J61 ─ author

Latest articles

Hierarki Simbolik Tahta dan “Kasta”

Di balik pemilu, jabatan formal dan tabu dalam konteks tertentu, kekuasaan Indonesia kiranya bekerja melalui “kasta” simbolik. Akumulasi modal, loyalitas, dan figur leadership tampak membentuk hierarki politik baru—efisien, solid, namun menyimpan risiko eksklusivitas dan tantangan demokrasi ke depan bagi elite konstituen, stabilitas nasional, dan masa depan republik.

Jateng, Koentji atau Jago Kandang PSI?

Dengarkan artikel ini: Audio ini dibuat menggunakan AI. Jawa Tengah tak lagi sekadar lumbung suara. Gagasan PSI sebagai “kandang gajah” seolah menantang hegemoni lama PDIP, menguji...

Guns N’ Rosan, Invest o’ Mine

Dengarkan artikel ini: Audio ini dibuat menggunakan AI. Investasi negara tak lagi diam di neraca. Di tangan Rosan Roeslani sebagai CEO, Danantara bergerak dari krisis pascabencana,...

“Nyeriusin” Lawakan Pandji

Ketika kritik lewat tawa dianggap otomatis benar, di situlah masalah bermula. Lawakan Pandji Pragiwaksono memantik refleksi: sejauh mana humor politik efektif tanpa mengorbankan empati, etika, dan tanggung jawab simbolik di ruang publik yang kian sensitif.

Jenderal-Letkol: Gerhana Otoritas Konstruktif?

Dalam era presidensialisme kuat Prabowo, otoritas tak lagi sekadar soal pangkat dan senioritas. Ketika kepercayaan Presiden menjadi pusat legitimasi, relasi Jenderal–Letkol membuka satu pertanyaan penting: sedangkah otoritas formal mengalami gerhana yang justru konstruktif?

Jastip Suara, PDIP Malu-Malu Mau?

Wacana Pilkada via DPRD kembali menguji demokrasi. PDIP menolak, tapi jejak 2018 menyisakan tanda tanya. Apakah ini sikap prinsipil, strategi oposisi, atau sekadar “jastip suara”? Ketika suara rakyat dititipkan, siapa yang benar-benar memegang kendali?

Dipukpuk, Raja Juli Jangan Geer?

Bukan soal uang negara, tapi soal satu tepukan bahu Presiden. Gestur Prabowo ke Purbaya dan Raja Juli dibaca berbeda: satu menguatkan, satu justru menguji. Di politik, dipukpuk tak selalu berarti diangkat. Kadang, itu peringatan halus.

Misi Mengagungkan Kejaksaan Agung

Putusan MK telah mencabut imunitas jaksa menjadi ujian sejarah Kejaksaan Agung. Di tengah OTT KPK dan kasus jaksa nakal, institusi ini memilih tidak defensif. Justru bertaring, proaktif membersihkan diri, dan mengukir legitimasi baru.

Teddy–Maruli vs Demonisasi Bencana Sumatra

Banjir di Sumatra tak hanya menguji kapasitas negara, tetapi juga kedewasaan publik. Saat kerja pemerintah berlangsung kompleks dan sunyi, narasi viral justru menyederhanakan segalanya. Teddy–Maruli berdiri di tengah pertarungan antara kritik demokratis dan demonisasi bencana.

Purbaya The Next Boediono?

Apakah Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa sedang menuju takdir politik ala Boediono? Di balik kinerja teknokratis dan kebijakan fiskal keras, tersimpan kemungkinan kompromi elite menuju 2029—atau justru jebakan konflik kekuasaan yang mengintai?

Gerindra G-nya GOAT?

Gerindra meraih dua penghargaan KIP dan tampil sebagai model baru partai politik: transparan, disiplin, dan terinstitusionalisasi. Di baliknya ada Prabowo sebagai faktor determinan. Namun, mampukah Gerindra menjaga status “GOAT” saat era pasca-Prabowo benar-benar tiba?

Perang Karisma-Algoritma: AHY vs Everybody?

Menuju kontestasi elektoral 2029, faktor karisma serta algoritma kiranya akan sangat menentukan. Menariknya, dalam diskursus cawapres sementara ini, AHY yang memiliki peluang harus berbenturan dengan realita status quo Gibran yang mungkin saja lebih unggul.
- Advertisement - spot_img