Dengarkan artikel ini:
Seorang mahasiswi kedokteran memukau publik di panggung debat nasional. Mengapa cara bicaranya yang tenang justru terasa begitu radikal?
โDรฉmรชler le principe et la cause d’une maladie ร travers la confusion et l’obscuritรฉ des symptรดmes; connaรฎtre sa nature, ses formes, ses complications; distinguer au premier coup d’ลil tous ses caractรจres et toutes ses diffรฉrencesโ โ Michel Foucault, Naissance de la Clinique (1963)
Cupin sedang menyeruput kopinya yang sudah dingin ketika sebuah potongan video diskusi televisi muncul di lini masanya. Di layar itu, seorang mahasiswi bernama Fathimah Azzahra duduk tenang menghadapi seorang juru bicara partai.
Yang membuat Cupin meletakkan cangkirnya bukan suara yang meninggi, melainkan justru ketenangan yang aneh. Mahasiswi Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia itu menjawab argumen lawan bicaranya dengan terstruktur, seolah sedang membacakan hasil pemeriksaan pasien.
Pujian di media sosial pun mengalir, dan Cupin memperhatikan satu pola yang menarik. Orang-orang tidak memuji keberaniannya, melainkan caranya, dengan sebutan seperti “tenang tetapi berbobot” dan “berisi”.
Topik yang dibahas Fathimah adalah program Makan Bergizi Gratis, salah satu program unggulan pemerintahan Presiden Prabowo Subianto. Ketika lawan bicaranya memuji manfaat ekonomi program itu bagi petani dan pelaku UMKM, Fathimah tidak membantah niat baiknya.
Ia justru melakukan sesuatu yang lebih mendasar, yakni mendiagnosis ulang persoalannya. Lapar, menurut Fathimah, adalah gejala, sedangkan akses pendidikan dan infrastruktur dasar adalah akar persoalan yang sesungguhnya.
Cupin tertegun karena cara bicara itu terasa berbeda dari hiruk-pikuk perdebatan publik yang biasa ia saksikan. Fathimah bukan mahasiswa ilmu politik, melainkan mahasiswi kedokteran yang membawa cara berpikir klinisnya ke meja debat kebijakan.
Cupin pun menelusuri rekam jejak mahasiswi itu dan menemukan profil yang konsisten. Fathimah tercatat sebagai juara riset di bidang hepatologi dan pernah memimpin komunitas neurosains di fakultasnya.
Bagi Cupin, prestasi itu menjelaskan dari mana register bicara yang tenang dan terstruktur tadi berasal. Seseorang yang terbiasa membaca data dan menyusun diagnosis tampaknya membawa kebiasaan itu ke mana pun ia berbicara.
Di forum lain, Cupin menemukan pernyataan Fathimah yang bahkan lebih tajam secara gagasan. Mahasiswi itu menyebut adanya fenomena “kekosongan legislatif”, meski menurutnya gedung parlemen di Senayan itu penuh.
Bagi Cupin, pernyataan itu terdengar seperti sebuah paradoks yang menggelitik, dan dua pertanyaan langsung berkecamuk di benaknya.
Bagaimana mungkin sebuah ruang yang penuh justru bisa disebut kosong? Lalu, apa hubungan paradoks itu dengan cara seorang dokter memandang dunia?
Tatapan Klinis dan Warisan Sebuah Cara Pandang
Cupin lalu menelusuri jejak pemikiran yang bisa menjelaskan apa yang ia saksikan. Ia menemukan bahwa filsuf Prancis, Michel Foucault, dalam bukunya The Birth of the Clinic, pernah memperkenalkan konsep tatapan klinis atau le regard mรฉdical.
Menurut Foucault, kedokteran modern lahir bukan sekadar dari alat baru, melainkan dari cara melihat yang baru. Cara melihat itu memisahkan gejala yang tampak di permukaan dari penyakit yang bekerja di kedalaman struktur tubuh.
Cupin merasa lensa itulah yang dibawa Fathimah ke ruang publik. Mahasiswi itu menolak berhenti pada gejala dan menuntut pelacakan hingga ke akar persoalan, persis seperti yang dilatihkan kepada seorang dokter.
Soal “kekosongan legislatif” pun menemukan penjelasannya pada gagasan ilmuwan politik, Hanna Pitkin. Dalam bukunya The Concept of Representation, Pitkin membedakan representasi deskriptif dari representasi substantif.
Representasi deskriptif berbicara tentang siapa yang menduduki kursi, sedangkan representasi substantif berbicara tentang apa yang benar-benar diperjuangkan. Bagi Cupin, “kekosongan” yang dimaksud Fathimah jelas bukan kursi yang kosong, melainkan fungsi memeriksa yang melemah.
Konteks parlemen membantu menjelaskan hal ini, mengingat koalisi pendukung pemerintah pascapemilu 2024 menguasai sekitar 81 persen kursi DPR. Ilmuwan politik William Riker, dalam bukunya The Theory of Political Coalitions, menyebut koalisi besar semacam ini sebagai oversized coalition.
