HomeHeadlineImin dan Para Titisan Wiraraja

Imin dan Para Titisan Wiraraja

Kecil Besar

Dengarkan artikel ini:

Audio ini dibuat menggunakan AI.

Prabowo menyindir Cak Imin: dulu berpisah, kini bersama lagi. Kenapa ada politisi yang seolah selalu bertahan di sisi pemenang? 


PinterPolitik.com

“Arya Wiraraja (ayah Nambi) adalah seorang politikus ulung yang selalu bisa jeli membaca situasi, dan cepat-tepat mengambil tindak-lanjut untuk memanfaatkannya.” – Pranoedjoe Poespaningrat, Kisah Para Leluhur dan yang Diluhurkan: dari Mataram Kuno sampai Mataram Baru (2008)

Cupin menonton potongan video itu berulang kali di layar ponselnya. Di panggung peringatan Hari Koperasi Nasional ke-79, Presiden Prabowo Subianto tampak santai memakai perumpamaan yang akrab di telinga siapa pun.

Persaingan politik, kata Presiden, seperti sepak bola. Selalu ada yang menang dan yang kalah, dan tidak ada gunanya memukuli wasit.

Presiden lalu menunjuk satu contoh hidup, yaitu Muhaimin Iskandar. Sosok yang pernah bersamanya, lalu berpisah jalan, dan kini kembali seiring di dalam pemerintahan.

Cupin tersenyum kecil membaca pesan di balik guyon itu. Bagi Presiden, momen tersebut adalah perayaan atas kedewasaan berdemokrasi, sebuah pesan tulus bahwa bertanding boleh keras, tetapi sesudahnya semua bersatu bekerja untuk rakyat.

Namun Cupin, yang gemar menelusuri sejarah, menangkap sesuatu yang lebih dalam. Sosok yang berdiri di samping Presiden hari itu bukan sekadar mantan lawan yang kembali.

Cupin membuka catatannya yang penuh coretan. Cak Imin, gumamnya, adalah salah satu politisi paling konsisten dalam sejarah Reformasi, konsisten pada satu hal yang sangat spesifik, yakni berada di dalam kekuasaan.

Sejak Reformasi bergulir, kata Cupin, jumlah tahun ketika Cak Imin berada sungguh-sungguh di kursi oposisi nyaris bisa dihitung dengan jari sebelah tangan. Ini bukan kebetulan, melainkan sebuah pola yang terlalu rapi untuk diabaikan begitu saja.

Sebagian pengamat, kata Cupin dalam hati, menjuluki Cak Imin dengan istilah penuh warna, si paling hijrah. Sebutan itu bernada guyon, sebab hijrah dalam maknanya yang asali adalah perpindahan mulia yang sarat tujuan.

Cupin menyalakan lampu meja dan mulai berpikir serius. Ketika idiom itu ditempelkan pada rekam jejak Cak Imin, yang muncul bukan gambaran perpindahan menuju satu tujuan tetap, melainkan pola perpindahan yang selalu bermuara ke titik yang sama.

Titik itu adalah pusat kekuasaan. Pola semacam ini, pikir Cupin, terasa sangat tua dan sangat khas Nusantara.

Dua pertanyaan pun menggantung di benak Cupin sebelum ia melanjutkan penelusurannya. Adakah arketipe atau pola dasar yang menjelaskan sosok politisi yang selalu bertahan di sisi pemenang seperti ini?

Dan jika arketipe itu memang ada, apakah ia hanya milik Indonesia, atau justru bergema di panggung politik seluruh dunia? Cupin membalik halaman catatannya untuk mencari jawaban.

Silsilah Sang Kancil

Cupin memulai dari dunia fiksi yang paling ia gemari. Ia teringat pada Petyr Baelish, tokoh berjuluk Littlefinger dalam serial Game of Thrones, seorang bangsawan kecil tanpa pasukan besar yang bertahan melewati pergantian demi pergantian penguasa.

Baca juga :  Singapura dan 'Benalu' Complex

Bagi Baelish, kekacauan adalah sebuah tangga. Setiap perebutan kekuasaan bukan ancaman, melainkan peluang untuk memanjat satu anak tangga lebih tinggi, renung Cupin sambil mengangguk.

Arketipe sang penyintas cerdik ini, sadar Cupin, muncul di hampir setiap kebudayaan. Ia hadir dalam fabel Kancil, dalam figur punakawan seperti Semar di pewayangan, hingga drama politik Barat yang paling mutakhir.

Cupin lalu teringat akademisi yang pernah ia baca. Dalam buku Policy, Office, or Votes?, Kaare Strom dan Wolfgang Muller memetakan tiga motivasi dasar partai, yaitu mengejar kebijakan, mengejar suara, atau mengejar jabatan.

