HomeHeadlineMahfud MD dan Bahaya Politik Tanpa Rekayasa

Mahfud MD dan Bahaya Politik Tanpa Rekayasa

Kecil Besar

Mahfud MD dikritik keras mantan Menteri Kelautan dan Perikanan, Susi Pudjiastuti. Ini karena pernyataan Mahfud yang mengaitkan kasus-kasus korupsi yang dilakukan oleh para suami adalah akibat tuntutan pemenuhan keinginan dari para istrinya alias para perempuan. Menurut Susi, korupsi tak boleh dikaitkan dengan gender karena merupakan kejahatan seorang indidvidu, terlepas dari apa gendernya. Ini merupakan babak berikut dari aksi ceplas-ceplos Mahfud MD yang nyatanya kali ini bisa berefek negatif karena ia bisa dianggap mengafirmasi persoalan politik misogini yang kerap terjadi di Indonesia.


PinterPolitik.com

Susi Pudjiastuti, mantan Menteri Kelautan dan Perikanan Indonesia, dikenal karena sikap kritisnya terhadap berbagai isu, termasuk isu gender. Terbaru, ia mengkritik pernyataan Mahfud MD, cawapres nomor urut 3, terkait kasus korupsi. 

Mahfud sebelumnya menyebut perempuan memiliki peran penting untuk membangun negara. “Perempuan adalah tiangnya negara”, demikian kata Mahfud. Sayangnya, setelah itu Mahfud menyebut banyak suami terjerumus kejahatan dan korupsi karena istrinya tidak baik. Tuntutan para istrilah yang disebut membuat para suami korupsi. Gaji suami Rp20 juta, tapi uang belanja yang dituntut dari suami Rp50 juta. Akibatnya, suaminya harus korupsi.

Susi Pudjiastuti kemudian menanggapi pernyataan tersebut dengan tegas lewat akun Twitter/X pribadinya. Dia tidak setuju dan menegaskan bahwa urusan korupsi tidak boleh dikaitkan dengan gender seseorang.

Menurut Susi, korupsi adalah tindakan kriminal yang dilakukan oleh individu, bukan gender. Mengaitkan korupsi dengan gender adalah bentuk diskriminasi dan merendahkan martabat perempuan. Susi berpendapat bahwa perempuan memiliki hak yang sama dengan laki-laki dalam semua aspek kehidupan, termasuk dalam hal hukum. Oleh karena itu, menyalahkan perempuan atas tindakan korupsi yang dilakukan oleh pasangannya adalah tidak adil dan tidak berdasar.

Susi Pudjiastuti terus berjuang untuk hak-hak perempuan dan menentang segala bentuk diskriminasi gender. Kritiknya terhadap Mahfud MD menunjukkan komitmennya untuk menciptakan masyarakat yang adil dan setara, di mana perempuan dan laki-laki diperlakukan sama dalam hukum dan masyarakat.

Kritik Susi ini penting untuk membuka diskusi lebih lanjut tentang isu gender dan korupsi di Indonesia. Selain itu, ini juga mengafirmasi bahwa politik yang misoginis atau mendiskriminasi dan menempatkan “kebencian” serta kesalahan pada para perempuan masih sangat kuat di republik ini.

Sayangnya, ini dinyatakan oleh Mahfud MD yang nota bene kini tengah bersaing memperebutkan kursi tertinggi di republik ini bersama dengan Ganjar Pranowo. Bisa dibilang kata-kata Mahfud ini adalah bagian lain dari aksi ceplas-ceplosnya yang kerap secara gamblang membicarakan segala sesuatu persoalan, utamanya di bidang hukum.

Baca juga :  Sarat Makna Kavaleri Kuda Istana

Sisi positifnya, apa yang ia sampaikan akan dianggap sebagai pendekatan politik yang menarik karena ia menunjukkan kejujuran. Namun, terkadang sikap yang demikian membuat apa yang disampaikan bisa saja tidak terkontrol yang efeknya bisa merugikan secara politik dalam konteks kontestasi elektoral. Dalam kasus kritik Susi, bisa saja Mahfud akan dilihat secara negatif oleh para perempuan akibat pernyataannya itu, yang kemudian berdampak negatif pada dukungan elektoral. Pertanyaannya adalah seberapa besar dampak ini?

najwa shihab bisa nyapres 2029.jpg

Politisi Butuh Front Stage dan Back Stage

Dalam konteks interaksi di hadapan publik seperti yang dilakukan Mahfud, sosiolog Erving Goffman pernah memperkenalkan istilah front stage dan back stage. Dalam konteks politik, front stage mengacu pada interaksi politisi dengan publik, sedangkan back stage mengacu pada interaksi dan strategi politik yang lebih tersembunyi.

