HomeNalar PolitikMungkinkah Golkar “Selingkuh”?

Mungkinkah Golkar “Selingkuh”?

Kecil Besar

Jelang pendaftaran Pemilihan Presiden 2019, Partai Demokrat masih berupaya mewujudkan wacana poros ketiga dengan Partai Golkar. Mungkinkah harapan Demokrat terwujud?


PinterPolitik.com

“Politik adalah seni kemungkinan, dari apa yang dapat dicapai – seni terbaik berikutnya.” ~ Otto von Bismarck

[dropcap]S[/dropcap]ebagai Kanselir pertama Jerman, Otto von Bismarck dikenal sebagai pemimpin konservatif yang mampu menyatukan Jerman melalui serangkaian peperangan di era 1860-an. Ia juga mahir menggunakan diplomasi keseimbangan kekuasaan, untuk mempertahankan hegemoni Jerman di Eropa dan juga perdamaian.

Keberhasilan legendaris yang mampu mengubah sejarah Jerman ini, tak lain berkat keyakinannya akan seni segala kemungkinan (the art of possibilities) dalam dunia politik. Konsepnya ini bahkan masih relevan digunakan dalam menggambarkan perubahan politik yang begitu dinamis.

Termasuk kondisi politik di tanah air dalam menyambut Pemilihan Presiden (Pilpres) 2019 yang prosesnya akan mulai berlangsung Agustus mendatang. Walau pendaftaran kandidat calon presiden sudah akan dibuka sekitar 40 hari lagi, namun hingga kini hanya kubu Jokowi saja yang sudah mapan dengan koalisinya.

Sementara kubu oposisi yang digawangi Gerindra dan PKS masih belum memantapkan koalisinya, di sisi lain Partai Demokrat juga masih berharap mampu berdiri sendiri dengan membangun poros ketiga yang memungkinkan munculnya calon presiden (capres) alternatif di luar Joko Widodo (Jokowi) dan Prabowo Subianto.

Setelah berupaya menggalang kebersamaan dengan PKS, PAN, dan PKB yang sepertinya mengalami kebuntuan. Kini Partai Demokrat terlihat mulai mendekati Partai Golkar, ini terlihat dari adanya wacana mendampingkan Komandan Satuan Tugas Bersama (Kogasma) Agus Harimurti Yudhoyono (AHY)  dengan Jusuf Kalla (JK).

Wacana ini semakin menghangat karena tak lama kemudian, JK dikabarkan bertandang ke rumah Susilo Bambang Yudhoyono (SBY) dengan dalih bersilaturahim. Meski begitu, pertemuan JK-SBY ini dilihat banyak pihak sebagai tanda akan kebenaran wacana tersebut. Apakah sambutan JK ini, juga menandakan akan adanya perubahan koalisi?

Walau Ketua Umum Golkar Airlangga Hartarto meyakinkan partainya akan tetap mendukung Jokowi di Pilpres 2019, namun sejauh ini hubungan Golkar dengan PDI Perjuangan terlihat mulai kurang akur. Sehingga, wacana JK-AHY bisa jadi juga akan menjadi pertimbangan bagi Partai Kuning untuk mengevaluasi kembali dukungannya.

Sebagai partai terbesar kedua di tanah air, suara legislatif Golkar memang sangat menggiurkan bagi Demokrat. Hanya dengan berkoalisi dengan Golkar saja, mimpi Demokrat untuk dapat menjadi pengusung capres alternatif akan mampu terwujud. Namun apakah mungkin Golkar mampu balik badan dari kubu Jokowi?

Baca juga :  Kerajaan Abadi Raja Ponsel Indonesia

Koalisi Cair, Everything is Possible

“Tak ada yang tak mungkin bagi siapa saja yang mau berusaha.” ~ Alexander Agung

Bagi Kaisar Yunani, Alexander Agung yang juga dikenal dengan nama Iskandar Zulkarnaen ini, selama mau berusaha segala sesuatu akan dapat dicapai. Termasuk menakhlukkan berbagai daerah dari Eropa, Persia, hingga Makedonia di Asia Timur. Baginya, dalam kekuasaan tidak ada istilah tak mungkin.

Adagium tak ada yang tak mungkin dalam politik, juga diakui oleh Stephen K. White dan Donald J. Moon dalam buku “What is Political Theory?” Menurutnya, politik memanglah seni dari segala kemungkinan (the art of possibillities). Melalui lobi-lobi dan upaya transaksional, semua yang tak mungkin bisa tiba-tiba menjadi mungkin di politik.

