HomeHeadlineJebakan Narco-Politics ala Pablo

Jebakan Narco-Politics ala Pablo

Kecil Besar

Dengarkan artikel ini:

Audio ini dibuat menggunakan AI.

Selama ini kita mengira narco-politics adalah soal kartel yang menyerang negara. Marco Alcocer, peneliti Harvard yang menghabiskan kariernya memetakan jaringan kartel Meksiko, melihat sesuatu yang jauh lebih menggelisahkan: justru negara yang menyediakan tanah subur bagi kartel untuk tumbuh. Apakah Pablo telah mati? Pablo telah hidup dalam bentuk pemikiran politik di kepala Kartel.


PinterPolitik.com

Di beberapa kota di Meksiko, warga tidak lagi bertanya: “Siapa wali kota kita?” Mereka bertanya: “Kartel mana yang berkuasa minggu ini?” Pertanyaan itu bukan lelucon. Ia adalah cerminan sebuah patologi kenegaraan yang telah berlangsung selama tiga dekade, dan kini sedang memasuki babak paling tidak menentu dalam sejarahnya.

Pada 22 Februari 2026, militer Meksiko menembak mati Nemesio “El Mencho” Oseguera Cervantes di Tapalpa, Jalisco. Pemimpin Cártel Jalisco Nueva Generación (CJNG), kartel paling ditakuti di Meksiko dengan jaringan operasi di 21 negara bagian dan kehadiran di sekitar 100 negara, akhirnya jatuh. Dunia bertepuk tangan. Presiden Sheinbaum menyebutnya kemenangan bersejarah. Washington mengonfirmasi dukungan intelijennya.

Tapi dalam ilmu politik, kemenangan yang paling berbahaya adalah kemenangan yang membuat kita berhenti bertanya pertanyaan yang lebih dalam.

Pablo didalam benak kita sudah mati. Tapi tidak, Pablo-Pablo lain telah tumbuh dan berlipat ganda.

Meksiko dan Jebakan yang Selalu Berulang

Kematian El Mencho sudah pernah kita saksikan sebelumnya. Nama dan wajahnya berbeda, tapi skenarionya berulang dengan ketepatan yang hampir menyeramkan.

Ketika Pablo Escobar ditembak mati di Medellín pada 1993, dunia bersorak. Tapi kartel Cali justru mengisi kekosongan itu dan memperluas dominasinya. Ketika El Chapo ditangkap pada 2016, Sinaloa Cartel tidak bubar; ia terpecah menjadi dua faksi yang lebih brutal dan lebih sulit dikendalikan. Dan kini, hanya dua bulan setelah El Mencho mati, sejarah menulis bab berikutnya: pada 27 April 2026, pasukan khusus Angkatan Laut Meksiko menangkap Audias Flores Silva, alias “El Jardinero”, komandan regional CJNG yang dianggap sebagai kandidat pengganti, ditemukan bersembunyi di dalam selokan di Nayarit.

Sementara itu, Juan Carlos Valencia González, anak tiri El Mencho sekaligus warga negara Amerika Serikat kelahiran California, sudah mengonsolidasikan dirinya sebagai pemimpin baru CJNG sejak Maret 2026. Sebuah ironi yang menyakitkan: mesin intelijen AS yang membantu membunuh El Mencho kini menghadapi batasan hukum dalam mengincar penggantinya, karena sang pengganti adalah warga negara Amerika.

Riset Alcocer tentang fragmentasi kartel di Meksiko menunjukkan pola yang konsisten: strategi kingpin, yakni menghilangkan pemimpin puncak, bukan solusi, melainkan katalis bagi masalah baru. Ketika kartel besar kehilangan pemimpin, yang muncul adalah proliferasi: lebih banyak kelompok yang lebih kecil, lebih lokal, dan jauh lebih tidak terprediksi. Antara 2006 dan 2020, data menunjukkan bahwa setiap operasi decapitation justru berkorelasi dengan bertambahnya jumlah kelompok kriminal di wilayah terdampak.

Baca juga :  Menyikap Tubir Milbus

CJNG tidak akan runtuh. Ia akan berevolusi. Dan evolusi itu, hampir pasti, lebih berbahaya dari kondisi sebelumnya.

Narco-Politics dan Krisis Kedaulatan yang Tak Terlihat

Di sinilah kesalahan framing yang paling fundamental terjadi, sekaligus paling mahal harganya.

Selama dua dekade, dunia memperlakukan narco-politics sebagai masalah penegakan hukum: lebih banyak polisi, lebih banyak operasi militer, lebih banyak ekstradisi. Padahal yang sesungguhnya terjadi jauh lebih dalam dari itu. Yang kita hadapi adalah krisis kedaulatan yang lahir dari dalam celah-celah negara itu sendiri.