Front stage adalah tempat di mana politisi tampil di depan umum, menghadap masyarakat, media, dan pemilih. Ini adalah panggung di mana politisi berperan sebagai pemimpin yang percaya diri, mempresentasikan diri mereka dengan citra yang diharapkan, dan berkomunikasi dengan tujuan untuk memenangkan dukungan dan mendapatkan kepercayaan.

Politisi menggunakan front stage untuk membentuk citra publik yang positif, mempengaruhi opini masyarakat, dan memperoleh dukungan politik. Mereka dapat menggunakan retorika, penampilan fisik, dan tindakan simbolis untuk menciptakan kesan yang diinginkan.

Sementara back stage adalah area yang lebih tersembunyi di mana politisi melakukan persiapan, berkolaborasi dengan staf, merencanakan strategi politik, dan membahas isu-isu yang mungkin tidak selalu diungkapkan di depan umum.

Politisi menggunakan back stage untuk merancang strategi politik, mempersiapkan respons terhadap situasi tertentu, dan mengelola isu-isu internal. Ini adalah tempat di mana politisi dapat menunjukkan sisi yang lebih otentik, membahas kelemahan atau dilema, tanpa mengungkapkannya di depan umum.

Nah, Mahfud membuat batasan yang cenderung kabur antara front stage dan back stage. Ia kerap tampil jujur dan apa adanya di front stage dan membiarkan publik tahu apa yang terjadi di back stage juga. Sebagai seorang negarawan dan akademisi, hal ini tentu sangat terpuji dan positif. Namun, untuk seorang politisi hal ini bisa saja berdampak negatif.

Pasalnya, konsep front stage dan back stage membantu politisi dalam manajemen citra. Mereka perlu mengelola kesan yang mereka ciptakan di depan umum, sambil memastikan keberlanjutan dan keberhasilan strategi politik mereka di belakang layar.

Dalam konteks Pemilu, aksi ceplas-ceplos Mahfud bisa saja mendatangkan akibat ketika pernyataannya punya efek elektoral. Dalam kasus “suami korupsi karena istri”, hal itu bisa saja terjadi.

Baca juga :  Hotel Sultan dan Mesin Uang Soeharto
sri mulyani paling berpengaruh di dunia

Bisa Berakibat Negatif?

Pertanyaannya kemudian adalah seberapa besar efek negatif pernyataan Mahfud itu?

Well, memang ada beberapa politisi atau tokoh publik yang cenderung lebih otentik dan transparan, kurang bermain peran, dan lebih terbuka tentang proses pengambilan keputusan dan keterlibatan politik mereka. Pendekatan semacam ini bisa dianggap sebagai anti-establishment atau “politik tanpa rekayasa” yang menarik bagi sebagian pemilih.

Namun, secara umum, politisi sering kali menemukan diri mereka berada dalam situasi yang memerlukan kombinasi front stage dan back stage untuk mencapai tujuan politik mereka. Mereka harus menavigasi antara kebutuhan untuk mendapatkan dukungan publik dan kebijaksanaan politik di depan umum serta taktik dan strategi politik yang lebih tersembunyi di belakang layar.

Politik tanpa rekayasa ala Mahfud ini memang bisa memberikan keuntungan karena menciptakan citra autentisitas dan keaslian. Pemilih mungkin merasa lebih terhubung dengan politisi yang terbuka dan transparan.

Kemudian, pendekatan tanpa rekayasa dapat memperkuat prinsip transparansi dalam pemerintahan, yang bisa menjadi faktor penting untuk membangun kepercayaan masyarakat terhadap sistem politik. Politik tanpa rekayasa juga dapat dianggap sebagai cara untuk menghindari manipulasi opini publik melalui teknik pemasaran atau taktik politik yang dianggap tidak etis.

Masalahnya, politisi seperti Pak Mahfud sering memerlukan manajemen citra untuk memastikan pesan dan tindakan mereka disampaikan secara efektif dan positif. Tanpa rekayasa, mereka mungkin kesulitan mengelola persepsi publik.

Apalagi, dalam atmosfer politik yang kompetitif, politisi sering kali perlu bersaing untuk mendapatkan perhatian dan dukungan. Taktik pemasaran politik dan strategi komunikasi dapat menjadi alat penting dalam mencapai hal ini. Dan strategi yang diambil haruslah dipikirkan agar pernyataan-pernyataan yang disampaikan ke publik misalnya, tidak merugikan secara elektoral.

Selain itu, politik melibatkan berbagai kepentingan dan dinamika yang kompleks. Tanpa strategi politik yang baik, politisi mungkin kesulitan mencapai tujuan mereka atau menavigasi perubahan politik.

