HomeCelotehOligarki Mengintip Jokowi di Covid-19

Oligarki Mengintip Jokowi di Covid-19

Kecil Besar

“Di tengah Pandemik (Covid-19) ini mereka telah berhasil untuk menggolkan UU Batu Bara yang baru. Oligark bener itu karena cuman 6 perusahaan menguasai 70 persen produksi batubara”. – Faisal Basri, Ekonom Senior


PinterPolitik.com

Covid-19 memang mempengaruhi banyak hal, mulai dari persoalan ekonomi, sosial maupun politik. Khusus dalam konteks politik, ketidakstabilan yang ditimbulkan oleh Covid-19 di pemerintahan banyak negara memang membuat para pemimpinnya pusing tujuh keliling.

Kosovo adalah salah satu negara yang pemerintahannya jatuh saat Covid-19 merebak. Walaupun beberapa pihak menyebutkan bahwa virus tersebut bukanlah sebab utama ketidakstabilan politik di sana, namun jelas Covid-19 menambah pelik persoalan yang ada.

Konteks tekanan itu juga terjadi di negara seperti Amerika Serikat, di mana Presiden Donald Trump menghadapi kritikan yang keras dari masyarakatnya sendiri karena dianggap tidak mampu menangani krisis akibat virus tersebut.

Hal yang serupa juga kini dialami oleh Presiden Jokowi di Indonesia. Kritikan akibat ketidakmampuan pemerintah untuk secara cepat dan tanggap mengantisipasi krisis kesehatan tersebut misalnya, membuat menteri-menteri di kabinet disorot habis-habisan.

Hal ini tentu menjadi tekanan politik karena banyak dari menteri tersebut berasal dari partai politik – yang jika dicopot akan melahirkan krisis politik lanjutan akibat terganggunya kestabilan kekuasaan.

Kemudian, beberapa waktu belakangan, Jokowi juga menghadapi tekanan akibat munculnya narasi kudeta yang kuat berhembus di media sosial. Entah siapa yang pertama kali menghembuskan narasi tersebut.

Dan yang terbaru, isu tekanan politik itu disebut-sebut juga berkaitan dengan produk-produk hukum yang dibuat dan diputuskan saat Covid-19 ini. Bahkan, tuduhan yang mengemuka adalah terkait oligarki politik yang berkepentingan di belakang produk-produk hukum tersebut.

Baca juga :  The One-Man Band

Wih, ngeri kali narasinya ya. Tapi, ini bukan narasi yang diungkapkan oleh sembarang orang loh ya. Ada Pak Faisal Basri, salah satu ekonom senior yang reputasinya udah nggak perlu diragukan lagi, yang ngomong tentang itu dalam salah satu webinar.

Pak Faisal bicara soal RUU Minerba yang baru disahkan beberapa waktu lalu yang menurutnya sarat akan kepentingan oligarki di perusahaan batu bara. Ia menyinggung tentang 6 perusahaan tambang batu bara yang menguasai 70 persen pasar batu bara nasional.

Makanya nih banyak yang juga curiga bahwa di balik produk hukum lain yang sedang dibahas di DPR, ada oligarki yang mengintip di sana. Mereka sih nggak takut matanya bintitan ya. Hehehe.

Yang jelas, ini jadi tantangan buat Pak Jokowi. Soalnya, kekuasaan yang dibayang-bayangi oleh oligarki pasti akan menjadi cacat secara legitimasi. Pak Jokowi mungkin memenangkan suara mayoritas masyarakat. Tapi, dalam konteks keberadaan oligarki, hal ini tak membuatnya menjadi penguasa utama dan pemegang kendali penuh atas negara.

Beh, makin ngeri-ngeri sedap nggak tuh. Apalagi, di webinar yang sama, Profesor Jeffrey Winters dari Northwestern University juga menyebutkan bahwa pendanaan kampanye partai politik itu hampir 100 persen dari kantong oligarki. Makin tambah kuat nggak tuh.

