Dengarkan artikel ini:
Tiga aliran musik baru dari Indonesia kini merajai tangga lagu. Mungkinkah trisula ini diam-diam sedang melawan dominasi musik dunia?
โSelamat datang di liga baruโ โ Tenxi, โANTHEM JAWIRโ (2026)
Cupin sedang memutar tangga lagu digital ketika ia menyadari sesuatu yang ganjil. Tiga jenis bunyi yang selama ini terpisah kini duduk berdampingan di puncak.
Yang pertama adalah hip-dut, persilangan antara hip-hop dan dangdut yang tumbuh dari skena koplo digital. Cupin menyebutnya bahasa massa, sebab genre ini menyatukan pendengar lintas kelas seperti yang jarang bisa dilakukan aliran lain di negeri ini.
Ia teringat trio Tenxi, Naykilla, dan Jemsii yang meledakkan lagu “Garam dan Madu” hingga merajai tangga lagu digital. Ketiganya bukan musisi dangdut tulen, tetapi justru dari tangan generasi muda itulah dangdut menemukan wajah barunya yang segar dan digemari lintas usia.
Yang kedua adalah gelombang girl group, dengan no na sebagai penandanya. Kuartet asal Jakarta, Lombok, dan Bali besutan 88rising itu membawa identitas “Nona” ke panggung yang selama ini dikuasai format Korea.
Yang ketiga, dan menurut Cupin paling mengejutkan, adalah gelombang musik Indonesia Timur. Nama seperti Silet Open Up, Toton Caribo, dan Ecko Show membawa dialek Flores, Kupang, dan Papua dari pesta rakyat menuju arus utama nasional.
Cupin ingat betul momen ketika lagu “Tabola Bale” milik Silet Open Up dinyanyikan di Istana Merdeka pada perayaan kemerdekaan ke-80. Bunyi dari timur yang dahulu dianggap lokal itu kini menggema di jantung protokoler kenegaraan.
Ia juga memperhatikan bahwa ketiga arus ini tumbuh di era yang sama, yakni era ketika platform digital meruntuhkan sekat antara pusat dan daerah. Sebuah lagu dari Ngada atau sebuah tarian dari Kupang kini bisa menjangkau jutaan telinga tanpa harus melewati studio besar di ibu kota.
Baginya, ini bukan tiga tren yang kebetulan naik bersamaan. Ini menyerupai sebuah trisula, tiga ujung tombak yang muncul dari geografi budaya yang berbeda tetapi mengarah ke satu titik.
Cupin lantas termenung memikirkan implikasi yang lebih besar. Jika tiga arus ini benar sebuah trisula, maka pertanyaannya bukan lagi soal selera, melainkan soal kekuatan.
Dua pertanyaan menggantung di benaknya. Apakah masing-masing ujung ini sebenarnya sedang menantang satu kekuatan musik asing yang selama ini mendominasi telinga bangsa? Dan jika benar, aliran apa yang mereka lawan?
Tiga Ujung Trisula dan Hegemon yang Ditantang
Cupin mulai memilah sifat tiap aliran dan menemukan pola yang rapi. Setiap ujung trisula ternyata berhadapan dengan satu hegemon sonik global yang berbeda.
Hip-dut baginya adalah benteng pasar dalam negeri. Genre ini tidak menolak hip-hop global, melainkan menyerapnya lalu menambatkannya pada akar dangdut yang telah mendarah daging.
Cupin teringat gagasan Joseph Nye dalam bukunya Soft Power: The Means to Success in World Politics. Nye menegaskan bahwa daya tarik budaya adalah bentuk kekuasaan, tetapi ia mengingatkan bahwa daya tarik tanpa mekanisme konversi hanya melahirkan kekaguman, bukan pengaruh.
no na, di ujung kedua, bertanding di lapangan yang sama dengan K-pop. Alih-alih meniru mentah-mentah, kelompok ini meminjam tata bahasa format global sambil mengibarkan identitas Nusantara sebagai pembeda di pasar yang oleh media disebut SEA-Pop.
Cupin melihat relevansi tesis Michael Porter dalam karyanya “The Competitive Advantage of Nations”. Porter menjelaskan bahwa keunggulan sebuah bangsa lahir dari faktor yang sulit ditiru pesaing, dan identitas lokal no na adalah faktor semacam itu.
Ujung ketiga, gelombang timur, menurut Cupin justru yang paling tidak tergantikan. Vokal, harmoni, dan ritme dari Flores hingga Papua adalah aset bunyi yang tidak bisa direplikasi oleh pabrik musik Korea maupun Barat.
Silet Open Up, Toton Caribo, dan Ecko Show membawa dialek timur sebagai padanan atas reggaeton dan Afrobeats yang kini menguasai tangga lagu dunia. Cupin menyebutnya kelangkaan yang bernilai, sebab dalam pasar yang kelebihan pasokan produk seragam, justru yang langkalah yang dicari.