Proyek riset Alcocer, Building Criminal Enterprises, menunjukkan bahwa kartel modern tidak lagi bergantung pada narkoba semata. CJNG mengontrol tambang ilegal, industri alpukat di Michoacán, jaringan penyelundupan solar, dan pencucian uang melalui perusahaan tequila yang legal. Narkoba hanyalah pintu masuk; yang mereka bangun di dalamnya adalah ekonomi paralel yang di banyak wilayah jauh melampaui ekonomi formal.

Yang lebih menggelisahkan: kartel tidak ingin menghancurkan negara. Mereka ingin mengendalikannya. Negara yang terlalu lemah untuk melindungi rakyatnya, namun cukup kuat untuk memberikan lisensi bisnis, mengalokasikan anggaran, dan memengaruhi kebijakan. Itulah yang paling bernilai bagi kartel.

Di Meksiko, kondisi ini sudah bisa diprediksi sejak awal. Ia tumbuh dari liberalisasi ekonomi pasca-NAFTA 1994 yang menghancurkan pertanian subsisten, privatisasi yang menyempitkan lapangan kerja formal, dan demokratisasi yang melahirkan pejabat lokal dengan otoritas besar namun kapasitas institusional yang lemah. Kartel tidak menyerbu sistem ini; mereka tumbuh dari dalam celah-celahnya. Inilah jebakan yang tak terlihat: semakin demokratis sebuah negara secara prosedural, semakin rentan ia terhadap infiltrasi jika fondasi institusionalnya rapuh.

Dan ketika negara tidak mampu hadir, kartel mengisi kekosongan itu dengan cara yang paling pragmatis: membangun jalan, memberi pinjaman, membiayai pesta desa, mengeksekusi penculik di depan umum. Di Michoacán, di Jalisco, di Guerrero, banyak warga tidak merasa diserang oleh kartel. Mereka merasa dilindungi olehnya. Negara kalah karena kartel lebih relevan bagi rakyat kecil yang tidak pernah benar-benar merasakan kehadiran negara. Brutalitas hanyalah alat; relevansilah yang memenangkan loyalitas.

Pengaruh itu bahkan merasuk ke bilik suara, dengan cara yang lebih halus dari yang dibayangkan. Temuan Alcocer menunjukkan bahwa kartel hampir tidak pernah mengintimidasi pemilih secara langsung; surat suara yang rahasia membuat strategi itu mahal dan tidak efisien. Yang dilakukan jauh lebih sistematis: mengendalikan daftar kandidat. Dengan menyingkirkan lawan atau mendukung figur tertentu, kartel memastikan siapa yang berkuasa bahkan sebelum pemungutan suara dimulai. Di wilayah dengan ekonomi kriminal yang mengakar, warga sudah tahu bahwa pemenang ditentukan di tempat lain. Pemilu tetap digelar, tapi hasilnya sudah tidak lagi menjadi milik rakyat.

Baca juga :  Sultan Jogja: Simpul Kuasa Indonesia

Jangan Jatuh di Lubang yang sama, Indonesia!

Indonesia tidak akan menjadi Meksiko. Tapi kalimat itu sendiri bisa menjadi jebakan, karena ia mendorong rasa aman sebelum waktunya.

Badan Narkotika Nasional telah mengidentifikasi fenomena yang mereka sebut narkopolitik: jaringan peredaran narkoba yang melibatkan tokoh politik untuk kepentingannya. Seorang caleg di Aceh Tamiang ditangkap karena diduga membiayai pencalonannya dari hasil penjualan 70 kilogram sabu. Seorang anggota DPRD di Palembang ditangkap sebagai bandar. Seorang calon Kapolda Jawa Timur terbukti terlibat langsung dalam distribusi narkoba. Perputaran dana tindak pidana pencucian uang terkait narkoba antara 2022 dan 2024 mencapai sekitar 99 triliun rupiah.

Sembilan puluh sembilan triliun. Angka itu sudah berbicara sendiri: shadow economy narkoba sudah cukup besar untuk memengaruhi ekosistem politik.

Yang membedakan Indonesia dari Meksiko bukan kualitas masalahnya, melainkan stadiumnya. Apa yang sedang terbentuk di sini adalah apa yang dalam analisis Alcocer disebut sebagai jaringan penguasaan negara (state capture networks): jaringan cair antara sindikat narkoba, politisi lokal, aparat yang korup, dan pengusaha abu-abu yang saling terhubung tanpa struktur formal, namun beroperasi dengan koordinasi yang sangat efektif.

