Support Us

Available for Everyone, funded by readers

Contribute
E-Book
Home > In-Depth > Berbeda dengan TGB, UAS Tiru Siapa?

Berbeda dengan TGB, UAS Tiru Siapa?


R53 - Thursday, December 3, 2020 21:36
Ustad Abdul Somad (UAS) bersama dengan Tuan Guru Bajang (TGB) Muhammad Zainul Majdi (Foto: Ngopibareng.id)

0 min read

Cukup mengejutkan, Ustaz Abdul Somad (UAS) tiba-tiba memberikan dukungan terbuka kepada pasangan Akhyar-Salman di Pilkada Medan 2020. Praktis, UAS saat ini diametral dengan menantu Presiden Jokowi, Bobby Nasution. Mungkinkah ini langkah awal UAS untuk lebih aktif dalam politik praktis?


PinterPolitik.com

Pada 2018 lalu, publik kedatangan wajah baru politisi. Di tengah kebangkitan politik Islam, mantan Gubernur Nusa Tenggara Barat (NTB) Muhammad Zainul Majdi atau yang akrab disapa Tuan Guru Bajang (TGB) jamak digadang-gadang akan menjadi kandidat calon wakil presiden.

Namun, manuver mengejutkan terjadi. Politisi Partai Demokrat tersebut justru mendukung Joko Widodo (Jokowi) di Pilpres 2019. Sontak saja, itu melangkahi putusan partai yang bahkan belum menentukan arah dukungan.

Tidak lama berselang, TGB kemudian mengundurkan diri dari partai berlambang Mercedes dan memilih bergabung dengan Partai Golkar. Praktis, Ia kemudian seirama dengan partai beringin yang sama-sama mendukung mantan Wali Kota Solo tersebut.

Keputusan itu mengejutkan karena saat itu TGB mendapat dukungan masif dari mereka yang kontra dengan kubu Jokowi. Imbasnya, dalam survei Median, elektabilitas TGB turun drastis menjadi 0,2 persen, padahal sebelumnya mencapai 2,5 persen.

Baru-baru ini, manuver mengejutkan juga diperlihatkan Ustaz Abdul Somad (UAS) dengan menyatakan dukungan terbuka kepada pasangan Akhyar Nasution-Salman Al Farisi (AMAN) di Pilkada Medan 2020. Sebelumnya, UAS bahkan masuk dalam tim kampanye pasangan calon (paslon) Bupati dan Wakil Bupati Hafit-Erizal di Pilkada Rokan Hulu, Riau.

Manuver ini terbilang mengejutkan karena berbeda dengan TGB yang memang terjun dalam politik praktis, UAS diketahui tidak tergabung dan tidak pernah terafiliasi dengan partai politik (parpol) mana pun.

Tentu pertanyaannya, mengapa saat ini UAS tiba-tiba memutuskan memberi dukungan terbuka seperti itu? Apakah itu indikasi UAS akan lebih aktif ke depannya dalam politik praktis?

Kalkulasi Politik TGB?

Seperti yang disebutkan, TGB dan UAS memiliki perbedaan yang cukup signifikan. Yang pertama memang telah lama malang melintang di dunia politik, sedangkan UAS diketahui tidak ingin dikait-kaitkan dengan politik praktis. Namun mengapa UAS justru terang-terang menunjukkan ketertarikan dengan politik praktis saat ini?

Pada kasus TGB, ada satu pertanyaan kuat yang mencuat, mengapa Ia justru memilih mendukung Jokowi dan tidak memperhitungkan potensi pengusungan dirinya. Saat itu, Mahfud MD dan UAS bahkan secara terang-terangan mendukung jika TGB maju di Pilpres 2019. Selain itu, keputusan tersebut juga mendatangkan backlash karena politisi karismatik tersebut mendapatkan berbagai kekecewaan dari pendukungnya.

C. A. Rootes dalam tulisannya Political Opportunity Structures: Promise, Problems and Prospects menjelaskan bahwa keputusan politik pada dasarnya memiliki suatu pola (pattern) atau struktur, sehingga dapat dikalkulasi – disebut political opportunity structure atau struktur peluang politik. Menurutnya, peluang yang diambil politisi, kendati tidak dapat disebut permanen atau formal, namun memiliki konsistensi karena keputusan didasarkan pada kalkulasi untung-rugi atau sukses-gagal.

