Support Us

Available for Everyone, funded by readers

Contribute
E-Book
Home > In-Depth > Manuver Sandiaga Uno di Pilkada 2020

Manuver Sandiaga Uno di Pilkada 2020


A43 - Thursday, October 22, 2020 12:30
Wakil Ketua Dewan Pembina Partai Gerindra Sandiaga Uno ketika ikut serta menyalurkan bantuan guna mengatasi dampak pandemi Covid-19. (Foto: Okezone)

0 min read

Mantan Calon Wakil Presiden 2019-2024 Sandiaga Uno tampak aktif memberikan dukungan dan menjadi juru kampanye Pemilihan Kepala Daerah (Pilkada) 2020 di sejumlah daerah. Mengapa Sandiaga melakukan manuver serupa?


PinterPolitik.com

“I'm the man. Don't you forget it. The way you walk, that's me. The way you talk, that's me” – Drake, penyanyi rap asal Kanada

Bagi mereka yang suka mengikuti cerita yang ada dalam seri-seri yang disiarkan di layanan streaming, seri yang berjudul Stranger Things (2016-sekarang) tentu bukanlah judul yang asing lagi. Bagaimana tidak? Seri yang dibuat oleh Netflix ini merupakan salah satu judul favorit para penggemar.

Seri satu ini – meski bertemakan horor dan monster – bisa dibilang mengisahkan petualangan sekelompok anak-anak yang berusaha menyelamatkan temannya yang bernama Will Byers yang hilang secara misterius. Alhasil, Lucas Sinclair, Dustin Henderson, dan Mike Wheeler pergi menyingkap misteri ini – dengan bantuan Eleven (El) yang memiliki kekuatan layaknya manusia super.

Namun, uniknya, terdapat tokoh pendukung yang justru menjadi favorit para penonton meskipun tidak memainkan peran utama dan hanya muncul di sejumlah episode, yakni Steve Harrington – mantan pacar dari Nancy Wheeler (kakak dari Mike).

Harrington ini pada mulanya hanya membantu Dustin dalam beberapa hal – seperti dengan mengajari bagaimana caranya mendapatkan pacar. Meski begitu, tingkah laku Steve justru berhasil menarik perhatian penonton sehingga pihak produksi menjadikannya sebagai pemeran utama di musim-musim berikutnya.

Mungkin, peran pendukung yang digemari publik ini kini juga tengah dilakukan oleh seorang politikus yang sebelumnya populer ketika memegang jabatan Wakil Gubernur DKI Jakarta pada tahun 2017 silam. Beliau adalah Sandiaga Uno.

Bagaimana tidak? Sandiaga – meskipun tidak menduduki kursi di pemerintahan dan lembaga mana pun – kini secara aktif kembali menonjolkan diri di kancah perpolitikan. Setelah sebelumnya gagal dalam berkompetisi di Pemilihan Presiden (Pilpres) 2019 sebagai calon wakil presiden (cawapres), Sandi justru sekarang muncul sebagai juru kampanye (jurkam) bagi calon-calon kepala daerah (cakada) di Pemilihan Kepala Daerah (Pilkada) 2020.

Di Pilkada Tangerang Selatan (Tangsel), misalnya, Sandiaga menjadi jurkam bagi pasangan calon (paslon) Muhammad dan Rahayu Saraswati yang sekaligus keponakan dari Ketua Umum (Ketum) Partai Gerindra Prabowo Subianto.

Di sisi lain, Sandiaga juga dikabarkan menjadi jurkam bagi sejumlah kerabat Presiden Joko Widodo (Jokowi) – seperti Bobby Nasution-Aulia Rahman di Medan, Sumatera Utara, dan Gibran Rakabuming Raka-Teguh Prakosa di Solo, Jawa Tengah.

Tidak hanya mereka yang memiliki kekerabatan dengan Prabowo dan Jokowi, Sandiaga baru-baru ini juga menyatakan dukungan kepada beberapa paslon di daerah lain. Di Pilkada Surabaya, misalnya, mantan cawapres tersebut menyatakan dukungan pada paslon Machfud Arifin-Mujiaman.