Sang pemburu jabatan, atau office seeker, menempatkan akses terhadap kekuasaan eksekutif sebagai prioritas tertinggi. Cupin merasa kerangka ini seperti pisau bedah yang pas untuk sosok yang sedang ia telusuri.

Namun Cupin tidak ingin berhenti di teori Barat. Ia yakin arketipe ini punya akar yang jauh lebih tua di tanah sendiri.

Ingatannya melayang ke abad ke-13, kepada Arya Wiraraja, penguasa Sumenep. Menurut tradisi babad seperti Pararaton, Wiraraja adalah ahli siasat yang menjaga hubungan baik dengan Jayakatwang sambil pada saat yang sama melindungi Raden Wijaya.

Wiraraja bermain di dua meja sekaligus, kata Cupin takjub. Ia berakhir sebagai arsitek di balik layar bagi berdirinya Majapahit, kerajaan terbesar dalam sejarah Nusantara.

Cupin lalu melompat ke abad ke-20 dan tersenyum menemukan padanannya. Adam Malik, sang diplomat berjuluk Si Kancil, berawal dari Partai Murba yang berhaluan kiri bersama Tan Malaka, lalu berpindah ke Golkar ketika angin berubah.

Adam Malik menjadi tokoh penting di era Soekarno, lalu justru semakin bersinar di era Soeharto hingga menjadi Wakil Presiden. Falsafahnya yang termasyhur, semua bisa diatur, terekam Cupin sebagai ringkasan sempurna seni bertahan lintas rezim.

Pola ini bahkan mendunia, pikir Cupin. Di Jerman, Hans-Dietrich Genscher bertahan sebagai Menteri Luar Negeri selama hampir dua dekade meski partainya berpindah dari koalisi kiri ke kanan, sementara Italia mengenal tradisi trasformismo, kebiasaan elite berganti aliansi demi tetap memerintah.

Dua pertanyaan baru kini muncul di kepala Cupin. Jika arketipe sang kancil ini universal, seberapa presisi ia menjelaskan sosok Cak Imin secara khusus?

Dan apa sesungguhnya yang membuat seorang kancil politik bisa bertahan begitu lama, bahkan tanpa selalu memenangkan pertandingan? Cupin menyeruput kopinya dan mulai membedah rekam jejak.

Baca juga :  Fathimah Azzahra dan Warisan STOVIA
image

Titisan Wiraraja Termutakhir?

Cupin membentangkan rekam jejak Cak Imin di atas meja. Sejak PKB lahir pada 1998, Cak Imin telah melewati lima kepresidenan, dari Abdurrahman Wahid, Megawati, Susilo Bambang Yudhoyono, Joko Widodo, hingga Prabowo.

Yang membuat Cupin terkesan bukan kemenangannya, melainkan ketahanannya. Setelah era Gus Dur, PKB tidak pernah lagi finis di tiga besar, tetapi posisinya di lingkar kekuasaan nyaris tak tergoyahkan.

Cupin mencatat titik terendah pada 2009, ketika kursi PKB anjlok drastis. Menariknya, di tahun sulit itu Cak Imin justru duduk sebagai menteri di kabinet Susilo Bambang Yudhoyono.

Inilah bukti tesis sang office seeker, simpul Cupin. Ketahanan jabatan Cak Imin tidak berbanding lurus dengan naik turunnya perolehan suara.

Cupin lalu teringat kerangka dari Dan Slater soal lanskap kepartaian kita. Dalam berbagai tulisannya, Slater menyebut fenomena party cartelization, kondisi ketika hampir semua partai bersedia berbagi kekuasaan eksekutif terlepas dari afiliasi kampanye.

Slater juga memakai istilah promiscuous powersharing, pembagian kekuasaan yang cair dan mudah berpindah pasangan. Bagi seorang kancil, kata Cupin, sistem semacam ini adalah habitat yang ideal.

Ketika norma bersama adalah bahwa pihak yang kalah pun akhirnya diundang masuk, maka kekalahan tidak pernah benar-benar menutup pintu. Kekalahan hanya menjadi ruang tunggu, bukan pintu keluar, tulis Cupin dengan huruf tebal.

Cupin membandingkannya dengan sosok seperti Genscher di Jerman tadi. Perbedaannya, Cak Imin memadukan kelenturan koalisi dengan basis massa Nahdlatul Ulama yang solid, sebuah kombinasi yang membuat posisinya semakin lestari.

