Support Us

Available for Everyone, funded by readers

Contribute
E-Book
Home > In-Depth > Kok Mau Anies Di-roasting Kiky?

Kok Mau Anies Di-roasting Kiky?


A43 - Monday, November 15, 2021 18:00
Gubernur DKI Jakarta Anies Baswedan berfoto bersama komika kondang Kiky Saputri. (Foto: Twitter/@aniesbaswedan)

0 min read

Gubernur DKI Jakarta Anies Baswedan baru saja menjadi ‘korban” roasting komedi oleh seorang komika yang bernama Kiky Saputri. Namun, sejumlah warganet malah memberi julukan “cebong” pada Kiky. Bila malah menjadi “korban”, mengapa lantas Anies mau menjadi sasaran roasting?


PinterPolitik.com

Terkadang, buat para lajang, mencari pasangan yang pas bukanlah perkara mudah. Banyak orang memiliki pengalaman seperti ini, termasuk saya. Tentunya, bagi mereka yang akhirnya berusaha mencari pasangan, tersedia juga segudang tip-tip yang tersebar di internet.

Boleh jadi, ada tip yang menyebutkan agar kita memulai mencari terlebih dahulu saja – entah dengan menggunakan aplikasi pencarian jodoh (dating apps) ataupun dengan mencari kenalan dari teman-teman kita sendiri. Namun, untuk memulai pembicaraan dengan kenalan-kenalan baru ini juga bukan perkara mudah tatkala perlu mencari kesamaan yang dijadikan acuan dalam percakapan.

Banyak orang yang bilang proses ini menjadi lebih mudah bila kita adalah orang yang humoris. Dengan lancarnya, kita dapat saling melontarkan lelucon yang membuat doi lebih kenal dan paham (relate) dengan kehidupan kita. 

“Cewek itu suka cowok yang humoris,” kata banyak orang di sekitar kita. Ungkapan itu bisa jadi menandakan bagaimana manusia telah lama menggunakan humor sebagai salah satu unsur interaksi antara satu sama lain.

Tanpa kita sadari, humor ternyata juga berlaku tidak hanya di dunia perkencanan dan asmara. Di berbagai jenis hubungan interpersonal lainnya, humor menjadi salah satu elemen yang penting.

Tidak hanya ketika berusaha berkenalan dengan doi, humor juga kerap digunakan di berbagai latar percakapan lain. Saat mengikuti acara lamaran, misalnya, humor kerap digunakan untuk mencairkan suasana, entah itu dilontarkan dalam bentuk pantun berbalas atau dalam percakapan di sela-sela sesi ramah tamah.

Baca Juga: PKS Mulai “Gertak” Anies?

Anies Kena Roasting Kiky Saputri

Dunia politik pun tidak luput dari susupan humor dan lelucon. Gelak tawa juga banyak mengisi narasi dan diskursus politis. Tidak usah jauh-jauh, dalam rutinitas penjelajahan linimasa di media sosial (medsos), tidak jarang kita menemukan meme-meme politik yang bersifat menyindir.

Beberapa hari yang lalu, misalnya, saya menemukan sebuah video menarik dari salah satu acara komedi di sebuah saluran televisi nasional. Dalam video tersebut, Gubernur DKI Jakarta Anies Baswedan tampak tertawa ketika mendapatkan lelucon berupa sindiran dari komika kondang Kiky Saputri. “Oh, ternyata Pak Anies tengah di-roasting,” ucap saya dalam hati.

Namun, roasting politik seperti ini tentunya tidak hanya menimbulkan satu ragam respons. Banyak respons lain menunjukkan bahwa ada sejumlah individu yang merasa tersinggung dengan lelucon-lelucon tersebut – misal dengan munculnya julukan “cebong” yang disematkan pada Kiky.

Dari sini, mungkin, video ini telah menunjukkan bagaimana humor mampu mempengaruhi diskursus politik di masyarakat. Mengapa humor bisa memiliki pengaruh demikian di dunia politik? Lantas, apa dampak dari roasting ini kepada Anies selaku “korban”?

