HomeNalar PolitikGerakan Tagar Siap Tunggangi Anies?

Gerakan Tagar Siap Tunggangi Anies?

Tagar #AniesBaswedanForPresident tiba-tiba menjadi tren di media sosial. Hal tersebut di mata beberapa orang menjadi sinyal perubahan sikap politik dari kelompok Islam konservatif di negeri ini.


Pinterpolitik.com

Bagi sebagian orang, membicarakan Pilpres 2024 bukanlah hal yang terburu-buru. Meski Pilpres 2019 yang melelahkan baru saja usai, banyak orang sudah mulai membicarakan sosok potensial untuk menjadi capres pada 2024. Salah satunya terlihat pada tagar #AniesBaswedanForPresident yang ramai beberapa waktu lalu.

Awalnya, tagar tersebut mengemuka ketika Jakarta diumumkan akan menjadi salah satu tuan rumah balapan Formula E tahun depan. Anies dianggap berjasa untuk menghadirkan salah satu balap mobil bergengsi tersebut melalui negosiasinya di New York, Amerika Serikat.

Tagar tersebut kemudian menjadi ramai dan menjadi tren dunia. Memang, tak sedikit yang mencibir saat ikut meramaikan tagar tersebut. Meski demikian, banyak pula yang menggunakan tagar tersebut untuk memuja-muji dan berharap agar Anies benar-benar menjadi presiden di 2024.

Jika diperhatikan, akun-akun media sosial yang memuja-muji  Anies melalui tagar tersebut, kebanyakan terlihat berasal dari kelompok Islam yang aktif di media sosial. Kelompok ini, sebenarnya kerap menjadi bidan di balik tren berbagai tagar terkait Prabowo Subianto pada Pilpres 2019 lalu.

Melalui tagar tersebut, dapat terlihat bahwa kelompok-kelompok muslim tersebut seperti dengan cepat mengalihkan harapan mereka dari Prabowo ke Anies. Pasalnya, tagar tersebut mengemuka tak lama setelah Prabowo menemui dan memberi selamat pada rival sengitnya, Joko Widodo (Jokowi). Lalu, mengapa peralihan itu dapat terjadi?

Mengalihkan Dukungan

Banyak yang mulai mempertanyakan bagaimana nasib kelompok-kelompok Islam konservatif pasca Pilpres 2019. Selama beberapa waktu terakhir kelompok tersebut seperti mengalami masa keemasan karena menjadi kelompok yang sangat mendominasi dalam pembicaraan politik tanah air.

Pertanyaan tersebut mengemuka setelah kandidat yang jadi panutan kelompok ini – Prabowo – harus menerima kekalahan dari Jokowi untuk kedua kalinya. Tak hanya sekadar menerima, Prabowo bahkan belakangan mengucapkan selamat kepada rival bebuyutannya tersebut.

Secara umum, pertanyaan bagaimana nasib kelompok ini pasca Pemilu sebenarnya boleh jadi sudah cukup jelas. Meski Pilpres 2019 sudah berakhir, kelompok semacam ini boleh jadi tetap akan menjadi salah satu faksi paling menguasai pembicaraan di negeri ini.

Pandangan tersebut diungkapkan misalnya oleh Adri Wanto dan Leonard C. Sebastian dari S. Rajaratnam School of International Studies (RSIS) dalam tulisan mereka untuk East Asia Forum. Kelompok yang diidentifikasi sebagai kelompok cingkrangan dalam tulisan itu, bisa saja tetap akan kuat dan membuat politik identitas di Indonesia tetap terjaga.

Baca juga :  Kenapa “Gemoy” Begitu Sukses di Prabowo? 

Pasca Prabowo bertemu dengan Jokowi, kelompok-kelompok ini kemudian sempat mengemukakan kekecewaan mereka kepada Prabowo yang sempat diagung-agungkan dan dipuji setinggi langit. Mereka bahkan merencanakan Ijtima Ulama IV untuk merespons berbagai dinamika yang terjadi pasca pertemuan Jokowi dan Prabowo.

Di tengah kebingungan para kelompok konservatif tersebut, tampaknya mereka boleh jadi telah menemukan sosok baru yang dapat dipuji setinggi langit dan diberikan harapan. Adalah Anies Baswedan yang berpotensi jadi sosok tersebut seiring dengan ramainya tagar #AniesBaswedanForPresident.

Meski belum ada pernyataan resmi dari kelompok manapun terkait dengan tagar tersebut, secara sepintas terlihat bahwa memang akun-akun yang membawa identitas religi ikut andil dalam tren tersebut. Hal ini dapat menjadi gambaran bahwa kelompok konservatif boleh jadi tengah menjadikan Anies sebagai prospek baru pasca-Prabowo.