Contoh serupa juga terlihat di Jepang, catat Cupin, tempat sejumlah faksi dalam partai yang lama berkuasa mampu bertahan melintasi banyak kabinet. Di sana, seperti di sini, kunci ketahanan bukanlah selalu menang, melainkan selalu berada di dalam barisan yang memerintah.

Cupin menutup catatannya dengan renungan yang tenang. Sindiran Presiden Prabowo di panggung koperasi itu, pikirnya, sesungguhnya adalah artikulasi elegan dari kedewasaan sebuah bangsa yang memilih bersatu setelah bersaing.

Namun bagi Cupin, kisah Cak Imin menyimpan pelajaran struktural yang lebih besar tentang cara kerja demokrasi kita. Dari Wiraraja di abad ke-13 hingga hari ini, Nusantara selalu mengenal sosok penyintas yang cerdik membaca arah angin.

Kelincahan semacam itu, catat Cupin, terbukti menjadi modal politik yang jauh lebih awet ketimbang kemenangan elektoral itu sendiri. Ia bukan cacat, melainkan cermin dari sistem yang memberinya ruang untuk tumbuh dan lestari.

Pertanyaan yang tersisa, gumam Cupin sambil mematikan lampu meja, bukanlah tentang seorang tokoh semata. Melainkan tentang sistem politik yang terus melahirkan para titisan sang kancil dari satu generasi ke generasi berikutnya. (A43)


spot_imgspot_img

#Trending Article

Pacul Mencoba Bersinar di “Penjara” Politik?

Julukannya Sang Komandan Korea, ia naik jabatan tapi kehilangan arena. Seperti dipenjara tetapi dalam konteks politik. Yang menarik bukan nasibnya, melainkan cara dia melawan nasib itu.

Bakrie, EV, dan Lumpur Lapindo

20 tahun berlalu, satu nama besar masih tak lepas dari lumpur Sidoarjo. Akankah persepsi ini terus menjadi warisannya?

Drama Patungan Transjakarta KDM – Pramono

Dengarkan artikel ini: Setiap pagi, 4,5 juta orang melintas tanpa peduli batas provinsi. Tapi tagihan subsidi mereka hanya jatuh ke satu meja, milik Pramono Anung,...

Bahlil, Loid Forger-nya Indonesia?

Jika melihat gerak politik Bahlil, hampir sama dengan karakter Loid Forger dari Anime Spy X Family. Loid bisa berperan sebagai apapun di situasi manapun karena dia adalah seorang mata-mata. Tetapi, Bahlil melakukan itu untuk tetap relevan di kedua poros kekuasaan politik yang berbeda.

Supremasi Putih Rasialisme Argentina

Piala Dunia 2026 mengungkap pola berulang. FIFA menyelidiki dugaan pelecehan rasis terhadap YouTuber IShowSpeed oleh fans Argentina di Miami. Fans Argentina juga melempar bir ke pendukung Mesir dan mengibarkan bendera Israel ke pelatih Hassan yang pro-Palestina. Bahkan sesama negara Amerika Latin, dari Meksiko hingga Brasil, kerap mencap Argentina “sok Eropa” dan terkesan membenci tetangganya sendiri.

“Berkah” Adu Mekanik Penegak Hukum?

Dua institusi hukum saling bongkar kelemahan di depan publik — ternyata, sejak zaman Romawi, kegaduhan semacam ini justru menjadi tanda sistem sedang bekerja.

Pramono Main “Presiden-presidenan”?

Sejumlah kebijakan Gubernur Pramono Anung tampak pantulkan program pemerintah pusat. Kebetulan teknokratis atau ada logika yang sengaja dipasang? 

Sarat Makna Kavaleri Kuda Istana

Bukan sekadar pengawal tamu negara. Di balik 120 kavaleri kuda yang mengiringi Narendra Modi menuju Istana Negara Jakarta, tersimpan pesan tentang diplomasi, kekuasaan, dan martabat negara. Mengapa kuda masih relevan di era digital? Karena dalam politik modern, simbol sering kali berbicara lebih keras daripada kebijakan.

More Stories

Pramono Main “Presiden-presidenan”?

Sejumlah kebijakan Gubernur Pramono Anung tampak pantulkan program pemerintah pusat. Kebetulan teknokratis atau ada logika yang sengaja dipasang? 

Cermin Retak di Zaman Pelangi?

Perpres 111/2025 memasukkan penyebaran budaya LGBTQ+ sebagai ancaman nonmiliter. Namun, mengapa nasibnya bisa beda dari komunis dan Tionghoa dulu?

Singapura dan ‘Benalu’ Complex

Prabowo jamu PM Lawrence Wong dalam Leaders' Retreat pada 6 Juli 2026. Namun, benarkah Singapura selama ini hidup dari getah tetangganya?