HomeCelotehMenunggu Aksi Uji Vaksin Erick Thohir

Menunggu Aksi Uji Vaksin Erick Thohir

“Become major, Paul. Live like a hero. That’s what the classics teach us. Be a main character. Otherwise what is life for?” – J. M. Coetzee, penulis asal Afrika Selatan


PinterPolitik.com

Gengs, ada kabar baik nih yang bakal segera mendapat sambutan luas masyarakat. Akhirnya, setelah sekian lama terombang-ambing dalam ketidakpastian, vaksin Covid-19 kayaknya sudah mendapat titik terang, cuy.

Melalui uji klinis yang dilakukan oleh Bio Farma atas vaksin yang bekerja sama dengan Sinovac, obat yang tujuannya buat dipakai menghantam si biang kerok Covid-19 itu bakal segera diujicobakan.

Nah, uji coba tersebut kenapa dilakukan di Indonesia, karena syarat ada beberapa syarat dalam uji klinis. Pertama, uji coba bisa dilakukan di negara dengan tren penularan yang masih tinggi. Sementara, di Tiongkok, laju infeksi sudah mengalami penurunan.

Kedua, yaitu pertimbangan daya produksi Indonesia. Indonesia dipilih oleh Tiongkok karena Sinovac dan Bio Farma memiliki fasilitas produksi dengan metode yang sama, yaitu virus yang dilemahkan. Harapannya, nanti Indonesia bisa memproduksi vaksin secara mandiri.

Lebih jauh dari itu, mimin salut sih sama antusias dan keikhlasan orang-orang Indonesia. Lantaran mereka berbondong-bondong mendaftarkan diri jadi relawan. Satu dari sekian banyak relawannya adalah Gubernur Jawa Barat (Jabar) Ridwan Kamil.

Alasan Kang Emil – sapaan Pak Gubernur Jabar – sih supaya masyarakat hilang kekhawatiran dan ketakutan sehingga muncul rasa yakin juga optimisme terhadap uji klinis vaksin ini. Sungguh mulia sekali pemimpin kita itu.

Namun, tidak semua berpikir demikian. Ada pemimpin dari unsur menteri yang tidak mau menjadi relawan uji coba vaksin ini. Adalah Mas Erick Tohir, Menteri Badan Usaha Milik Negara (BUMN) yang juga menjabat sebagai Ketua Pelaksana Komite Penanganan Covid-19 dan Pemulihan Ekonomi Nasional.

Baca juga :  Anies Lagi, Anies Lagi
- Advertisement -

Kata Mas Erick sih sebenarnya ini bukan alasan mental antara takut atau tidak, tetapi lebih kepada alasan moral (etika) dan prosedural. “Bukannya takut. Tapi lebih baik relawan yang sesuai dengan prototipe yang dicari. Meski pengen disuntik, tapi rakyat dulu. Kami sebagai pemimpin belakangan,” ucapnya saat diwawancarai.

Tapicuy, kalau ngomongin alasan prosedural, mimin sepakat sih. Secara, memang Mas Erick nggak masuk kriteria sebagai relawan karena vaksin Covid-19 ini harus diuji di populasi Bandung Raya – tempat vaksin ini ditangani oleh Bio Farma yang bekerja sama bareng tim riset Fakultas Kedokteran Universitas Padjadjaran.

Dalam hal ini, jelas alasan prosedural mesti didahulukan daripada moral, cuy – mirip hukum antrean sih. Meski yang ngantri itu bapak kita, tetaplah orang di depan beliau yang harus dilayani duluan. Iya kan, cuy? Nah, makanya Mas Erick benar soal ini.

Justru yang kacau dan aneh ya mereka yang nyinyir ke Mas Erick misal, “Pemimpin penanganan Covid-19 kok nggak mau diuji coba. Jangan-jangan vaksin ini nggak higenis.” Apalagi, kalau yang nyinyir begitu dari kalangan politisi, ya tambah kacau deh.

