HomeNalar PolitikRizieq Capres Kepedean?

Rizieq Capres Kepedean?

Kecil Besar

“Rakornas menginginkan agar PA 212 memperjuangkan imam besar Habib Rizieq Shihab untuk menjadi calon presiden,” Slamet Maarif, Ketua PA 212


PinterPolitik.com

[dropcap]B[/dropcap]osan, itu mungkin yang dirasakan banyak orang saat melihat bursa capres yang ditawarkan oleh parpol. Dari nama-nama yang beredar, tokoh yang muncul tergolong itu-itu saja atau sudah lama dibicarakan akan mengejar kursi RI-1.

Tenang, Persaudaraan Alumni (PA) 212 punya solusinya. Wadah berkumpulnya massa pegiat Aksi Bela Islam ini memunculkan satu nama yang tidak pernah dipikirkan banyak parpol. Imam Besar FPI Rizieq Shihab didaulat menjadi capres terekomendasi nomor satu versi Rakornas PA 212.

Beberapa orang mengernyitkan dahi atau bahkan menertawakan langkah PA 212 tersebut. Bagi beberapa pihak, langkah kelompok tersebut adalah sebuah hal yang kepedean atau terlalu percaya diri. Bagaimana mungkin seorang Rizieq Shihab yang tidak punya latar belakang karier politik bisa menjadi capres?

Di atas kertas, jalan Rizieq menuju Istana Negara memang dapat dikatakan tidak mudah. Meski begitu,  Rizieq dan PA 212 dapat meraup untung tersendiri dari deklarasi sang Habib sebagai capres. Apa yang bisa diambil dari sikap kepedean PA 212 tersebut?

Mengantar Rizieq ke Istana

Nama Rizieq mengemuka menjadi salah satu calon orang nomor satu pada Rakornas PA 212 beberapa waktu lalu. Sebenarnya, selain Rizieq ada beberapa nama lain yang direkomendasikan untuk menjadi capres dari wadah alumni aksi berjilid-jilid itu. Meski demikian, Rizieq menduduki urutan teratas dari daftar rekomendasi tersebut.

Rizieq mampu mengungguli sejumlah nama tenar dalam dunia politik seperti Prabowo Subianto, Tuan Guru Bajang, Yusril Ihza Mahendra, dan Zulkifli Hasan. Rizieq bahkan dianggap lebih diunggulkan dari pada sang petahan Presiden Joko Widodo (Jokowi) di mata peserta Rakornas.

Rizieq Capres Kepedean?

Mereka mengaku bahwa mendukung Rizieq adalah aspirasi utama dari sebagian besar peserta Rakornas. Oleh karena itu, para petinggi gerakan tersebut akan memperjuangkan nama sang Imam Besar untuk dapat menjadi capres di 2019 nanti.

Untuk melancarkan jalan sang Habib menuju Istana, PA 212 mengaku bahwa mereka akan membuka komunikasi dengan sejumlah parpol. Mereka akan menawarkan nama Rizieq kepada partai-partai yang selama ini dekat dengan mereka yaitu Gerindra, PKS, PAN, dan PBB.

Meski demikian, langkah ini dapat dianggap sebagai sebuah sikap yang kepedean dari para alumni 212. Partai-partai tersebut memang kerap bermitra dengan mereka, tetapi bukan berarti mereka serta-merta mau mengusung nama Rizieq. Jika demikian, mengapa PA 212 bisa begitu yakin dengan langkah tersebut?

Meraup Untung dari Kepercayaan Diri

Sikap overconfidence atau percaya diri berlebih sebenarnya adalah hal yang lumrah dalam dunia politik. Menurut Professor Don A. Moore dari University of California, Berkeley, percaya diri yang berlebih bukanlah hal yang tidak biasa, terutama bagi pemimpin yang kuat. Hampir seluruh pemimpin menunjukkan rasa percaya diri yang tinggi terutama jika berhadapan dengan pendukungnya. Sikap sesumbar kerap diumbar oleh pemimpin tersebut jika berhadapan dengan mikrofon dan juga kamera.

Baca juga :  Dahsyatnya “Buahlil Fever”

Menurut Moore, kepercayaan diri dapat menginspirasi keyakinan banyak orang karena terlihat begitu meyakinkan. Oleh karena itu, orang dengan karakteristik tersebut cenderung dapat memiliki pengaruh di dalam suatu kelompok.

Donald Trump merupakan salah satu contoh utama dari pemimpin yang memiliki rasa percaya diri tinggi. Menurut Moore, rasa percaya diri Trump ini digunakan untuk menutupi ketidakmampuannya dalam dunia politik.

