HomeHeadlineCaleg Perindo, Aiman Main Aman?

Caleg Perindo, Aiman Main Aman?

Kecil Besar

Jurnalis senior yang selama ini lekat dengan citra kritis Aiman Witjaksono memutuskan terjun ke politik praktis dengan menjadi calon anggota legislatif dari Partai Perindo. Berkaca pada skeptisisme terhadap mereka yang berubah pasca berada di dalam ekosistem politik, apakah hal yang sama dapat terjadi pada Aiman? Serta apa maknanya bagi perpolitikan Indonesia? 


PinterPolitik.com 

Pertanyaan masih tertinggal apakah Aiman Witjaksono benar-benar dapat mengaktualisasikan daya kritisnya di dunia jurnalis, saat nanti terjun di dunia politik sebagai calon anggota legislatif (caleg) Partai Perindo. 

Ya, Aiman menjadi satu dari 580 bacaleg yang telah didaftarkan Ketua Umum (Ketum) Partai Perindo Hary Tanoesoedibjo (HT) ke Komisi Pemilihan Umum (KPU) pada 14 Mei lalu. 

Terlepas dari murni inisiatif dan panggilan Aiman untuk terjun ke politik atau bukan, yang jelas, Aiman saat ini adalah Pemimpin Redaksi MNC News dan pembawa acara AIMAN di iNews, media yang dimiliki oleh HT. 

Sebagai informasi, Partai Perindo diperkuat banyak nama pesohor di Pemilu 2024 nanti. HT menjelaskan bacalegnya terdiri dari berbagai profesi dan latar belakang yang berbeda, mulai dari dari publik figur, purnawirawan, hingga jurnalis. 

Dari deretan artis, terdapat nama Vicky Prasetyo, Aldi Taher, Venna Melinda, dan lain lain. Sementara dari kalangan jurnalis, selain Aiman, terdapat nama Prabu Revolusi, Dian Mirza, serta Ratu Nabila. 

Kembali ke Aiman, sebagai salah satu sosok prominen di dunia jurnalisme investigasi yang terkenal sangat kritis dan tajam dalam membedah suatu peristiwa, statusnya itu kini menjadi perdebatan tersendiri. Utamanya, mengenai mereka yang mempertanyakan keberpihakan dan hakikat jurnalis itu sendiri yang disebut harus netral maupun independen. 

mengapa perindo sangat percaya diri ed.

Merespons hal itu, Aiman memastikan tetap akan menjaga etika sebagai jurnalis, yakni akan nonaktif sebagai wartawan saat kampanye Pemilu 2024 resmi dimulai. 

“Terkait Pencalegan saya di @PartaiPerindo. Saya menyatakan tetap berkomitmen untuk menjaga etika. Saya akan nonaktif sebagai wartawan pada saat memulai masa kampanye hingga pencoblosan usai,” begitu penjelasan Aiman di akun Twitter @AimanWitjaksono pada 14 Mei 2023. 

Akan tetapi, skeptisisme terhadap posisi Aiman sebagai jurnalis dan keberpihakannya pasca berpolitik tampak tak relevan jika ditelaah esensinya secara mendalam. Mengapa demikian? 

Jurnalis Harus Memihak? 

Penilaian atas keterlibatan seorang jurnalis dalam politik praktis agaknya memang terkait dengan etika. Namun, kiranya terdapat satu kesalahpahaman mengenai posisi jurnalis yang pada hakikatnya harus memihak. 

Dalam koridornya, jurnalis dituntut untuk independen, bukan netral. Jika netral berarti tidak melakukan dan menunjukkan sikap apa-apa, independen memiliki makna bebas dari kepentingan apapun selain memihak kepentingan publik dan kebenaran. 

Untuk sampai pada esensi โ€œjurnalis memang harus memihakโ€, utamanya dalam politik, buku karya Brian McNair yang berjudul An Introduction to Political Communication kiranya dapat membantu memahaminya. 

McNair mengatakan media dan jurnalis sesungguhnya tidak sekadar memberitakan, dengan cara yang netral dan tidak memihak tentang apa yang terjadi di arena politik di sekitar mereka, melainkan wajib larut dalam telaah kritis yang membentuk realitas subjektif tertentu. 