Begitupun dalam berkoalisi, tidak ada yang tak mungkin bagi partai politik (parpol) untuk berpindah dukungan di menit-menit terakhir. Kondisi ini, menurut peneliti dari New York University, Huan Wang, sangat dimungkinkan dalam koalisi yang lebih bersifat Minimal Winning Coalition (MWP) atau sistem koalisi dengan memaksimalkan kemenangan yang diraih.

Terlebih, koalisi parpol di tanah air sebagian besarnya tidak dibangun berdasarkan landasan yang kuat, seperti ideologi. Namun lebih banyak didasarkan pada realitas dan rasional, di mana penentuan arah koalisi parpol kerap berlandaskan pada kepentingan-kepentingan para elit di dalamnya.

Fakta ini pula yang didapat dari hasil penelitian Wang pada 2005. Ia menilai, munculnya wacana koalisi antar parpol, sebagian besar berasal dari ide para elit parpol. Bila merujuk pada apa yang terjadi antara Golkar dan Demokrat, bisa jadi sebagai tokoh senior, JK mampu mengubah arah dukungan Golkar di Pilpres.

Adanya faktor possibility dalam koalisi politik, juga dibenarkan oleh William Riker. Merujuk pada teori koalisi, sistem MWP memungkinkan koalisi yang terjadi sifatnya tidak permanen atau cair, mengakibatkan dukungan koalisi dapat beralih di menit-menit terakhir, tergantung atas kepentingan parpol tersebut.

Golkar, Antara PDIP dan Demokrat

“Kami tak tertarik dengan kemungkinan akan dikalahkan; itu tidak akan pernah ada.” ~ Ratu Victoria

Ratu Inggris Victoria yang berkuasa di abad ke-19 ini, terkenal sebagai penguasa monarki beraliran konservatif dan juga kepala batu. Dibanding raja Inggris lainnya, ia selalu ingin terlibat di berbagai peperangan dan optimis tak mungkin dikalahkan. Akibatnya, Inggris baru menandatangani perdamaian ketika dirinya meninggal di tahun 1901.

Baca juga :  Dahsyatnya “Buahlil Fever”

Mengoptimalkan kemungkinan, bisa jadi ini pula yang tengah digalang oleh Partai Demokrat demi terciptanya wacana poros ketiga dan capres alternatif di Pilpres nanti. Sebagai parpol terbesar kedua, Golkar memang memiliki suara legislatif yang cukup besar, yaitu 14,75 persen.

Sehingga keputusan Golkar untuk mengusung Jokowi di Pilpres, banyak yang melihat sebagai sikap pragmatis Partai Kuning ini dalam mendapatkan bagian kekuasaan (office seeking). Padahal, suara yang dimiliki Golkar cukup signifikan untuk dapat menghadirkan capres alternatif seperti yang ditawarkan oleh Demokrat.

Di lain pihak, Demokrat yang sangat ingin menaikkan pamor AHY sebagai calon pemimpin masa depan, mengalami kesulitan mendapat tempat strategis, baik di koalisi pemerintah maupun oposisi. Dengan suara legislatif sebesar 10,19 persen, juga perlu upaya keras bagi Demokrat untuk mendapatkan parpol koalisi yang sesuai dengan tujuannya.

Melalui wacana JK-AHY, Demokrat terlihat berupaya mencari peluang dari Golkar yang hingga kini juga masih belum mendapat “lampu hijau” dari Jokowi, untuk mendapatkan kursi cawapres. Kesempatan Golkar untuk menjadi pendamping Jokowi, sepertinya juga tak mudah akibat dominasi PDI Perjuangan.

Bahkan belakangan, Partai Banteng ini terlihat mulai “gerah” dengan kedekatan Jokowi dengan Golkar, khususnya Airlangga Hartarto. Sikap ini terlihat dari bagaimana PDI Perjuangan menuding Airlangga tengah mengadu domba Jokowi dengan partainya terkait orasi Menteri Perindustrian tersebut di kampanye Pilgub Jatim.

Adanya kesan keretakan hubungan antara Golkar dan PDI Perjuangan inilah yang kemudian menjadi celah bagi Demokrat, untuk mengajukan penawaran yang tentu sangat menggiurkan bagi JK secara pribadi. Hanya saja, JK bukanlah tokoh dominan di Golkar, sehingga mau tak mau, keputusan JK belum tentu mampu mengubah haluan partainya.