Dengan potensi mereka yang masih akan kuat hingga beberapa waktu ke depan, jika tagar tersebut terus menjadi mainan kelompok konservatif di media sosial, maka bukan tidak mungkin sosok Anies tak hanya sekadar jadi pujaan, tetapi akan didorong untuk benar-benar menjadi presiden.

Memaksimalkan Manfaat

Meski belum diresmikan dalam bentuk Ijtima atau apapun, gelombang tagar yang digelorakan kelompok Islam untuk Anies ini dapat menggambarkan bahwa mereka dapat berpindah dari satu figur ke figur yang lain untuk mewujudkan tujuan mereka.

Tagar ini sendiri kemudian kerap dianggap sebagai bentuk dari sikap kelompok konservatif ini menjadi semacam free rider atau penunggang bebas. Mereka dianggap bisa berpindah tunggangan dari satu figur ke figur lain begitu saja ketika menemui kekecewaan.

Sebenarnya, kelompok yang mengekspresikan aspirasi politiknya secara ekstrem seperti mereka, memang memiliki kecenderungan untuk menghadapi masalah free rider semacam itu. Hal ini diungkapkan oleh Mario Ferrero sebagaimana dikutip oleh Elie Appelbaum dan Eliakim Katz dalam Political Extremism in the Presence of a Free Rider Problem.

Kelompok semacam ini sering kali mampu memilih derajat aspirasi ekstrem mereka untuk memaksimalkan manfaat  yang dapat mereka raih. Dalam kadar tertentu, mereka juga bisa saja mengalihkan pandangan politik mereka dari satu sisi ke sisi yang lain untuk memaksimalkan hal tersebut.

Appelbaum dan Katz menggambarkan bahwa kelompok atau individu yang punya aspirasi ekstrem ini sebenarnya memiliki pandangan yang rasional. Sikap rasional ini kemudian membuat mereka dapat membuat banyak pilihan terkait dengan beragam hal. Sikap ektrem kemudian menjadi alat strategis dalam menentukan pilihan dari kelompok semacam ini.

Baca juga :  Buzzer Anies dan Ganjar, Operasi False Flag?

Dalam mengambil sikap, ada beragam kondisi yang dapat mempengaruhi pilihan rasional dari kelompok semacam ini. Oleh karena itu, perubahan sikap kemudian menjadi hal yang tergolong wajar, bahkan bagi kelompok beraspirasi ekstrem semacam ini.

Mewujudkan Tujuan

Merujuk pada kondisi tersebut, maka tergolong wajar jika kelompok Islam – terutama yang saat ini tampak di media sosial – dapat dengan mudah berpindah tunggangan untuk mewujudkan tujuan mereka. Sebagaimana berbagai kelompok yang punya aspirasi ekstrem, mereka dapat melakukannya dengan tujuan yang sifatnya rasional.

Sejauh ini, di atas kertas masih belum nampak apa tujuan atau manfaat yang ingin dimaksimalkan oleh kelompok  ini jika mendukung Anies. Jika pemberitaan yang menjadi acuannya, permintaan mereka masih berkutat di soal pemulangan Imam Besar mereka Rizieq Shihab. Meski begitu, hal ini tampak masih belum cukup jelas hingga ada putusan resmi semacam Ijtima Ulama.

Yang membuatnya menarik adalah jika merujuk pada tulisan misalnya milik Vedi Hadiz, kelompok Islam ini, dalam beberapa aksi terakhir, memiliki semacam sosok political entrepreneur di belakangnya. Berdasarkan hal tersebut, ada potensi bahwa para political entrepreneur ini akan memiliki langkah serupa dengan kelompok konservatif Islam tersebut.

Para political entrepreneur inilah sebenarnya yang boleh jadi punya alasan paling rasional jika harus menunggangi siapapun. Oleh karena itu, jika Anies nanti menjadi sangat populer akibat dipuja habis-habisan kelompok Islam, maka bukan tidak mungkin mereka juga akan ikut memuja dan bahkan menyokong Anies.

Sikap free rider kelompok konservatif sebenarnya sangat lazim, termasuk jika terjadi kepada Anies Baswedan Click To Tweet

Jika mereka benar-benar berpindah tunggangan kepada Anies nanti, maka mantan rektor Universitas Paramadina ini boleh jadi akan mendapatkan keuntungan. Sebagaimana terjadi selama beberapa tahun terakhir, kelompok ini menjadi salah satu motor penggerak elektoral yang paling kuat di negeri ini.