Mengacu pada Rootes, pada kasus manuver mengejutkan TGB, tentu harus dipertanyakan, pertimbangan apa yang membuatnya membuang potensi pengusungan dan mempertaruhkan dukungan publik terhadapnya? 

Di sini kemungkinan besar TGB mempertimbang legacy pembangunan. Pasalnya, dengan akhir masa jabatan pada 2018, Ia harus dapat memastikan agar pembangunan di NTB mendapat dukungan, khususnya dari pemerintah pusat.

Ini juga tampaknya menjelaskan mengapa TGB memilih Partai Golkar sebagai pelabuhan selanjutnya. Selain faktor dapat lebih berkembang karena partai beringin bukan parpol yang mengandalkan ketokohan seperti Demokrat, Golkar sampai saat ini adalah parpol yang disebut paling dekat dengan Presiden Jokowi. Jika nantinya hengkang dari PDIP, Golkar tampaknya adalah tempat yang ideal bagi mantan Wali Kota Solo tersebut.

Jika memilih mengikuti arus massa dan mendukung Prabowo Subianto, dengan mempertimbangkan dalamnya polarisasi politik saat itu, ada kemungkinan dukungan pembangunan akan sulit didapatkan dari pemerintah pusat.

Dan sepertinya terbukti, pada Maret 2019, Presiden Jokowi menyampaikan dukungannya kepada NTB untuk menjadi tuan rumah MotoGP di 2021. Selain itu, mantan Wali Kota Solo tersebut juga menjanjikan tiga infrastruktur untuk mendukung perhelatan tersebut, yakni pelabuhan, jalur bypass BIL (Bandara Internasional Lombok) ke Kuta, dan perpanjangan runway bandara.

Konteks tersebut juga diperkuat dengan Gubernur dan Wakil Gubernur NTB selanjutnya, Zulkieflimansyah dan Sitti Rohmi Djalilah yang juga menyampaikan dukungan terhadap Jokowi di Pilpres 2019. Pasangan itu sendiri adalah pilihan TGB di Pilgub NTB 2018.

Menariknya, Zulkieflimansyah mengaku telah dekat dengan Presiden Jokowi sejak sang presiden masih menjabat sebagai Wali Kota Solo.

Berbeda dengan TGB?

Nah, berbeda dengan TGB yang memiliki kalkulasi dan beban politik, kasus UAS tampaknya sedikit berbeda. Kendati tetap bertolak atas prinsip untung-rugi, kalkulasi UAS tampaknya lebih condong pada kalkulasi psikologis daripada politis. Alasannya jelas, yakni Ia tidak memiliki beban sebagai kader parpol, ataupun ambisi meninggalkan legacy layaknya kepala pemerintahan.

Di sini, UAS mungkin telah mengalami kalkulasi psikologis yang disebut dengan loss aversion. Rolf Dobelli dalam bukunya The Art of Thinking Clearly menyebutkan bahwa loss aversion adalah fenomena psikologis ketika ketakutan kehilangan sesuatu lebih memotivasi seseorang dibanding dengan prospek mendapatkan keuntungan. 

Daniel Kahneman dan Amos Tversky dalam Prospect Theory menyebut loss aversion ini dengan slogan losses loom larger than gains atau kerugian terlihat lebih besar daripada keuntungan.

Jika benar UAS tengah mengalami loss aversion, besar kemungkinan Ia menilai bahwa mendukung pasangan AMAN adalah kesempatan yang tidak boleh disia-siakan. Konteks tersebut diperkuat dengan pernyataan anggota Satgas Pilkada Sumatera 1 DPP Partai Demokrat, Syahrial Nasution bahwa UAS mendukung Akhyar-Salman demi kemaslahatan umat dan kebaikan Kota Medan.

Mengacu pada loss aversion yang menekankan pada adanya pengorbanan keuntungan yang mungkin di masa depan, keuntungan apa yang sekiranya dikorbankan UAS?