Padahal andai saja elektabilitas JK dan AHY cukup tinggi, terbukanya kesempatan Golkar untuk bergabung dengan Demokrat, tentu akan membuat peta perpolitikan di Pilpres tahun depan menjadi semakin menarik. Setidaknya, masyarakat akan memiliki pilihan capres alternatif  di luar Jokowi dan Prabowo.

Namun sekali lagi, di dalam politik semua kemungkinan dapat terjadi. Seperti yang diakui Wang, semua tergantung dari kepentingan dan hitung-hitungan politik dari Golkar dan juga Demokrat. Termasuk keberanian Golkar untuk lepas dari status quo kekuasaan, dengan bertaruh melawan popularitas Jokowi di 2019 nanti. Jadi, mungkinkah? (R24)

spot_imgspot_img

#Trending Article

Golkar, Chandradimuka The Fixer?

Presiden datang dan pergi, tetapi satu fungsi selalu bertahan, the fixer. Dari Orde Baru hingga era Presiden Prabowo, Indonesia terus melahirkan operator negara yang menjembatani politik, birokrasi, dan ekonomi. Mengapa begitu banyak figur tersebut berasal dari Partai Golkar? Di sinilah kisah tentang "kawah chandradimuka" para pengelola kekuasaan dimulai

Jalan-jalan dengan Sepatu Roda ‘Girl Power’

Lagu "rollerblade" (2026) milik no na meledak jadi meme nasional. Kenapa justru girl group yang kini menguasai dunia? 

Prabowo dan Ancaman Stochastic Parrot

Dengarkan artikel ini: Sejak Pertamax resmi naik dari Rp 12.300 menjadi Rp 16.250 per liter pada 10 Juni 2026, gelombang demo mahasiswa meledak di Jakarta,...

Kerajaan Abadi Raja Ponsel Indonesia

Dengarkan artikel berikut. Audio ini dibuat dengan teknologi AI. Sugianto Kusuma mungkin bukan nama yang Anda ingat saat membeli iPhone. Tapi dialah yang berdiri di balik...

Jebakan Rindu Soeharto?

Demokrasi sudah 28 tahun berjalan, tapi foto Soeharto di sawah itu masih terus beredar di WhatsApp. Ekonom senior Ferry Latuhihin menyatakan menyesal ikut menjatuhkan Soeharto — dan Mahfud MD tidak mau meralat pernyataannya bahwa korupsi era reformasi "lebih gila" dari Orde Baru. Ada pertanyaan filosofis yang lebih dalam di balik semua ini: bukan siapa yang lebih baik, tapi mengapa negara yang lebih bebas justru terasa lebih tidak hadir?

Runtuhnya Empire Sawit Singapura?

Kebijakan DSI mengguncang arsitektur lama perdagangan sawit Asia Tenggara. Saat saham konglomerat sawit berbasis Singapura melemah, Indonesia mulai merebut kembali nilai yang selama puluhan tahun mengalir ke luar negeri. Apakah ini awal runtuhnya empire sawit Singapura dan lahirnya era baru geoekonomi Indonesia?

Pertamax dan Kelas yang Terlupakan

Negara menyebut mereka tulang punggung ekonomi, semakin lama mereka semakin hilang. Mereka tidak memiliki jaminan seperti kelas bawah dan mereka tidak punya akses sebesar kelas atas. Tetapi, mereka dipilih untuk menanggung semuannya.

“Sell Indonesia” dan Spirit 1928

Narasi "Sell Indonesia" menyapu pasar global, tapi di dalam negeri justru lahir persatuan. Apa yang sebenarnya sedang bangkit? 

More Stories

Informasi Bias, Pilpres Membosankan

Jelang kampanye, pernyataan-pernyataan yang dilontarkan oposisi cenderung kurang bervarisi. Benarkah oposisi kekurangan bahan serangan? PinterPolitik.com Jelang dimulainya masa kampanye Pemilihan Presiden 2019 yang akan dimulai tanggal...

Galang Avengers, Jokowi Lawan Thanos

Di pertemuan World Economic Forum, Jokowi mengibaratkan krisis global layaknya serangan Thanos di film Avengers: Infinity Wars. Mampukah ASEAN menjadi Avengers? PinterPolitik.com Pidato Presiden Joko Widodo...

Jokowi Rebut Millenial Influencer

Besarnya jumlah pemilih millenial di Pilpres 2019, diantisipasi Jokowi tak hanya melalui citra pemimpin muda, tapi juga pendekatan ke tokoh-tokoh muda berpengaruh. PinterPolitik.com Lawatan Presiden Joko...