Apabila hal itu benar-benar terjadi, langkah berikutnya adalah, seperti yang disebutkan sebelumnya, tetap ada alasan rasional dalam langkah yang diambil oleh kelompok-kelompok yang punya aspirasi ekstrem seperti mereka. Selain itu, jika akhirnya ada political entrepreneur yang menunggangi aksi ini, maka boleh jadi isu ini memang tidak berdiri sendiri. Oleh karena itu, Anies perlu memastikan bisa memaksimalkan manfaat yang mereka harapkan.

Tentu, semuanya masih sangat cair dan 2024 adalah waktu yang masih jauh. Meski begitu, jika kelompok konservatif ini menunggangi tagar #AniesBaswedanForPresident secara konsisten, maka mantan Mendikbud itu punya modal yang mumpuni jika serius ingin mewujudkan isi tagar tersebut. (H33)

 

spot_imgspot_img

#Trending Article

Cak Imin Akan di Kudeta dari PKB? 

Isu kudeta posisi Ketua Umum (Ketum) PKB Muhaimin Iskandar (Cak Imin) mencuat seiring kekalahannya di Pemilihan Presiden (Pilpres) 2024. Namun, melihat kelihaian dan kemampuan...

Operasi Rahasia Menarik PKB-PKS ke Koalisi Prabowo?

Isu perpindahan partai-partai ke koalisi Prabowo-Gibran santer dipergunjingkan. Salah dua partai yang digosipkan adalah PKB dan PKS.

Hikmahanto Menhan, Prabowo Ideal Statesman?

Guru Besar Hukum Internasional Universitas Indonesia, Hikmahanto Juwana dinilai sangat layak untuk menjadi menteri pertahanan (menhan) penerus Prabowo Subianto. Selain karena rekam jejak dan kemampuannya, hal itu secara politik akan menguntungkan bagi pemerintahan Prabowo-Gibran andai benar-benar ditetapkan sebagai pemenang Pilpres 2024. Mengapa demikian?

Menguak Siasat Retno “Rayu” Prabowo?

Menteri Luar Negeri RI Retno Marsudi tampak aktif dan tegas bela Palestina. Mungkinkah ini upaya "rayu" presiden selanjutnya, Prabowo Subianto?

Putin-Zelensky dan Adiksi Ultra-Ekstrem Foreign Fighters

Fenomena sub-foreign fighters, yakni “tentara turis” mulai menjadi materi analisis menarik karena eksistensinya yang marak dan dilembagakan oleh Presiden Ukraina Volodymyr Zelensky melalui Ukrainian Foreign Legion atau Legiun Internasional Ukraina. Lalu, mengapa beberapa warga negara asing rela mati demi peperangan dan perebutan kepentingan negara lain? Serta seperti apa masa depan dan implikasinya, termasuk bagi Indonesia?

Menakar Takdir Sandiaga di 2029 

Langkah politik Menteri Pariwisata dan Ekonomi Kreatif (Menparekraf) Sandiaga Uno pasca Pemilihan Umum (Pemilu) 2024 masih menjadi tanda tanya. Sebagai politisi muda yang potensial, karier politik Sandi ke depan kiranya benar-benar ada di tangannya sendiri secara harfiah. Mengapa demikian?

Mustahil Prabowo Jadi Diktator?

Banyak media asing menilai Indonesia akan jatuh ke otoritarian di bawah Prabowo Subianto. Namun, apakah hal itu mungkin? Ataukah mustahil?

Desain Politik Jokowi di Balik Pelantikan AHY? 

Pelantikan Ketua Umum (Ketum) Partai Demokrat, Agus Harimurti Yudhoyono (AHY) sebagai Menteri Agraria dan Tata Ruang (ATR)/Kepala Badan Pertanahan Nasional (BPN) tuai beragam respons dari publik. Kira-kira motif politik apa yang tersimpan di balik dinamika politik yang menarik ini?

More Stories

Membaca Siapa “Musuh” Jokowi

Dari radikalisme hingga anarko sindikalisme, terlihat bahwa ada banyak paham yang dianggap masyarakat sebagai ancaman bagi pemerintah. Bagi sejumlah pihak, label itu bisa saja...

Untuk Apa Civil Society Watch?

Ade Armando dan kawan-kawan mengumumkan berdirinya kelompok bertajuk Civil Society Watch. Munculnya kelompok ini jadi bahan pembicaraan netizen karena berpotensi jadi ancaman demokrasi. Pinterpolitik Masyarakat sipil...

Tanda Tanya Sikap Gerindra Soal Perkosaan

Kasus perkosaan yang melibatkan anak anggota DPRD Bekasi asal Gerindra membuat geram masyarakat. Gerindra, yang namanya belakangan diseret netizen seharusnya bisa bersikap lebih baik...