Baca juga :  Udara di Atas Tanah Sendiri

Peristiwa politik sendiri, seperti kategori realitas lainnya, sarat dengan pemberian nilai, subjektivitas, dan โ€“ sayangnya โ€“ bias. 

jokowi terhipnotis mars perindo ed.

Lynda Kaid, Jacques Gerstle, dan Keith R. Sanders dalam Mediated Politics in Two Cultures memberikan semacam petunjuk dalam memandang ‘realitas’ politik yang mana terdiri dari tiga kategori. 

Pertama, tentang realitas politik objektif, yang terdiri dari peristiwa-peristiwa politik yang sebenarnya terjadi. Kedua, realitas subyektif sebagai penggambaran peristiwa politik yang dirasakan oleh aktor di dalamnya dan masyarakat secara umum. 

Terakhir, telaah kritis terhadap pembentukan kategori persepsi subjektif yang kedua, yakni realitas yang dikonstruksikan. Ini lah yang berarti peristiwa-peristiwa yang diliput oleh media dan para jurnalis. 

Oleh karena itu, McNair menyebut media dan para jurnalis dalam masyarakat demokratis berfungsi sebagai saluran advokasi sudut pandang politik. 

Bagaimanapun, potensi bias sendiri tak dapat dihindari dari peran jurnalis dalam sebuah pemberitaan dan perannya dalam politik serta demokrasi. 

Selama ini, bias dalam dunia jurnalisme tampak memiliki korelasi dengan nihilnya konsep skin in the game (ikut terlibat langsung dalam permainan) sebagaimana dijelaskan Nassim Nicholas Taleb dalam buku yang berjudul sama. 

Mengacu pada esensi dalam buku Taleb, bias dalam jurnalisme adalah akibat dari kurangnya skin in the game seorang jurnalis dalam mengaktualisasikan perannya. 

Penghasilan jurnalis tidak bergantung pada seberapa banyak informasi berguna dan akurat yang mereka sampaikan kepada publik, melainkan bergantung pada seberapa baik mereka memenuhi harapan pemberi kerja. 

Hal itu pula yang kiranya berpotensi meninggalkan impresi kontraproduktif ketika para jurnalis memutuskan untuk terlibat langsung dalam politik praktis dan menjadi seorang politisi. 

Bias ini lah yang masih โ€œmencemariโ€ langkah keberpihakan jurnalis, termasuk keterlibatan mereka dalam politik secara aktif. 

Umumnya, mereka yang memutuskan berpihak atau โ€œbanting stirโ€ untuk terjun menjadi politisi telanjur mendapat sentimen tertentu dan memaksa mereka melepaskan atribut profesi sebagai jurnalis, bahkan tak jarang untuk selamanya. 

Padahal, jika dimaknai lebih dalam, peran aktif keberpihakan mereka sebagai jurnalis akan lebih paripurna dengan keterlibatan langsung mereka dalam โ€œpermainanโ€ atau yang disebut sebagai skin in the game tadi. 

Di titik ini, langkah Aiman untuk menjadi caleg Partai Perindo kiranya dapat dipahami sebagai sebuah hakikat keberpihakan seorang jurnalis dalam dimensi tertentu. 

Keputusan Aiman untuk nonaktif sebagai jurnalis saat proses politik berlangsung nanti pun kiranya lebih ditujukan untuk menghindari presumsi minor. Tentu yang dapat mengarah pada stigma atas irisan profesionalitas dan politik yang sesungguhnya kurang tepat jika mengacu pada analisis di atas. 

Akan tetapi, terlepas daripada itu, satu pertanyaan berikutnya muncul untuk memproyeksikan arah politik keberpihakan Aiman sebagai ikon barisan โ€œjurnalis konversi jadi politisiโ€ Partai Perindo andai nantinya lolos ke parlemen. 

Aiman Loyalis HT? 