Ibaratnya tuh alih-alih memandang keengganan Mas Erick sebagai bahan mengkritik dan melemahkannya, justru mereka nggak punya muka. Sebab, tandanya mereka nggak paham prosedurnya. Upsss.

Mending gini aja, kalau memang mau menyentil Mas Erick, jangan dalam babagan vaksin. Carilah babagan lain, kan banyak tuh isu yang bisa digoreng. Ibarat kata Sun Tzu, “serang lawanmu di bagian lemah yang tidak disadarinya.” Hehehe. (F46)

► Ingin lihat video menarik lainnya? Klik di bit.ly/PinterPolitik

Ingin tulisanmu dimuat di rubrik Ruang Publik kami? Klik di bit.ly/ruang-publik untuk informasi lebih lanjut.

Baca juga :  Jokowi Tahu Menteri Ingin Nyapres
Banner Ruang Publik
spot_img

#Trending Article

Mampukah Gus Yahya “Jatuhkan” Cak Imin?

Menurut Direktur Parameter Politik Indonesia, Adi Prayitno, untuk pertama kalinya dalam sejarah terjadi hubungan yang tidak mesra antara PKB dengan PBNU. Jika ketegangan terus...

Joe Biden Menginspirasi Prabowo?

Cucu pendiri Nahdlatul Ulama (NU) KH Hasyim Asyari, KH Irfan Yusuf Hakim (Gus Irfan), menyebut KH Abdurrahman Wahid (Gus Dur) pernah berucap bahwa Prabowo...

Jokowi Dijutekin Biden?

Ketika mendarat di Washington DC, Amerika Serikat (AS), tidak ada pejabat tinggi AS yang menyambut Presiden Jokowi. Mungkinkah sang RI-1 tengah tidak dihiraukan atau...

Jakarta-Shanghai, Apple to Apple?

“In the long run, your human capital is your main base of competition. Your leading indicator of where you're going to be 20 years...

Mengapa Jokowi Merasa Kesepian?

Rocky Gerung menyebut batin Jokowi kini tengah kesepian kala momen Hari Raya Idulfitri 1443H. Mengapa Jokowi merasa kesepian?

Megawati sang Profesor

Ketua Umum PDIP Megawati Soekarnoputri menerima gelar profesor kehormatan dari Seoul Institute of The Arts (SIA), Korea Selatan. Apakah ini menunjukkan Megawati seorang politisi...

Kenapa Megawati Singgung BTS?

Ketika menerima gelar profesor kehormatan dari Seoul Institute of the Arts (SIA) Korea Selatan (Korsel), Megawati Soekarnoputri menyebut tidak ingin kalah dari cucunya yang...

Mencari Capres Ganteng ala Puan

Ketua DPR RI Puan Maharani sindir soal sosok capres potensial yang dapat dukungan karena ganteng. Siapa capres ganteng yang dimaksud Puan?

More Stories

Megawati Sukses “Kontrol” Jokowi?

“Extraordinary claims require extraordinary evidence” – Carl Edward Sagan, astronom asal Amerika Serikat (AS) PinterPolitik.com Gengs, mimin mau berlagak bijak sebentar boleh, ya? Hehe. Kali ini, mimin mau berbagi pencerahan tentang...

Arief Poyuono ‘Tantang’ Erick Thohir?

“Orang hebat tidak dihasilkan dari kemudahan, kesenangan, dan kenyamanan. Mereka dibentuk melalui kesulitan, tantangan, dan air mata” – Dahlan Iskan, mantan Menteri BUMN PinterPolitik.com Gengs, kalian...

Sri Mulyani ‘Tiru’ Soekarno?

“Tulislah tentang aku dengan tinta hitam atau tinta putihmu. Biarlah sejarah membaca dan menjawabnya” – Soekarno, Proklamator Indonesia PinterPolitik.com Tahukah kalian, apa yang menyebabkan Indonesia selalu...