Humor dan Politik

Humor sebenarnya sudah lama menjadi bagian dari komunikasi dan hubungan interpersonal manusia. Bahkan, ini juga berlaku dalam dunia politik yang memang menjadi bagian dari sejarah umat manusia itu sendiri. 

Setidaknya, begitulah pendapat dari Thomas E. Cronin – seorang pengajar dari Colorado College, Amerika Serikat (AS) – dalam tulisannya yang berjudul Laughing at Leaders. Cronin bahkan menyebutkan humor telah menjadi andalan umat manusia dalam dunia politik selama berabad-abad – seperti Aristofanes yang membuat berbagai lelucon atas pemimpin-pemimpin politik Athena kuno.

Meski humor telah lama mengambil bagian dalam narasi dan diskursus politik, ada perlunya juga mengapa secara alamiah kita suka menertawakan mereka yang terlibat dalam dunia politik – seperti pejabat dan penguasa. Lantas, mengapa tertawa menjadi obatnya?

Cronin pun berusaha menjelaskan ini dengan mengutip buku Sigmund Freud – seorang ahli neurologi asal Austria – yang berjudul The Joke and its Relation to the Unconscious. Bagi Freud, humor dapat menjadi cara terapeutik untuk mengatasi kondisi di mana kita tidak memiliki kekuatan (lack of power) atas keadaan sekitar.

Baca Juga: BTS Jadi Bintang Kampanye Anies?

Apa yang dikutip oleh Cronin dari Freud bisa jadi benar. Pasalnya, dalam sejarah komedi Indonesia sendiri, humor kerap menjadi cara untuk menertawakan mereka yang berkuasa.

Mari kita ambil Warkop DKI sebagai salah satu contohnya. Kelompok komedi yang berangkat dari media siar radio ini tidak jarang menyinggung pemerintahan Orde Baru di bawah Presiden Soeharto – bahkan termasuk elemen-elemen Angkatan Bersenjata Republik Indonesia (ABRI) yang kala itu menguasai banyak posisi politik di bawah doktrin dwifungsi ABRI.

Mungkin, kehadiran kelompok-kelompok lawak seperti Warkop DKI menggambarkan bagaimana humor kerap digunakan untuk mengkritik mereka yang berkuasa. Sejalan dengan ini, Cronin pun membeberkan sejumlah alasan mengapa kita menggunakan humor seperti satire politik, yakni (1) untuk mempertanyakan penggunaan dan penyalahgunaan kekuasaan; (2) mengolok kemunafikan (hypocrisy); (3) mengolok politisi dan ideologi yang tidak disukai; (4) mengecam kekurangan dan kesalahan pemimpin-pemimpin politik; dan (5) untuk mengekspos ketidakadilan dan korupsi.

Dari sejumlah alasan yang disebutkan oleh Cronin, menjadi masuk akal apabila para komika – atau komedian – melontarkan kritik dengan humor mereka, seperti Bintang Emon kala mengkritik persoalan persidangan mantan penyidik Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) Novel Baswedan. Mungkin, persoalan-persoalan seperti ini dilihat sebagai sebuah bentuk ketidakadilan.

Namun, sebenarnya, humor itu sendiri tidaklah selalu hanya digunakan oleh mereka yang tidak puas dengan pemerintah. Sosok-sosok yang pernah duduk di pemerintahan dan para politisi juga kerap menggunakan humor – misal Presiden keempat Abdurrahman Wahid (Gus Dur).

Lantas, bila humor dan komedi kerap digunakan untuk mengkritik, mengapa para politisi ternyata juga menggunakan humor? Bagaimanakah cara kerja humor sebagai komunikasi politik?

Anies, Pemimpin yang Humoris?

Mungkin, untuk memperjelas dua pertanyaan tersebut, kita bisa pergi sejenak ke Jawa Tengah (Jateng) – sebuah provinsi yang kini dipimpin oleh Gubernur Ganjar Pranowo.  Ganjar – sebagai salah satu pejabat yang digadang-gadang akan maju di Pemilihan Presiden (Pilpres) 2024 – juga sering mengandalkan humor ketika menyapa warga yang dijumpainya.

