Support Us

Available for Everyone, funded by readers

Contribute
E-Book
Home > In-Depth > Pentingnya Emas Olimpiade Bagi Jokowi

Pentingnya Emas Olimpiade Bagi Jokowi


R53 - Thursday, August 5, 2021 13:44
Presiden Joko Widodo saat melakukan panggilan video dengan Greysia Polii dan Apriyani Rahayu (Foto: Suara.com)

0 min read

Medali emas yang dimenangkan Greysia Polii dan Apriyani Rahayu di Olimpiade Tokyo menjadi euforia sendiri bagi masyarakat, termasuk Presiden Jokowi. RI-1 bahkan langsung menghubungi keduanya melalui panggilan video. Seberapa penting raihan emas ini bagi Presiden Jokowi?


PinterPolitik.com

"Politics is a blood sport." – Aneurin Bevan, mantan Anggota Parlemen Britania Raya

Sejarah telah dibuat. Kemenangan dua game beruntun Greysia Polii dan Apriyani Rahayu di final bulu tangkis ganda putri Olimpiade Tokyo melengkapi raihan Indonesia. Kini sah, semua cabang bulu tangkis dalam gelaran Olimpiade telah menorehkan emas.

Riuh menyambut. Sorak-sorai di mana-mana. Berbagai pihak ungkapkan kebanggaan. Selamat Greysia/Apriyani. Selamat. Kalian sangat membanggakan.

Tidak ketinggalan, Presiden Joko Widodo (Jokowi) juga mengungkapkan kebahagiaannya. "Saya betul-betul seneng banget," ujarnya saat melakukan panggilan video dengan sang pemenang, Greysia/Apriyani.

Bagi banyak pihak, termasuk Presiden Jokowi, emas yang ditorehkan Greysia dan Apriyani mungkin semacam oasis di tengah pandemi. Akhirnya ada kabar baik.

Di tengah euforia ini, menjadi menarik sebenarnya untuk dipertanyakan, mengapa raihan emas ini mendapatkan atensi besar? Terkhusus untuk Presiden Jokowi, apa arti medali emas Olimpiade ini?

Makan Siang Itu Berbayar

Mengacu pada hukum sebab-akibat (kausalitas), euforia ini adalah reaksi. Lantas, reaksi atas apa?

Untuk menjawabnya, kita dapat menggunakan adagium there ain’t no such thing as a free lunch atau there is no such thing as a free lunch. Adagium yang berarti “tidak ada makan siang gratis” ini adalah gagasan yang menerangkan tidak mungkin didapatkan sesuatu tanpa adanya biaya.

Kendati asal-usulnya tidak diketahui pasti, novel fiksi ilmiah Robert Heinle yang berjudul The Moon Is a Harsh Mistress pada tahun 1966 jamak dinilai sebagai penyebab adagium tersebut populer. Ekonom pasar bebas Milton Friedman juga turut mempopulerkan adagium ini ketika menggunakannya sebagai judul buku pada tahun 1975.

Baca Juga: Mimpi Indonesia Jadi Tuan Rumah Olimpiade

Adagium ini memiliki referensi aktual yang mengacu pada tradisi bar-bar (saloons) di Amerika Serikat (AS). Saat itu, bar-bar di AS menyediakan makan siang “gratis” kepada pelanggan yang membeli setidaknya satu minuman. Menariknya, karena menu makanan yang diberikan banyak mengandung garam, pelanggan yang memakannya kemudian membeli minuman lagi.

Dengan kata lain, makan siang yang didapatkan pada dasarnya tidak benar-benar gratis. Makan siang tersebut adalah strategi untuk mendapatkan keuntungan.

Rolf Dobelli dalam bukunya The Art of Thinking Clearly menjabarkan mengapa konsep “tidak ada makan siang gratis” dapat bekerja. Dalam bagian bukunya yang berjudul Don’t Accept Free Drink, Dobelli menjelaskan tendensi psikologis manusia yang disebut dengan reciprocity atau efek timbal balik.

Mengutip studi yang dilakukan oleh psikolog Robert Cialdini, ditemukan bahwa seseorang mengalami kesulitan yang ekstrem, perasaan bersalah atau tidak menyenangkan, apabila mengabaikan utang atau jasa yang telah diberikan oleh orang lain. Perasaan-perasaan itulah yang kemudian menjadikan efek timbal balik kerap dialami oleh manusia.

Efek timbal balik ini sendiri disebut Dobelli sebagai salah satu strategi bertahan hidup paling berguna dalam sejarah umat manusia. Karena adanya efek ini, kita dapat menikmati berbagai sistem kemasyarakatan ataupun ekonomi, seperti koperasi, gotong royong, organisasi, keluarga, dan lain sebagainya.

Mengacu pada reciprocity, ini kemudian menerangkan mengapa pelanggan di bar-bar AS kembali membeli minuman setelah diberikan makan siang gratis, kendati mereka bisa saja pulang untuk minum di rumah.

Ya, Anda yang sedang membaca artikel ini mungkin bertanya, apa hubungannya euforia Presiden Jokowi atas emas Olimpiade dengan adagium “tidak ada makan siang gratis”?

Untuk menjawabnya, kita perlu menengok pernyataan sang Presiden pada Mei 2015 ketika menyikapi wacana pembekuan Persatuan Sepak Bola Seluruh Indonesia (PSSI).

"Melihat permasalahannya harus lebih lebar. Kita ini hanya ingin ikut di ajang internasional atau berprestasi di ajang internasional? Jika hanya ingin ikut ajang internasional namun selalu kalah, lalu kebanggaan kita ada di mana, itu yang saya ingin tanyakan," begitu tegasnya.

