HomeNalar PolitikSiapa Pengganti Nadiem Makarim?

Siapa Pengganti Nadiem Makarim?

Kecil Besar

Kemenristek resmi dilebur ke Kemendikbud. Peleburan dua kementerian ini melahirkan isu reshuffle, khususnya posisi Nadiem Makarim. Apakah Menristek Bambang Brodjonegoro (Bang Bro) akan menggantikan Nadiem sebagai Mendikbud? Atau mungkin Sekum PP Muhammadiyah Abdul Mu’ti? 


PinterPolitik.com

Pada awalnya, banyak pihak melihat Nadiem Makarim sebagai sosok yang akan membawa perubahan ketika ditunjuk sebagai Menteri Pendidikan dan Kebudayaan (Mendikbud) oleh Presiden Joko Widodo (Jokowi). Selaku sosok yang berkecimpung di wilayah Big Data, Nadiem diharapkan dapat mewujudkan link and matchantara perguruan tinggi dengan kebutuhan tenaga kerja.

Link and match adalah masalah lama yang kerap digaungkan berbagai Mendikbud, namun tidak kunjung berhasil terrealisasi. Persoalannya terletak pada percepatan arus informasi. Di tengah era kelimpahan informasi saat ini, kita mengalami disrupsi, yakni era yang sulit dihitung, sulit dikalkulasi, dan penuh dengan risiko-risiko.

Dengan pengalaman bergelut dengan Big Data, Nadiem diharapkan dapat menjawab tantangan tersebut. Ia diharapkan mampu melaraskan kebutuhan tenaga kerja yang selalu mengalami dinamika dengan jurusan atau sistem pendidikan di perguruan tinggi.

Namun, terpaan pandemi Covid-19 tampaknya membuyarkan harapan yang ada. Alih-alih menjadi motor akselerasi, Nadiem justru bergelut dengan berbagai kontroversi. Bahkan, mantan CEO Gojek ini harus bersinggungan dengan Nahdlatul Ulama (NU) dan Muhammadiyah.

Tidak heran kemudian, berbagai dorongan pencopotan mulai berdatangan. Nadiem dinilai bukanlah sosok tepat memimpin Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan (Kemendikbud), khususnya persoalan komunikasi publik yang terlihat kurang hati-hati.

Baca Juga: Di Balik Rapor Merah Nadiem Makarim

Saat ini, narasi pencopotan Nadiem tengah begitu menguat. Setelah Kementerian Riset dan Teknologi (Kemenristek) dilebur ke Kemendikbud – menjadi Kemendikbud dan Ristek, posisi Nadiem disebut-sebut akan diganti oleh Menteri Riset dan Teknologi (Menristek)/Kepala Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) Bambang Permadi Soemantri Brodjonegoro (Bang Bro).

Pandangan itu misalnya diutarakan oleh pengamat politik Hendri Satrio. Menurutnya, Bang Bro memiliki track record dan kapabilitas yang lebih lengkap ketimbang Nadiem. Apalagi, ada kabar yang menyebut Bang Bro akan mengundurkan diri sebagai Menristek dan Kepala BRIN. Sinyal itu juga diperjelas dengan pernyataan Bang Bro yang mengaku sedih sebagai Menristek terakhir. 

Lantas, mungkinkah Bang Bro akan menggantikan Nadiem untuk memimpin Kemendikbud dan Ristek?

Political Capital Keduanya

Untuk menjawabnya, kita perlu membandingkan modal politik atau political capital Nadiem dan Bang Bro. Kimberly L. Casey dalam tulisannya Defining Political Capital menyebut modal politik sebagai konsep penting untuk memahami pertukaran dan hubungan politik. Modal politik adalah metafora yang digunakan untuk menggambarkan gabungan berbagai modal yang membuat politisi memiliki daya tawar. 

Baca juga :  Balada Negeri Ormek

Mengutip teori interconvertibility dari Pierre Bourdieu, Casey memetakan berbagai jenis modal yang dapat menjadi modal politik, yakni modal institusional, modal sumber daya manusia (SDM) (human capital), modal sosial, modal ekonomi, modal kultural, modal simbolis, dan modal moral.

Kendati dapat dipetakan menjadi tujuh jenis, Casey menegaskan pada dasarnya tidak ada modal politik yang murni. Artinya, besar tidaknya daya tawar suatu modal tergantung atas pasar politik atau modal apa yang tengah dibutuhkan.

