HomeNalar PolitikMahfud dan Fahri Saling Berkicau

Mahfud dan Fahri Saling Berkicau

Kecil Besar

Mahfud MD bilang ada aktor lain yang terlibat dalam kasus e-KTP. Fahri Hamzah bilang anggota DPR bersih dari kasus e-KTP. Mana yang benar?


PinterPolitik.com

[dropcap]D[/dropcap]ari musim duren hingga musim rambutan, kasus e-Ka-te-pe belum juga kelar-kelar. Ini salah siapa? Ini dosa siapa? Tanyakan aja pada Setya Novanto dan konco-konconya.

 Kasus mega korupsi yang menyebabkan negara merugi hingga 2,3 triliun rupiah ini masih terus bergulir di Pengadilan Tipikor. Saat ini sentralnya mungkin ada di Setnov. Tapi, apakah benar kasus tersebut hanya melibatkan Setnov seorang? Mustahil. Tidak mungkin Setnov serakus itu, kan?

Menurut Pak Mahfud MD, aktor utama dari kasus e-Ka-te-pe masih tetap Setnov. Akan tetapi, ia sangat yakin bahwa ada aktor lain yang turut ikut bermain dalam kasus ini. Hm, bisa jadi, bisa jadi.

Bahkan ada dugaan bahwa kasus tersebut juga turut melibatkan para anggota De-pe-er. Benarkah begitu?

Menanggapi pemberitaan terkait keterlibatan anggota De-pe-er, Pak Fahri Hamzah pun ikut berkicau. Ia mengatakan bahwa nama-nama anggota De-pe-er yang kerap disebut terlibat kasus e-Ka-te-pe itu tidak benar. Katanya itu fitnah. Hmm, masa sih, yang benar aja?

Nah, kalau Pak Fahri bilang begini, berarti kesaksian Andi Narogong atau Muhammad Nazaruddin hoax, gitu? Atau Ka-pe-ka yang salah karena terlampau fokus pada kesaksian Nazaruddin atau gimana? Wah, nggak mungkin, nggak mungkin demikian. Nggak mungkin kasus segede e-Ka-te-pe ini saksinya cuma satu doang. Itu kan uanehhh?

Ka-pe-ka juga nggak mungkin cuma mentok dengan kesaksian dari Nazaruddin, lalu menetapkan Setnov sebagai tersangka tunggal. Hmm, masa kasus ini pelakunya cuma satu?

Baca juga :  Rame-Rame Belah Gunung Gegara Hormuz

Sudahlah Pak Fahri nggak usah ngeles deh atau bertindak sebagai ‘pahlawan kesiangan’. Kalau memang ada anggota De-pe-er yang terbukti terlibat kasus e-Ka-te-pe ini, akui aja lah. Jangan main ‘lempar batu sembunyi tangan’ karena itu hanya dilakukan oleh orang-orang pengecut, eh.

Kalau memang para anggota De-pe-er nggak ada yang terlibat kasus e-Ka-te-pe, mana buktinya? Nggak mungkin juga saat merencanakan dan menetapkan proyek e-Ka-te-pe, cuma Setnov sendiri aja, pasti ada yang lain kan? Nah, ‘yang lain’ itu siapa hayooo? (K-32)

spot_imgspot_img

#Trending Article

Hipdut, no na, Timurnesia: Trisula Nusantara?

Tiga aliran musik baru dari Indonesia kini merajai tangga lagu. Mungkinkah trisula ini diam-diam sedang melawan dominasi musik dunia? 

Waspada 3 “Kingdoms” of Jokowi?

Tiga provinsi, satu pola — kala gelar adat Jokowi di Lampung ternyata cuma puncak gunung es dari strategi politik yang lebih besar. 

Tulus, SBY, Jokowi: Seni Bertahan

Setelah empat tahun diam, Tulus rilis "Teh Hijau" tanpa gembar-gembor. Mengapa justru keheningan yang membuatnya makin dinanti? 

Kicepisme Pragmatis Politik

Jokowi dan JK bertemu di HUT Bhayangkara ke-80, dan suasananya adem-adem saja. Padahal beberapa bulan lalu JK sempat berteriak lantang: "Kasih tahu semua itu termul-termul, Jokowi jadi presiden karena saya", gara-gara isu ijazah yang menyeret namanya sebagai pihak yang terus mempersoalkan. Tapi begitu ketemu langsung, ijazah pun tak dibahas. Inilah wajah politik di level elite Indonesia yang sesungguhnya.

Aldi-Saldi: Hakim Mazhab “Dissenters”?

Vonis Nadiem Makarim menghadirkan sorotan pada Andi Saputra, hakim yang berbeda pendapat dari mayoritas. Apakah ia sekadar anomali, atau bagian dari tradisi “Mazhab Dissenters” seperti Saldi Isra?

Menanti Lahirnya Hoegeng Muda di Bhayangkara

Sehari sebelum pemakamannya Februari lalu, keluarga Hoegeng memutar rekaman pesan terakhir istrinya, dan Kapolri menyebutnya wasiat bagi seluruh anggota Polri. Delapan dekade lalu, institusi ini sudah menerima wasiat serupa dari suaminya. Namun, jamak disebut yang bertambah sejak itu cuma jumlah upacaranya. Benarkah demikian?

Anies dan Dark Side of The Moon

Beberapa hari lalu, Presiden Prabowo berbicara di depan ribuan akademisi dan menyebut: meski 5 kali ikut Pilpres dan baru 1 kali menang, ia tak pernah merongrong pemerintah yang sah. Pernyataan ini sekaligus pesan tersirat ke oposisi hari ini, termasuk Anies Baswedan, tentang batas etika berpolitik pasca kekalahan. Dalam beberapa kesempatan, Anies memang sempat mengkritisi kondisi negara, soal penghematan anggaran di satu sisi tapi juga pemborosan di lain sektor, serta kritik-kritik lainnya.

Kiri, Kanan, Kulihat Merah Putih

Dari Kabinet hingga koperasi desa, nama bangsa kini melekat di mana-mana. Namun, mengapa harus seragam begitu? 

More Stories

PDIP dan Gerindra Ngos-ngosan

PDI Perjuangan dan Gerindra diprediksi bakal ngos-ngosan dalam Pilgub Jabar nanti. Ada apa ya? PinterPolitik.com Pilgub Jabar kian dekat. Beberapa Partai Politik (Parpol) pun mulai berlomba-lomba...

Arumi, ‘Srikandi Baru’ Puan

Arumi resmi menjadi “srikandi baru” PUAN. Maksudnya gimana? PinterPolitik.com Fenomena artis berpolitik udah bukan hal baru dalam dunia politik tanah air. Partai Amanat Nasional (PAN) termasuk...

Megawati ‘Biro Jodoh’ Jokowi

Megawati tengah mencari calon pendamping Jokowi. Alih profesi jadi ‘biro jodoh’ ya, Bu? PinterPolitik.com Kasih sayang dan pengorbanan seorang ibu laksana lilin yang bernyala. Lilin...