Ia mengamati bahwa musik timur memiliki sifat komunal yang khas. Repetisi frasa pendek dan ajakan menari bersama membuatnya mudah menyebar di lintas generasi, sebuah karakter yang justru sulit direkayasa oleh industri.
Ia lalu teringat konsep cultural capital yang dirumuskan Pierre Bourdieu dalam esainya “The Forms of Capital”. Bourdieu menjelaskan bahwa selera dan bentuk seni adalah modal yang dapat dikonversi menjadi modal ekonomi, dan trisula ini adalah stok modal budaya yang belum sepenuhnya dicairkan.
Cupin menyadari bahwa perlawanan ini tidak bersifat menutup pintu. Ketiga ujung menang bukan dengan menghadang genre asing, melainkan dengan menumbuhkan alternatif yang cukup kuat untuk merebut waktu dengar secara sukarela.
Dua pertanyaan baru muncul di kepalanya. Jika trisula ini memang sanggup menandingi para hegemon, bagaimana caranya agar ia menjadi kekuatan ekonomi, bukan sekadar kebanggaan sesaat? Dan pelajaran apa yang bisa dipetik dari negara lain yang lebih dahulu berhasil?
Menempa Trisula Menjadi Kedaulatan
Cupin memahami bahwa sebuah trisula tanpa gagang hanyalah tiga tombak yang tercecer. Peran negara adalah menempa gagang yang menyatukan ketiga ujung itu.
Ia belajar dari empat model dunia. Korea Selatan membuktikan bahwa keterlibatan negara yang koheren melalui subsidi ekspor budaya dan pelatihan sistematis mampu mempercepat penetrasi pasar.
Nigeria menunjukkan hal berbeda melalui Afrobeats. Di sana diaspora dan platform digital menggantikan peran negara sebagai kanal distribusi ke seluruh dunia.
Kolombia dan Puerto Riko menjadikan reggaeton sebagai bahasa lintas negara di Amerika Latin. Cupin mencatat bahwa genre lokal bisa menjadi identitas seluruh kawasan bila dirawat dengan kolaborasi.
Jepang justru menjadi peringatan bagi Cupin. Pasar domestik J-pop yang terlalu nyaman membuat industrinya terkunci di dalam negeri dan berhenti mengekspor.
Dari perbandingan itu, Cupin menyimpulkan bahwa Indonesia memiliki bahan baku ala Nigeria, kedalaman pasar ala Jepang, dan potensi format ala Korea. Yang belum ada hanyalah gagang yang menyatukan ketiganya.
Cupin membayangkan empat pilar gagang tersebut. Pilar pertama adalah royalti melalui penegakan hak cipta digital, dan pilar kedua adalah talenta melalui akademi pelatihan lintas daerah.
Pilar ketiga adalah distribusi dengan mengaktifkan jaringan diaspora Indonesia di berbagai negara. Pilar keempat adalah diplomasi, yakni menjadikan musik sebagai bagian resmi dari agenda politik luar negeri.
Ia menyadari bahwa logika trisula bukanlah penjumlahan, melainkan perkalian. Ketika hip-dut membiayai infrastruktur industri, no na membuka pintu kawasan, dan gelombang timur mengangkat citra premium, ketiganya saling menopang dalam sebuah efek aglomerasi.
Ia melihat logika hilirisasi yang selama ini identik dengan nikel dapat berlaku pula untuk budaya. Alih-alih mengekspor bahan mentah berupa talenta yang lari ke luar negeri atau lagu yang dibajak tanpa royalti, negara dapat mendorong ekspor produk jadi yang bernilai tambah.
Cupin teringat kerangka David Throsby dalam bukunya Economics and Culture. Throsby membedakan nilai budaya dari nilai ekonomi, tetapi menegaskan bahwa keduanya saling memperkuat bila ada kebijakan yang menjembatani.
Bagi Cupin, di sinilah relevansi lama gagasan import substitution yang pernah dirumuskan Raul Prebisch bagi ekonomi kawasan berkembang. Substitusi ini bukan proteksi yang menutup akses, melainkan penumbuhan produk domestik yang cukup kompetitif untuk dipilih orang atas kehendak sendiri.
Cupin menutup renungannya dengan satu keyakinan yang tenang. Trisula sonik ini bukan soal menang atau kalah melawan bunyi dari luar, melainkan soal apakah bangsa ini cukup jeli mengubah kekayaan bunyinya yang tumbuh sendiri menjadi kekuatan ekonomi dan diplomasi yang terukur. Momentum sudah tersedia dan bahan bakunya berlimpah, sehingga yang tersisa hanyalah kemauan untuk menggenggam ketiga ujung itu dalam satu gagang kebijakan yang sabar dan berkelanjutan. (A43)


