Support Us

Available for Everyone, funded by readers

Contribute
E-Book
Home > In-Depth > Amarah Netizen Bayangi Jokowi?

Amarah Netizen Bayangi Jokowi?

Seri Pemikiran John Mearsheimer

A43 - Monday, June 28, 2021 19:45
Presiden Joko Widodo (Jokowi) ketika melakukan video call dengan dr. Faisal Rizal Matondang, Sp.P dan membahas perihal situasi penanganan Covid-19 di rumah sakit. (Foto: BPMI)

0 min read

Sejumlah warganet (netizen) Indonesia mengecam keras seri drama Korea Selatan (Korsel) yang berjudul Racket Boys (2021-sekarang) karena dinilai diskriminatif terhadap Indonesia. Mungkinkah galaknya para netizen ini bayangi pemerintahan Joko Widodo (Jokowi) di kemudian hari?


PinterPolitik.com

“Hills have eyes. The hills have eyes” – The Weeknd, “The Hills” (2015)

Warganet (netizen). Kata ini biasa digunakan untuk menyebut mereka yang menjadi penduduk dalam ruang dunia maya. Biasanya, istilah “warganet” ini merujuk pada orang-orang yang secara aktif terlibat dalam ruang publik yang terbentuk melalui platform media sosial (medsos) atau media baru (new media).

Meski sebenarnya istilah ini bersifat netral, konotasi negatif juga melekat pada kata ini. Bagaimana tidak? Banyak pihak menggunakan istilah “netizen” sebagai pengguna-pengguna medsos yang sangat “berkuasa”.

Dalam hal ini, netizen dinilai sangat berpengaruh dalam memengaruhi diskursus di dunia maya. Bahkan, netizen dianggap memperkeruh ruang publik dunia maya dengan berbagai konten negatif, seperti berita bohong (hoaks).

Tidak jarang, saking berpengaruhnya netizen di Indonesia, sejumlah pihak menilai  netizen sering membuat onar di ruang daring (online). Salah satunya adalah sebuah survei yang dilakukan oleh Microsoft.

Survei yang dilakukan sepanjang tahun 2020 itu menyebutkan  netizen Indonesia merupakan kelompok warganet yang dianggap paling tidak sopan di kawasan Asia Tenggara dalam berjejaring di medsos. Dari 32 negara, Indonesia menempati posisi ke-29 sebagai kelompok warganet yang memiliki tingkat kesopanan yang rendah.

Sontak saja, para warganet Indonesia tidak terima. Sejumlah akun Instagram yang berasal dari Indonesia langsung menyerang akun Instagram milik Microsoft. Berbagai komentar buruk masuk ke kolom komentar – membuat akun tersebut menonaktifkan komentar di akunnya.

Baca Juga: McD-BTS Meal, Jokowi Perlu Waspada?

Hebatnya Kuasa Netizen Indonesia

Tidak hanya fenomena survei Microsoft, warganet baru-baru ini juga menyerang seri drama asal Korea Selatan (Korsel) yang berjudul Racket Boys (2021-sekarang). Seri drama tersebut dinilai bertindak diskriminatif terhadap Indonesia dalam salah satu episodenya.

Tepatnya dalam episode kelima, Indonesia sebagai tuan rumah perlombaan bulu tangkis digambarkan bersifat tidak adil pada kontingen Korsel. Bahkan, para pendukung (supporters) atlet Indonesia dinilai bersikap seenaknya sendiri karena mengolok kontingen Korsel.

Persoalan bulu tangkis ini juga bukan hanya sekali ini saja menjadi perhatian para warganet. Dalam polemik All England 2021 – di mana kontingen Indonesia dipaksa mundur, warganet juga mengecam keras Badminton World Federation (BWF) karena dinilai bersikap tidak adil.

Masuk akal sebenarnya apabila warganet Indonesia turut berjuang membela negaranya. Namun, sikap keras ala warganet ini menimbulkan sejumlah pertanyaan – khususnya mengapa fenomena-fenomena ini terjadi.

Apa yang membuat para warganet Indonesia bersikap keras di ruang siber seperti medsos? Lantas, apakah sikap reaktif para pengguna dunia maya ini memiliki konsekuensi dan kesempatan strategis bagi pemerintahan Joko Widodo (Jokowi)?

