HomeCelotehBerani Puan Panggil Luhut?

Berani Puan Panggil Luhut?

Kecil Besar

Ketua Dewan Perwakilan Rakyat (DPR) Puan Maharani diminta untuk memanggil Menteri Koordinator Bidang Kemaritiman dan Investasi (Menko Marves) Luhut Binsar Pandjaitan karena dianggap memiliki gaya komunikasi yang arogan dalam mengomandani Pemberlakuan Pembatasan Kegiatan Masyarakat (PPKM) Darurat. Beranikah Puan panggil Luhut?


PinterPolitik.com

Siapa sih yang nggak kenal dengan nama Luhut Binsar Pandjaitan? Yap, beliau adalah Menteri Koordinator Bidang Kemaritiman dan Investasi (Menko Marves) di Kabinet Indonesia Maju.

Nama beliau kini tengah banyak disebut tuh dalam banyak pembicaraan di masyarakat – baik di media massa maupun di media sosial (medsos). Gimana nggak banyak disebut? Sejak awal Juli 2021 ini, Pak Luhut ini ditunjuk oleh Presiden Joko Widodo (Jokowi) untuk mengomandani penanganan pandemi Covid-19, khususnya dalam pelaksanaan Pemberlakuan Pembatasan Kegiatan Masyarakat (PPKM) Darurat.

Hmm, mungkin, pilihan Pak Jokowi yang jatuh pada Pak Luhut ini bukan tanpa alasan. Pasalnya, Pak Menko Marves ini kerap disebut menjadi sosok yang sangat dipercaya oleh Pak Presiden.

Saat pelaksanaan Pembatasan Sosial Berskala Besar (PSBB) pada September 2020 lalu, misalnya, Pak Luhut juga dipercayakan oleh Pak Jokowi sebuah amanat untuk menurunkan jumlah kasus positif Covid-19 di sejumlah provinsi. Bukan hanya itu, Pak Menko Marves ini juga mendapatkan tugas khusus semenjak Oktober 2019 lalu, yakni untuk berburu investasi luar negeri agar bisa masuk ke Indonesia.

Bisa dibilang, Pak Luhut ini semacam sohib-nya Pak Jokowi. Dengan posisinya yang sangat dipercaya oleh Pak Presiden, beliau ini mendapatkan sejumlah julukan, seperti Menteri Segala Urusan dan Perdana Menteri (PM) Indonesia.

Hmm, siapa sih yang berani menantang Pak Luhut? Sampai-sampai, Komandan PPKM Darurat tersebut menantang siapapun yang bilang kalau penanganan pandemi Covid-19 tidak terkendali untuk menunjukkan ke mukanya langsung. Widihchallenge-nya Pak Luhut ini beda lah ya dengan challenge yang biasanya ada di TikTok. Hehe.

Meski begitu, sejumlah elemen masyarakat berharap ada yang berani menantang Pak Luhut yang semakin ke sini semakin dianggap arogan gaya komunikasinya. Sosok yang diharap-harapkan tersebut adalah Ketua Dewan Perwakilan Rakyat (DPR) Puan Maharani.

Baca Juga: Siapa yang Didengar Luhut?

Puan Panggil Luhut

Usulan ini datang dari Direktur Eksekutif Kajian Politik Nasional (KPN) Adib Miftahul. Kata Pak Adib, sudah saatnya Mbak Puan selaku DPR memanggil Pak Luhut untuk ditanyai soal gaya komunikasi pemerintah yang dinilai kurang baik dalam menangani pandemi Covid-19 ini.

Widiih, berani nggak tuh Mbak Puan? Kan, Pak Luhut itu serba berpengaruh. Sampai-sampai, beliau juga dipanggil dengan sebutan “Lord Luhut” oleh para warganet.

Hmmtapi, tenang, Mbak Puan. Mbak Puan, kan, juga punya julukan dan gelar tinggi. Beberapa waktu lalu, beliau sudah mendapatkan julukan The Queen of Ghosting dari Badan Eksekutif Mahasiswa (BEM) Universitas Negeri Semarang (Unnes). Ya, semoga aja permintaannya Pak Adib nggak di-ghosting juga ya. Upss.

Meski begitu, terlepas dari julukan dari BEM Unnes itu, Mbak Puan bisa lho menggunakan kesempatan ini. Barang kali, Mbak Puan ini bisa muncul sebagai heroine (pahlawan) di tengah kekesalan sebagian masyarakat terhadap gaya komunikasi pemerintah.