Secara spesifik, overconfidence atau kepedean ini memiliki pengaruh terhadap perilaku politik. Hal ini diungkapkan di dalam penelitian yang dibuat oleh Pietro Ortoleva dan Erik Snowberg. Mereka menemukan bahwa kepercayaan diri yang berlebih dapat menyebabkan rasa ekstrem terhadap ideologi. Selain itu, penelitian tersebut juga mengungkapkan bahwa rasa kepedean dapat meningkatkan identifikasi yang lebih tinggi terhadap partai atau suatu kelompok politik.

Berdasarkan kondisi tersebut, sikap kepedean yang ditunjukkan oleh PA 212 dengan merekomendasikan nama Rizieq sebagai capres, memiliki keuntungan tersendiri dari sekadar urusan Pemilu. Merujuk pada Ortoleva dan Snowberg, sikap kepedean tersebut bisa menaikkan tingkat ekstrem pendukung Rizieq dan 212 terhadap ideologi yang mereka usung. Selain itu, identifikasi para pendukung terhadap kelompok 212 juga dapat semakin kuat akibat langkah tersebut.

Beda Bahasa Sikap Kepedean

Jika dilihat, langkah PA 212 ini memiliki kaitan dalam salah satu bahasan filsafat, yaitu logic and language atau logika dan bahasa. Dalam konteks ini, penggunaan bahasa dapat memiliki makna yang bermacam-macam tergantung dari konteks dan juga nada bicara yang digunakan.

Bahasa setidaknya kerap dibagi ke dalam tiga bentuk kegunaan, yaitu penggunaan bahasa secara informatif, penggunaan bahasa secara ekspresif, dan pengunaan bahasa untuk mengarahkan. Meski ada kategorisasi semacam ini, suatu bahasa dapat memiliki makna atau maksud lebih dari satu.

Hal ini dapat berlaku pada sikap kepedean PA 212 dalam rencana mereka untuk mendukung Rizieq menjadi capres. Jika dilihat dalam konteks biasa, sikap ini jelas tidak masuk di akal atau dapat dikatakan tidak logis. Terlebih jika melihat kondisi politik PA 212 dan Rizieq menjelang Pilpres 2019.

Sampai saat ini, tidak ada partai yang mau mengusung nama Rizieq Shihab sebagai capres. Gerindra misalnya sudah jauh-jauh hari menyiapkan nama ketua umum mereka Prabowo Subianto untuk calon RI-1. Hal serupa berlaku dengan PKS yang sudah memiliki sembilan nama capres dari internal partai sendiri. Sementara itu, PAN dan PBB sejauh ini memang belum menunjukkan sikap ke mana mereka akan berlabuh.

Baca juga :  Tito Karnavian, Politik “Low Exposure”?

PA 212 diprediksi akan kesulitan mencari kendaraan bagi Rizieq menuju kursi RI-1. Bentuk mereka yang bukanlah sebuah partai jelas menjadi ganjalan untuk mencalon capres sendiri. Padahal, berdasarkan peraturan, seorang capres harus mengantongi dukungan parpol dengan minimal perolehan suara 20 persen sebelum menjadi capres. Hal ini membuat langkah pencapresan Rizeq menjadi di luar logika.

Meski demikian, pernyataan dari PA 212 ini bisa saja tidak sekadar bermaksud untuk mendorong sang Imam Besar menjadi orang nomor satu di negeri ini. Ada makna lain yang bisa jadi ingin dicapai dari langkah wadah alumni aksi berjilid-jilid tersebut.

Sekilas, pernyataan Rizieq menjadi capres adalah sebuah pernyataan dengan penggunaan bahasa secara informatif atau informative use of language. Meski demikian, jika diperhatikan ada makna lain dari pernyataan tersebut.

Ada maksud penggunaan bahasa untuk mengarahkan atau directive use of language dari langkah tersebut. Dalam hal ini, ada nuansa seolah-olah mengajak kepada para pendukung untuk kembali bersatu di dalam barisan PA 212. Mereka juga ingin mengarahkan para pendukung untuk menguatkan kecintaan kepada Rizieq sebagai Imam Besar.

Jika diperhatikan, hijrahnya Rizieq ke negeri padang pasir Arab Saudi sedikit menurunkan pemberitaan tentangnya. Hal ini dapat menimbulkan penurunan pamor dari sang Imam Besar. Penurunan popularitas ini berpotensi membuat sang Habib lama kelamaan akan ditinggalkan oleh para penggemarnya. Hal ini jelas tidak diinginkan oleh PA 212 dan Rizieq sendiri.