Menyoal Cyber-nationalism

Apa yang terjadi dalam sikap-sikap keras yang ditunjukkan oleh para warganet Indonesia ini bisa tergolong sebagai cyber-nationalism (nasionalisme siber). Nasionalisme jenis ini secara sederhana dapat dipahami sebagai nasionalisme yang menggunakan jejaring maya (internet) sebagai wadahnya.

Konsep nasionalisme siber ini dibahas juga lebih lanjut oleh M.F. Palmer dalam tulisannya yang berjudul Cyber-nationalism: Terrorism, Political Activism, and National Identity Creation in Virtual Communities and Social Media. Palmer menyebutkan bahwa medsos kini menjadi ruang spasial di mana nasionalisme dapat tersebar – menciptakan partisipasi sipil di dunia maya.

Fitur utama dalam nasionalisme sendiri adalah pembedaan antara “kita” dengan “mereka”. Pembedaan ini terjadi melalui produksi kebudayaan (cultural production) yang berujung pada perasaan memiliki (belonging) dan identitas serta keunikan nasional (national identity).

Meminjam istilah yang digunakan oleh Michael Billig, Palmer menyebutkan bahwa ada jenis nasionalisme yang disebut sebagai banal nationalism. Berbeda dari nasionalisme secara tradisional yang terbentuk melalui mitos dan keyakinan akan asal-usul nasional, nasionalisme banal ini dibentuk melalui penciptaan ulang (reproduction) atas simbol, gambar, dan hal-hal lain yang merepresentasikan sebuah bangsa di ruang media baru.

Salah satu fenomena nasionalisme siber yang paling terlihat adalah bagaimana para warganet Republik Rakyat Tiongkok (RRT) menyerang berbagai pihak – entah perusahaan atau individu – yang dianggap mengancam kedaulatan negaranya. Salah satunya adalah Versace yang terpaksa meminta maaf ketika produknya mengidentifikasikan Hong Kong sebagai negara yang terpisah.

Mengapa nasionalisme siber ala warganet Tiongkok ini dapat terjadi? Bukan tidak mungkin, sikap keras para warganet ini terbentuk melalui perasaan memiliki (sense of belonging) terhadap negaranya – di mana Hong Kong dan Taiwan dianggap sebagai bagian dari satu kesatuan Tiongkok (One China).

Selain itu, bisa jadi, nasionalisme siber ini terbangun melalui produksi ulang atas simbol dan gambar nasionalistis yang ada di ruang media baru – seperti yang dijelaskan oleh Billig. Ini terlihat dari bagaimana meme-meme nasionalistis tersebar di medsos Tiongkok seperti Weibo kala demonstrasi besar-besaran di Hong Kong terjadi pada tahun 2019.

Baca Juga: Biden Tantang Xi Jinping, Jokowi?

Lantas, bila nasionalisme siber di Tiongkok ini terjadi akibat reproduksi simbol dan gambar nasionalistis, bagaimana dengan Indonesia? Apakah nasionalisme siber warganet Indonesia memiliki konsekuensi strategis?

Bila bercermin pada fenomena nasionalisme siber di Tiongkok, bukan tidak mungkin hal yang sama juga terjadi di Indonesia. Pasalnya, sudah menjadi rahasia umum bahwa produksi kebudayaan ala masyarakat Indonesia juga diterjemahkan dalam kehidupan sehari-hari di dunia maya.

Dalam hal ini, bila mengacu pada penjelasan Palmer, nilai-nilai yang melekat di masyarakat Indonesia akan juga tersalurkan di ruang media baru. Budaya gotong royong, misalnya, disebut oleh Gumisawa Hideo dalam tulisannya yang berjudul On the Thought of ‘Gotong Royong’ sebagai salah satu konsep yang ditanamkan dalam gagasan nasionalisme Indonesia dari masa ke masa.

Di samping produksi kebudayaan dari nilai Gotong Royong, nasionalisme banal juga bisa saja memengaruhi nasionalisme siber ala Indonesia. Jika diperhatikan, sebagian besar bidang yang disoroti oleh para warganet adalah bidang-bidang yang biasa menjadi kebanggaan Indonesia, seperti bulu tangkis dan sepak bola.

Boleh jadi, bidang-bidang olahraga ini merupakan simbol dan gambaran akan identitas nasional yang terus diproduksi ulang dalam media baru. Lagipula, dalam sejarahnya, Indonesia kerap dianggap sebagai ‘raksasa’ dalam bidang-bidang olahraga ini, khususnya bulu tangkis.