Artinya apa? Euforia Presiden Jokowi terjadi karena investasi yang dilakukan negara telah terbayarkan. Sebagaimana diketahui, butuh investasi, baik biaya, waktu, dan emosi untuk menempa atlet. Jika dipikir-pikir, bukankah emas Olimpiade tidak mendatangkan keuntungan ekonomi?

Lantas, mengapa negara menganggarkan triliunan rupiah untuk sesuatu yang tidak memiliki timbal balik ekonomi? Tentu jawabannya adalah prestise. Kebanggaan.

Pada 2021 sendiri, anggaran Kementerian Pemuda dan Olahraga (Kemenpora) mencapai Rp 2,3 triliun. Ini naik 33,6 persen dari 2020.

Persis seperti pernyataan Presiden Jokowi pada Mei 2015. Untuk apa berpartisipasi di ajang internasional jika tidak menang? Untuk apa berinvestasi besar jika tidak ada kenaikan signifikan di peringkat FIFA?

Baca Juga: Mimpi Olimpiade Indonesia Terlampau Jauh?

Suka atau tidak, ini menggambarkan adagium “tidak ada makan siang gratis” dan konsep reciprocity. Penjelasan ini juga dapat menjadi jawaban mengapa Indonesia hanya mengirim 28 atlet dalam dua gelaran Olimpiade terakhir. Sederhananya, untuk apa mengirim banyak atlet yang memakan biaya besar jika tidak meraih medali?

Pada Olimpiade Tokyo, misalnya, atlet yang dikirimkan Indonesia bahkan lebih sedikit dari negara Asia Tenggara lainnya, seperti Malaysia dan Thailand yang masing-masing mengirim 30 dan 41 atlet.

Makan Siang yang Baik

Pada dasarnya, tidak ada persoalan adagium “tidak ada makan siang gratis” digunakan di olahraga. Seperti penegasan Dobelli, reciprocity adalah landasan bagi berbagai sistem kemasyarakatan kita. Yang menjadi masalah adalah, adagium ini tidak diterapkan secara proporsional.

Pasalnya, apabila membandingkan dengan negara lain, anggaran olahraga Indonesia jauh lebih kecil. Jangankan dengan negara besar, anggaran olahraga Indonesia bahkan kalah dari negara Asia Tenggara lainnya, seperti Singapura dan Thailand.

Thailand mengalokasikan 0,2 persen dari APBN, sementara Singapura 4 persen. Ini jauh dari Indonesia yang hanya mengalokasikan 0,03 persen dari APBN.

Kecilnya anggaran tentu berimbas pada kesejahteraan atlet dan motivasi dalam berlatih. Persoalan ini jelas terlihat dari pernyataan salah satu legenda bulu tangkis Indonesia, Taufik Hidayat pada Mei 2020. Ujarnya, akan lebih baik mengarahkan putra-putrinya pada jalur pendidikan dan mencari cita-cita yang memiliki kepastian masa depan yang lebih besar.   

Kembali mengacu pada “tidak ada makan siang gratis” dan reciprocity. Untuk apa para atlet mengorbankan waktu dan tenaganya untuk berlatih jika tidak mendapatkan kepastian kesejahteraan?

Jika membandingkan dengan negara besar, seperti Amerika Serikat (AS), profesi atlet dapat memberikan kesejahteraan karena olahraga telah menjadi industri. Ada banyak perusahaan yang bergerak di bidang manajemen olahraga. Mengutip Sport Management Degree Guide, berikut adalah dua di antaranya.

Pertama, Independent Sports & Entertainment (ISE). Perusahaan ini telah menegosiasikan kontrak pemain senilai lebih dari US$ 3 miliar (sekitar Rp 43 triliun) dan menghasilkan komisi lebih dari US$ 100 juta (sekitar Rp 1,4 triliun).

Kedua, Creative Artists Agency (CAA). Pada 2016, Forbes bahkan menempatkan CAA sebagai agensi olahraga paling bernilai di dunia. Diperkirakan total kontrak di bawah CAA mencapai US$ 7,8 miliar (sekitar Rp 111,9 triliun), yang mana akan menghasilkan komisi US$ 290 juta (sekitar Rp 4,1 triliun).

Jika di AS ada agensi-agensi raksasa, cerita di Tiongkok beda lagi. Seperti yang telah dibahas dalam artikel PinterPolitik sebelumnya, Mimpi Olimpiade Indonesia Terlampau Jauh?,negeri Tirai Bambu memberikan dukungan penuh terhadap para atletnya, mulai dari pencarian bakat hingga pendanaan.

Mereka yang juara akan dijamin seumur hidup oleh pemerintah Tiongkok dan mendapatkan penghargaan bak pahlawan negara. Sekali lagi, “tidak ada makan siang gratis”.

Implementasi “tidak ada makan siang gratis” itu harus proporsional. Harus ada perbaikan, mulai dari pencarian bakat, pembinaan, hingga kepastian kesejahteraan bagi para atlet. Jangan sampai kasus Karni terulang kembali.

Atlet dayung yang meraih tiga medali emas dan satu perak di Sea Games 1997 ini, justru menjadi tukang sapu di hari tuanya. Medali-medalinya, yang kita banggakan ketika melihat catatan sejarah telah lama dijualnya.

Baca Juga: Airlangga Jadi Juara Olimpiade?

Tentu harapan kita, jangan sampai emas yang diraih Greysia Polii dan Apriyani Rahayu hanya menjadi bahan-bahan poster para politisi. (R53)

► Ingin lihat video menarik lainnya? Klik di bit.ly/PinterPolitik

Ingin tulisanmu dimuat di rubrik Ruang Publik kami? Klik di bit.ly/ruang-publik untuk informasi lebih lanjut.

Berita Terkait