HomeNalar PolitikMengusut ‘Benang Peternak’ Bamsoet

Mengusut ‘Benang Peternak’ Bamsoet

Kecil Besar

Dengan total kekayaan mencapai Rp 62,7 miliar, muncul selentingan terkait sumber harta yang dimiliki oleh Ketua DPR RI Bambang Soesatyo (Bamsoet). Perbincangan juga mengarah pada sosok political entrepreneur di belakangnya dan memunculkan nama Haji Isam. Siapa orang ini?


PinterPolitik.com

“Behind every corrupt politician are 10-20 corrupt businessmen.”

– Mohammed Ibrahim, pebisnis Inggris kelahiran Sudan –

[dropcap]P[/dropcap]asca dilantik sebagai Ketua DPR RI, mendadak perbincangan tentang sosok Bamsoet menjadi trending di berbagai media massa maupun media sosial. Pergunjingan yang umum terjadi adalah terkait mobil-mobil mewah yang dimiliki oleh pria kelahiran Jakarta tersebut, atau tentang gaya hidupnya yang serba ‘wah’.

Tak heran, banyak yang mengkritiknya dengan mengatakan bahwa Bamsoet tidak mempedulikan perasaan masyarakat yang diwakilinya di parlemen. Jangankan mobil, rakyat di pedalaman Asmat, Papua misalnya masih harus menderita karena gizi buruk.

Yang jelas, dengan jabatan publik yang diembannya, begitu banyak orang yang terperangah dengan jumlah kekayaan Ketua DPR RI ini. Masyarakat tentu bertanya-tanya, dari mana asal kekayaan tersebut?

Mengusut ‘Benang Peternak’ Bamsoet

Bamsoet memang dikenal sebagai pengusaha sebelum terjun ke dunia politik. Tapi, apakah cukup untuk membuat hartanya  meningkat dua kali lipat sejak tahun 2010, yang nota bene di tahun-tahun tersebut ia telah duduk di gedung DPR RI? Adakah political entrepreneur di balik politisi yang terkenal lewat Hak Angket Bank Century dan Hak Angket KPK ini?

Bamsoet, Benang Politisi Parlente?

Istilah ‘parlente’ keluar dari mulut Bamsoet ketika ia diminta berkomentar tentang jumlah hartanya yang sangat banyak. Menurut Bamsoet, ia telah menjadi pengusaha jauh sebelum terpilih sebagai anggota DPR RI. Oleh karena itu, wajar bila gaya hidup parlente ikut terbawa hingga sekarang.

Tapi apa benar demikian? Nyatanya, kekayaan Bamsoet justru mengalami peningkatan yang signifikan saat ia menjadi politisi. Artinya, posisinya sebagai politisilah yang menghasilkan paling banyak pemasukan.

Dalam konsep political entrepreneur – yang pada tataran tertentu sering dibahasakan sebagai ‘peternak’ – kekayaan seorang politisi dan kiprah politiknya memang tidak bisa dipisahkan dari sosok tertentu yang ada di belakangnya.

Para ‘peternak’ ini mengambil keuntungan dari pengaruh politisi tersebut dan sebaliknya para politisi mendapatkan ‘jatah’ tertentu dari setiap kebijakan publik yang berhasil diloloskan demi kepentingan sang ‘peternak’. Mutual benefit atau situasi saling menguntungkan inilah yang oleh pengusaha Inggris keturunan Sudan, Mohammed Ibrahim dibahasakan secara jelas di awal tulisan.

Bagaimana dengan Bamsoet? Memang, cukup sulit untuk menebak-nebak siapa yang ada di balik seorang Bambang Soesatyo. Namun, jika menilik sebaran gosip dan informasi yang beredar di media sosial, Bamsoet disebut-sebut dekat dengan beberapa pengusaha, terutama yang bergerak di bidang pertambangan batu bara.

Apalagi, jejak karier Bamsoet memang mengarah ke sana. Ia tercatat pernah menjadi direktur di perusahaan Kodeco Timber pada tahun 2007 hingga 2013. Kodeco Timber adalah sebuah perusahaan perhutanan dan pertambangan di Kalimantan Selatan yang berafiliasi dengan Korea Development Co.

Tapi apa istimewanya? Bukankah itu perusahaan biasa saja?

Baca juga :  Verrell, Esetetika Kuasa dan Fatamorgana?

Tunggu dulu. Faktanya, menurut beberapa sumber, saham di perusahaan ini disebut-sebut mayoritas dikuasai oleh seorang pengusaha batu bara asal Kalimantan Selatan bernama Haji Andi Syamsuddin Arsyad atau akrab dikenal dengan nama Haji Isam. Siapa orang ini?

Haji Isam merupakan salah satu pengusaha berdarah Bone, Sulawesi Selatan yang telah malang melintang di dunia bisnis batu bara. Ia dikenal sebagai salah satu pengusaha batu bara yang sukses. Pada tahun 2012, Majalah Tempo pernah menjulukinya sebagai salah satu the coal capitalist’.