Justru karena tidak ada “El Mencho Indonesia” yang bisa ditembak atau ditangkap, model ini jauh lebih sulit diberantas. Dan justru karena biaya politik elektoral di Indonesia jauh melampaui apa yang bisa didanai secara legal, pintu bagi jaringan semacam ini akan selalu terbuka, selama tidak ada reformasi struktural yang menyentuh akarnya.

Pertanyaan yang tepat sudah bergeser jauh dari soal apakah. Pertanyaan yang tepat adalah: di titik mana kita memilih untuk tidak melihat?

Karena dalam sejarah setiap negara yang jatuh ke dalam jebakan ini, dari Kolombia hingga Meksiko, tanda-tandanya selalu sudah ada. Data tersedia. Kasus sudah terjadi. Yang absen adalah keberanian institusional untuk bertindak sebelum terlambat.

Meksiko sudah melewati momen itu. Indonesia belum. Tapi jarak antara keduanya lebih pendek dari yang kita nyaman untuk akui. (A99)

spot_imgspot_img

#Trending Article

Lex Talionis Taufik Hidayat Biadab

Lex talionis bukan tentang balas dendam, melainkan batas peradaban atas kekerasan. Dalam kasus Taufik Hidayat, prinsip kuno itu menemukan relevansinya kembali, hukuman maksimal bukan ekspresi kebencian, tetapi pengakuan negara atas martabat korban. Saat keadilan diuji, korban tak boleh kalah dua kali.

Menyikap Tubir Milbus

Pengangkatan purnawirawan sebagai Komisaris Utama PT Bukit Asam beberapa hari lalu melengkapi pola yang sudah terbentuk: Dirut MIND ID dari AU, Dirut PT Timah dari AD, Dirut Antam dari AD. Tiga perusahaan tambang negara paling strategis kini sama-sama dipimpin figur berlatar militer. Bercanda pun terasa pas — jurusan tambang terbaik Indonesia sepertinya ada di Akademi Militer.

Hotel Sultan dan Mesin Uang Soeharto

Water canon, batu beterbangan, 3.161 aparat mengepung Senayan. Negara akhirnya merampungkan apa yang gagal dilakukan selama 26 tahun: merebut Hotel Sultan dari tangan keluarga Sutowo. Nilai aset Rp 28,9 triliun — eksekusi perdata terbesar dalam sejarah Indonesia. Bermula dari tipu daya: Ibnu Sutowo membangun hotel pesanan Gubernur Ali Sadikin, bukan atas nama Pertamina, melainkan atas nama PT Indobuildco milik pribadinya.

Di Balik Mekarnya Citra Habibie

Tanggal 25 Juni dikenang sebagai hari lahir Habibie. Citranya kian harum meski telah tiada. Apa rahasia di balik reputasi yang tak pernah layu itu?

Fathimah Azzahra dan Warisan STOVIA

Seorang mahasiswi kedokteran memukau publik di panggung debat nasional. Mengapa cara bicaranya yang tenang justru terasa begitu radikal? 

Inul, Naykilla, dan Kebangkitan ‘Centil-isme’

Dari gaya dan goyang yang dulu dicekal, "centil" kini jadi identitas yang dirayakan. Apa yang sebenarnya sedang naik?

Rame “Ke-trigger” PDIP, PAN Chill

Mengapa PAN tetap santai saat partai-partai lain sibuk mengulik arah politik PDIP? Di balik sikap chill itu seakan tersimpan strategi besar, meliputi kohesi elite, jaringan kekuasaan yang terjaga, dan penguasaan atensi publik. Sebuah resep politik baru yang bisa menentukan siapa paling relevan menuju Pemilu 2029.

PAL-PINDAD-PTDI: Trinitas Industrialisasi RI?

Ketika tiga BUMN pertahanan Indonesia mencetak rekor laba di momen bersamaan, pertanyaannya bukan lagi soal alutsista — melainkan apakah Indonesia akhirnya menemukan jalan industrialisasinya sendiri. 

More Stories

Lari lambat Kuda Fahri Hamzah?

Tiga dekade ia berderap melawan setiap kekuasaan. Ibaratkan pedang, Fahri Hamzah menggunakan mulutnya seperti pedang yang tajam. Begitu ia masuk ke dalamnya, pedang itu nampak seperti pedang yang “karatan”

Gibran “Ban Serep” yang Ngarep?

Di tengah pemerintahan yang pamornya meredup, satu figur justru rajin turun ke jalan. Kebetulan, atau ada yang sedang ia kumpulkan?

Mentalitet Korea Ala Bahlil

Bambang Pacul menyebutnya mentalitet korea: watak orang yang pernah melarat lalu nekat melenting dan sampai ke pucuk kekuasaan politik. Bahlil membawanya ke Senayan, dan jenis nyali itu ternyata tidak bisa diwariskan.