Pada posisi Mendikbud dan Ristek, modal yang lebih tepat sekiranya adalah modal SDM, modal moral, dan modal sosial. Modal SDM terkait kapasitas pengetahuan atau pendidikan, modal moral terkait sejauh mana seseorang dinilai baik, dan modal sosial terkait relasi dan jaringan.

Baik Bang Bro dan Nadiem sama-sama memiliki modal SDM yang mumpuni. Bang Bro menempuh S1 di Fakultas Ekonomi, Universitas Indonesia dengan konsentrasi Ekonomi Pembangunan dan Ekonomi Regional. 

Gelar master dan doktor (Ph.D) diraih di University of Illinois di Urbana-Champaign, Amerika Serikat. Saat ini Bang Bro telah mencapai puncak tertinggi pencapaian akademik dengan menyandang status professor atau guru besar. 

Baca Juga: Nadiem Ungkap Kegagalan Revolusi 4.0?

Sementara Nadiem, ia mengambil S1 jurusan Hubungan Internasional di Universitas Brown, Amerika Serikat. Lalu meraih gelar Master of Business Administration di Harvard Business School.

Terkait modal moral, sejauh ini keduanya adalah sosok bersih. Terkhusus Nadiem, keberhasilannya bersama Gojek telah menjadi inspirasi bagi banyak pihak, terutama kaum muda untuk meraih kesuksesan serupa.

Nah, pembeda kontrasnya mungkin pada modal sosial. Berbeda dengan Nadiem yang baru berkecimpung di dunia politik, Bang Bro adalah pemain lama yang pastinya memiliki jaringan yang jauh lebih luas. Saat ini Bang Bro juga diketahui sebagai salah satu orang dekat Presiden Jokowi.

Pengalaman yang lebih kaya tentunya bertransformasi dalam kemampuan mengelola relasi. Poin itu sangat penting untuk mengeratkan kembali hubungan dengan NU dan Muhammadiyah yang dinilai kurang begitu baik di bawah kepemimpinan Nadiem. Mantan bos Gojek ini juga dinilai memiliki gaya komunikasi yang terkesan elitis.

Baca juga :  Runtuhnya Empire Sawit Singapura?

Mengacu pada ketiga modal tersebut, sekiranya dapat disimpulkan modal politik Bang Bro lebih mumpuni dan memiliki daya tawar yang lebih baik ketimbang Nadiem.

Diberikan ke Muhammadiyah?

Di titik ini, mungkin dapat dikatakan, dari segi pengalaman dan kemampuan merawat relasi Bang Bro adalah sosok tepat memimpin Kemendikbud dan Ristek. Namun, melihat pemetaan narasinya, isu pencopotan Nadiem kembali menghangatkan wacana untuk kembali memilih sosok dari Muhammadiyah.

Direktur Eksekutif Indo Barometer, Muhammad Qodari, misalnya, menilai Sekretaris Umum (Sekum) Pimpinan Pusat (PP) Muhammadiyah, Abdul Mu’ti layak dipertimbangkan mengisi kursi Nadiem. 

Tidak hanya soal tradisi, di mana kursi Mendikbud kerap dikaitkan dengan Muhammadiyah, perhatian ormas Islam tertua di Indonesia itu terhadap pendidikan menjadi variabel penentu.

Berdasarkan data Majelis Dikti Litbang PP Muhammadiyah, ada 162 perguruan tinggi Muhammadiyah dan ‘Aisyiyah (PTMA) hingga Agustus 2020. Dari 162, 60 berbentuk universitas, 82 sekolah tinggi, 6 akademi, 9 institut, dan 5 politeknik. 

Itu belum termasuk lembaga pendidikan non-perguruan tinggi. Konteks ini membuat kita dapat menyebut Muhammadiyah memiliki kepentingan politik atau political interest yang tinggi di posisi yang bersentuhan dengan pendidikan.  

Baca Juga: Dibenturkan, Nadiem Tetap Tak Terbendung?

Hilke Rebenstorf dalam tulisannya Political Interest — Its Meaning and General Development menyebutkan political interest sebagai komponen utama dalam motivasi politik yang secara esensial mempengaruhi partisipasi dalam proses demokrasi. Tidak hanya sekadar membentuk ideologi atau ekspresi eksistensi, political interest menjadi begitu krusial karena mendorong eksplorasi komitmen.  

Merujuk pada Rebenstorf, political interest Muhammadiyah pada sektor pendidikan yang mungkin membuatnya ingin menempati pos Mendikbud bukanlah sesuatu yang negatif, melainkan positif. 