Meutya Hafid adalah salah satu nama jurnalis prominen tanah air yang sukses menjadi politisi. Mengawali pengalaman getir saat debutnya di dunia politik harus berbuah kekalahan di Pemilihan Wali Kota Binjai 2010, Meutya yang sudah berstatus kader Partai Golkar mendapat penawar saat berhasil melenggang ke DPR sebagai Pengganti Antar Waktu (PAW) Burhanudin Napitupulu di tahun yang sama. 

Baca juga :  The Grand Banten Model, Dinasti-Prosperity

Sekarang, dirinya telah mengampu jabatan mentereng di parlemen sebagai Ketua Komisi I DPR periode 2019-2024. 

Terdapat satu cerita menarik di balik karier politik Meutya yang kiranya dapat menjadi refleksi analisis terhadap proyeksi tapak politik Aiman kelak. 

Saat bergabung dengan Partai Golkar, Meutya juga terlibat di organisasi massa Nasional Demokrat (NasDem) yang didirikan atasannya saat berkarier sebagai jurnalis di Metro TV, Surya Paloh. 

Setelah NasDem berubah menjadi partai politik (parpol), Meutya memutuskan untuk tak hengkang dari Partai Golkar dan memilih mundur dari NasDem. 

Korelasi di antara Surya dan Meutya agaknya serupa tapi tak sama dengan apa yang terjadi pada HT dan Aiman. 

Akan tetapi, konteks relasi Aiman-HT kiranya lebih terkait simbiosis mutualisme positif, baik dalam dunia profesional maupun politik serta prospek ke depannya. 

Untuk memahami hal tersebut dan bagaimana dinamikanya nanti, pijakan konsep capital atau modal dari Sosiolog Prancis Pierre Bourdieu agaknya tepat menjadi landasan utama. 

Bourdieu memperkenalkan gagasan modal, yang didefinisikan sebagai jumlah aset tertentu dari individu yang dapat digunakan secara produktif dan mengacu pada beberapa bentuk seperti ekonomi, simbolik, budaya, dan sosial. 

Saat sampai pada derajat tertentu, sederet aset itu dapat dikonversi menjadi modal politik yang potensial.

Dari konsep tersebut, Aiman dan HT tampaknya memang telah memiliki modal masing-masing untuk berkolaborasi secara konstruktif dan ideal dalam politik. 

Terlepas dari probabilitas โ€œkompromiโ€ spesifik di balik keputusan Aiman terjun ke politik praktis bersama HT dan Partai Perindo, gentlemanโ€™s agreement bisa saja menjadi salah satu pemantiknya. 

Seperti diketahui, Aiman mengawali karier jurnalistiknya di RCTI pada tahun 2002. Setahun berselang, HT didapuk sebagai Presiden Direktur di MNC dan RCTI. Sejak saat itu, hubungan keduanya terbangun hingga Aiman comeback ke MNC pada 1 November 2022 setelah satu dekade bersama Kompas TV. 

Mendapatkan promosi sebagai Pemimpin Redaksi MNC News dan Wakil Pemimpin Redaksi iNews, Aiman kiranya melandasi keputusannya terjun ke politik berkat justifikasi khusus, yakni keberpihakan, skin in the game, sekaligus gentlemanโ€™s agreement

Bagaimanapun, Aiman yang kemungkinan akan menjadi loyalis HT jika berhasil melenggang ke Parlemen, kiranya akan memiliki haluan politik yang selalu selaras dengan Partai Perindo plus kebijakan koalisi yang diikutinya. 

Di 2024 nanti, Partai Perindo sendiri telah sepakat mengusung Ganjar Pranowo. Oleh karenanya, kini, terdapat dua kemungkinan arah politik Aiman jika terpilih sebagai anggota parlemen. 

Pertama, Aiman akan turut โ€œmengawalโ€ pemerintah jika Ganjar terpilih sebagai Presiden Ke-8 RI. Kedua, jika Ganjar kalah, Aiman boleh jadi akan menjadi kritikus ulung bagi aktor eksekutif terpilih, atau akan bergantung pada haluan politik Partai Perindo berikutnya yang bisa saja beralih ke koalisi pemenang. 

Akan tetapi, penjabaran di atas masih sebatas interpretasi semata. Menarik untuk menantikan sejauh mana Aiman akan memberikan warna dalam politik dan Pemilu 2024. (J61) 

spot_imgspot_img

#Trending Article

‘Teach You a Lesson’: Fantasi Indonesia?

