HomeCelotehMulut Harimau Ferdinand Hutahaean

Mulut Harimau Ferdinand Hutahaean

“Pendukung Banteng nggak usah digubris. Mereka menyamar seolah pendukung ganti presiden. Tujuannya mengagalkan koalisi SBY-Prabowo. Mereka takut dengan koalisi itu terbentuk. Mereka peliharaan tikus got.” ~ Kepala Divisi Advokasi dan Hukum Partai Demokrat, Ferdinand Hutahaean.


PinterPolitik.com

[dropcap]M[/dropcap]ulutmu harimaumu, itulah peribahasa yang cocok disematkan kepada Kepala Divisi Advokasi dan Hukum Partai Demokrat, Ferdinand Hutahaean. Pasalnya kicauan Ferdinand baru-baru ini mengenai istilah ‘pendukung banteng’ dan ‘peliharaan tikus got’ membuat Partai Demokrasi Indonesia Perjuangan (PDIP) tersinggung dan melaporkannya ke Bareskrim.

Entah apa yang ada di benak Ferdinand. Tapi berkata seperti itu di media sosial tentu akan berpotensi terkena pasal pencemaran nama baik Undang-Undang Nomor 11 Tahun 2008 tentang Informasi dan Transaksi Elektronik (UU ITE). Masa iya seorang advokat gak kepikiran terjerat pasal ini sebelum berkicau?

Sejumlah anggota Partai Demokrasi Indonesia Perjuangan (PDIP) melaporkan politikus Partai Demokrat, Ferdinand Hutahaean ke Bareskrim Mabes Polri pada hari Rabu malam, 23 Mei 2018. Ferdinand dilaporkan atas dugaan pencemaran nama baik melalui media elektronik atas cuitan di akun twitternya.

Kalau udah ada laporan ke polisi kayak gini, mau apalagi coba? Hadeuh. Mau gak mau kan nama baik partai juga akan kebawa jadi jelek. Oke lah Ferdinand bermaksud membela junjungannya, Susilo Bambang Yudhoyono (SBY) agar menjalin koalisi bersama Prabowo Subianto. Tapi kan gak gitu juga keles caranya.

Toh kalau gaya bahasa cuitannya alus, pasti PDIP woles aja kok dan gak akan mempolisikan. Kan politik itu semua tentang seni memperebut kekuasaan. Yang namanya seni, ya harus dilakukan dengan halus. Emangnya bisa bikin batik berkualitas tapi dengan gaya kasar ala kuli bangunan? Eike rasa gak mungkin.

Alangkah baiknya Ferdinand belajar banyak dari senior pendahulunya, Ruhut Sitompul yang terkenal akan kata-kata santunnya. Meski tutur bahasanya alus, dibalik kata-kata Ruhut tersimpan satir tajam pada lawan politik. Saking satirnya, politisi yang mendengarnya sampai ogah berdebat berkepanjangan. Leh uga.

Kalau kasus ini berkepanjangan yang ada nama partai Demokrat jadi ikut jelek kan. Dan yang pasti kalau udah kayak gitu, cuma satu pilihan partai. Ya membersihkan nama baik partai dengan cara memecat kader yang bikin ulah. Mau emangnya gegara ulahnya ini, Ferdinand dipecat dari kepengurusan partai? Palingan nanti nangis termehek mehek.

- Advertisement -

Lagian emangnya Ferdinand segitu yakinnya kalau Demokrat ingin merapat dan menjalin koalisi bersama Gerindra aja? Eh, jangan salah, Demokrat juga ada niatan untuk merapat dengan bersama Jokowi loh. Dan apa yang dilakukan Ferdinand justru malah membatasai gerak Demokrat untuk membuka ruang berkoalasi dengan PDIP sebagai partai pendukung utama Presiden Jokowi. (K16)

Baca juga :  Siapa Mau Ngalah?
spot_img

#Trending Article

Jakarta-Shanghai, Apple to Apple?

“In the long run, your human capital is your main base of competition. Your leading indicator of where you're going to be 20 years...

Membaca Pengaruh Jokowi di 2024

Lontaran ciri-ciri pemimpin yang pikirkan rakyat seperti kerutan dan rambut putih dari Jokowi jadi perbincangan. Inikah cara Jokowi relevan di 2024?

Zulhas dan Bisnis Jastip Menjanjikan

Nama Mendag Zulkifli Hasan (Zulhas) disebutkan Prof. Karomani soal kasus penitipan mahasiswa baru di Universitas Lampung (Unila).

PDIP Bakal Gabung KIB?

“Jadi warnanya tidak jauh dari yang ada di bola ini (Al Rihla)” – Airlangga Hartarto, Ketua Umum Partai Golkar PinterPolitik.com Demam Piala Dunia 2022 Qatar rupanya...

Saatnya Jokowi Tinggalkan Relawan “Toxic”?

“Kita gemes, Pak, ingin melawan mereka. Kalau mau tempur lapangan, kita lebih banyak” –  Benny Rhamdani, Kepala Badan Perlindungan Pekerja Migran Indonesia (BP2MI)  PinterPolitik.com Si vis...

Saatnya Ganjar Balas Jasa Puan?

“Ganjar itu jadi Gubernur (Jateng) jangan lupa, baik yang pertama dan kedua itu, justru panglima perangnya Puan Maharani,” –   Said Abdullah, Ketua DPP...

PDIP vs Relawan Jokowi, Rebutan GBK?

Usai acara Gerakan Nusantara Bersatu di GBK, PDIP tampak tidak terima relawan Jokowi bisa pakai GBK. Mengapa GBK jadi semacam rebutan?

PDIP Takut Jokowi “Dijilat”?

“PDI Perjuangan mengimbau kepada ring satu Presiden Jokowi agar tidak bersikap asal bapak senang (ABS) dan benar-benar berjuang keras bahwa kepemimpinan Pak Jokowi yang kaya...

More Stories

Data IDI Dengan Pemerintah Berbeda?

IDI dilaporkan data kematian Covid-19 yang berbeda dengan pemerintah. Sebut kematian telah sentuh angka 1000 sedangkan data pemerintah belum sentuh angka 600. Dinilai tidak...

MK Kebiri Arogansi DPR

"(Perubahan pasal UU MD3) sudah diputuskan hukum, iya kita sebagai negara hukum, ikut dan taat apa yang telah diputuskan MK yang final dan mengikat,"...

Gerindra ‘Ngemis’ Cari Teman

"Prioritas Gerindra tetap dengan PKS, PAN. Mungkin juga dengan Demokrat yang belum nyatakan sikap. Kita lihat PKB juga.Jadi kita akan merajut koalisi lebih intensif,...