Bukan tidak mungkin, munculnya nama Sandiaga sebagai sosok pendukung di dalam berbagai Pilkada ini menimbulkan pertanyaan. Mengapa Wakil Ketua Dewan Pembina Gerindra tersebut menonjolkan dukungannya bagi sejumlah cakada? Lantas, manuver apa yang ingin diterapkan oleh Sandiaga?

Costly Signaling?

Upaya Sandiaga ini bisa saja membantu karier politiknya ke depan dengan memperkenalkan dirinya di tingkat daerah. Pasalnya, mantan cawapres 2019 tersebut sebelumnya pernah mengakui bahwa dirinya masih kurang dikenal warga di daerah.

Selain itu, apa yang dilakukan Sandiaga ini bisa saja merupakan cara untuk menyampaikan pesan atau sinyal (signaling) tertentu. Bukan tidak mungkin, pemberian dukungan politik di Pilkada 2020 ini merupakan manuver untuk menunjukkan kapabilitasnya sebagai seorang politikus.

Pemberian dukungan politik bagi para cakada ini biasa dikenal dengan konsep political endorsement. Upaya ini banyak dilakukan oleh berbagai jenis individu dan kelompok – mulai dari selebriti, partai politik, mantan pejabat, kantor berita, kelompok kepentingan, hingga para politisi sendiri.

Cheryl Boudreau dari University of California, Davis, dalam tulisannya yang berjudul The Persuasion Effects of Political Endorsements menjelaskan bahwa dukungan politik (political endorsement) seperti ini kerap memiliki pengaruh dalam sebuah pemilihan umum (Pemilu). Salah satu manfaatnya adalah dapat memberikan petunjuk (cue) bagi para pemilih.

Dukungan politik – seperti rekomendasi – ini dapat menjadi upaya persuasif untuk menarik pemilih. Pasalnya, pemilih dapat saja langsung bergantung pada pilihan yang diajukan rekomendasi tersebut tanpa harus meluangkan waktu dan tenaga untuk mencari sendiri calon yang dianggap sesuai.

Dalam Pilpres Amerika Serikat (AS) 2016 lalu, misalnya, sejumlah politisi menyatakan dukungan politik kepada Donald Trump. Salah satunya adalah Chris Christie yang menjabat sebagai Gubernur New Jersey pada tahun 2010-2018.

Kala itu, Trump dianggap sebagai sosok kandidat yang penuh kontroversi – bahkan bagi Partai Republik sendiri. Sontak, dukungan Christie untuk Trump itu menimbulkan pertanyaan. Mengapa Christie bersedia mendukung capres bermasalah dan mempertaruhkan reputasinya di panggung politik AS?

Andrew McGill dalam tulisannya yang berjudul The Anti-Trump Endorsement Game menjelaskan bahwa terdapat alasan tertentu mengapa Christie akhirnya memberikan endorsement tersebut. Salah satunya adalah upaya untuk melakukan costly signaling.

Upaya costly signaling ini biasa didefinisikan sebagai sebuah pengorbanan (concession) yang dilakukan seseorang untuk menunjukkan kekuatan dan kapabilitasnya. Dengan pengorbanan tersebut, publik dapat mengetahui bahwa pemberi costly signaling sebagai sosok yang pantas dalam situasi tertentu.

Banyak kajian menganalogikan costly signaling theory dengan kesediaan para pemburu atau pengumpul makanan (hunter-gatherer) yang membagikan makanan pada komunitasnya. Teori ini justru tidak melihat kesediaan mereka sebagai tindakan altruistis, melainkan sebagai kesempatan untuk menunjukkan kemampuan mereka.