Itu tampaknya adalah keuntungan untuk tidak diserang karena terlibat dalam politik praktis. Apalagi, dengan AMAN yang menjadi rival Bobby Nasution-Aulia Rachman, yang mana Bobby adalah menantu Presiden Jokowi, dukungan tersebut mudah saja ditafsirkan sebagai pesan politik untuk mengkritik pemerintahan Jokowi.

Pasalnya, isu politik dinasti begitu lekat dikaitkan kepada pasangan yang didukung oleh koalisi besar tersebut. Berbeda dengan Akhyar-Salman yang hanya didukung oleh PKS dan Demokrat, Bobby-Aulia didukung delapan parpol, yakni PDIP, Golkar, NasDem, PAN, Hanura, PSI, PPP, dan Gerindra.

Konteks tersebut dapat kita tarik dari pengakuan UAS yang menyebut mendapat berbagai perlakuan diskriminatif usai menyampaikan dukungan kepada Prabowo Subianto di Pilpres 2019 lalu. Setelah gelaran Pilpres berakhir, UAS bahkan disebut memutuskan untuk rehat sejenak tampil dari sorotan publik. Namun belakangan diketahui, rehat tersebut ternyata karena UAS sedang melanjutkan studi doktor di Sudan, tepatnya di Omdurman Islamic University (OIU).

Selain faktor loss aversion, terdapat satu faktor psikologis lagi yang tampaknya membuat UAS tiba-tiba terjun dalam politik praktis, yakni ingin mengikuti langkah Habib Rizieq Shihab (HRS). Pasalnya, bukan rahasia lagi kalau UAS memang mengidolakan Imam Besar Front Pembela Islam (FPI) tersebut.

Dalam berbagai kesempatan, Ia memuji HRS sebagai ulama yang sangat berani dalam mendakwahkan nahi mungkar, yakni mengajak menjauhi larangan agama. Mengacu pada HRS yang terlibat dalam politik praktis, khususnya sejak 2017, boleh jadi telah membuat UAS tergugah untuk mengikuti Sang Habib.

Apalagi, ketika TGB memberikan dukungan kepada Jokowi pada 2018 lalu, UAS dengan singkat menjawab, “Tunggu HRS”. Itu jelas menunjukkan bahwa UAS memberikan nilai yang begitu tinggi terhadap pilihan HRS.

Namun, jika memilih faktor psikologis apa yang lebih dominan memengaruhi UAS, kemungkinan besar adalah yang kedua. Pasalnya, faktor loss aversion merupakan konsekuensi dari keinginannya untuk mengikuti langkah HRS. Tentunya dengan catatan jika itu benar.

Kendati demikian, jika ingin melihat dari kacamata politik praktis, dapat pula ditafsirkan bahwa UAS mulai mencari backing-an politik. Mengacu pada Demokrat dan PKS yang mendukung Akhyar-Salman dan merupakan parpol oposisi saat ini, kedua parpol tersebut dapat memberi perlindungan politik kepada UAS.  

Pada akhirnya, mungkin dapat disimpulkan bahwa manuver mengejutkan TGB dan UAS memiliki perbedaan pada konteks presedennya. Yakni TGB lebih dimotivasi oleh kalkulasi politik, sedangkan UAS dimotivasi oleh kalkulasi psikologis. Meskipun begitu, kalkulasi politik dan psikologis tentunya tidak dapat dipisahkan secara tegas.

Akan tetapi, menimbang pada analisis dalam tulisan ini membahas ranah psikologis, tentunya begitu sulit untuk mengkonfirmasi kebenarannya, terkecuali itu diakui oleh pihak yang bersangkutan. Artinya, analisis ini pada dasarnya hanyalah deduksi semata atau bersifat asumtif.

Bagaimana pun, manuver mengejutkan kedua ulama tersebut tetap saja menjadi objek interpretasi sendiri di tengah diskursus politik nasional. Menarik untuk ditunggu kelanjutannya. (R53)

► Ingin lihat video menarik lainnya? Klik di bit.ly/PinterPolitik

Ingin tulisanmu dimuat di rubrik Ruang Publik kami? Klik di bit.ly/ruang-publik untuk informasi lebih lanjut.

Berita Terkait