Dengan dideklarasikannya nama Rizieq sebagai capres, seketika nama pendiri FPI tersebut kembali masuk tajuk utama pemberitaan media. Kelesuan para pendukungnya akan terobati melalui langkah semacam ini. Pendukung yang semula mulai kehilangan arah, kini kembali mendapatkan angin segar.

Berdasarkan kondisi itu, apa yang dikatakan oleh Ortoleva dan Snowberg menjadi benar. Sikap kepedean PA 212 bisa saja memang diarahkan untuk meningkatkan kembali rasa cinta terhadap ideologi gerakan mereka. Selain itu, identifikasi terhadap gerakan dan juga Rizieq juga dapat digelorakan kembali.

Oleh karena itu, sikap kepedean PA 212 tidak hanya bisa dipandang dari sisi elektoral semata. Ada massa pendukung yang perlu dikuatkan melalui pencapresan Rizieq. Dengan begitu, semangat para alumni 212 dapat kembali membara. (H33)

Artikel Sebelumnya
Artikel Selanjutna
spot_imgspot_img

#Trending Article

Golkar, Chandradimuka The Fixer?

Presiden datang dan pergi, tetapi satu fungsi selalu bertahan, the fixer. Dari Orde Baru hingga era Presiden Prabowo, Indonesia terus melahirkan operator negara yang menjembatani politik, birokrasi, dan ekonomi. Mengapa begitu banyak figur tersebut berasal dari Partai Golkar? Di sinilah kisah tentang "kawah chandradimuka" para pengelola kekuasaan dimulai

Jalan-jalan dengan Sepatu Roda ‘Girl Power’

Lagu "rollerblade" (2026) milik no na meledak jadi meme nasional. Kenapa justru girl group yang kini menguasai dunia? 

Prabowo dan Ancaman Stochastic Parrot

Dengarkan artikel ini: Sejak Pertamax resmi naik dari Rp 12.300 menjadi Rp 16.250 per liter pada 10 Juni 2026, gelombang demo mahasiswa meledak di Jakarta,...

Kerajaan Abadi Raja Ponsel Indonesia

Dengarkan artikel berikut. Audio ini dibuat dengan teknologi AI. Sugianto Kusuma mungkin bukan nama yang Anda ingat saat membeli iPhone. Tapi dialah yang berdiri di balik...

Jebakan Rindu Soeharto?

Demokrasi sudah 28 tahun berjalan, tapi foto Soeharto di sawah itu masih terus beredar di WhatsApp. Ekonom senior Ferry Latuhihin menyatakan menyesal ikut menjatuhkan Soeharto — dan Mahfud MD tidak mau meralat pernyataannya bahwa korupsi era reformasi "lebih gila" dari Orde Baru. Ada pertanyaan filosofis yang lebih dalam di balik semua ini: bukan siapa yang lebih baik, tapi mengapa negara yang lebih bebas justru terasa lebih tidak hadir?

Runtuhnya Empire Sawit Singapura?

Kebijakan DSI mengguncang arsitektur lama perdagangan sawit Asia Tenggara. Saat saham konglomerat sawit berbasis Singapura melemah, Indonesia mulai merebut kembali nilai yang selama puluhan tahun mengalir ke luar negeri. Apakah ini awal runtuhnya empire sawit Singapura dan lahirnya era baru geoekonomi Indonesia?

Pertamax dan Kelas yang Terlupakan

Negara menyebut mereka tulang punggung ekonomi, semakin lama mereka semakin hilang. Mereka tidak memiliki jaminan seperti kelas bawah dan mereka tidak punya akses sebesar kelas atas. Tetapi, mereka dipilih untuk menanggung semuannya.

“Sell Indonesia” dan Spirit 1928

Narasi "Sell Indonesia" menyapu pasar global, tapi di dalam negeri justru lahir persatuan. Apa yang sebenarnya sedang bangkit? 

More Stories

Membaca Siapa “Musuh” Jokowi

Dari radikalisme hingga anarko sindikalisme, terlihat bahwa ada banyak paham yang dianggap masyarakat sebagai ancaman bagi pemerintah. Bagi sejumlah pihak, label itu bisa saja...

Untuk Apa Civil Society Watch?

Ade Armando dan kawan-kawan mengumumkan berdirinya kelompok bertajuk Civil Society Watch. Munculnya kelompok ini jadi bahan pembicaraan netizen karena berpotensi jadi ancaman demokrasi. Pinterpolitik Masyarakat sipil...

Tanda Tanya Sikap Gerindra Soal Perkosaan

Kasus perkosaan yang melibatkan anak anggota DPRD Bekasi asal Gerindra membuat geram masyarakat. Gerindra, yang namanya belakangan diseret netizen seharusnya bisa bersikap lebih baik...