Coba tuh lihat Ketua DPR Amerika Serikat (AS) Nancy Pelosi. Bu Pelosi sampai dipuji-puji lho ketika berani beraksi di depan Donald Trump yang kala itu menjabat sebagai Presiden AS. Sampai-sampai nih, Bu Pelosi pernah merobek lembar pidatonya Trump. Widih, sadis sih.

Lagipula, ada sejumlah pengamat dalam negeri dan luar negeri yang bilang kalau PDIP dan ketua umumnya, Megawati Soekarnoputri, mempunyai ketidaksukaan tertentu tuh pada Pak Luhut sejak periode pertama pemerintahan Jokowi. Menarik nih diikuti. Apa iya ketidaksukaan tersebut menurun juga ke putri Bu Mega, yakni Mbak Puan? (A43)

Baca Juga: Ganjar vs Puan Hanya Sandiwara?


► Ingin lihat video menarik lainnya? Klik di bit.ly/PinterPolitik

Ingin tulisanmu dimuat di rubrik Ruang Publik kami? Klik di bit.ly/ruang-publik untuk informasi lebih lanjut.

spot_imgspot_imgspot_imgspot_img

#Trending Article

Baliho Tikus, Tanda Kekalahan Jokowi?

“Apa kamu pernah membayangkan Jakarta menjadi Berlin, Bandung jadi Paris, Semarang jadi Swiss, Surabaya menjadi Roma, dan sebagainya? Oh indahnya Indonesia! Sayang, kita terlalu...

Thomas Lembong “Membalas” Jokowi?

“Investasi yang sukses adalah mengantisipasi apa yang dilakukan orang lain”. – John Maynard Keynes Pinterpolitik.com Nama Kepala Badan Koordinasi Penanaman Modal (BKPM), yaitu Thomas Trisakti Lembong...

La Nyalla: Prabowo, Pimpin Salat Dong

“Ibadah nomor satu dan korupsi nomor dua! Politisi banget.” PinterPolitik.com Eks kader Partai Gerindra, La Nyalla Mattalitti yang dulu mendukung Prabowo Subianto sekarang malah beralih dukungan...

PSI, Siap Progresif untuk LGBT?

“Berikan kami tempat berlindung. Kami butuh asupan nutrisi agar penyakit bisa terbendung.” PinterPolitik.com Makin hari si Iim semakin menggambarkan dirinya sebagai bagian dari generasi milenial. Tingkahnya...

Amien Ingin Anaknya Jadi Menteri Jokowi?

“Intinya supaya tidak ada lagi cebong dan kampret, sehingga yang ada tinggal cebong bersayap, artinya sudah akur.” – Amien Rais PinterPolitik.com Pertemuan Prabowo dan Amien Rais...

PKS Baper Makin Dikorbankan Gerindra

“Satu-satu, daun-daun, berguguran tinggalkan tangkainya. Satu-satu, burung kecil beterbangan tinggalkan sarangnya.” – Lagu Andaikan Aku Punya Sayap PinterPolitik.com Perlahan-lahan partai Koalisi Adil Makmur mulai berguguran meninggalkan...

Mega-SBY, A Birthday and Three Funerals

“Taufiq mendukung SBY usai terpilih sebagai presiden untuk kedua kalinya. Begitu pula SBY di kemudian hari menginstruksikan kadernya di kursi parlemen untuk memilih Taufiq...

Bayar Rindu Pelukan Jokowi-Paloh

“Peluklah diriku dan jangan kau lepas,” – Alexa, Jangan Kau Lepas Pinterpolitik.com Akhirnya ya, setelah sempat menimbulkan berbagai isu di media, saga pelukan Ketua Umum Partai...

More Stories

Kiri, Kanan, Kulihat Merah Putih

Dari Kabinet hingga koperasi desa, nama bangsa kini melekat di mana-mana. Namun, mengapa harus seragam begitu? 

Inul dan Bangkitnya Sang ‘Anti-Hero’

Inul Daratista menolak tawaran masuk parlemen meski dijanjikan uang miliaran. Mengapa menolak kekuasaan justru membuatnya menang?

Di Balik Mekarnya Citra Habibie

Tanggal 25 Juni dikenang sebagai hari lahir Habibie. Citranya kian harum meski telah tiada. Apa rahasia di balik reputasi yang tak pernah layu itu?