Support Us

Available for Everyone, funded by readers

Contribute
E-Book
Home > In-Depth > Makna Bulu Tangkis Bagi Jokowi

Makna Bulu Tangkis Bagi Jokowi


D74 - Thursday, October 21, 2021 14:17
Presiden Jokowi ketika bermain bulu tangkis bersama Taufik Hidayat pada 10 Desember 2012 (Foto: Viva)

0 min read

Indonesia berhasil membawa piala Thomas Cup setelah 19 tahun lamanya. Kemenangan yang ke-14 ini membuat Indonesia sebagai peraih juara terbanyak, melampaui Tiongkok yang baru sepuluh kali juara. Ucapan selamat tidak hanya diberikan oleh segenap figur publik, tetapi juga oleh Presiden. Apa makna cabang olahraga ini bagi Presiden Jokowi?


PinterPolitik.com

Gim ketiga berlangsung. Jonatan Christie, perwakilan Indonesia, memimpin dengan skor 20-14 atas lawannya, Li Shifeng asal Tiongkok. Permainan tampak tersisa beberapa menit lagi, para pemain Indonesia berdiri dari bangku dan bersiap turun menuju lapangan.

Saat yang ditunggu-tunggu tiba, Jonatan melakukan smes. Papan skor berubah jadi 21-14. Jonatan mengepalkan tangan dan bersorak, pemain Indonesia lainnya turut bersorak dan berlari menyambut juara mereka. Indonesia akhirnya memenangkan Thomas Cup, setelah penantian 19 tahun lamanya. Karena kemenangan ini, Indonesia menjadi negara yang paling banyak menjuarai Thomas Cup dengan torehan juara sebanyak 14 kali.

Bulu tangkis adalah salah satu olahraga paling populer di Indonesia, tidak heran jika kemenangan ini disambut gembira oleh seluruh masyarakat, termasuk Presiden Joko Widodo (Jokowi) yang menyatakannya di akun Instagram pribadi. Selain mengungkapkan kegembiraannya, Jokowi juga memberikan ucapan selamat pada seluruh pemain dan pelatih yang bertanding di Ceres Arena, Denmark.

Baca Juga: Mimpi Indonesia Jadi Tuan Rumah Olimpiade

Sementara itu, Sekretaris Jenderal DPP PDIP Hasto Kristiyanto menyebut kesuksesan tim bulu tangkis Indonesia di Thomas Cup tak lepas dari dampak kepemimpinan Presiden Jokowi yang telah memberikan energi positif pada cabang olahraga tepok kok ini. Sebab selama ini, Jokowi telah memberikan perhatian terhadap kemajuan olahraga Indonesia, kata Hasto.

Mengapa Hasto berkata demikian, apakah ini sebatas pernyataan politik? Bagaimana sebenarnya nilai bulu tangkis di mata Jokowi?

Bulu Tangkis di Mata Jokowi

Kalau dilihat-lihat, Jokowi sebetulnya memang memberi perhatian yang cukup tinggi pada bulu tangkis, berulang kali Presiden memberi apresiasi pada prestasi atlet Indonesia. Contohnya ketika Greysia Polii dan Apriyani Rahayu memenangkan medali emas Olimpiade Tokyo 2020. Saat itu, Jokowi langsung memanggil dua orang tersebut ke Istana Negara, dan menyerahkan langsung bonus berupa uang senilai Rp5,5 miliar. Bonus juga diberikan pada atlet-atlet lain yang ikut bertanding.

Usai memberikan bonus, Jokowi dikabarkan juga sempat mengajak para atlet bermain bulu tangkis. Jokowi berpasangan dengan Greysia, melawan Apriyani Rahayu dan Anthony Sinisuka Ginting.

Tidak hanya ketika menjadi presiden, pada saat menjadi Gubernur DKI Jakarta pada tahun 2012, Jokowi juga pernah melakukan pertandingan bulu tangkis dengan Taufik Hidayat ketika meresmikan Taufik Hidayat Arena di Ciracas, Jakarta. Sepertinya, ini menjadi cara unik Jokowi untuk mendekatkan diri pada masyarakat.

