HomeNalar PolitikDi Balik Mekarnya Citra Habibie

Di Balik Mekarnya Citra Habibie

Kecil Besar

Dengarkan artikel ini:

Audio ini dibuat menggunakan AI.

Tanggal 25 Juni dikenang sebagai hari lahir Habibie. Citranya kian harum meski telah tiada. Apa rahasia di balik reputasi yang tak pernah layu itu? 


PinterPolitik.com

“Ultimately it is not the stored data that counts, but the knowledge that we generate from it” – Aleida Assmann, profesor sastra di University of Konstanz

Hari ini Cupin membuka beranda media sosialnya dan menemukan satu nama yang kembali ramai disebut: B.J. Habibie. Tanggal 25 Juni memang hari lahir Presiden ketiga Republik itu, dan seandainya ia masih hidup, usianya genap sembilan puluh tahun.

Yang membuat Cupin terpaku bukan sekadar ucapan ulang tahun. Di tengah pemerintahan Presiden Prabowo Subianto saat ini, nama Habibie justru kerap mengemuka kembali, dikenang dengan nada hangat oleh banyak orang dari berbagai latar belakang.

Cupin memperhatikan, sebagian warganet membandingkan gagasan Habibie tentang teknologi dan kemandirian bangsa dengan agenda pembangunan masa kini. Nama itu seakan menjadi rujukan yang selalu relevan, lintas zaman dan lintas pemerintahan.

Cupin lalu merenung. Dari sekian banyak presiden, mengapa hanya Habibie yang citranya seperti terus mekar, bahkan setelah hampir tujuh tahun ia wafat?

Padahal, Cupin tahu betul, perjalanan Habibie bukan tanpa catatan kritis. Sejak menjadi menteri riset dan teknologi, ia kerap disorot karena proyek industri strategis yang mahal dan dianggap membebani anggaran.

Proyek pesawat nasional dan sejumlah industri berteknologi tinggi menjadi sasaran perdebatan kala itu. Sebagian ekonom menilai langkah tersebut terlalu ambisius bagi negara yang tengah membenahi fondasi ekonominya.

Ketika menjadi wakil presiden lalu naik menjadi presiden pada 1998, beban itu makin berat. Krisis ekonomi yang belum tuntas, pidato pertanggungjawaban yang ditolak MPR, dan lepasnya Timor Timur lewat referendum 1999 menjadi babak yang hingga kini masih diperdebatkan.

Cupin pun mencatat bahwa sebagian kalangan menilai Habibie terlalu dekat dengan struktur kekuasaan Orde Baru yang membesarkannya. Kritik semacam itu sempat ramai pada masa awal Reformasi, ketika tuntutan perubahan begitu menggebu.

Namun, Cupin menyadari satu hal yang ganjil. Daftar kritik itu nyaris tidak pernah mengurangi kehangatan publik terhadap sosoknya, seolah ada lapisan pelindung yang membuat reputasinya kebal terhadap erosi waktu.

Cupin pun teringat bahwa Habibie dikenang bukan terutama sebagai politikus. Ia lebih lekat sebagai Mr. Crack, sang Bapak Teknologi, sekaligus suami setia dalam kisah cinta yang melegenda bersama Ainun.

Di titik ini Cupin menyimpan dua pertanyaan. Apakah cara sebuah bangsa mengenang pemimpinnya bisa diatur sedemikian rupa sehingga sisi politik yang membelah menjadi memudar?

Dan jika benar demikian, apakah pola “pengawetan citra” semacam ini juga terjadi pada pemimpin di negara lain? Cupin memutuskan menelusurinya lebih jauh.

Romansa yang Merawat Citra 

Penelusuran Cupin membawanya jauh ke Amerika Serikat, pada sosok Presiden Ronald Reagan dan istrinya, Nancy. Pasangan ini sering disebut sebagai contoh paling murni tentang bagaimana kehangatan personal dapat menopang citra seorang pemimpin.

Baca juga :  Ipul Quiet Power, Imin Quite Stuck?

Cupin membaca bahwa Reagan berasal dari dunia Hollywood sebelum masuk politik. Latar itu membuatnya piawai tampil di depan kamera, sebuah keahlian yang kemudian melahirkan julukan the Great Communicator.

Dalam buku The Greatest Communicator, Dick Wirthlin, sang penasihat strategi, menggambarkan bagaimana pesona dan kehangatan Reagan dirawat secara cermat. Citra suami yang romantis dan optimistis itu menjadi modal politik yang menstabilkan dukungan publik.

