HomeCelotehTak Mungkin Mahfud Pendingin Politik

Tak Mungkin Mahfud Pendingin Politik

Kecil Besar

“Marilah kita tolong menolong pada perkara yang kita sepakati, dan mari kita saling menghargai pada perkara yang kita perselisihkan”.- Friedrich Nitezche


PinterPolitik.com

[dropcap]P[/dropcap]olitik di Indonesia saat ini semakin lama makin panas dan tidak ada habisnya. Tidak hanya sebelum hari pemungutan suara, hingga sekarang suhunya pun tidak turun cuy. Kok jadi kayak kompor ya, semakin lama api menyala, semakin panas jadinya.

Jika kita bandingkan, di Pemilu kali ini penggunaan isu SARA juga lebih kental daripada sebelumnya. Banyak yang ngomong hal ini terjadi karena efek Pilkada DKI Jakarta 2017 lalu. Iya sih, tapi kan itu sudah selesai, lantas kenapa ya masih saja diteruskan?

Seharusnya yang sudah lalu, biarlah berlalu. Kan kayak orang yang pacaran, kalau putus, ya biarlah berlalu. Makanya move on dong biar tidak terjebak masa lalu. Hehe.

Coba direnungkan, apa sih sebenarnya manfaat yang diperoleh dari tensi politik yang terus tinggi? Di media sosial misalnya, perdebatan antarpendukung sering sekali muncul. Bahasa yang digunakan pun udah isinya kebun binatang semua.

Seharusnya pasca Pemilu, hal yang perlu dipikirkan oleh para elite politik dan tokoh lainnya adalah menyuguhkan iklim yang bikin adem. Sehingga, tali persaudaraan yang sempat terputus itu dapat terajut kembali. Share on X

Munculnya saling klaim kemenangan, bukannya menghadirkan iklim politik yang adem, justru memunculkan perdebatan sengit antarpendukung paslon. Untungnya nggak sampai bunuh-bunuhan. Ngeri cuy.

Jika kondisinya seperti ini, sebenarnya apa sih yang dibutuhkan masyarakat Indonesia? Saya jadi teringat dengan pepatah Jawa yang berbunyi: Menang tanpo ngasorake”. Artinya “menang tanpa merendahkan”.

Masalnya, kita nggak punya lagi tokoh yang bisa menghadirikan keadaan seperti itu. Biasanya, tokoh seperti Mahfud MD selalu menjadi angin penyejuk yang memberikan pandangan segar dan dapat mencerahkan, bahkan memberikan jalan keluar bagi kalangan yang sedang bertikai. Doi juga selalu bisa berdiri di tengah. Tetapi apa boleh buat, pada tahun politik kali ini kelihatannya Pak Mahfud lebih dekat dengan salah satu pihak.

Baca juga :  Lari lambat Kuda Fahri Hamzah?

Begitupun dengan tokoh agama yang juga sudah tidak mampu membendung amarah dari masing-masing pendukung paslon. Mungkinkah karena langkah itu telat untuk diambil? Jika memang demikian, lantas bagaimana nasib Indonesia 5 tahun yang akan datang ya?

Para tokoh agama dan akademisi saat ini memang dinilai kewalahan serta tidak mampu untuk menenangkan kondisi yang ada. Lalu, kita bisa berharap pada siapa?

Indonesia bukan kayak Jepang atau Inggris yang masih punya Kaisar dan Ratu yang bisa menjadi penengah kekisruhan politik. Yang kita punya hanya Ebiet G. Ade dan rumput yang bergoyang. Hehehe. Lagu-lagunya emang bikin adem. (F46)

spot_imgspot_imgspot_imgspot_img

#Trending Article

Ahok Jadi Ketua KPK?

Jokowi telah resmi menunjuk pansel pimpinan KPK 2019-2023. Prediksi tentang siapa ketua KPK yang dihasilkan seleksi ini pun sudah mulai bisa digulirkan. Pinterpolitik.com Teka-teki tentang siapa...

Hantu Sawit di Papua?

Di balik berbagai kerusuhan yang terjadi akibat diskriminasi rasial terhadap kelompok Papua, terdapat persoalan kelapa sawit yang dinilai dapat mengancam lingkungan dan komunitas adat...

Kini, Giliran Politik Milenial?

Sosok-sosok yang berasal dari generasi milenial kini mulai bermunculan guna mengisi perannya di berbagai bidang, termasuk pemerintahan dan politik. Apakah kehadiran milenial menjadi tanda...

Ferry, “Sahabat Kepompong” Sandiaga

"Persahabatan bagai kepompong," lirik lagu Kepompong oleh Sind3ntosca. PinterPolitik.com Mendekati pilpres 2019, masing-masing kubu sibuk membangun struktur tim pemenangan agar mampu menjalankan manuver-menuver canggih untuk meraup...

Baliho Tikus, Tanda Kekalahan Jokowi?

“Apa kamu pernah membayangkan Jakarta menjadi Berlin, Bandung jadi Paris, Semarang jadi Swiss, Surabaya menjadi Roma, dan sebagainya? Oh indahnya Indonesia! Sayang, kita terlalu...

Thomas Lembong “Membalas” Jokowi?

“Investasi yang sukses adalah mengantisipasi apa yang dilakukan orang lain”. – John Maynard Keynes Pinterpolitik.com Nama Kepala Badan Koordinasi Penanaman Modal (BKPM), yaitu Thomas Trisakti Lembong...

Merekat Persatuan dalam Kebinekaan

Berbagai gesekan di masyarakat bisa saja menghantui Indonesia ke depannya. Namun, nilai kebinekaan yang menjadi semboyan bangsa seharusnya dapat menjadi modal sosial bagi masyarakat...

MK ‘Mabok’ Gugatan UU Pemilu

"Terlalu banyak menghabisakan waktu untuk bertanya ini - itu, kita malah lelah sendiri." ~Lala Purwono PinterPolitik.com Biasanya, keputusan spontan dalam keadaan terdesak akan melahirkan hasil yang...

More Stories

Megawati Sukses “Kontrol” Jokowi?

“Extraordinary claims require extraordinary evidence” – Carl Edward Sagan, astronom asal Amerika Serikat (AS) PinterPolitik.com Gengs, mimin mau berlagak bijak sebentar boleh, ya? Hehe. Kali ini, mimin mau berbagi pencerahan tentang...

Arief Poyuono ‘Tantang’ Erick Thohir?

“Orang hebat tidak dihasilkan dari kemudahan, kesenangan, dan kenyamanan. Mereka dibentuk melalui kesulitan, tantangan, dan air mata” – Dahlan Iskan, mantan Menteri BUMN PinterPolitik.com Gengs, kalian...

Sri Mulyani ‘Tiru’ Soekarno?

“Tulislah tentang aku dengan tinta hitam atau tinta putihmu. Biarlah sejarah membaca dan menjawabnya” – Soekarno, Proklamator Indonesia PinterPolitik.com Tahukah kalian, apa yang menyebabkan Indonesia selalu...