HomeNalar PolitikJangan Pilih Ketua Tukang Ngantuk

Jangan Pilih Ketua Tukang Ngantuk

Kecil Besar

Pangi Syarwi Chaniago menganjurkan agar Ketua DPR dn Golkar diganti. Bila perlu jangan pilih tukang tidur kayak Setnov.


PinterPolitik.com

[dropcap]S[/dropcap]aat ini, Partai Beringin tengah berusaha mencari suksesor Papa Setnov. Hal ini yang juga diamati oleh Pangi Syarwi Chaniago. Beliau adalah pengamat politik dan Direktur Eksekutif Voxpol Center Reseach and Consulting.

Terkait keadaan Papa kini, ia mengatakan bahwa sudah waktunya sosok yang dulu kebal hukum itu beristirahat. Rutan Kapeka pun menjadi tempat istirahat yang cocok baginya untuk sementara ini.

Pangi juga menambahkan bahwa karena terlalu banyak kasus yang menimpa Papa, membuat kinerja dan tanggung jawabnya sebagai Ketua De-pe-er dan Ketua Partai Beringin menjadi kacau. Ia mengibaratkan tanggung jawab Papa layaknya seorang Nahkoda yang gagal mengemudikan sebuah kapal di samudera yang luas karena sering ngantuk.

“Jadi boro-boro dia bisa memikirkan untuk menahkodai kapal yang besar ini supaya bisa mengarungi samudra dengan bagus, sementara dia sendiri sebagai nahkodanya sering ngantuk,” sindir Pangi.

Bisa jadi begitu, soalnya Papa kan sering ngantuk. Coba amati rapat Paripurna De-pe-er atau acara pernikahan putri Pakde Joko. Mungkin kurang tidur malam karena banyak pikiran kalik ya?

Oleh karena itu, perlu ada pergantian Ketua di dalam tubuh Partai Beringin maupun De-pe-er. Hal ini penting untuk mengembalikan wajah Partai Beringin dan De-pe-er yang telah tercoreng di hadapan publik.

Maka, para pengikut Setnov di Partai Beringin maupun De-pe-er harus mulai berpikir rasional. Jangan sampai mereka membabi-buta membela masalah pribadi Papa, tapi mengabaikan masa depan Partai Beringin. Apalagi tinggal beberapa bulan Pesta Rakyat bakal digelar, bukan?

Baca juga :  "Sell Indonesia" dan Spirit 1928

Itu semua tergantung Kubu Partai Beringin aja sih. Tapi, denger-denger katanya Kubu Partai Beringin hari ini (21/11) akan melakukan Rapat Akbar guna menentukan ketua sementara, karena Papa masih di penjara.

Yah, kita berharap yang terbaik aja untuk Partai Beringin dan De-pe-er. Semoga nanti mendapat sosok pengganti yang lebih baik dari Papa. Kalau bisa milih yang bersih dan bukan tukang tidur ya. Semoga demikian. (K-32)

spot_imgspot_img

#Trending Article

Tulus, SBY, Jokowi: Seni Bertahan

Setelah empat tahun diam, Tulus rilis "Teh Hijau" tanpa gembar-gembor. Mengapa justru keheningan yang membuatnya makin dinanti? 

Kicepisme Pragmatis Politik

Jokowi dan JK bertemu di HUT Bhayangkara ke-80, dan suasananya adem-adem saja. Padahal beberapa bulan lalu JK sempat berteriak lantang: "Kasih tahu semua itu termul-termul, Jokowi jadi presiden karena saya", gara-gara isu ijazah yang menyeret namanya sebagai pihak yang terus mempersoalkan. Tapi begitu ketemu langsung, ijazah pun tak dibahas. Inilah wajah politik di level elite Indonesia yang sesungguhnya.

Aldi-Saldi: Hakim Mazhab “Dissenters”?

Vonis Nadiem Makarim menghadirkan sorotan pada Andi Saputra, hakim yang berbeda pendapat dari mayoritas. Apakah ia sekadar anomali, atau bagian dari tradisi “Mazhab Dissenters” seperti Saldi Isra?

Menanti Lahirnya Hoegeng Muda di Bhayangkara

Sehari sebelum pemakamannya Februari lalu, keluarga Hoegeng memutar rekaman pesan terakhir istrinya, dan Kapolri menyebutnya wasiat bagi seluruh anggota Polri. Delapan dekade lalu, institusi ini sudah menerima wasiat serupa dari suaminya. Namun, jamak disebut yang bertambah sejak itu cuma jumlah upacaranya. Benarkah demikian?

Anies dan Dark Side of The Moon

Beberapa hari lalu, Presiden Prabowo berbicara di depan ribuan akademisi dan menyebut: meski 5 kali ikut Pilpres dan baru 1 kali menang, ia tak pernah merongrong pemerintah yang sah. Pernyataan ini sekaligus pesan tersirat ke oposisi hari ini, termasuk Anies Baswedan, tentang batas etika berpolitik pasca kekalahan. Dalam beberapa kesempatan, Anies memang sempat mengkritisi kondisi negara, soal penghematan anggaran di satu sisi tapi juga pemborosan di lain sektor, serta kritik-kritik lainnya.

Kiri, Kanan, Kulihat Merah Putih

Dari Kabinet hingga koperasi desa, nama bangsa kini melekat di mana-mana. Namun, mengapa harus seragam begitu? 

Inul dan Bangkitnya Sang ‘Anti-Hero’

Inul Daratista menolak tawaran masuk parlemen meski dijanjikan uang miliaran. Mengapa menolak kekuasaan justru membuatnya menang?

RIP Meritokrasi, Mantra Komisaris?

Pengangkatan relawan politik menjadi komisaris BUMN kembali memantik polemik. Apakah ini sekadar balas jasa kekuasaan, atau strategi menjaga stabilitas politik? Di balik kontroversi Ginka Febriyanti Ginting, tersimpan paradoks lama, yakni ketika loyalitas lebih bernilai daripada kompetensi, apakah meritokrasi masih memiliki tempat?

More Stories

PDIP dan Gerindra Ngos-ngosan

PDI Perjuangan dan Gerindra diprediksi bakal ngos-ngosan dalam Pilgub Jabar nanti. Ada apa ya? PinterPolitik.com Pilgub Jabar kian dekat. Beberapa Partai Politik (Parpol) pun mulai berlomba-lomba...

Arumi, ‘Srikandi Baru’ Puan

Arumi resmi menjadi “srikandi baru” PUAN. Maksudnya gimana? PinterPolitik.com Fenomena artis berpolitik udah bukan hal baru dalam dunia politik tanah air. Partai Amanat Nasional (PAN) termasuk...

Megawati ‘Biro Jodoh’ Jokowi

Megawati tengah mencari calon pendamping Jokowi. Alih profesi jadi ‘biro jodoh’ ya, Bu? PinterPolitik.com Kasih sayang dan pengorbanan seorang ibu laksana lilin yang bernyala. Lilin...