Sebagai pengusaha, Haji Isam dikenal memang bertangan dingin. Walaupun ia hanya tamat SMA, namun ia berhasil menjadi salah satu kontraktor batu bara paling ternama di Kalimantan Selatan. Jumlah kekayaannya pada tahun 2012 ditaksir mencapai Rp 1 triliun. Jumlah tersebut jelas jauh lebih besar jika dihitung saat ini.

Beberapa perusahaan lain milik pria yang hobi balap mobil itu antara lain PT Jhonlin Baratama, PT Jhonlin Marine and Shipping dan juga PT Jhonlin Air Transport. Jhonlin Air Transport terkenal karena menyewakan jet pribadi – mungkin itulah Jet yang sering digunakan oleh Bamsoet dalam beberapa momen.

Selain julukan positif, nyatanya Majalah Tempo juga pernah menyebut Haji Isam sebagai ‘mafia batu bara’. Nama Haji Isam pernah muncul terkait persaingan bisnis batu bara antara sesama pengusaha, dan dirinya dituduh melakukan ‘kongkalikong’ dengan pihak kepolisian yang saat itu dipimpin oleh Kapolri Bambang Hendarso Danuri (BHD).

BHD memang tercatat pernah menjabat sebagai Kapolda Kalimantan Selatan sebelum menjadi Kapolri, sehingga memunculkan dugaan kedekatan di antara keduanya.

Jika menggunakan keterkaitan masalah bisnis tersebut, maka hubungan Haji Isam dan Bamsoet memang sangat mungkin ditarik dari jalur ini. Apalagi, Haji Isam juga dipercaya menguasai beberapa perusahaan yang ada di Kalimantan Selatan, termasuk Kadeco Timber.

Selain itu, dalam beberapa momen, Haji Isam dan Bamsoet memang terlihat bersama-sama, misalnya dalam postingan di akun instagram anggota DPR RI dari Partai Nasdem Ahmad Sahroni. Dalam postingan tersebut, terlihat Bamsoet bersama Haji Isam sedang ada dalam sebuah pesawat pribadi.

Lalu, dengan kekayaan yang besar, apakah mungkin Haji Isam adalah political entrepreneur atau ‘peternak’ di balik Bamsoet?

Selentingan yang beredar di media sosial dan gosip di warung kopi memang menyebut demikian. Artinya, jika pertautan keduanya ada pada jejak hubungan bisnis, maka sangat mungkin Haji Isam adalah salah satu orang yang ada di belakang Bamsoet.

Hanya Haji Isam? Tentu saja tidak. Di Partai Golkar, Bamsoet punya hubungan yang baik dengan Aburizal ‘Ical’ Bakrie – politisi yang juga punya jaringan bisnis batu bara. Beberapa sumber  menyebut Haji Isam juga punya jaringan bisnis batu bara dengan Ical.

Lalu, selain Ical, siapa lagi? Jika menilik kata-kata Mo Ibrahim, setidaknya akan ada 10-20 pebisnis di belakang seorang politisi. Oleh karena itu, mungkin butuh 20 seri tulisan sejenis ini untuk mengungkapnya satu per satu!

Dunia Politisi, Dunia Para Pebisnis!

Keberadaan political entrepreneur di balik seorang politisi memang menjelaskan fenomena pertautan antara kepentingan bisnis dan politik. Apalagi, pasca reformasi, sistem demokrasi yang dianut di Indonesia secara jelas ‘mengawinkan’ oligarki politik dengan konglomerasi bisnis.

Tengok saja kondisi politik nasional saat ini. Jika dijadikan daftar, mungkin akan sangat jelas terlihat pertautan antara oligarki dari partai politik – yang menentukan siapa yang akan dipilih dalam sebuah pemilihan umum – dengan pelaku bisnis – yang menentukan seberapa banyak pertukaran uang dan kepentingan terlibat di dalamnya.

Mengusut ‘Benang Peternak’ Bamsoet

Sayangnya, dalam sistem politik yang demikian, meritokrasi – pemilihan pemimpin berdasarkan prestasi – tidak lagi murni dijalankan hanya berdasarkan seberapa bagus track record seseorang, tetapi dari seberapa kuat ia secara finansial dan politik mempengaruhi keputusan di tingkat elit oligarki. Maka, tidak heran jika banyak pengamat politik menyebut demokrasi Indonesia tersandera oleh ‘kartel oligarki’.

Setya Novanto yang digantikan oleh Bamsoet misalnya merupakan salah satu contoh paling jelas yang menggambarkan keberadaan political entrepreneur tersebut. Mutual benefit membuat Novanto selalu lolos dari berbagai jeratan hukum di masa lalu, sebelum akhirnya jatuh juga di kasus KTP elektronik.

Maka, jika benar Novanto memegang ‘buku catatan hitam’ yang memuat relasi politik-bisnisnya selama ini, boleh jadi banyak orang yang mulai ketar-ketir.

Pertanyaannya adalah akankah Bamsoet bernasib sama dengan Setya Novanto yang juga mewakili political entrepreneur tertentu?

Bisa jadi. Bamsoet punya track record yang kurang baik dalam hal pemberantasan korupsi, terutama ketika menggagas Pansus Hak Angket KPK di DPR – hal yang membuatnya sedikit banyak linear dengan Novanto. Persoalannya adalah apakah para ‘peternak’ di belakang Bamsoet akan mampu menjaga politisi yang gemar kemewahan ini tetap kokoh di kursi panas Ketua DPR RI?

