HomeCelotehNasdem, Partai Rasa Korporasi?

Nasdem, Partai Rasa Korporasi?

Kecil Besar

“Kau pernah menjadi, menjadi miliknya, namun salahlah aku, bila ku pendam rasa ini,” – Vierratale, Rasa Ini


Pinterpolitik.com

Partai Nasdem ini sepertinya partai yang lumayan melesat perjalanannya dalam politik Indonesia. Gimana enggak, baru ikutan Pemilu di tahun 2014, partai ini sekarang sudah merengkuh banyak posisi penting di negeri ini. Dari menteri sampai kepala daerah, selalu ada kader partai yang identik dengan jargon restorasi Indonesia itu.

Nah, sepertinya posisi menteri dan kepala daerah ini hanya menjadi bagian awal dari langkah partai ini menapaki jalan politik Indonesia. Partai yang dipimpin oleh Surya Paloh ini ternyata sudah mulai ancang-ancang untuk menghadapi Pilpres 2024.

Jadi, ada beberapa nama gubernur yang diteropong Nasdem untuk menjadi kandidat mereka di Pilpres 2024 nanti. Nama-nama tersebut adalah Gubernur DKI Jakarta Anies Baswedan, Gubernur Jawa Barat Ridwan Kamil, Gubernur Jawa Tengah Ganjar Pranowo, dan Gubernur Jawa Timur Khofifah Indar Parawansa.

Hmmm, kalau dilihat-lihat di antara sosok-sosok tersebut gak ada satupun yang tercatat sebagai kader dari Partai Nasdem. Memangnya, di internal partai berwarna biru itu gak kader yang bisa disiapkan untuk kepemimpinan nasional di tahun 2024?

Kalau diperhatikan, langkah seperti ini tuh mirip banget dengan langkah korporasi ketimbang partai kader yang menelurkan sosok-sosok potensial baru. Kalau korporasi kan kadang suka mencaplok begitu saja sosok eksekutif moncer di perusahaan lain untuk diambil ke perusahaannya. Nah, dengan langkah ini, Nasdem jadi kelihatan mirip sekali dengan korporasi.

Wah, kok gak ada kader sendiri di antara gubenur yang diprospek jadi capres Nasdem 2024? Share on X

Langkah ini sih kayaknya  bukan yang pertama kali dilakukan oleh partai yang berkantor di kawasan Gondangdia, Jakarta Pusat itu. Di tingkat Pilkada, sepertinya partai ini sudah melakukan praktik ini dan tampak cukup sukses merengkuh sejumlah jabatan di tingkat lokal dan regional.

Masalahnya, dalam konteks tersebut sering muncul tuduhan kalau Nasdem ini menggunakan asosiasinya dengan kejaksaan agung sehingga bisa menekan kepala-kepala daerah dengan kasus hukum sehingga mau berpindah ke partai tersebut. Eh, tuduhan ini disebutkan misalnya oleh PDIP ya, bukan murni kata saya.

Nah, sekarang ini kan posisi jaksa agung udah gak punya afiliasi lagi sama Nasdem, kalau memang tuduhan tekanan melalui kasus hukum itu benar, gimana ya caranya mereka bisa mengambil sosok-sosok semacam Anies, Emil, Ganjar, dan Khofifah?

Ya, gak tau juga ya, kan tuduhannya juga belum tentu benar. Mungkin, kalau memang serius mau mencalonkan mereka, strategi ala korporasi bisa dijalankan secara penuh.

Korporasi kan suka memberikan “tawaran yang menarik” kepada sosok yang mereka ingin ambil, nah mungkin Nasdem bisa melakukan hal itu agar mereka tergiur untuk bergabung. Eh, tawarannya bebas ya, bisa macem-macem. (H33)

► Ingin lihat video menarik lainnya? Klik di bit.ly/PinterPolitik

Ingin tulisanmu dimuat di rubrik Ruang Publik kami? Klik di bit.ly/ruang-publik untuk informasi lebih lanjut.

spot_imgspot_imgspot_imgspot_img

#Trending Article

Ahok Jadi Ketua KPK?

Jokowi telah resmi menunjuk pansel pimpinan KPK 2019-2023. Prediksi tentang siapa ketua KPK yang dihasilkan seleksi ini pun sudah mulai bisa digulirkan. Pinterpolitik.com Teka-teki tentang siapa...

Kini, Giliran Politik Milenial?

Sosok-sosok yang berasal dari generasi milenial kini mulai bermunculan guna mengisi perannya di berbagai bidang, termasuk pemerintahan dan politik. Apakah kehadiran milenial menjadi tanda...

Ferry, “Sahabat Kepompong” Sandiaga

"Persahabatan bagai kepompong," lirik lagu Kepompong oleh Sind3ntosca. PinterPolitik.com Mendekati pilpres 2019, masing-masing kubu sibuk membangun struktur tim pemenangan agar mampu menjalankan manuver-menuver canggih untuk meraup...

Hantu Sawit di Papua?

Di balik berbagai kerusuhan yang terjadi akibat diskriminasi rasial terhadap kelompok Papua, terdapat persoalan kelapa sawit yang dinilai dapat mengancam lingkungan dan komunitas adat...

Jokowi Lempar Hadiah

Bagi kebanyakan orang, tentu saja apa yang dilakukan oleh Jokowi ini kurang etis. Dengan melempar-lemparkan bingkisan, Jokowi dianggap kurang menghormati masyarakat. PinterPolitik.com "If you have something...

PDIP Ketularan Artis

“Lelah bahas politik, mending lihat artis yang sedang akting jadi politikus. Hmmm, apa mereka akan berubah jadi tikus?” PinterPolitik.com Sekretaris Jenderal PDIP Hasto Kristiyanto mengatakan partainya tak sembarangan...

MK ‘Mabok’ Gugatan UU Pemilu

"Terlalu banyak menghabisakan waktu untuk bertanya ini - itu, kita malah lelah sendiri." ~Lala Purwono PinterPolitik.com Biasanya, keputusan spontan dalam keadaan terdesak akan melahirkan hasil yang...

Inisiatif Tingkat Dewa Timses Jokowi

"Jangan bertanding kalau Anda maunya hanya menang, tanpa siap untuk kalah." ~Mario Teguh PinterPolitik.com Semangat membara dari seluruh lapisan masyarakat dan politisi kadang dapat menimbulkan suhu...

More Stories

Membaca Siapa “Musuh” Jokowi

Dari radikalisme hingga anarko sindikalisme, terlihat bahwa ada banyak paham yang dianggap masyarakat sebagai ancaman bagi pemerintah. Bagi sejumlah pihak, label itu bisa saja...

Untuk Apa Civil Society Watch?

Ade Armando dan kawan-kawan mengumumkan berdirinya kelompok bertajuk Civil Society Watch. Munculnya kelompok ini jadi bahan pembicaraan netizen karena berpotensi jadi ancaman demokrasi. Pinterpolitik Masyarakat sipil...

Tanda Tanya Sikap Gerindra Soal Perkosaan

Kasus perkosaan yang melibatkan anak anggota DPRD Bekasi asal Gerindra membuat geram masyarakat. Gerindra, yang namanya belakangan diseret netizen seharusnya bisa bersikap lebih baik...