Bukan hanya Ganjar, humor juga lekat pada sosok Gus Dur. Presiden yang menjabat hanya sembilan bulan tersebut sering melakukan kunjungan luar negeri pada masa pemerintahannya. Lelucon pun menjadi salah satu andalan Gus Dur ketika berkomunikasi dengan pemimpin-pemimpin negara lain.

Baca Juga: Anies, the Next Nex Carlos?

Salahkah Kutip Lelucon Gus Dur

Arndt Graf dari University of Hamburg, Jerman, dalam tulisannya yang berjudul Humour in Indonesian Politics menyebutkan bahwa selera humor Gus Dur yang tinggi ini menjadi salah satu teknik komunikasi andalannya dalam menarik perhatian lawan-lawan bicaranya. Hal ini disebut sebagai captatio benevolentiae (menarik niat baik lawan bicara) – salah satu pilar orasi dan komunikasi yang dianggap penting oleh Cicero.  

Boleh jadi, apa yang dilakukan Ganjar ketika menyapa warganya adalah bentuk captatio benevolentiae. Dengan mengandalkan humor, Gus Dur dan Ganjar berusaha menarik niat baik lawan-lawan bicaranya.

Bukan tidak mungkin, fungsi humor yang seperti ini juga berlaku dalam roasting Kiky terhadap Gubernur DKI Jakarta Anies Baswedan. Pasalnya, mengacu pada teori humor dari Thomas Veach, humor sendiri bisa menjadi medium dari peristiwa mental (mental event) dan pengalaman subjektif (subjective experience).

Teori humor dari Veach ini pun secara lebih lanjut dihubungkan dengan konsep mimesis (imitasi) oleh Duncan Reyburn dalam tulisannya yang berjudul Kindly Scandal. Menariknya, mimesis ini – mengacu pada tulisan Michelle Puetz dalam esainya di glossary University of Chicago, AS – merupakan perilaku adaptif manusia agar membuat dirinya mirip (similar) dengan lingkungan sekitarnya.

Bukan tidak mungkin, dengan menjadi “korban” roasting, Anies juga melakukan mimesis – membuat dirinya lebih sejalan dengan pemahaman dan cara hidup masyarakat. Boleh jadi, ini pun berujung pada peningkatan pengetahuan politik masyarakat terhadap sosok Anies.

Asumsi ini juga menjadi masuk akal bila mengutip disertasi Krysha Gregorowicz yang berjudul DeMOCKracy Now yang menggambarkan bagaimana komedi politik dapat memberi manfaat tertentu pada masyarakat – seperti mempermudah pemahaman atas informasi dan pengetahuan politik yang tersebar di media luas. Meski menjadi sosok yang di-roasting oleh Kiky, Anies bisa saja juga mendapatkan manfaat demikian di masyarakat.

Dengan demikian, kehadiran para politisi – seperti Anies – dalam acara-acara komedi seperti ini bukan tidak mungkin malah membuat sosok politisi itu lebih similar dengan khalayak umum. Apalagi, Anies tampak terbuka dengan satire yang dilontarkan Kiky padanya – sebuah fenomena janggal di mana kritik kini kerap dipersoalkan dan diseret ke jalur hukum.

Lagipula, seperti ungkapan di awal tulisan, sosok yang humoris jauh lebih disukai dan diidamkan oleh banyak orang. Apa mungkin Anies juga bisa menjadi sosok humoris yang dekat dengan masyarakat ke depannya? Menarik untuk diamati jokes apalagi yang bakal dilontarkan ke atau oleh sang gubernur. (A43)

Baca Juga: Monas adalah Milik Anies?


► Ingin lihat video menarik lainnya? Klik di bit.ly/PinterPolitik

Ingin tulisanmu dimuat di rubrik Ruang Publik kami? Klik di bit.ly/ruang-publik untuk informasi lebih lanjut.

Berita Terkait