital sejatinya adalah kemampuan berpikir kritis terhadap informasi yang diterima di era digital termasuk media sosial. Kemampuan ini sangat dibutuhkan di era informasi, bahkan sifatnya wajib saat ini. Selain literasi digital, diperlukan juga kemampuan menerima, mengolah, dan memilih informasi.

Kita tentu tidak ingin masyarakat terus-menerus mengalami kebingungan akan hoaks soal Corona ini yang kerap kali muncul di media sosial. Kita juga sudah belajar bagaimana buasnya hoaks dan propaganda dengan mempolarisasi masyarakat tahun 2019 lalu kala Pilpres terjadi.

Begitupun saat ini, virus Corona merupakan musuh kita bersama. Enyahnya dari muka bumi ini adalah suatu keharusan yang wajib didukung siapa pun. Jangan sampai virus yang memenangkan duel sengit ini dan berhasil menimbulkan kepanikan luar biasa, serta aktivitas-aktivitas yang tidak dibenarkan karena terbuai oleh hoaks.

Pada akhirnya, upaya berbagai pihak sangat menentukan memberantas hoaks, juga termasuk upaya memberantas virus Corona yang kian hari kian betah di bumi ini. Berbagai upaya sederhana – semisal saring sebelum sharing – dibutuhkan oleh bangsa ini agar media sosial ini bisa benar-benar memberikan solusi kemudahan berbangsa, bukan momok menakutkan akibat ulah sendiri.
Tulisan milik Paelani Setia, mahasiswa Sosiologi di UIN Sunan Gunung Djati Bandung.





“Disclaimer: Opini adalah kiriman dari penulis. Isi opini adalah sepenuhnya tanggung jawab penulis dan tidak menjadi bagian tanggung jawab redaksi PinterPolitik.com.”

Ingin tulisanmu dimuat di rubrik Ruang Publik kami? Klik di bit.ly/ruang-publik untuk informasi lebih lanjut.

Berita Terkait