Harapannya sih semoga oligarki ini nggak menggoyang kekuasaannya Pak Jokowi. Kalau misalnya, mereka juga ikut di belakang isu-isu macam kudeta dan sejenisnya, wah bisa tambah runyam nanti. Menarik untuk ditunggu kelanjutannya kayak gimana. (S13)

► Ingin lihat video menarik lainnya? Klik di bit.ly/PinterPolitik

Ingin tulisanmu dimuat di rubrik Ruang Publik kami? Klik di bit.ly/ruang-publik untuk informasi lebih lanjut.

spot_imgspot_imgspot_imgspot_img

#Trending Article

Sandi Galau Jokowi Makin Sakti

“Berikan tubuhmu sebanyak mungkin nutrisi supaya kuat, sehat dan bertenaga. Jika tubuh sudah kuat, sehat dan bertenaga, maka silahkan lanjutkan perlawanannya.” PinterPolitk.com Sandiaga Salahuddin Uno menyambut...

Masa Suram Budiman Sudjatmiko dkk.

“Orang tua, pandanglah kami sebagai manusia. Kami bertanya, tolong kau jawab dengan cinta,” – Iwan Fals, Bongkar Pinterpolitik.com Mahasiswa bergerak. Ribuan mahasiswa  di seluruh penjuru negeri...

Pemerintah ‘Paksa’ Minum Air Kotor?

“Air berkata kepada yang kotor, ‘Kemarilah.’ Maka yang kotor akan berkata, ‘Aku sungguh malu.’  Air berkata, ‘Bagaimana malumu akan dapat dibersihkan tanpa aku?” ~...

Otoriter, Jika Jokowi Tanpa Oposisi?

"Demokrasi kita akan terganggu karena berarti koalisi Jokowi itu akan jauh besar, mungkin di atas 90 persen kekuatan di parlemen". – Sirojuddin Abbas, Direktur...

Anak STM Mendemo “Anak TK”

“Keterangan saya tidak begitu dipahami, karena memang enggak jelas bedanya antara DPR dan Taman Kanak-Kanak,” – Abdurrahman Wahid, Presiden RI ke-4 Pinterpolitik.com Awas, awas, anak STM...

Di Balik Tutupnya McD Sarinah

Gerai McDonald’s (McD) yang terletak di Sarinah Thamrin, Jakarta, telah resmi tutup secara permanen. Mungkin, banyak kisah yang senantiasa menyertai di tempat tersebut. Kira-kira,...

SBY Khawatirkan AHY?

Susilo Bambang Yudhoyono (SBY) menegaskan hanya ada satu matahari di Partai Demokrat. Tegasnya, saat ini yang memimpin partai adalah Agus Harimurti Yudhoyono (AHY). Kenapa...

PDIP Seharusnya Bersyukur Ada Luhut?

Menko Marves Luhut Binsar Pandjaitan tampaknya membuat gerah PDIP. Masinton Pasaribu bahkan mengeluarkan kalimat tegas, hingga meminta Presiden Jokowi memecat Luhut. Namun, mungkinkah PDIP...

More Stories

Menyikap Tubir Milbus

Pengangkatan purnawirawan sebagai Komisaris Utama PT Bukit Asam beberapa hari lalu melengkapi pola yang sudah terbentuk: Dirut MIND ID dari AU, Dirut PT Timah dari AD, Dirut Antam dari AD. Tiga perusahaan tambang negara paling strategis kini sama-sama dipimpin figur berlatar militer. Bercanda pun terasa pas — jurusan tambang terbaik Indonesia sepertinya ada di Akademi Militer.

Hotel Sultan dan Mesin Uang Soeharto

Water canon, batu beterbangan, 3.161 aparat mengepung Senayan. Negara akhirnya merampungkan apa yang gagal dilakukan selama 26 tahun: merebut Hotel Sultan dari tangan keluarga Sutowo. Nilai aset Rp 28,9 triliun — eksekusi perdata terbesar dalam sejarah Indonesia. Bermula dari tipu daya: Ibnu Sutowo membangun hotel pesanan Gubernur Ali Sadikin, bukan atas nama Pertamina, melainkan atas nama PT Indobuildco milik pribadinya.

The One-Man Band

Lebih dari 19 jabatan selama era Jokowi — Luhut Pandjaitan kerap dikritik sebagai simbol konsentrasi kekuasaan yang tak sehat. Tapi kritik itu melewatkan satu pertanyaan kunci: bukan kenapa Luhut punya banyak jabatan, melainkan kenapa Jokowi terus memilihnya? Jawabannya bukan soal nepotisme — melainkan soal desain.