HomeCelotehJokowi Dijutekin Biden?

Jokowi Dijutekin Biden?

Ketika mendarat di Washington DC, Amerika Serikat (AS), tidak ada pejabat tinggi AS yang menyambut Presiden Jokowi. Mungkinkah sang RI-1 tengah tidak dihiraukan atau dijutekin oleh Presiden AS Joe Biden?


PinterPolitik.com

Ada sebuah pembahasan menarik mengenai pejabat publik, yakni mengapa namanya “pejabat publik”. Dalam dimensi politik, khususnya komunikasi politik, disematkannya istilah “publik” setelah istilah “pejabat” ternyata tidak hanya bermakna mereka sebagai pelayan publik atau masyarakat luas.

Kata “publik” membuat sang pejabat seolah kehilangan tindak laku privatnya. Dalam komunikasi politik, setiap pernyataan, gestur, bahkan pakaian dari pejabat akan menjadi konsumsi publik. Mereka akan dinilai, diinterpretasi, bahkan dihakimi oleh masyarakat.

Lihat saja Presiden Joko Widodo (Jokowi), mulai dari sepatu hingga potongan rambutnya telah menjadi konsumsi publik. Tidak heran kemudian sang RI-1 menjelma menjadi trendsetter, setiap apa yang dikenakannya menjadi tren baru. Sebut saja jaket bomber dan sepatu lokal yang langsung viral dan diserbu masyarakat usai dikenakan oleh Presiden Jokowi.

Tidak hanya di level individu, interaksi dengan pejabat lain, khususnya pejabat tinggi, juga menjadi perhatian yang tidak kalah menarik. Lagi-lagi, ini dirasakan oleh Presiden Jokowi ketika mengunjungi Amerika Serikat (AS) baru-baru ini.

Berbagai pihak, seperti pengamat politik Rocky Gerung, aktivis HAM Natalius Pigai, dan aktivis Forum Tanah Air (FTA) Chris Komari, menyoroti kenapa RI-1 tidak disambut pejabat tinggi AS ketika mendarat di Washington DC. Tidak tanggung-tanggung, Rocky bahkan menyarankan agar Menteri Luar Negeri (Menlu) Retno Marsudi dipecat karena dinilai telah mencoreng citra bangsa.

Sementara Chris Komari, ia membandingkan kasus Presiden Jokowi dengan Perdana Menteri (PM) Singapura Lee Hsien Loong yang justru disambut langsung oleh Presiden AS Joe Biden ketika mendarat di Washington.

Baca juga :  PDIP Dikepung Sebelum Hattrick?
- Advertisement -

Menurut Chris, tidak disambutnya Presiden Jokowi berkaitan dengan perang yang terjadi antara Rusia dengan Ukraina. Berbeda dengan Singapura yang mengikuti langkah AS dan Barat memberikan sanksi, Indonesia terlihat bermain aman dengan tidak ingin mencampuri konflik.

infografis senyum jokowi bersama biden

Dalam konteks ini, tidak heran kemudian beberapa pihak menyebut Presiden Jokowi sedang tidak dihiraukan alias dijutekin oleh Presiden Biden. Namun, anggapan ini tampaknya tengah dibantah oleh Presiden Biden sendiri.

Pasalnya, dalam sesi foto KTT Khusus ASEAN-AS, Presiden Jokowi tampak berfoto di samping Presiden Biden.  Catherine Wong dalam artikelnya di South China Morning Post, menjelaskan bahwa foto-foto di pertemuan tingkat tinggi antar negara biasanya menggambarkan situasi dan dinamika politik kekuasaan terkini. 

Posisi duduk dan berdirinya para pemimpin negara dipercaya mencerminkan kekuatan atau penting tidaknya negara tersebut. Pemimpin negara bisa dianggap penting bila berdiri di baris depan ketika tengah berfoto bersama. 

Dalam KTT G20 2016 yang dilaksanakan di Hangzhou, Tiongkok, misalnya, Presiden Rusia Vladimir Putin bisa jadi dianggap penting oleh pemerintah Tiongkok karena menempati posisi berfoto di baris depan. Padahal, dalam sesi foto KTT G20 2014 di Australia, Putin ditempatkan di ujung luar ketika berfoto.

