HomeCelotehFahri Mencari Kambing Hitam

Fahri Mencari Kambing Hitam

Kecil Besar

“Musuh kita adalah pemerintah yang gagal membuat kita bersaudara sebab agama tidak ada yg mengajarkan kebencian. Ajaran kebencian datang dari khotbah (akibat) mereka yang gagal mengelola negara,” ~ Wakil Ketua DPR, Fahri Hamzah.


PinterPolitik.com

[dropcap]P[/dropcap]eran oposisi dalam sebuah sistem demokrasi memang gak kalah pentingnya untuk menyeimbangkan posisi pemerintah. Karena ketika pemerintah dirasa melakukan kesalahan dan rakyat berpotensi menderita, maka di situ oposisi berperan. Begitulah sekiranya yang ada di alam pikiran ideal seorang Wakil Ketua DPR, Fahri Hamzah.

Kritikan dan hobi nyinyirnya terhadap pemerintah sudah dijustifikasi sebagai sesuatu yang berfaedah dan baik untuk masyarakat. Ya seperti ketika baru-baru ini dia mengkritik pemerintah dalam cuitannya. Menurutnya musuh bangsa Indonesia adalah pemerintah yang gagal membut kita saling bersaudara.

Loh kok eike jadi bingung ya. Jadi kalau kita saling bermusuhan itu biang keroknya pemerintah? Ini mah udah suudzon atuh. Lebih lanjut Fahri menambahkan bahwasanya agama tidak ada yang mengajarkan kebencian. Dan ajaran kebencian datangnya dari khotbah mereka yang gagal mengelola negara. Maca ci?

Ya secara subyektif boleh lah Bang Fahri bilang begitu. Tapi apa lantas pendapat pribadi ini bisa dibenarkan? Palingan cuma sebatas common sense aja. Emang sih agama tidak mengajarakan kebencian. Tapi pemeluk agama tersebutlah yang telah menyalahgunakan agama sehingga mereka melakukan hasud.

Coba deh kita iseng cek profil pelaku teror di Indonesia! Hampir bisa dibilang mereka punya latar belakang mendalami ilmu agama secara radikal. Masa eike suruh bersaudara sama orang yang punya paham radikal gitu? Ogah ah! Kalau udah gitu salah siapa? Pemerintah? Jiah, cape deh. Gak usah cari kambing hitam deh.

Baca juga :  Lari lambat Kuda Fahri Hamzah?

Itu mah salah umat yang mempelajari agama secara parsial sehingga mudah terkontaminasi bibit radikal. Kayaknya nih ya, teroris itu sekarang berkamuflase atas nama agama untuk mendapatkan banyak dukungan. Ya itu karena menurut Karl Marx: “Agama adalah candu bagi masyarakat”. Ngeri-ngeri sedap.

Eike berani jamin deh, kalau pelaku teror ini bisa dibilang 100% berdelusi mengenai sosok pemerintah yang disebut thaghut sehingga layak untuk diserang. Bahkan darah aparat keamanan dikatakan halal untuk dibunuh. Apa bibit kebencian ini juga salah pemerintah? Helow! Lagi bermain logical fallacy ya?

Kalau ada khotbah yang bersifat provokasi dan radikal ya itu tindakan yang salah dung. Dan itu harus dicegah. Begitu pula website Islam abal-abal yang isinya cuma menghasut umat untuk membenci pemerintah. Keberadaan yang salah itu gak boleh dibenarkan. Tapi jangan lantas juga menyalahkan pemerintah atas apa yang terjadi. Hadeuh. Teroris itu memang udah tabiatnya ngeriweuhin negara orang. (K16)

spot_imgspot_imgspot_imgspot_img

#Trending Article

Ahok Jadi Ketua KPK?

Jokowi telah resmi menunjuk pansel pimpinan KPK 2019-2023. Prediksi tentang siapa ketua KPK yang dihasilkan seleksi ini pun sudah mulai bisa digulirkan. Pinterpolitik.com Teka-teki tentang siapa...

Kini, Giliran Politik Milenial?

Sosok-sosok yang berasal dari generasi milenial kini mulai bermunculan guna mengisi perannya di berbagai bidang, termasuk pemerintahan dan politik. Apakah kehadiran milenial menjadi tanda...

Hantu Sawit di Papua?

Di balik berbagai kerusuhan yang terjadi akibat diskriminasi rasial terhadap kelompok Papua, terdapat persoalan kelapa sawit yang dinilai dapat mengancam lingkungan dan komunitas adat...

Ferry, “Sahabat Kepompong” Sandiaga

"Persahabatan bagai kepompong," lirik lagu Kepompong oleh Sind3ntosca. PinterPolitik.com Mendekati pilpres 2019, masing-masing kubu sibuk membangun struktur tim pemenangan agar mampu menjalankan manuver-menuver canggih untuk meraup...

Judul Sinetron PKS-Gerindra

"Tak banyak orang yang menganggap kekuasaan sebagai borgol, lebih banyak yang melihatnya sebagai gelang emas yang bisa bikin orang iri." ~Goenawan Mohamad PinterPolitik.com Eng, ing, eng,...

Baliho Tikus, Tanda Kekalahan Jokowi?

“Apa kamu pernah membayangkan Jakarta menjadi Berlin, Bandung jadi Paris, Semarang jadi Swiss, Surabaya menjadi Roma, dan sebagainya? Oh indahnya Indonesia! Sayang, kita terlalu...

Thomas Lembong “Membalas” Jokowi?

“Investasi yang sukses adalah mengantisipasi apa yang dilakukan orang lain”. – John Maynard Keynes Pinterpolitik.com Nama Kepala Badan Koordinasi Penanaman Modal (BKPM), yaitu Thomas Trisakti Lembong...

Merekat Persatuan dalam Kebinekaan

Berbagai gesekan di masyarakat bisa saja menghantui Indonesia ke depannya. Namun, nilai kebinekaan yang menjadi semboyan bangsa seharusnya dapat menjadi modal sosial bagi masyarakat...

More Stories

Data IDI Dengan Pemerintah Berbeda?

IDI dilaporkan data kematian Covid-19 yang berbeda dengan pemerintah. Sebut kematian telah sentuh angka 1000 sedangkan data pemerintah belum sentuh angka 600. Dinilai tidak...

MK Kebiri Arogansi DPR

"(Perubahan pasal UU MD3) sudah diputuskan hukum, iya kita sebagai negara hukum, ikut dan taat apa yang telah diputuskan MK yang final dan mengikat,"...

Gerindra ‘Ngemis’ Cari Teman

"Prioritas Gerindra tetap dengan PKS, PAN. Mungkin juga dengan Demokrat yang belum nyatakan sikap. Kita lihat PKB juga.Jadi kita akan merajut koalisi lebih intensif,...