Justru menjadi wajar dan masuk akal apabila kursi Nadiem memang diinginkan, menimbang pada besarnya komitmen Muhammadiyah untuk mendorong perkembangan pendidikan.

Well, pada akhirnya kita hanya dapat menunggu, apakah peleburan dua kementerian itu akan membuat Nadiem didepak dari jabatannya atau tidak. Jika nantinya diganti, Bang Bro atau Abdul Mu’ti, yang mungkin menempati kursi tersebut.

Namun, dengan adanya isu Bang Bro akan diberikan tugas menjadi Kepala Otorita Ibu Kota Negara, nama Abdul Mu’ti mungkin yang terdepan. Atau mungkin nanti akan ada nama kejutan. Kita lihat saja perkembangannya. (R53)

Artikel Sebelumnya
Artikel Selanjutna
spot_imgspot_img

#Trending Article

Jalan-jalan dengan Sepatu Roda ‘Girl Power’

Lagu "rollerblade" (2026) milik no na meledak jadi meme nasional. Kenapa justru girl group yang kini menguasai dunia? 

Prabowo dan Ancaman Stochastic Parrot

Dengarkan artikel ini: Sejak Pertamax resmi naik dari Rp 12.300 menjadi Rp 16.250 per liter pada 10 Juni 2026, gelombang demo mahasiswa meledak di Jakarta,...

Kerajaan Abadi Raja Ponsel Indonesia

Dengarkan artikel berikut. Audio ini dibuat dengan teknologi AI. Sugianto Kusuma mungkin bukan nama yang Anda ingat saat membeli iPhone. Tapi dialah yang berdiri di balik...

Jebakan Rindu Soeharto?

Demokrasi sudah 28 tahun berjalan, tapi foto Soeharto di sawah itu masih terus beredar di WhatsApp. Ekonom senior Ferry Latuhihin menyatakan menyesal ikut menjatuhkan Soeharto — dan Mahfud MD tidak mau meralat pernyataannya bahwa korupsi era reformasi "lebih gila" dari Orde Baru. Ada pertanyaan filosofis yang lebih dalam di balik semua ini: bukan siapa yang lebih baik, tapi mengapa negara yang lebih bebas justru terasa lebih tidak hadir?

Runtuhnya Empire Sawit Singapura?

Kebijakan DSI mengguncang arsitektur lama perdagangan sawit Asia Tenggara. Saat saham konglomerat sawit berbasis Singapura melemah, Indonesia mulai merebut kembali nilai yang selama puluhan tahun mengalir ke luar negeri. Apakah ini awal runtuhnya empire sawit Singapura dan lahirnya era baru geoekonomi Indonesia?

Pertamax dan Kelas yang Terlupakan

Negara menyebut mereka tulang punggung ekonomi, semakin lama mereka semakin hilang. Mereka tidak memiliki jaminan seperti kelas bawah dan mereka tidak punya akses sebesar kelas atas. Tetapi, mereka dipilih untuk menanggung semuannya.

“Sell Indonesia” dan Spirit 1928

Narasi "Sell Indonesia" menyapu pasar global, tapi di dalam negeri justru lahir persatuan. Apa yang sebenarnya sedang bangkit? 

Adu Nasib Rusdi-Sandi

Dua pengusaha besar, dua jalan politik berbeda. Rusdi Kirana berakar kuat di PKB hingga menjadi elite nasional, sementara Sandiaga Uno gagal mengangkat PPP dari keterpurukan. Mengapa modal, popularitas, dan jaringan tak cukup menyelamatkan partai yang rapuh?

More Stories

Ganjar Kena Karma Kritik Jokowi?

Dalam survei terbaru Indonesia Political Opinion, elektabilitas Ganjar-Mahfud justru menempati posisi ketiga. Apakah itu karma Ganjar karena mengkritik Jokowi? PinterPolitik.com Pada awalnya Ganjar Pranowo digadang-gadang sebagai...

Anies-Muhaimin Terjebak Ilusi Kampanye?

Di hampir semua rilis survei, duet Anies Baswedan dan Muhaimin Iskandar selalu menempati posisi ketiga. Menanggapi survei yang ada, Anies dan Muhaimin merespons optimis...

Kenapa Jokowi Belum Copot Budi Gunawan?

Hubungan dekat Budi Gunawan (BG) dengan Megawati Soekarnoputri disinyalir menjadi alasan kuatnya isu pencopotan BG sebagai Kepala BIN. Lantas, kenapa sampai sekarang Presiden Jokowi...