Bertolak dari tulisan Wong, bukan tidak mungkin Presiden Biden sebagai tuan rumah melihat Presiden Jokowi sebagai figur penting sehingga diajak berfoto di sampingnya.

Sebelumnya, konteks itu juga pernah disinggung oleh Rocky Gerung. Menurutnya, status Indonesia sebagai negara mayoritas Muslim terbesar seharusnya menjadi perhatian Presiden Biden.

Well, entah apa pun yang terjadi, sebagai pejabat publik, tentu sudah menjadi konsekuensi tak terhindar bahwa segala tindak tanduk Presiden Jokowi akan menjadi perhatian dan mendapat interpretasi dari masyarakat luas. (R53)

Baca juga :  Muslihat Jokowi Manfaatkan Putin?
spot_img

#Trending Article

Surya Paloh Cuma Coba-coba?

Meskipun Rapat Kerja Nasional (Rakernas) Partai NasDem telah menghasilkan nama-nama hasil voting Dewan Pimpinan Daerah (DPW), Ketua Umum Partai NasDem Surya Paloh menyebut Anies Baswedan dan Ganjar Pranowo yang...

Permainan Surya Paloh Belum Usai?

Meski Rapat Kerja Nasional (Rakernas) Partai NasDem telah usai, tapi tanya tentang hasil Rakernas masih membayangi pikiran publik. Apa sebenarnya strategi Ketua Umum Surya Paloh di balik...

Ganjar, Mbappe-nya PDIP?

Nama Gubernur Jawa Tengah Ganjar Pranowo dilirik partai lain untuk dijadikan Capres 2024. Apakah Ganjar semacam "Mbappe"-nya PDIP?

Prabowo Tidak Yakin dengan Megawati?

Koalisi Kebangkitan Indonesia Raya (KKIR) dibentuk oleh Partai Gerindra bersama Partai Kebangkitan Bangsa (PKB). Apakah ini dapat dimaknai sebagai kekhawatiran Prabowo Subianto terhadap Megawati? PinterPolitik.com Partai Gerindra...

Jokowi Gak Butuh Ma’ruf Amin?

Tidak terlihatnya Wakil Presiden Ma’ruf Amin pada reshuffle kabinet mengundang tanda tanya sebagian orang. Apakah ini bermakna bahwa Presiden Joko Widodo (Jokowi) sudah tidak butuh Ma’ruf? PinterPolitik.com Sebagian orang...

Zulhas Gak Nyambung?

Baru saja dilantik menjadi Menteri Perdagangan (Mendag), Zulkifli Hasan (Zulhas) langsung sidak ke pasar dan tiba-tiba berikan hadiah umrah kepada pedagang. Kenapa Zulhas melakukan...

NasDem-Demokrat Bentuk Koalisi?

Surya Paloh merupakan elite politik pertama yang ditemui secara terbuka oleh Susilo Bambang Yudhoyono (SBY). Apakah Partai NasDem dan Partai Demokrat akan membentuk koalisi? PinterPolitik.com Sambutan...

Cak Imin Jago Gocek?

Lagi lagi Ketua Umum Partai Kebangkitan Bangsa (PKB) Abdul Muhaimin Iskandar yang akrab disapa Cak Imin tampil dan menarik atensi publik melalui gocekan-gocekan politiknya...

More Stories

SBY-JK-Paloh Taklukkan Megawati?

Berbagai pihak menilai Susilo Bambang Yudhoyono (SBY), Jusuf Kalla (JK), dan Surya Paloh akan membangun koalisi dan menyatukan kekuatan untuk melawan PDIP di Pemilu...

Ganjar Keluar dari Bursa Capres?

Megawati dinilai menyindir Ganjar Pranowo ketika diminta membacakan hasil Rakernas terkait capres merupakan hak prerogatif ketua umum. Apakah ini sinyal kuat Ganjar telah keluar...

Megawati Gantikan Puan dengan Tatam?

Puan Maharani terus didorong PDIP untuk menjadi kandidat di Pilpres 2024. Namun, jika elektabilitas Puan stagnan, mungkinkah Megawati akan menggantinya dengan Mohammad Rizky Pratama...