HomeCelotehHAM: PR yang (Pernah) Dikerjakan

HAM: PR yang (Pernah) Dikerjakan

“Orang yang mulai mengabaikan martabat orang lain, dalam waktu singkat ia tidak akan mengindahkan hak asasi orang lain.”


PinterPolitik.com

[dropcap]H[/dropcap]AM a.k.a Hak Azasi Manusia kerap terdengar nyaring lima tahun sekali. Dimana? Di panggung politik dengan lantunan nyanyian manisnya sendu melagu.  Syalalala.

Hmmm, hembusan angin harapannya terasa nyata namun sebenarnya imajiner. Kaya mimpi di siang bolong ya hehehe.

Janji dan ikrar sang pemimpin yang menyuarakan akan menumpas pelaku kejahatan HAM dan menuntaskan kasus HAM hanya sekadar lipstick yang menghiasi bibir.

Mending kita siapkan gincu buat mereka sehingga mereka tau perlakuan manis dan sok manis itu bagaimana? Weleeeh weleeeh

Nyatanya? Tak ada yang berbeda weleeeh weleeeeh.

Bila kita tuntut pemimpin kita, sampai dimanakah perkembangan penuntasan kasus HAM masa lampau? Maka sang pemimpin akan menjawab…masih proses, proses dan proses.

Kesan pesimis sebenarnya yang ingin disampaikan. Hmmm. Weleeeh weleeeh

Bila ada yang menanyakan sampai kapan kasus ini akan berakhir, sampai lelahnya pemimpin ini menjawab dengan kalimat normatif. Weleeeh weleeh tak usah lagi percaya ya.

Pernah disentuh ga sih kasus HAM? Sudah pasti pernah disentuh. Namun, dikerjakan tidak sih? Dikerjakanlah. Sedangkan, tuntaskah penyelesaian kasus HAM?

Tentu tak ada yang menjamin selesai. Kenapa?

Karena memang niatannya takkan diselesaikan. Tega juga ya ‘mempermainkan’ sebuah hak paling dasar dari insan manusia yang dirampas baik di era kini maupun masa lampau. Hmmm.

Ataukah memang penuntasan kasus HAM ini dipandang sebuah permasalahan sepele?

Kalau begitu, mari berikan gambaran jelas definisi hak yang paling dasar manusia yang tidak boleh direnggut.

Selain itu, berikan juga definisi pemimpin gagal dan pemimpin sukses, sehingga batasannya jelas dan terukur.

Kalo tetap ga bisa? Weleeeh weleeeeh. Tak usah jadi pemimpin kalau tak bisa hadir sebagai problem solver huffft.

Bila diamati, sang pemimpin yang awalnya lantang dan nyaring, namun saat terpilih menjadi melempem. Tak aneh. Weleeeh weleeeh. (Z19)

spot_imgspot_imgspot_imgspot_img

#Trending Article

More Stories

Wali Kota Depok ‘Biduan Lampu Merah’

"Kualitas humor tertinggi itu kalau mampu mengejek diri sendiri. Cocok juga ditonton politisi. Belajar becermin untuk melihat diri sendiri yang asli, " - Butet...

DPR Terpilih ‘Puasa Bicara’

“Uang tidak pernah bisa bicara; tapi uang bisa bersumpah,” – Bob Dylan PinterPolitik.com Wakil rakyat, pemegang amanah rakyat, ehmmm, identitas yang disematkan begitu mulia karena menjadi...

Ridwan Kamil Jiplak Jurus Jokowi

“Untuk melakukan hal yang buruk, Anda harus menjadi politisi yang baik,” – Karl Kraus PinterPolitik.com Pemindahan Ibukota masih tergolong diskursus yang mentah karena masih banyak faktor...