HomeNalar Politik

Nalar Politik

The One-Man Band

Lebih dari 19 jabatan selama era Jokowi — Luhut Pandjaitan kerap dikritik sebagai simbol konsentrasi kekuasaan yang tak sehat. Tapi kritik itu melewatkan satu pertanyaan kunci: bukan kenapa Luhut punya banyak jabatan, melainkan kenapa Jokowi terus memilihnya? Jawabannya bukan soal nepotisme — melainkan soal desain.

Lari lambat Kuda Fahri Hamzah?

Gibran “Ban Serep” yang Ngarep?

Mentalitet Korea Ala Bahlil

spot_imgspot_img

Danger, Cak Imin?!

Belakangan sejumlah kader PKB mendapat sorotan negatif di kalangan warganet. Mungkinkah ini berpengaruh pada citra partai?

Kebangkitan Axis Women

Lebih dari delapan dekade setelah kekalahan mereka dalam Perang Dunia II, tiga negara yang dahulu membentuk blok Axis—Jepang, Italia, dan Jerman—kini kembali menarik perhatian dunia.

Meritokrasi Garis Tangan Sekolah Kedinasan?

Sekolah kedinasan kerap dipandang sebagai pusat meritokrasi, namun mobilitas alumninya ke jabatan lintas-instansi memicu perdebatan tentang konflik kepentingan, profesionalisme, “garis tangan”, hingga faktor politis.

Logika Mistika Hambat Kemajuan?

Ketika berbicara tentang kemerdekaan Indonesia, sebagian besar dari kita langsung terbayang perjuangan fisik melawan penjajah. Namun, bagi Tan Malaka, salah satu tokoh revolusioner paling brilian Indonesia, kemerdekaan memiliki dimensi yang jauh lebih dalam.

Modus Status Oknum Gus?

Gelar “Gus” kian diperebutkan dan dipertontonkan, bergeser dari warisan pesantren menjadi modal simbolik yang dikomodifikasi. Kontroversi oknum memicu sentimen terhadap NU, sementara perebutan status, ekonomi, dan politik mengancam makna autentiknya di tengah arus digital dan pasar spiritual modern.
spot_img

Latest

The One-Man Band

Lari lambat Kuda Fahri Hamzah?

Gibran “Ban Serep” yang Ngarep?

Mentalitet Korea Ala Bahlil

Transformasi Dudung, Jenderal Kanvas?

More Stories

The One-Man Band

Lari lambat Kuda Fahri Hamzah?

Gibran “Ban Serep” yang Ngarep?