Serial Korea soal negara yang mengirim inspektur ke sekolah jadi sorotan. Mungkinkah fantasi itu yang sebenarnya dibutuhkan guru Indonesia?

IPDN, Bima, & Si Paling Berhak?

Pernyataan Bima Arya sontak memantik debat lama, apakah pendidikan birokrasi memberi hak lebih besar untuk memimpin daerah? Dari IPDN, meritokrasi, hingga legitimasi demokrasi, membuka pertanyaan mengenai apakah yang paling siap berdasarkan โ€œijazah birokratโ€ otomatis menjadi yang paling berhak memimpin rakyat?

Najwa Shihab dan Kebangkitan Gossip-cracy

Najwa Shihab diam soal aksi 12 Juni, lalu dituding "antek". Benarkah publik sedang salah alamat dalam menagih pertanggungjawaban?

Golkar, Chandradimuka The Fixer?

Presiden datang dan pergi, tetapi satu fungsi selalu bertahan, the fixer. Dari Orde Baru hingga era Presiden Prabowo, Indonesia terus melahirkan operator negara yang menjembatani politik, birokrasi, dan ekonomi. Mengapa begitu banyak figur tersebut berasal dari Partai Golkar? Di sinilah kisah tentang "kawah chandradimuka" para pengelola kekuasaan dimulai

Jalan-jalan dengan Sepatu Roda ‘Girl Power’

Lagu "rollerblade" (2026) milik no na meledak jadi meme nasional. Kenapa justru girl group yang kini menguasai dunia?ย 

Prabowo dan Ancaman Stochastic Parrot

Dengarkan artikel ini: Sejak Pertamax resmi naik dari Rp 12.300 menjadi Rp 16.250 per liter pada 10 Juni 2026, gelombang demo mahasiswa meledak di Jakarta,...

Kerajaan Abadi Raja Ponsel Indonesia

Dengarkan artikel berikut. Audio ini dibuat dengan teknologi AI. Sugianto Kusuma mungkin bukan nama yang Anda ingat saat membeli iPhone. Tapi dialah yang berdiri di balik...

Jebakan Rindu Soeharto?

Demokrasi sudah 28 tahun berjalan, tapi foto Soeharto di sawah itu masih terus beredar di WhatsApp. Ekonom senior Ferry Latuhihin menyatakan menyesal ikut menjatuhkan Soeharto โ€” dan Mahfud MD tidak mau meralat pernyataannya bahwa korupsi era reformasi "lebih gila" dari Orde Baru. Ada pertanyaan filosofis yang lebih dalam di balik semua ini: bukan siapa yang lebih baik, tapi mengapa negara yang lebih bebas justru terasa lebih tidak hadir?

More Stories

IPDN, Bima, & Si Paling Berhak?

Pernyataan Bima Arya sontak memantik debat lama, apakah pendidikan birokrasi memberi hak lebih besar untuk memimpin daerah? Dari IPDN, meritokrasi, hingga legitimasi demokrasi, membuka pertanyaan mengenai apakah yang paling siap berdasarkan โ€œijazah birokratโ€ otomatis menjadi yang paling berhak memimpin rakyat?

Golkar, Chandradimuka The Fixer?

Presiden datang dan pergi, tetapi satu fungsi selalu bertahan, the fixer. Dari Orde Baru hingga era Presiden Prabowo, Indonesia terus melahirkan operator negara yang menjembatani politik, birokrasi, dan ekonomi. Mengapa begitu banyak figur tersebut berasal dari Partai Golkar? Di sinilah kisah tentang "kawah chandradimuka" para pengelola kekuasaan dimulai

Runtuhnya Empire Sawit Singapura?

Kebijakan DSI mengguncang arsitektur lama perdagangan sawit Asia Tenggara. Saat saham konglomerat sawit berbasis Singapura melemah, Indonesia mulai merebut kembali nilai yang selama puluhan tahun mengalir ke luar negeri. Apakah ini awal runtuhnya empire sawit Singapura dan lahirnya era baru geoekonomi Indonesia?