Cupin memahami bahwa koalisi besar adalah pilihan yang sah dan rasional. Presiden Prabowo Subianto sendiri membingkainya sebagai semangat persatuan dan politik gotong royong yang memberi landasan kokoh bagi agenda pembangunan.
Lalu Cupin teringat ekonom Albert Hirschman, yang dalam bukunya Exit, Voice, and Loyalty menjelaskan dinamika ketika suara dari dalam melemah. Energi untuk bersuara itu tidak hilang, melainkan berpindah ke luar, ke ruang publik, ke kampus, dan ke meja diskusi televisi.
Fenomena ini ternyata punya akar internasional yang dalam, seperti yang Cupin temukan pada sosok Rudolf Virchow. Dokter Jerman abad ke-19 yang dijuluki bapak patologi modern itu menyatakan bahwa politik tidak lain adalah kedokteran dalam skala besar.
Cupin juga menemukan jejak yang serupa pada Salvador Allende, dokter yang kemudian menjadi Presiden Chili. Sebelum memimpin negaranya, Allende bahkan menulis sebuah karya yang pada dasarnya merupakan diagnosis atas realitas sosial dan medis bangsanya.
Garis pemikiran kedokteran sosial itu, dari Virchow hingga Allende, membuat Cupin merenung tentang negerinya sendiri. Dua pertanyaan baru pun muncul di kepalanya.
Apakah Indonesia juga memiliki garis silsilah yang serupa? Lalu, mengapa justru para dokter yang kerap tampil sebagai pendiagnosis bangsa?
Republik dan Warisan Ruang Anatomi
Cupin akhirnya menemukan ironi sejarah yang nyaris terlalu rapi untuk dilewatkan. Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia, almamater Fathimah, adalah penerus langsung dari STOVIA, sekolah dokter bumiputra pada masa Hindia Belanda.
Di gedung STOVIA itulah, pada 20 Mei 1908, sekelompok mahasiswa kedokteran mendirikan Boedi Oetomo. Organisasi modern pertama itu kemudian dikenang sebagai penanda Kebangkitan Nasional.
Penggagasnya adalah dr. Wahidin Soedirohoesodo, yang berkeliling Jawa menyuarakan pentingnya pendidikan rakyat. Bagi Cupin, gagasan itu sesungguhnya adalah sebuah diagnosis atas keterbelakangan yang membelenggu bangsanya.
Ketuanya, dr. Soetomo, kelak juga mendirikan kelompok studi yang berkembang menjadi organisasi politik. Tradisi ini diteruskan pula oleh dr. Tjipto Mangoenkoesoemo, salah satu pendiri Indische Partij yang berani bersuara lugas menentang ketidakadilan kolonial.
Cupin bertanya kepada dirinya sendiri, mengapa harus para dokter yang memulai semuanya. Jawabannya tidak sepenuhnya kebetulan, sebab STOVIA memang salah satu dari sedikit pintu pendidikan tinggi modern yang terbuka bagi kaum bumiputra.
Lebih dari itu, pelatihan kedokteran menanamkan cara berpikir yang khas pada para tokoh tersebut. Mereka tidak melihat kemiskinan dan keterbelakangan sebagai takdir, melainkan sebagai kondisi yang punya sebab sehingga punya kemungkinan untuk disembuhkan.
Cupin lalu teringat pada satu prinsip dasar dalam dunia kedokteran, yaitu triase. Prinsip itu menuntut penanganan diurutkan berdasarkan tingkat kegawatan, bukan berdasarkan urutan kedatangan atau kerasnya keluhan.
Inilah, menurut Cupin, pertanyaan yang sesungguhnya diajukan Fathimah kepada negara. Jika sumber daya terbatas, manakah persoalan yang paling kritis untuk ditangani lebih dahulu agar penyembuhan berlangsung tepat sasaran.
Cupin pun menyadari sebuah benang merah yang membentang lebih dari satu abad. Ketika Fathimah membawa nalar diagnostiknya ke ruang publik hari ini, ia sebenarnya melanjutkan sebuah tradisi pendirian bangsa.
Garis silsilah Indonesia itu, dari STOVIA, Wahidin, Soetomo, hingga Fakultas Kedokteran UI, terasa paralel dengan garis kedokteran sosial dunia. Cupin melihat keduanya bertemu pada satu titik, yaitu keyakinan bahwa sebuah bangsa dapat diperiksa, didiagnosis, dan diperbaiki.
Maka ketika publik hari ini terpukau oleh ketenangan Fathimah, yang sebenarnya mereka kenali adalah gema dari tradisi yang sangat tua. Republik ini, pada akar harfiahnya, memang lahir dari tangan orang-orang yang terlatih untuk mendiagnosis.
Pada akhirnya, Cupin menutup renungannya dengan sebuah kesadaran yang menenangkan. Munculnya suara-suara diagnostik dari ruang publik bukanlah tanda krisis, melainkan tanda bahwa masyarakat masih sehat dan terus memeriksa dirinya sendiri, dan sebuah republik yang percaya diri, seperti tubuh yang bugar, justru tumbuh semakin kuat ketika ia tidak pernah takut untuk diperiksa. (A43)