Penting untuk diingat bahwa setiap situasi politik berbeda, dan pendekatan yang efektif dapat bervariasi. Sementara beberapa pemilih mungkin menghargai politik tanpa rekayasa, yang dianggap lebih jujur dan transparan, yang lain mungkin menginginkan politisi yang memiliki keterampilan dalam manajemen citra dan strategi politik untuk mencapai hasil yang diinginkan. Namun, jangan sampai apa yang disampaikan oleh politisi yang cepals-ceplos bisa berefek negatif untuk keterpilihan mereka sendiri.

Menarik untuk ditunggu kelanjutannya. (S13)

spot_imgspot_img

#Trending Article

Supremasi Putih Rasialisme Argentina

Piala Dunia 2026 mengungkap pola berulang. FIFA menyelidiki dugaan pelecehan rasis terhadap YouTuber IShowSpeed oleh fans Argentina di Miami. Fans Argentina juga melempar bir ke pendukung Mesir dan mengibarkan bendera Israel ke pelatih Hassan yang pro-Palestina. Bahkan sesama negara Amerika Latin, dari Meksiko hingga Brasil, kerap mencap Argentina “sok Eropa” dan terkesan membenci tetangganya sendiri.

“Berkah” Adu Mekanik Penegak Hukum?

Dua institusi hukum saling bongkar kelemahan di depan publik — ternyata, sejak zaman Romawi, kegaduhan semacam ini justru menjadi tanda sistem sedang bekerja.

Pramono Main “Presiden-presidenan”?

Sejumlah kebijakan Gubernur Pramono Anung tampak pantulkan program pemerintah pusat. Kebetulan teknokratis atau ada logika yang sengaja dipasang? 

Sarat Makna Kavaleri Kuda Istana

Bukan sekadar pengawal tamu negara. Di balik 120 kavaleri kuda yang mengiringi Narendra Modi menuju Istana Negara Jakarta, tersimpan pesan tentang diplomasi, kekuasaan, dan martabat negara. Mengapa kuda masih relevan di era digital? Karena dalam politik modern, simbol sering kali berbicara lebih keras daripada kebijakan.

Cermin Retak di Zaman Pelangi?

Perpres 111/2025 memasukkan penyebaran budaya LGBTQ+ sebagai ancaman nonmiliter. Namun, mengapa nasibnya bisa beda dari komunis dan Tionghoa dulu?

Tito dan Sengkarut OTT

Sembilan kepala daerah terjaring KPK dalam enam bulan. Semua mata mengarah ke Tito sebagai Mendagri, terutama mata para anggota DPR. Lalu apa yang bisa dan tidak bisa dilakukan oleh orang yang paling dekat dengan masalah ini?

Tapir Mesuji Hidup di Hati Rakyat

Satu ekor tapir yang tewas di Mesuji membongkar jarak lama antara kepedulian kota dan kenyataan hidup di pinggir hutan — dan pola yang sama ternyata terjadi di banyak negara lain.

Singapura dan ‘Benalu’ Complex

Prabowo jamu PM Lawrence Wong dalam Leaders' Retreat pada 6 Juli 2026. Namun, benarkah Singapura selama ini hidup dari getah tetangganya?

More Stories

Supremasi Putih Rasialisme Argentina

Piala Dunia 2026 mengungkap pola berulang. FIFA menyelidiki dugaan pelecehan rasis terhadap YouTuber IShowSpeed oleh fans Argentina di Miami. Fans Argentina juga melempar bir ke pendukung Mesir dan mengibarkan bendera Israel ke pelatih Hassan yang pro-Palestina. Bahkan sesama negara Amerika Latin, dari Meksiko hingga Brasil, kerap mencap Argentina “sok Eropa” dan terkesan membenci tetangganya sendiri.

Kicepisme Pragmatis Politik

Jokowi dan JK bertemu di HUT Bhayangkara ke-80, dan suasananya adem-adem saja. Padahal beberapa bulan lalu JK sempat berteriak lantang: "Kasih tahu semua itu termul-termul, Jokowi jadi presiden karena saya", gara-gara isu ijazah yang menyeret namanya sebagai pihak yang terus mempersoalkan. Tapi begitu ketemu langsung, ijazah pun tak dibahas. Inilah wajah politik di level elite Indonesia yang sesungguhnya.

Anies dan Dark Side of The Moon

Beberapa hari lalu, Presiden Prabowo berbicara di depan ribuan akademisi dan menyebut: meski 5 kali ikut Pilpres dan baru 1 kali menang, ia tak pernah merongrong pemerintah yang sah. Pernyataan ini sekaligus pesan tersirat ke oposisi hari ini, termasuk Anies Baswedan, tentang batas etika berpolitik pasca kekalahan. Dalam beberapa kesempatan, Anies memang sempat mengkritisi kondisi negara, soal penghematan anggaran di satu sisi tapi juga pemborosan di lain sektor, serta kritik-kritik lainnya.