Menjadi masuk akal apabila nasionalisme siber warganet Indonesia sangat kental di bidang-bidang ini. Belum lagi, ada juga sentimen negatif soal perasaan memiliki terhadap sejumlah negara seperti Malaysia – negara yang kerap menjadi sasaran sikap keras dari para warganet Indonesia.

Bayangi Jokowi?

Terlepas dari nasionalisme siber ini, bukan tidak mungkin sifat warganet Indonesia ini memiliki konsekuensi strategis. Pasalnya, dalam politik internasional di era kontemporer ini, ruang gagasan – khususnya di dunia maya – juga menjadi instrumen yang digunakan dalam persaingan antara dua negara adidaya, yakni Amerika Serikat (AS) dan Tiongkok.

Nasionalisme siber ala Tiongkok atas Hong Kong dan Taiwan, misalnya, dinilai menjadi salah satu alat politis Partai Komunis Tiongkok untuk melawan gagasan-gagasan dari AS dan Barat yang – kurang lebih – mengatakan bahwa Hong Kong dan Taiwan berbeda dari Tiongkok daratan (mainland). Perang gagasan ini bisa saja terbawa ke Indonesia suatu saat nanti.

Apalagi, mengacu ke penjelasan Sarah Kreps dalam tulisannya yang berjudul Social Media and International Relations, medsos tentu juga dapat menjadi sebuah alat perang di politik antarnegara. Setidaknya, Kreps menjelaskan potensi medsos ini melalui perang propaganda yang terjadi antara AS dan Uni Soviet pada Perang Dingin dulu.

Pertempuran di ruang gagasan ini bisa jadi menjadi upaya perebutan kekuatan lunak (soft power) – kemampuan suatu negara untuk membuat negara lain memiliki kemauan yang sama. Dengan adanya kekuatan lunak ini, profesor politik dari University of Chicago, John J. Mearsheimer, menyebutkan bahwa kekuatan ini pasti perlu digunakan oleh negara yang cerdik – dengan kombinasi bersama kekuatan keras (hard power) seperti kemampuan militer.

Baca Juga: Membaca Siapa “Musuh” Jokowi

Berani Lawan Netizen Indonesia

Uniknya lagi, pertempuran di ruang medsos ini bisa saja didominasi oleh AS sebagai pembuat jaringan dengan perusahaan-perusahaan teknologi seperti Facebook, Google, dan Twitter di belakang pemerintahan Joe Biden. Kekuatan ini disebut oleh Manuel Castells sebagai kekuatan yang tertanam di sebuah masyarakat jaringan (network society).

Bila benar AS akan menguasai ruang media baru di Indonesia, bisa saja nasionalisme siber ini akan menghantui pemerintahan Jokowi di kemudian hari. Sentimen negatif terhadap Tiongkok, misalnya, bukan tidak mungkin akan menghambat berbagai kerja sama infrastruktur antara Indonesia dan negara yang dipimpin Presiden Xi Jinping itu.

Apalagi, isu banyak masuknya tenaga kerja asing (TKA) asal Tiongkok kerap menarik perhatian masyarakat tidak hanya di media massa, melainkan juga di medsos. Isu ini bisa dibilang mencuat terus-menerus dari tahun ke tahun.

Bila benar sentimen ini bisa membangkitkan nasionalisme siber, bukan tidak mungkin nasionalisme yang disebutkan oleh Mearsheimer dalam pidatonya kala menerima James Madison Award dapat terjadi. Bisa saja, muncul sebuah kondisi di mana masyarakat akan melihat pemimpin-pemimpinnya sebagai sosok yang tidak mempedulikan masyarakat Indonesia dan malah lebih memihak ke elite-elite asing.

Bukan tidak mungkin, situasi seperti ini akan mengancam siapapun yang berkuasa saat ini – entah itu pemerintahan Jokowi atau koalisi partai politik (parpol) di baliknya – seperti apa yang terjadi di pemilihan presiden (Pilpres) AS 2016 dengan kemunculan Donald Trump. Mari kita amati saja bagaimana kelanjutannya nanti. (A43)

Baca Juga: Jokowi di Simpang Infrastruktur dan Pandemi


► Ingin lihat video menarik lainnya? Klik di bit.ly/PinterPolitik

Ingin tulisanmu dimuat di rubrik Ruang Publik kami? Klik di bit.ly/ruang-publik untuk informasi lebih lanjut.

Berita Terkait