Cupin membaca bahwa kesetiaan Ronald dan Nancy kerap ditampilkan ke ruang publik, dari genggaman tangan hingga surat-surat cinta yang penuh kelembutan. Gambaran itu membuat Reagan tampak sebagai pribadi yang hangat, bahkan di tengah tekanan politik yang berat.

Cupin menemukan bahwa kajian akademik pun menaruh perhatian serius pada fenomena ini. Dalam artikel jurnal berjudul “Laughter and Effective Presidential Leadership”, Patrick Stewart dan rekan-rekannya menelaah bagaimana humor dan sinyal nonverbal Reagan membangun persepsi karisma di mata pemilih.

Bagi Cupin, kasus Reagan menarik karena romansa dan pesonanya dipakai saat berkuasa, sebagai instrumen aktif menjaga legitimasi. Ini berbeda dengan Habibie, yang kisah cintanya justru mengemuka setelah ia turun dari panggung kekuasaan.

Cupin lalu menengok contoh yang lebih kelam. Di Argentina, Juan dan Eva Perón menjadikan kisah cinta sebagai mesin ideologi, dengan Evita sebagai tokoh yang merangkul kaum buruh miskin dan memperkuat basis kekuasaan suaminya.

Di Filipina, Cupin menemukan kisah Ferdinand dan Imelda Marcos. Dongeng “ratu kecantikan menikahi politikus karismatik” itu kerap dibaca sebagai glamor yang menutupi sisi kontroversial rezim mereka.

Cupin juga teringat pasangan John dan Jacqueline Kennedy di Amerika Serikat. Citra “Camelot” yang anggun dan penuh gaya itu turut mengabadikan Kennedy sebagai mitos politik yang bertahan lama dalam ingatan publik.

Cupin pun menarik benang merah. Di banyak negara, romansa kerap menjadi senjata untuk meraih atau menyembunyikan sesuatu, sementara pada Habibie ia tampak lebih tulus dan organik.

Maka muncul dua pertanyaan baru di benak Cupin. Jika romansa hanyalah salah satu faktor, konsep apa sebenarnya yang menjelaskan ketahanan citra Habibie?

Dan mengapa, di antara semua presiden Indonesia, justru ia yang paling anggun menua dalam ingatan bangsa? Cupin pun masuk ke lapis analisis yang lebih dalam.

Rahasia di Balik Mekarnya Citra

Cupin menemukan kunci pertama pada pemikiran sosiolog Prancis, Pierre Bourdieu. Dalam gagasannya tentang ragam capital, Bourdieu menjelaskan bahwa reputasi seseorang dapat bertumpu pada beberapa bentuk modal sekaligus, mulai dari modal politik, intelektual, hingga modal simbolik.

Baca juga :  "Sell Indonesia" dan Spirit 1928

Bagi Cupin, di sinilah keistimewaan Habibie. Ia memiliki modal yang terdiversifikasi: kecemerlangan intelektual sebagai insinyur kelas dunia sekaligus modal afektif dari kisah cintanya yang menyentuh.

Ketika modal politiknya tergerus kontroversi, dua modal lainnya tetap utuh dan bahkan kian bersinar. Inilah yang membuat citranya tahan terhadap goncangan, ibarat portofolio yang tidak bergantung pada satu aset tunggal.

Cupin membayangkan modal reputasi itu seperti tabungan yang terus membayar bunga. Kehangatan publik terhadap kisah Habibie dan Ainun seakan menjadi anuitas afektif yang dividennya mengalir stabil dari tahun ke tahun.

Kunci kedua Cupin temukan pada pemikir budaya Jerman, Aleida Assmann. Lewat karyanya Cultural Memory and Western Civilization, Assmann membedakan memori fungsional yang sengaja diaktifkan dari memori arsip yang tersimpan tetapi jarang dibuka.

Cupin pun paham. Secara kolektif, bangsa Indonesia memilih mengaktifkan Habibie sang jenius dan sang kekasih, sembari menempatkan kontroversi politiknya di laci arsip yang jarang disentuh.

Film Habibie & Ainun yang tayang pada 2012 mempercepat proses itu. Ingatan publik bergeser dari ranah politik yang membelah menuju ranah cinta yang menyatukan, sebuah perpindahan yang bisa disebut sublimasi sipil.

Cupin lalu membandingkannya di kandang sendiri. Soekarno dikenang lewat karisma politik, Soeharto lewat pembangunan, sementara keduanya tetap menjadi figur yang penilaiannya beragam karena modal dominannya bersifat politis.

