J61 ─ author
Latest articles
Nalar Politik
The Floating Elite, Sandiaga Uno
J61 -
Sandiaga Uno kian tampak sebagai floating elite, besar secara kapital, namun tak tertampung struktur partai. Di tengah rapuhnya PPP dan opsi politik yang terbatas, muncul pertanyaan lebih dalam: apakah masalahnya pada pilihan Sandi, atau justru pada sistem partai yang tak lagi mampu menampung elite modern?
Nalar Politik
Gagasan Ketum Dipagar, Agak Laen Golkar?
J61 -
Partai Golkar seolah menerima diskursus pembatasan masa jabatan ketua umum, dan hampir semua orang mungkin salah membacanya. Ini bukan soal tekanan regulasi. Ini adalah satu-satunya partai yang berani menginterupsi hukum besi oligarki dari dalam. Sebuah anomali yang seharusnya menjadi standar?
Headline
Politik Nyawit & Ngegas adalah Kunci?
J61 -
Indonesia tidak lagi sekadar menjual kekayaannya, ia mulai membangun kekuatan dari sana. Sawit jadi bahan bakar, gas jadi kartu geopolitik, kilang jadi simbol kemandirian. Satu pertanyaan tersisa, apakah ini benar-benar secercah harapan dari kedaulatan energi serta kemaslahatan rakyat dan bangsa?
Nalar Politik
Sentil Tumit “Pria Solo Itu”?
J61 -
Polemik ijazah Joko Widodo (Jokowi) yang “menyeret” Jusuf Kalla membuka pertanyaan lebih dalam, seberapa kokoh pengaruh pasca-kekuasaan? Di balik jejaring luas dan loyalitas yang tampak solid, tersimpan celah-celah rapuh. Seperti Achilles, kekuatan terbesar kerap menyimpan titik lemah, menunggu sentilan waktu dan perubahan.
Nalar Politik
SBY, The Last Maverick Standing
J61 -
Di balik pesan netralitas TNI terhadap politik praktis, tersimpan peran langka seorang military maverick yang membentuk arah demokrasi Indonesia. Sebuah statemen yang menguak bahwa warisan SBY kiranya harus dipegang teguh dan mampu menjaga relasi sipil dan militer tetap seimbang. Mengapa demikian? PinterPolitik.com
Nalar Politik
Trah Surya Paloh Selesai?
J61 -
Isu akuisisi Partai NasDem menguat, namun salah satu akar persoalan justru tampak terletak pada krisis suksesi. Prananda Paloh dinilai belum mampu menyamai kaliber Surya Paloh, memicu The Prince Problem. Tanpa regenerasi kuat, NasDem terancam kehilangan arah, kemandirian, hingga relevansi politiknya di tengah persaingan elite.
Nalar Politik
“Menteri OKB Syndrome” Dadan BGN?
J61 -
Program Makan Bergizi Gratis menyimpan ambisi besar, namun implementasinya memunculkan pertanyaan. Dari kepemimpinan Dadan Hindayana, anggaran Rp268 triliun, hingga kontroversi motor trail listrik yang membingungkan Menteri Keuangan, fenomena ini membuka satu hal, yakni ketika kapasitas tertinggal dari jabatan, Peter Principle mulai bekerja dalam skala negara.
Nalar Politik
Halusinasi Dikejar “Anjing Liar” Noel?
J61 -
Berbalut rompi oranye narapidana, Immanuel Ebenezer melempar metafora “anjing liar” yang menyentil kecil kebisingan besar alam politik. Apakah ini strategi bumerang dari balik jeruji, atau sinyal negara yang berubah menjadi predator? Di antara ilusi dan fakta, publik dipaksa menafsir ulang wajah keadilan yang kian kabur.
Nalar Politik
Parkir Liar Blok-M, “Uka-Uka” Pramono?
J61 -
Parkir liar Blok-M bukan sekadar pungli, tapi potret konflik negara, ekonomi informal, dan kekuasaan bayangan. Saat kebijakan tak tegas, “bos parkir” tetap berkuasa. Berani kah Pemprov menuntaskan ini? Inilah ujian politik sesungguhnya: sederhana di permukaan, rumit dan berisiko di dalam.
Nalar Politik
Gugur Peacekeepers dalam Hakiki Anarki
J61 -
Tiga prajurit TNI gugur di Lebanon. Dunia berduka — lalu melanjutkan harinya. Inilah paradoks terbesar pasukan perdamaian, mereka dikirim menjaga damai sistem internasional yang pada hakikatnya tidak pernah damai.
Headline
Viral Kalkulator MBG, Awas SPPG!
J61 -
Viral “kalkulator MBG” mengubah anggaran negara jadi ukuran publik, per hari makan bergizi. Di balik satire, tersimpan ujian besar bagi negara—integritas, ketepatan sasaran, dan kualitas implementasi agar bisa terus lebih baik.
Headline
Rahasia “Login Muhammadiyah” Berjamaah
J61 -
Fenomena “Login Muhammadiyah” tampaknya menandai pergeseran cara beragama generasi muda: rasional, digital, dan praktis. Di balik tren ini, tersimpan implikasi besar—dari auto-komparasinya dengan Nahdlatul Ulama hingga potensi perubahan peta sosial-politik Indonesia menuju kontestasi elektoral 2029.

