HomeCelotehPejabat Negeri Makin Fanatik?

Pejabat Negeri Makin Fanatik?

Kecil Besar

“Seseorang mati karena tersandung lidahnya. Seseorang tidak mati karena tersandung kakinya.” ~Ali bin Abi Tholib


PinterPolitik.com

[dropcap]S[/dropcap]iang ini mamakku ribut bukan kepalang ketika dikirimi video Bupati Kuningan, Acep Purnama. Mamakku ini tak habis pikir, bisa-bisanya seorang pejabat daerah melaknati pejabat lainnya hanya karena berbeda pilihan politik. Waduh, memang dia Tuhan bisa melaknat orang seenaknya?

Entah ya, pejabat zaman now kok ya jadi makin alay aja kelakukaannya. Sikapnya itu benar-benar membahayakan demokrasi. Sebelum ada kasus video Acep, sempat heboh juga dengan pernyataan Wali Kota Semarang, Hendrar Prihadi yang bilang jangan pakai Jalan Tol kalau tidak dukung Jokowi. Ckckck, memangnya rakyat bayar pajak buat gaji dia saja? Kan buat merasakan fasilitas umum juga.

Terus, yang nggak kalah menggemaskannya, para menteri juga latah memamerkan keberpihakannya. Ada pegawai negeri yang berbeda pilihan politik, eh malah ditanya, memang yang gaji kamu siapa? Ini gimana sih? Jawabannya sudah jelas toh? Para pegawai negeri termasuk gaji kau para menteri itu bayarnya pakai uang negara. Bukan uang salah satu calon presiden. Hmmm…

Kalau kata Presiden Amerika Serikat ke-32, Franklin D. Roosevelt, penguasa utama demokrasi itu bukanlah presiden atau pejabat pemerintah, tetapi para pemilih negara ini. Jadi kenapa harus memaksakan pemilih untuk memilih calon tertentu. Penguasa sesungguhnya itu adalah rakyat. Penguasa kok diatur.

Kuasaan rakyat sudah sepatutnya di atas segala penguasa di negeri ini. Itu kalau kita benar-benar negara demokrasi... Share on X

Sebagai warga negara, kepala daerah atau pejabat-pejabat negara memang punya hak untuk memilih presiden. Cuma harus bijaksana juga, jangan sampai memicu potensi konflik kepentingan apalagi sampai bikin gaduh. Komunikasinya itu harus yang baik. Harus tahu kapan berbicara politik, kapan bersikap sebagai kepala daerah. Biar nggak harus repot-repot dipanggil Bawaslu.

Baca juga :  Kerajaan Abadi Raja Ponsel Indonesia

Melihat kondisi demokrasi yang macem begini, ku jadi teringat ucapan Plato. Dia bilang kalau kata-kata yang keluar dari mulut adalah sarana untuk mengembangkan kesadaran kemanusiaan guna menyampaikan kebenaran dan keyakinan positif.

Kalau para pejabat ini merasa pilihan politiknya baik, harusnya diungkapkan dengan cara yang baik. Kenapa harus bicara yang cenderung menjatuhkan satu sama lain? Kenapa harus melaknat-laknati atau mengkafir-kafirkan orang lain atas pilihan politiknya? (F41)

spot_imgspot_imgspot_imgspot_img

#Trending Article

Ahok Jadi Ketua KPK?

Jokowi telah resmi menunjuk pansel pimpinan KPK 2019-2023. Prediksi tentang siapa ketua KPK yang dihasilkan seleksi ini pun sudah mulai bisa digulirkan. Pinterpolitik.com Teka-teki tentang siapa...

Kini, Giliran Politik Milenial?

Sosok-sosok yang berasal dari generasi milenial kini mulai bermunculan guna mengisi perannya di berbagai bidang, termasuk pemerintahan dan politik. Apakah kehadiran milenial menjadi tanda...

Hantu Sawit di Papua?

Di balik berbagai kerusuhan yang terjadi akibat diskriminasi rasial terhadap kelompok Papua, terdapat persoalan kelapa sawit yang dinilai dapat mengancam lingkungan dan komunitas adat...

Ferry, “Sahabat Kepompong” Sandiaga

"Persahabatan bagai kepompong," lirik lagu Kepompong oleh Sind3ntosca. PinterPolitik.com Mendekati pilpres 2019, masing-masing kubu sibuk membangun struktur tim pemenangan agar mampu menjalankan manuver-menuver canggih untuk meraup...

Judul Sinetron PKS-Gerindra

"Tak banyak orang yang menganggap kekuasaan sebagai borgol, lebih banyak yang melihatnya sebagai gelang emas yang bisa bikin orang iri." ~Goenawan Mohamad PinterPolitik.com Eng, ing, eng,...

Baliho Tikus, Tanda Kekalahan Jokowi?

“Apa kamu pernah membayangkan Jakarta menjadi Berlin, Bandung jadi Paris, Semarang jadi Swiss, Surabaya menjadi Roma, dan sebagainya? Oh indahnya Indonesia! Sayang, kita terlalu...

Thomas Lembong “Membalas” Jokowi?

“Investasi yang sukses adalah mengantisipasi apa yang dilakukan orang lain”. – John Maynard Keynes Pinterpolitik.com Nama Kepala Badan Koordinasi Penanaman Modal (BKPM), yaitu Thomas Trisakti Lembong...

Merekat Persatuan dalam Kebinekaan

Berbagai gesekan di masyarakat bisa saja menghantui Indonesia ke depannya. Namun, nilai kebinekaan yang menjadi semboyan bangsa seharusnya dapat menjadi modal sosial bagi masyarakat...

More Stories

Abdi Negara Terbelenggu Kemiskinan?

"Oemar Bakri, Oemar Bakri, pegawai negeri…” ~Lirik Lagu Oemar Bakri -  Iwan Fals PinterPolitik.com Jadi pegawai negeri itu merupakan impian banyak orang. Pokoknya jadi PNS itu...

Luhut Panjaitan Memeluk Orba

"Luka tidak memiliki suara, sebab itu air mata jatuh tanpa bicara." ~Dilan 1990 PinterPolitik.com Orde Baru masih menjadi sejarah yang amat menakutkan dari sebagian besar masyarakat....

Ma’ruf Amin yang Terbuang?

"Sebagai kekasih, yang tak dianggap aku hanya bisa mencoba mengalah. Menahan setiap amarah…” ~Lirik Lagu Kekasih yang Tak Dianggap – Kertas Band PinterPolitik.com Jika di dunia...