Gus Dur, menurut Cupin, adalah pembanding terdekat karena modal moral dan gagasannya tentang pluralisme. Bedanya, Habibie memadukan dua modal non-politik sekaligus, yakni intelektual dan afektif, sehingga lapisan pelindungnya menjadi rangkap.

Cupin menyadari, pola serupa juga tampak di luar negeri. Mantan Presiden Amerika Serikat, Jimmy Carter, misalnya, dikenang lebih hangat lewat kerja kemanusiaannya yang panjang ketimbang lewat catatan masa jabatannya yang kerap dinilai biasa saja.

Cupin akhirnya merasa menemukan jawaban yang utuh. Modal politik adalah yang paling cepat lapuk karena terus dinilai ulang, sedangkan modal moral, intelektual, dan afektif jauh lebih tahan cuaca dalam ingatan kolektif.

Pada akhirnya, Cupin menutup perenungannya dengan tenang. Mekarnya citra Habibie bukanlah hasil dari kepemimpinan yang sempurna, melainkan buah dari kontribusi tulus yang dipahami semua kalangan, dan itulah pelajaran berharga yang ia tinggalkan bagi siapa pun yang mengabdi untuk bangsa ini. (A43)


spot_imgspot_img

#Trending Article

Hotel Sultan dan Mesin Uang Soeharto

Water canon, batu beterbangan, 3.161 aparat mengepung Senayan. Negara akhirnya merampungkan apa yang gagal dilakukan selama 26 tahun: merebut Hotel Sultan dari tangan keluarga Sutowo. Nilai aset Rp 28,9 triliun — eksekusi perdata terbesar dalam sejarah Indonesia. Bermula dari tipu daya: Ibnu Sutowo membangun hotel pesanan Gubernur Ali Sadikin, bukan atas nama Pertamina, melainkan atas nama PT Indobuildco milik pribadinya.

Fathimah Azzahra dan Warisan STOVIA

Seorang mahasiswi kedokteran memukau publik di panggung debat nasional. Mengapa cara bicaranya yang tenang justru terasa begitu radikal? 

Inul, Naykilla, dan Kebangkitan ‘Centil-isme’

Dari gaya dan goyang yang dulu dicekal, "centil" kini jadi identitas yang dirayakan. Apa yang sebenarnya sedang naik?

Rame “Ke-trigger” PDIP, PAN Chill

Mengapa PAN tetap santai saat partai-partai lain sibuk mengulik arah politik PDIP? Di balik sikap chill itu seakan tersimpan strategi besar, meliputi kohesi elite, jaringan kekuasaan yang terjaga, dan penguasaan atensi publik. Sebuah resep politik baru yang bisa menentukan siapa paling relevan menuju Pemilu 2029.

PAL-PINDAD-PTDI: Trinitas Industrialisasi RI?

Ketika tiga BUMN pertahanan Indonesia mencetak rekor laba di momen bersamaan, pertanyaannya bukan lagi soal alutsista — melainkan apakah Indonesia akhirnya menemukan jalan industrialisasinya sendiri. 

The One-Man Band

Lebih dari 19 jabatan selama era Jokowi — Luhut Pandjaitan kerap dikritik sebagai simbol konsentrasi kekuasaan yang tak sehat. Tapi kritik itu melewatkan satu pertanyaan kunci: bukan kenapa Luhut punya banyak jabatan, melainkan kenapa Jokowi terus memilihnya? Jawabannya bukan soal nepotisme — melainkan soal desain.

Lari lambat Kuda Fahri Hamzah?

Tiga dekade ia berderap melawan setiap kekuasaan. Ibaratkan pedang, Fahri Hamzah menggunakan mulutnya seperti pedang yang tajam. Begitu ia masuk ke dalamnya, pedang itu nampak seperti pedang yang “karatan”

Gibran “Ban Serep” yang Ngarep?

Di tengah pemerintahan yang pamornya meredup, satu figur justru rajin turun ke jalan. Kebetulan, atau ada yang sedang ia kumpulkan?

More Stories

Fathimah Azzahra dan Warisan STOVIA

Seorang mahasiswi kedokteran memukau publik di panggung debat nasional. Mengapa cara bicaranya yang tenang justru terasa begitu radikal? 

Inul, Naykilla, dan Kebangkitan ‘Centil-isme’

Dari gaya dan goyang yang dulu dicekal, "centil" kini jadi identitas yang dirayakan. Apa yang sebenarnya sedang naik?

‘Teach You a Lesson’: Fantasi Indonesia?

Serial Korea soal negara yang mengirim inspektur ke sekolah jadi sorotan. Mungkinkah fantasi itu yang sebenarnya dibutuhkan guru Indonesia?