HomeNalar PolitikKhofifah Tak Takut Yenny!

Khofifah Tak Takut Yenny!

Kecil Besar

Yenny Wahid dikabarkan bakal maju bertarung dalam pilgub Jatim. Namun ini nggak membuat Khofifah gentar. Tentunya Pilgub Jatim ini bakal menjadi arena pertarungan yang sengit antara ‘dua srikandi’ NU tersebut. Kira-kira siapa yang memiliki peluang paling besar untuk menang?


PinterPolitik.com

[dropcap]P[/dropcap]emilihan Gubernur (Pilgub) Jawa Timur (Jatim) memang penuh dengan kejutan. Terutama mengenai sejumlah manuver yang dilakukan oleh Partai Gerindra. Sebelumnya partai berlambang kepala garuda ini udah ancang-ancang untuk mengusung nama mantan pembalap nasional, Moreno Suprapto.

Namun, mengingat Jatim adalah salah satu daerah penentu keberhasilan Pilpres 2019, maka Gerindra kelihatannya nggak mau pulang dengan tangan hampa dari sana. Apalagi, nama Moreno juga nggak terlalu familiar di sana, maka Gerindra kayaknya mulai mikir-mikir untuk mencari alternatif lain.

Baru-baru ini tersiar kabar bahwa Partai berlambang kepala garuda tersebut bakal mengusung Zanubah Ariffah Chafsoh Rahman Wahid alias Yenny Wahid sebagai Calon Gubernur (Cagub). Sejauh ini memang belum ada kepastian dari putri Gusdur tersebut. Akan tetapi, Gerindra memang udah terang-terangan menunjukkan ketertarikannya terhadap Ibu Yenny.

Soalnya dalam pertemuannya dengan Prabowo beberapa waktu lalu, ia ditawarkan untuk maju bersama Gerindra dalam pertarungan Pilgub Jatim. Kini semua tergantung dari Ibu Yenny aja sih, mau atau nggak?

Seandainya Ibu Yenny jadi maju bersama Gerindra, maka Pilgub Jatim bakal menjadi ajang ‘adu kuat’ antara para kader (NU), terutama antara Ibu Yenny dengan Ibu Khofifah Indar Parawansa. Wah, amat disayangkan, kalau hal ini sampai terjadi. Sebab, mereka berdua memiliki hubungan yang cukup dekat. Tapi, namanya politik semua bisa aja terjadi kan?

Tapi kelihatannya Ibu Khofifah nggak takut kok. Ia nggak keberatan dengan keinginan Gerindra untuk mengusung Ibu Yenny. Ibu Khofifah mengatakan bahwa ia sudah siap lahir dan batin untuk bertarung dengan siapa aja dalam Pilgub Jatim nanti.

Baca juga :  Najwa Shihab dan Kebangkitan Gossip-cracy

Pilgub Jatim bakal makin sengit dan menarik, apalagi jika Ibu Yenny ikut nimbrung. Bila ini terwujud, maka basis suara NU di Jatim akan terpecah-pecah. Kira-kira siapa yang paling berpeluang untuk menang? (K-32)

spot_imgspot_img

#Trending Article

Hipdut, no na, Timurnesia: Trisula Nusantara?

Tiga aliran musik baru dari Indonesia kini merajai tangga lagu. Mungkinkah trisula ini diam-diam sedang melawan dominasi musik dunia? 

Waspada 3 “Kingdoms” of Jokowi?

Tiga provinsi, satu pola — kala gelar adat Jokowi di Lampung ternyata cuma puncak gunung es dari strategi politik yang lebih besar. 

Tulus, SBY, Jokowi: Seni Bertahan

Setelah empat tahun diam, Tulus rilis "Teh Hijau" tanpa gembar-gembor. Mengapa justru keheningan yang membuatnya makin dinanti? 

Kicepisme Pragmatis Politik

Jokowi dan JK bertemu di HUT Bhayangkara ke-80, dan suasananya adem-adem saja. Padahal beberapa bulan lalu JK sempat berteriak lantang: "Kasih tahu semua itu termul-termul, Jokowi jadi presiden karena saya", gara-gara isu ijazah yang menyeret namanya sebagai pihak yang terus mempersoalkan. Tapi begitu ketemu langsung, ijazah pun tak dibahas. Inilah wajah politik di level elite Indonesia yang sesungguhnya.

Aldi-Saldi: Hakim Mazhab “Dissenters”?

Vonis Nadiem Makarim menghadirkan sorotan pada Andi Saputra, hakim yang berbeda pendapat dari mayoritas. Apakah ia sekadar anomali, atau bagian dari tradisi “Mazhab Dissenters” seperti Saldi Isra?

Menanti Lahirnya Hoegeng Muda di Bhayangkara

Sehari sebelum pemakamannya Februari lalu, keluarga Hoegeng memutar rekaman pesan terakhir istrinya, dan Kapolri menyebutnya wasiat bagi seluruh anggota Polri. Delapan dekade lalu, institusi ini sudah menerima wasiat serupa dari suaminya. Namun, jamak disebut yang bertambah sejak itu cuma jumlah upacaranya. Benarkah demikian?

Anies dan Dark Side of The Moon

Beberapa hari lalu, Presiden Prabowo berbicara di depan ribuan akademisi dan menyebut: meski 5 kali ikut Pilpres dan baru 1 kali menang, ia tak pernah merongrong pemerintah yang sah. Pernyataan ini sekaligus pesan tersirat ke oposisi hari ini, termasuk Anies Baswedan, tentang batas etika berpolitik pasca kekalahan. Dalam beberapa kesempatan, Anies memang sempat mengkritisi kondisi negara, soal penghematan anggaran di satu sisi tapi juga pemborosan di lain sektor, serta kritik-kritik lainnya.

Kiri, Kanan, Kulihat Merah Putih

Dari Kabinet hingga koperasi desa, nama bangsa kini melekat di mana-mana. Namun, mengapa harus seragam begitu? 

More Stories

PDIP dan Gerindra Ngos-ngosan

PDI Perjuangan dan Gerindra diprediksi bakal ngos-ngosan dalam Pilgub Jabar nanti. Ada apa ya? PinterPolitik.com Pilgub Jabar kian dekat. Beberapa Partai Politik (Parpol) pun mulai berlomba-lomba...

Arumi, ‘Srikandi Baru’ Puan

Arumi resmi menjadi “srikandi baru” PUAN. Maksudnya gimana? PinterPolitik.com Fenomena artis berpolitik udah bukan hal baru dalam dunia politik tanah air. Partai Amanat Nasional (PAN) termasuk...

Megawati ‘Biro Jodoh’ Jokowi

Megawati tengah mencari calon pendamping Jokowi. Alih profesi jadi ‘biro jodoh’ ya, Bu? PinterPolitik.com Kasih sayang dan pengorbanan seorang ibu laksana lilin yang bernyala. Lilin...