Selain dalam bentuk apresiasi, Jokowi juga disebutkan pernah memberikan bantuan keuangan sebesar Rp100 juta pada salah satu legenda bulu tangkis Indonesia, Verawaty Fajrin yang sedang mengidap penyakit kanker paru-paru pada September lalu. Jokowi juga secara langsung meminta Menteri Pemuda dan Olahraga (Menpora) serta Menteri Kesehatan (Menkes) untuk memastikan terjaminnya perawatan Verawaty.

Dari segi diplomasi, Jokowi tercatat pernah mengajak Sultan Brunei Darussalam, Hassanal Bolkiah untuk bertanding bulu tangkis ketika Indonesia tengah merundingkan perdagangan alat utama sistem senjata (alutsista) dari PT Pindad pada tahun 2018. Di pertandingan ini, Jokowi juga didampingi legenda bulu tangkis Indonesia, Susy Susanti. Alhasil, perundingan disebut berhasil dan Brunei menjadi salah satu mitra dagang alutsista berharga bagi Indonesia.

Dukungan pemerintah Indonesia untuk bulu tangkis pun cukup besar. Selain adanya upaya dari Persatuan Bulu Tangkis Seluruh Indonesia (PBSI) untuk mendapatkan pendanaan, pelatihan, dan pembinaan intensif, kepentingan bulu tangkis juga tercantum dalam Desain Besar Olahraga Nasional (DBON). Ini adalah sebuah rencana induk yang berisikan arah kebijakan pembinaan dan pengembangan keolahragaan nasional. Menpora Zainudin Amali, mengatakan di dokumen ini, bulu tangkis adalah unggulan pertama dari 14 cabang olahraga nasional lainnya.

Baca Juga: Pentingnya Emas Olimpiade Bagi Jokowi

Sementara itu, secara ekonomis, atlet bulu tangkis Indonesia juga cukup mumpuni. Juru Bicara PBSI, Broto Happy memperkirakan bahwa rekrutan baru untuk tim nasional bulu tangkis Indonesia bisa mendapatkan upah sekitar Rp30 juta per bulan, sepuluh kali lipat dari pendapatan rata-rata penduduk. Mereka yang berada di tingkat atas bahkan bisa mendapatkan miliaran rupiah melalui kesepakatan sponsor. Tidak heran jika atlet bulu tangkis jadi jabatan yang prestisius di Tanah Air.

Lantas, sebenarnya seperti apa nilai bulu tangkis jika dilihat dari kaca mata politik?

Bulu Tangkis sebagai Soft Power

Bentuk diplomasi yang dilakukan Jokowi dengan Sultan Brunei cukup menarik karena selain berunding, ia juga menggunakan semangat olahraga untuk memperkuat negosiasi. Bentuk diplomasi yang seperti ini kita sebut sebagai sports diplomacy.

Stuart Murray dalam bukunya yang berjudul Sports Diplomacy: Origins, Theory, and Practice menyebut alasan kenapa banyak politisi menggunakan pendekatan olahraga adalah karena olahraga memiliki kekuatan unik untuk mendekatkan orang, bangsa, dan komunitas melalui kecintaan bersama pada kesehatan jasmani. Murray mengatakan olahraga dalam diplomasi memiliki peran yang penting karena merepresentasikan hal-hal yang hanya bisa dilakukan ketika sedang dalam kondisi damai.

Oleh karena itu, bulu tangkis di sini telah menjadi kekuatan yang halus. Bentuk yang halus ini adalah apa yang disebut sebagai soft power oleh Joseph S. Nye. Untuk mencapai tujuan politik, soft power tidak digunakan untuk memaksa atau mengancam, melainkan untuk persuasi dan memperoleh daya tarik dan nilai budaya. Ini bisa kita lihat dari upaya yang dilakukan oleh Jokowi yang menjadikan diplomasi bulu tangkis sebagai cara mendekatkan diri dengan Brunei.