Berkaca dari teori ini, bukan tidak mungkin Sandiaga juga ingin melakukan costly signaling meskipun dukungannya pada para cakada belum tentu berakhir resiprokal. Dengan begitu, publik – baik di daerah maupun nasional – mengetahui bagaimana Sandiaga masih memiliki pengaruh yang luas.

Bila benar begitu, lantas, mengapa Sandiaga melakukan costly signaling tersebut? Apakah ini berkaitan dengan dinamika politik di masa mendatang?

Menjaga Momentum?

Apa yang dilakukan oleh Sandiaga dengan memberi dukungan ke sejumlah cakada ini bisa saja memiliki dampak lanjutan dalam dinamika politik di masa mendatang. Pasalnya, mantan cawapres 2019 itu tidak dipungkiri masih memiliki kesempatan dalam bertarung di panggung politik pada tahun 2024 nanti.

Bukan tidak mungkin, dengan melakukan costly signaling melalui Pilkada 2020, Sandiaga dapat menjaga modal politiknya. Asumsi ini bisa saja benar dengan adanya persaingan yang cukup ketat dengan calon-calon presiden (capres) potensial lainnya.

Sahabat Sandiaga sendiri yang sekarang menjabat sebagai Menteri Badan Usaha Milik Negara (BUMN), misalnya, juga disebut-sebut dapat menjadi capres potensial untuk tahun 2024. Selain Erick Thohir, capres potensial lainnya juga merujuk pada Ketum Partai Gerindra Prabowo Subianto yang kini menjabat sebagai Menteri Pertahanan.

Belum lagi, beberapa pihak menilai bahwa Presiden Jokowi tengah menyiapkan sejumlah nama yang dapat didukung pada Pilpres 2024. Selain Erick, asumsi tersebut juga merujuk pada Menteri Koordinator Bidang Perekonomian Airlangga Hartarto yang sekaligus merupakan Ketum Partai Golkar – sebuah partai politik yang kini disebut sangat dekat dengan Jokowi.

Kehadiran sosok-sosok tersebut bukan tidak mungkin menjadi alasan masuk akal bagi Sandiaga untuk terus menjaga momentum politiknya setelah sebelumnya gagal memenangkan Pilpres 2019. Apalagi, dengan posisinya yang kini berada di luar pemerintahan, Wakil Ketua Dewan Pembina Partai Gerindra tersebut tidak mendapatkan eksposur kepada publik sebanyak nama-nama tersebut.

Costly signaling yang dilakukan oleh Sandiaga ini bisa saja berguna untuk menjaga atau meningkatkan modal politik (political capital) dirinya. Kimberly L. Casey dalam tulisannya yang berjudul Defining Political Capital menjelaskan bahwa modal politik merupakan salah satu elemen yang memengaruhi karier politik seseorang.

Salah satu jenis modal yang dapat ditransformasikan menjadi modal politik adalah modal sosial – di mana asosiasi dan relasi sosial memengaruhi modal politik seseorang. Salah satu cara untuk mengukur modal jenis ini adalah dengan melihat seberapa jauh politikus tersebut dikenal (name recognition).

Dengan melakukan costly signaling di Pilkada 2020, bukan tidak mungkin Sandiaga akan mendapatkan modal sosial melalui name recognition. Dengan begitu, publik dapat mengetahui dan mengenal bagaimana Sandiaga merupakan politikus yang memiliki pengaruh pada tingkat tertentu untuk maju sebagai capres pada tahun 2020.

Meski begitu, gambaran kemungkinan yang telah dijelaskan di atas belum tentu menjadi alasan sepenuhnya bagi Sandiaga untuk aktif mendukung cakada di Pilkada 2020. Yang jelas, upaya ini bisa saja membantunya untuk menjaga modal dan momentum politik – entah kapan momentum itu akan bermanfaat. (A43)

► Ingin lihat video menarik lainnya? Klik di bit.ly/PinterPolitik

Ingin tulisanmu dimuat di rubrik Ruang Publik kami? Klik di bit.ly/ruang-publik untuk informasi lebih lanjut.

Berita Terkait