HomeCelotehMungkinkah Jokowi-Elon Musk "Match"?

Mungkinkah Jokowi-Elon Musk “Match”?

Presiden Joko Widodo (Jokowi) bertemu dengan Elon Musk di markas SpaceX. Bagaimanakah akhir dari kisah pertemuan antara orang nomor satu di Indonesia dengan pemimpin perusahaan raksasa mobil listrik AS tersebut?


PinterPolitik.com

Siapa yang saat ini sedang pedekate atau mencari jodoh? Tidak jarang, di zaman sekarang, para milenial mencari tambatan hatinya melalui dating apps seperti Tinder ataupun Bumble.

Biasanya, ketika menjelajah dating apps, kamu kepengen untuk mencari pasangan atau jodoh yang sesuai dengan kriteria yang diinginkan, bukan? Kamu akan terus nge-swipe hingga bertemu dengan si doi sampai akhirnya kalian match.

Layaknya dunia aplikasi kencan daring, ternyata Pak Jokowi saat ini sedang pedekate juga lho. Dengar-dengar, pada sela kunjungannya menghadiri KTT Khusus ASEAN-Amerika Serikat, Pak Jokowi bertemu dengan Elon Musk yang merupakan CEO SpaceX dan Tesla.

Perlu diketahui bahwa jauh sebelum itu, pihak Elon Musk sendiri telah mengundang Pak Jokowi agar dapat mengunjunginya di markas SpaceX, Texas. Tampak pedekate ala Pak Jokowi berjalan mulus, bukan?

Tidak hanya itu, tim pabrikan mobil listrik ternama Tesla saat ini sedang berada di Indonesia. Katanya sih, agendanya membahas sejumlah rencana kerja sama dan juga akan meninjau beberapa wilayah di Indonesia, seperti daerah Morowali yang ada di Sulawesi Tengah.

Morowali sendiri merupakan daerah di Indonesia yang dikenal sebagai salah satu lokasi tambang nikel. Nikel merupakan salah satu bahan utama dalam pembuatan baterai listrik yang tentunya berhubungan langsung dalam produksi sebuah mobil listrik. 

Menjadi polemik karena apabila Tesla ingin berinvestasi nikel di Indonesia, mereka harus menjamin bahwa resource nikel tersebut memenuhi syarat kriteria ESG (environmental, social, dan governmental) seperti apa yang dikehendaki oleh investor terbesarnya mereka yakni Black Rock.

Baca juga :  Elon Musk, Puppet or Master?
Jokowi Elon Musk Bertemu Meet-Up

Posisi Pak Jokowi-Elon Musk saat ini tampaknya dapat dilihat dari kacamata konsep negotiation oleh Lars Sandman. Menurut beliau, negosiasi merupakan proses dalam berkompromi antar dua pihak demi menghasilkan suatu kesepahaman

Tak ayal, proses negosiasi kerap diasosiasikan dengan mutual gains bargaining, yaitu posisi di mana para pihak memiliki kepentingan bersama untuk mencapai kesepakatan karena kesepakatan itu seharusnya menghasilkan keuntungan bersama bagi mereka.

Namun, tidak jarang dalam proses negosiasi akan menemui suatu pertentangan, atau menurut Helga Koczogh hal tersebut dapat dilihat sebagai suatu disagreement.

Disagreement sendiri digunakan untuk menggambarkan tindakan kontra dengan pihak lain, atau dapat dilihat sebagai keadaan di mana kedua belah pihak menemui perbedaan antara klaim atau pendapat yang bertentangan. Karena itulah, hal tersebut sering dikonotasikan negatif.

Perlu jadi pertimbangan bagi Pak Jokowi jika negosiasi alias pedekate-nya ingin berjalan lancar dengan Bung Elon Musk. Ia harus dapat lebih menekankan personal branding agar menunjukkan daya tarik serta pesonanya.

Personal branding yang dilakukan Pak Jokowi bisa saja berupa menggaet perhatian para kelompok-kelompok aktivis lingkungan sekelas Greenpeace. Kalau-kalau sudah dapat testi anget dari mereka, bisa saja hal tersebut dapat menjadi pertimbangan pihak Tesla-nya Elon Musk dan juga Black Rock.

Jangan sampai Pak Jokowi gagal dalam pedekate-nya dengan Elon Musk. Dari yang niatnya ingin match dengan si doi, malah keburu ada trust issue dari dianya dan akhirnya Pak Jokowi malah berakhir di-ghosthing

Menurut kamu, bagaimana kelanjutan romansa antara mereka berdua? Mungkinkah berujung jadian dan menemukan kecocokan (match) atau justru berakhir dengan perpisahan? Menarik untuk dinanti. (Y79)


Artikel Sebelumnya
Artikel Selanjutna
spot_imgspot_imgspot_imgspot_img

#Trending Article

More Stories

Menilik “Arogansi” Cak Imin

Ketum PKB Cak Imin disebut arogan setelah anggap Ketum PBNU Gus Yahya tidak punya andil untuk PKB. Mengapa ada arogansi demikian?

Luhut Kena “Sentil” Lagi?

Direktur Lokataru Haris Azhar kembali sentil Menko yang dianggap jalankan praktik oligarki. Apakah Menko Marves Luhut kena sentil lagi?

Puan Dapat “Pesan Tersembunyi”?

Emha Ainun Najib sebut bagaimana sosok presiden yang ideal saat di samping Puan Maharani. Apakah ini "pesan tersembunyi" untuk Puan?