Dalam aplikasinya, nilai-nilai diplomasi dan soft power pun tidak hanya berlaku untuk hubungan antar negara, tetapi juga bisa digunakan untuk menimbulkan nuansa kebersamaan di dalam negeri, terlebih lagi karena bulu tangkis adalah salah satu olahraga paling dipandang di Indonesia. Ini ditunjukkan oleh Jokowi ketika dirinya beberapa kali mengajak atlet bulu tangkis bertanding bersamanya. Dari sini, pernyataan Hasto mengenai peran Jokowi memberi energi positif pada bulu tangkis ada benarnya.

Kemudian, karena Indonesia adalah salah satu negara paling berkuasa di dunia bulu tangkis, cabang olahraga ini sesungguhnya juga telah menjadi simbol nama baik dan daya tarik khas Indonesia. James Hill, jurnalis dari New York Times, pernah menyebut bulu tangkis sebagai identitas nasional Indonesia. Selain karena banyak dimainkan oleh masyarakat, cabang olahraga ini juga satu-satunya yang berhasil membawa pulang medali emas ke Indonesia di ajang Olimpiade. Hal seperti ini memperkuat bulu tangkis sebagai soft power Indonesia.

Di sisi lain, sesungguhnya ada celah bagi Jokowi untuk mengkapitalisasi popularitas dan semangat bulu tangkis Indonesia. Jika kita melihat peserta dan juara dari kejuaraan bulu tangkis dunia, kita bisa melihat pola di mana dalam dua dekade terakhir ini, gelar juara lebih sering diperoleh Tiongkok dan Indonesia, seperti Thomas Cup, BWF World Championship, bahkan All England.

Ketua British Badminton Association, Derek Batchelor mengatakan faktor daya tarik ekonomi menjadi hal yang paling kuat kenapa bulu tangkis tidak lagi populer di Inggris, tempat lahirnya bulu tangkis. Meskipun dirinya mencatat ada sekitar 544 ribu orang yang gemar bulu tangkis, orang Inggris lebih memilih untuk fokus ke cabang lain karena lebih banyak dana sponsor di Inggris yang mengalir ke cabang olahraga seperti sepak bola dan tenis. 

Selain karena faktor daya tarik ekonomi, Haresh Deol dalam artikel berjudul Why Asia Loves the Low-Key but Rising Sport of Badminton menilai aksesibilitas jadi hal penting kenapa negara Asia lebih maju dalam bulu tangkis. Ini adalah olahraga ramah ekonomi, untuk memainkannya kita hanya perlu dua orang, dua raket, dan kok, tanpa membutuhkan adanya jaring pembatas.

Baca Juga: Indonesia Butuh Erick Thohir 2?

Oleh karena itu, masyarakat kelas menengah, yang merupakan mayoritas penduduk Indonesia, bisa dengan mudah bermain bulu tangkis. Ini mungkin keunggulan yang dimiliki oleh negara middle income. Karena banyak orang yang bermain bulu tangkis, maka popularitasnya jadi hal yang alamiah. Sebagai dampaknya, perputaran uang yang terjadi dalam dunia bulu tangkis jadi semakin kencang.

Hal ini sesungguhnya bisa menjadi peluang bagi Jokowi. Bulu tangkis adalah olahraga yang memiliki potensi ekonomi kuat. Jika Jokowi mempertahankan antusiasmenya terhadap bulu tangkis, dan terus memberi dukungan, maka bukan tidak mungkin cabang olahraga ini bisa bertransformasi menjadi magnet investor asing layaknya Premier League di Inggris.

Bukan tidak mungkin juga Indonesia mampu menjadi wadah bagi atlet asing berbakat yang ingin mendapatkan popularitas di dunia bulu tangkis. Mungkin akan sangat menarik jika nantinya Indonesia bisa membuat semacam liga bulu tangkis internasional. (D74)

► Ingin lihat video menarik lainnya? Klik di bit.ly/PinterPolitik

Ingin tulisanmu dimuat di rubrik Ruang Publik kami? Klik di bit.ly/ruang-publik untuk informasi lebih lanjut.

Berita Terkait