J61 ─ author

Latest articles

Politisi Unlucky, Next Time Better?

Dalam politik, kapasitas personal tak selalu berbanding lurus dengan takdir. Andika Perkasa, Sandiaga Uno, Ridwan Kamil, dan Mahfud MD masih menyimpan potensi meski tersandung awal. Sebaliknya, Dino Patti Djalal, Erick Thohir, dan Anies Baswedan tampak terjebak kabut strategis. Membuktikan bahwa politik adalah labirin yang rumit, bukan jalan lurus.

Birokrasi Osmosis: Polri dalam “Dagri”

“Polri di Kemendagri” kiranya bukan sekadar anomali, melainkan strategi osmosis birokrasi: adaptif, saling melengkapi, dan menjaga stabilitas otonomi daerah. Tito Karnavian seolah tampil sebagai metronom triumvirat Prabowo, menjadi simbol rasionalitas Weber, dialektika Hegel, dan jalan tengah Aristoteles dalam meritokrasi kontekstual.

The Komeng Way?

“The Komeng Way” menampilkan gaya Komeng di DPD RI yang cair, humoris, tapi tetap mengandung kritik substansial. Dari plesetan “KemenHUT” hingga kijang masuk tol, ia hadirkan warna baru komunikasi politik. Lalu, mungkinkah model ini jadi wajah parlemen masa depan Indonesia dalam berbagai sisi esensi?

The Future Queen: Harapan Terakhir?

Indonesia pernah melahirkan pemimpin perempuan tangguh, utamanya sosok Megawati Soekarnoputri. Kini muncul nama baru seperti Pinka Haprani dan Sherly Tjoanda. Pertanyaannya, apakah mereka mampu menjadi future queen yang lahir dari kapasitas dan keberanian, atau sekadar bayangan patronase masa lalu?

The Real Aura Farming Yusril?

Yusril Ihza Mahendra belakangan tampak berbenah dan mulai aktif bersafari isu hukum. Lebih dari sekadar tupoksi, langkah ini mencerminkan “aura farming”, seni mengelola citra, kharisma, dan legitimasi simbolik pejabat publik di era komunikasi politik yang kerap rawan blunder berbuntut fatal.

Akhir “Dewi Sri”, Abdi “Pangeran Purbaya”

Pergantian Menteri Keuangan dari Sri Mulyani ke Purbaya Yudhi Sadewa kiranya bukan sekadar reshuffle, melainkan simbol pergeseran gaya kepemimpinan fiskal Indonesia. Dari “Dewi Sri” sang penjaga kesuburan ke “Pangeran Purbaya” pembawa bara keberanian, transisi ini menguji legitimasi politik, komunikasi publik, dan arah fiskal era Presiden Prabowo.

Omon-Action Ferry-Raymond?

Ferry Irwandi dan Raymond Chin muncul sebagai dua dari beberapa influencer politik dengan gagasan kritis dan audiens masif. Namun, di balik popularitasnya, muncul paradoks: kritik mereka kerap berhenti pada wacana digital. Apakah ini sekadar political entertainment yang mustahil terwujud nyata?

Politik, “Ojol Elite” Sengaja Dilestarikan?

Ojol seolah jadi spotlight dalam dinamika sosial-politik terbaru. Keterkaitannya dengan politik makin menghangat in this economy, serta bukan tidak mungkin menjadi salah satu variabel determinan untuk menggoyang pemerintah.

Merinding Heartwarming Marinir-Kostrad

Sebuah momen menyejukkan hadir ketika Marinir dan Kostrad tampil bukan dengan wajah keras, melainkan penuh empati. Dari Kwitang, gestur humanis mereka menghadirkan resonansi sosial yang heartwarming, meneguhkan stabilitas dan persatuan bangsa di tengah gejolak persepsi publik.

Soekarno, Solid-Fluid Loyalitas Militer?

Hubungan sipil–militer di Indonesia selalu bergerak antara soliditas dan fluiditas. Dari Soekarno yang terjebak faksi AD, Soeharto yang menginstitusionalisasi loyalitas, hingga Jokowi yang mengandalkan Polri—setiap era menyisakan pola berbeda. Kini, Presiden Prabowo menghadirkan stabilitas baru dalam relasi dengan angkatan bersenjata.

“Ethes” & Kontes Trah Wapres

Meski posisi wapres cukupstrategis, trahnya jarang mewariskan legitimasi politik kuat. Berbeda dengan trah presiden, jalan politik trah wapres dinilai tak sepopuler itu. Dari Ilham Habibie hingga Puan Maharani, bahkan simbol “Jan Ethes”, semua menunjukkan kontes legitimasi yang lebih berat ketimbang sekadar nama besar.

Mantra Politik Trimatra Soekarno-Prabowo

Trimatra—Angkatan Darat, Laut, dan Udara—selalu lebih dari sekadar pertahanan. Dari kedekatan Soekarno dengan AL-AU, dominasi AD di era Soeharto, hingga upaya penyeimbangan pasca-Reformasi, Presiden Prabowo kini meramu “mantra trimatra” sebagai strategi politik, stabilitas, dan geopolitik Indonesia kontemporer.
- Advertisement - spot_img