Pada akhirnya, entah itu Haji Isam, Ical atau siapa pun, hubungan Bamsoet dengan political entrepreneur-nya akan ikut menentukan kiprah Ketua DPR ini. Yang jelas, dengan mengusut ‘benang peternak’ Bamsoet, publik bisa melihat secara jelas bahwa siapa pun politisinya, selalu ada ‘tangan-tangan’ lain di belakangnya.

Mengetahui ‘tangan-tangan’ tersebut penting adanya, agar kita tidak salah memilih pemimpin di 2018 dan 2019 nanti. Jadi, jangan salah pilih! (S13)

*****

Artikel mengalami perbaikan pada 14 Januari 2019 pukul 14.55 WIB, terkait jumlah kekayaan Bambang Soesatyo, dari semula ditulis “Rp 62,7 triliun” menjadi “Rp 62,7 miliar”. 

spot_imgspot_img

#Trending Article

Jalan-jalan dengan Sepatu Roda ‘Girl Power’

Lagu "rollerblade" (2026) milik no na meledak jadi meme nasional. Kenapa justru girl group yang kini menguasai dunia? 

Prabowo dan Ancaman Stochastic Parrot

Dengarkan artikel ini: Sejak Pertamax resmi naik dari Rp 12.300 menjadi Rp 16.250 per liter pada 10 Juni 2026, gelombang demo mahasiswa meledak di Jakarta,...

Kerajaan Abadi Raja Ponsel Indonesia

Dengarkan artikel berikut. Audio ini dibuat dengan teknologi AI. Sugianto Kusuma mungkin bukan nama yang Anda ingat saat membeli iPhone. Tapi dialah yang berdiri di balik...

Jebakan Rindu Soeharto?

Demokrasi sudah 28 tahun berjalan, tapi foto Soeharto di sawah itu masih terus beredar di WhatsApp. Ekonom senior Ferry Latuhihin menyatakan menyesal ikut menjatuhkan Soeharto — dan Mahfud MD tidak mau meralat pernyataannya bahwa korupsi era reformasi "lebih gila" dari Orde Baru. Ada pertanyaan filosofis yang lebih dalam di balik semua ini: bukan siapa yang lebih baik, tapi mengapa negara yang lebih bebas justru terasa lebih tidak hadir?

Runtuhnya Empire Sawit Singapura?

Kebijakan DSI mengguncang arsitektur lama perdagangan sawit Asia Tenggara. Saat saham konglomerat sawit berbasis Singapura melemah, Indonesia mulai merebut kembali nilai yang selama puluhan tahun mengalir ke luar negeri. Apakah ini awal runtuhnya empire sawit Singapura dan lahirnya era baru geoekonomi Indonesia?

Pertamax dan Kelas yang Terlupakan

Negara menyebut mereka tulang punggung ekonomi, semakin lama mereka semakin hilang. Mereka tidak memiliki jaminan seperti kelas bawah dan mereka tidak punya akses sebesar kelas atas. Tetapi, mereka dipilih untuk menanggung semuannya.

“Sell Indonesia” dan Spirit 1928

Narasi "Sell Indonesia" menyapu pasar global, tapi di dalam negeri justru lahir persatuan. Apa yang sebenarnya sedang bangkit? 

Adu Nasib Rusdi-Sandi

Dua pengusaha besar, dua jalan politik berbeda. Rusdi Kirana berakar kuat di PKB hingga menjadi elite nasional, sementara Sandiaga Uno gagal mengangkat PPP dari keterpurukan. Mengapa modal, popularitas, dan jaringan tak cukup menyelamatkan partai yang rapuh?

More Stories

Prabowo dan Ancaman Stochastic Parrot

Dengarkan artikel ini: Sejak Pertamax resmi naik dari Rp 12.300 menjadi Rp 16.250 per liter pada 10 Juni 2026, gelombang demo mahasiswa meledak di Jakarta,...

Jebakan Rindu Soeharto?

Demokrasi sudah 28 tahun berjalan, tapi foto Soeharto di sawah itu masih terus beredar di WhatsApp. Ekonom senior Ferry Latuhihin menyatakan menyesal ikut menjatuhkan Soeharto — dan Mahfud MD tidak mau meralat pernyataannya bahwa korupsi era reformasi "lebih gila" dari Orde Baru. Ada pertanyaan filosofis yang lebih dalam di balik semua ini: bukan siapa yang lebih baik, tapi mengapa negara yang lebih bebas justru terasa lebih tidak hadir?

Iron Cage Menteri PU

Menteri PU Dody Hanggodo mengungkap pengalaman mengejutkan: ia "dipelonco" birokrasinya sendiri. Draft keputusan disodorkan sore hari saat ia kelelahan, pejabat "untouchable" mengabaikan instruksi, bahkan ASN muda pun berani menghina program prioritas presiden. Di kementerian dengan anggaran Rp118,5 triliun, “rayap” tidak takut pada menterinya.